Koleksi Artikel Ahmeed Deedat

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

ILMU PENGETAHUAN DAN WAHYU AL-QUR'AN

Penghargaan Spontan

Saat ini, terdapat sekitar satu milyar umat Islam di dunia yang tanpa ragu-ragu menerima Al-Qur'an sebagai "Firman Allah" dan sebuah "Mu'jizat".

Mengapa tidak seharusnya, bahkan ketika musuh-musuh memberikan penghargaan yang tidak diminta sehubungan dengan mu'jizat alamiah dari kitab Tuhan ini. Pendeta R. Bosworth-Smith dalam bukunya Mohammed and Mohammedanism, menulis opini tentang Al-Qur'an:

  1. "Sebuah mu'jizat dari kemurnian gaya bahasa, kebijaksanaan dan kebenaran."
    Orang Inggris yang lain --A.J. Arberry, pada kata pengantar terjemahan Al-Qur'an berbahasa Inggrisnya-- berkata:
  2. "Setiap saya mendengar Al-Qur'an dibacakan, sepertinya saya sedang mendengarkan musik. Dalam alunan melodi, selama itu terdapat suara yang terus-menerus memukul sebuah drum, seperti memukul-mukul hati saya."
    Dari kata-kata ini dan selebihnya pada kata pengantarnya, ia bersuara seperti seorang Muslim, tetapi sangat menyesal ia meninggal tidak dalam Islam. Dan orang Inggris lainnya seperti, Marmaduke Picktall dalam kata pengantar untuk terjemahan Al-Qur'annya, melukiskannya sebagai:
  3. "Simfoni yang tak ada bandingnya, suara yang benar-benar dapat menggerakkan manusia menangis dan luar biasa gembira."
    Penulis ini memeluk Islam sebelum menterjemahkan Al-Qur'an, dan kita tidak dalam sebuah posisi untuk membuktikan apakah ia menulis pengaruh tersebut sebelum atau sesudah perubahannya.
  4. "Setelah Injil, Al-Qur'an adalah kitab agama yang paling mulia dan paling mempunyai kekuatan di dunia" (J. Christy Wilson dalam Introducing Islam, New York 1950.).
  5. "Al-Qur'an adalah Injil kepunyaan Mohammedan, dan lebih dihormati daripada kitab suci lainnya, lebih dari Perjanjian Lama orang Yahudi atau Perjanjian Baru orang Kristen." (J. Shillidy, D.D. dalam The Lord: Jesus in the Koran, Surat 1913, p.111).

Kita dapat dengan mudah mengemukakan selusin lebih kata-kata pujian terhadap daftar di atas. Teman-teman dan lawan sepertinya memberikan pujian spontan terhadap wahyu Tuhan yang terakhir dan penghabisan --Al-Qur'an. Orang-orang pada masa Muhammad melihat pada keindahan dan keagungannya, kemuliaan seruannya dan keluhuran perintah sucinya, tanda-tanda dan mu'jizat Tuhan bekerja, dan diterima Islam. Untuk semua penghargaan dan pembuktian tersebut, orang-orang yang tidak percaya dan meragukan mungkin berkata bahwa ini semua adalah perasaan subyektif. Dia mungkin lebih jauh berdalih tidak mengetahui bahasa Arab.

Terdengar dia berkata, "Saya tidak melihat apa yang kamu lihat, tidak juga merasa seperti yang kamu rasa. Bagaimana saya dapat mengetahui bahwa Tuhan ada dan Dia-lah yang mewahyukan utusan-Nya, Muhammad, dengan perintah suci yang indah itu; Al-Qur'an?" Dia melanjutkan "Saya tidak menyangkal keindahan filsafatnya, etika praktis dan ketinggian moralnya, Saya bersedia mengakui bahwa Muhammad adalah seorang yang tulus dan memberikan banyak ajaran yang indah untuk kesejahteraan manusia. Yang tidak dapat saya ikuti adalah apa yang umat Islam nyatakan 'sebuah kekuatan gaib untuk pendikteannya.'

Logika Yang Beralasan

Untuk simpati semacam ini, meski bermental ragu-ragu, Penulis kitab (Al-Qur' an) menggunakan berbagai macam tipe argumen untuk memecahkan keraguannya. Bagi orang-orang atheis dan yang ragu-ragu, pengejek dan bimbang, orang yang mempunyai sangat banyak ilmu pengetahuan dan orang yang menganggap dirinya sebagai "raksasa intelektual", masalah tersebut diarahkan kembali ke dasar bahwa mereka pada kenyataannya seperti "orang kerdil". Mereka seperti orang kerdil yang mengalami perkembangan tidak normal dalam bagian apapun dari panca indera, seperti ukuran kepala yang terlalu besar pada tubuh yang kecil, Pencipta Yang Maha Tinggi mempertanyakannya.

Tetapi sebelum kita mengajukan pertanyaan Tuhan kepadanya, izinkan saya memuaskan keingintahuan saya sendiri. "Anda orang berpengetahuan yang telah belajar astronomi dan yang mempelajari alam semesta kita melalui teleskop Anda yang hebat seperti jika meneliti dengan cermat sebuah obyek yang berada dalam kekuasaan Anda; katakan pada saya bagaimana terjadinya alam semesta ini?" Orang berpengetahuan ini meski kurang dalam pemahaman spiritual, sangat murah hati dalam membagi pengetahuannya. Dia dengan segera memberi tanggapan. "Baik," ia memulai,

"Milyaran tahun yang lalu alam semesta kita adalah sebuah bagian zat, dan kemudian terjadi sebuah "Big Bang" di pusat gumpalan zat raksasa tersebut dan bongkahan zat yang kuat itu mulai berterbangan ke segala arah. Dari "Big Bang" tersebut sistem solar kita berasal, begitu juga galaksi, dan sejak itu tidak ada pertahanan di angkasa terhadap momentum yang dibangkitkan oleh ledakan awal, bintang-bintang dan planet-planet berotasi dalam orbitnya...."

Pada titik waktu ini, ingatan saya menggelitik --teman-teman materialis tampak dengan rahasia menyerap pengetahuan mereka dari Surat Yaasiin.

"Dan, matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan, telah Kami tetapkan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai kepada manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan, masing masing beredar pada garis edar nya." (QS. Yaasiin: 38-40)

Ilmuwan atheis tersebut melanjutkan. "Kita adalah 'perluasan' alam semesta. Galaksi surut dari kita dengan kecepatan yang selalu bertambah cepat, dan suatu saat mencapai kecepatan cahaya, kita tidak akan dapat melihatnya lagi. Secepat mungkin kita harus membuat teleskop yang lebih besar dan lebih baik untuk mempelajarinya, jika tidak kita akan ketinggalan"

"Kapan Anda menemukan cerita dongeng ini?" kami bertanya. "Tidak, ini bukanlah cerita dongeng tetapi fakta ilmu pengetahuan!" teman kami meyakinkan kami. "Baiklah, kami menerima kenyataan yang Anda katakan, tetapi kapan Anda benar-benar mengetahui kenyataan tersebut?"

"Baru kemarin!" Dia menjawab. Lima puluh tahun, sesudah semuanya, baru 'kemarin' dalam sejarah umat manusia. "Seorang Arab yang tidak berpengetahuan pada padang pasir lebih dari 1400 tahun yang lalu tidaklah mungkin mempunyai pengetahuan 'Big Bang' dan "perluasan alam semesta" Anda, benar?" kami bertanya. "Tidak, tidak pernah!" ia menjawab dengan sombong. "Baik, jika demikian dengar apa yang dikatakan Nabi ummi tersebut:"

"Dan, Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." (QS. Al-Anbiyaa': 33).

Teori 'Big Bang'

Tak dapatkah Anda melihat kata-kata "Orang yang tidak percaya" dalam kutipan pertama di atas secara khusus ditujukan kepada Anda --orang-orang yang berpengetahuan-- para ahli geografi astronomi, orang yang setelah membuat penemuan yang menakjubkan dan menyampaikan penemuan tersebut kepada umat manusia, masih tetap "buta" seperti tidak 'melihat' penulisnya? "Dengan pengetahuan dan ensiklopedi, kita mungkin melupakan ketuhanan, dalam percobaan-percobaan kita itu", kata Thomas Carlyle.

Dimanakah pada bumi ini seorang pengendara unta di padang pasir dapat mengumpulkan sedikit demi sedikit 'Fakta-fakta Anda 14 abad yang lalu, kecuali dari pembuat 'Big Bang' sendiri?

Asal Mula Kehidupan

"Dan Anda para ahli biologi yang kelihatannya me-nguasai seluruh mahluk hidup, namun mempunyai keberani-an mengingkari sumber kehidupan, yaitu Tuhan: katakan kepada saya, berdasarkan penelitian kebanggaan Anda; dimana dan bagaimana asalnya kehidupan?

Seperti sekutunya, ahli astronomi 'yang tidak percaya', ia juga memulai--"Baik. Milyaran tahun lalu zat di laut mulai menghasilkan protoplasma yang darinya datanglah amoeba; dan dari lumpur di dalam laut tersebut datanglah segala sesuatu yang hidup. Dalam satu kata "semua kehidupan" berasal dari laut, yaitu air!"

"Dan, kapan Anda menemukan fakta bahwa semua benda yang hidup berasal dari air?"

Jawabnya tidak berbeda dengan teman astronomnya yang terdahulu, "Kemarin!"

"Tidak ada manusia terpelajar, tidak seorang filosof atau penyair telah pernah dapat menebak penemuan biologis Anda 14 abad yang lalu, benar?", kami bertanya.

"Tidak, tidak pernah!", katanya.

"Baik, maka, dengarkanlah anak tak berpendidikan dari padang pasir ini!"

"Dan, apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya adalah suatu yang padu. Kemudian Kami pisahkan antar keduanya. Dan, dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (QS. Al-Anbiyaa': 30).

Pernyataan di atas diuraikan lebih jauh dalam Kitab Tuhan:

"Dan, Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki; sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki: Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. An-Nuur: 45).

Anda tidak akan kesulitan memperhatikan bahwa kata-kata dari pencipta alam semesta Yang Maha Kuasa, Yang Maha Tahu ditujukan kepada Anda orang-orang yang berpengetahuan dalam menjawab keragu-raguan Anda saat ini. Ini kenyataan yang berasal dari luar mereka melebihi kemampuan penduduk padang pasir 14 abad yang lalu. Penulis tersebut (Tuhan Yang Maha Kuasa) sedang memberi alasan kepada Anda, orang-orang yang berpengetahuan, bagaimana Anda dapat tidak mempercayai Tuhan? Anda seharusnya orang yang paling akhir mengingkari keberadaan-Nya namun ternyata Anda yang pertama! Kelemahan apa yang telah membuat Anda mengikuti ego menutupi perasaan logis Anda?

Dan kepada para ahli botani, zoologi dan psikologi yang, berlawanan dengan pengetahuan mereka yang mengagumkan ke dalam kealamiahan segala sesuatu, menolak mengenali Tuhan Pencipta. Biarkan mereka kemudian menilai ucapan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam juru bicara Tuhan.

"Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (QS. Yaasiin: 36).

* "Diciptakan Berpasangan" Misteri seks berlaku atas semua ciptaan --pada manusia, pada kehidupan hewan, pada kehidupan tumbuhan, dan pada sesuatu yang lain yang kita tidak tahu. Kemudian terdapat kekuatan pasangan berlawanan di alam, misalnya listrik positif dan negatif dan lain-lain. Atom itu sendiri terdiri dari inti yang bermuatan positif atau proton, dikelilingi oleh elektron yang bermuatan negatif. Hukum materi itu sendiri karenanya mengacu sebagai pasangan energi yang berlawanan. (Komentar oleh A. Yusuf Ali).

Tanda-tanda Tuhan

Ayat-ayat dari "Kitab yang jelas" ini, kitab suci Al-Qur'an dengan jelas diterangkan oleh Al-Qur'an dengan sendirinya. Para pelajar Al-Qur'an melihat tulisan Tuhan yang tidak pernah salah dalam setiap penemuan manusia. Terdapat "tanda-tanda", "mu'jizat" dari kedermawanan dan penghargaan Tuhan untuk menghilangkan keraguannya dari menguatkan keimanannya.

"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar benar terdapat tanda bagi orang yang mengetahui." (QS. Ar-Ruum: 22).

Ironisnya, 'orang-orang berpengetahuan' suka menentang! Materi ilmu pengetahuan yang sangat luas membuat mereka membusungkan dada dengan bangga. Mereka kekurangan perasaan rendah hati yang sesungguhnya yang pergi bersama dengan seluruh pengetahuan yang benar. Dalam kata-kata seorang Perancis modern:

"Pengamatan di atas tersebut (berdasarkan tesisnya sendiri) membuat hipotesa lanjutan yang dibuat oleh orang-orang yang melihat Muhammad sebagai penulis Al-Qur'an tak dapat dipertahankan. Bagaimana seorang manusia, dari keadaan tidak dapat menulis, menjadi penulis yang paling penting, dipandang dari segi literaturnya, dalam seluruh literatur Arab?

Bagaimana ia kemudian dapat mengucapkan kebenaran-kebenaran pengetahuan alam yang orang lain tidak dapat membuatnya pada saat itu, tanpa sedikit pun membuat kesalahan dalam pengucapan pada masalah tersebut?" (Lihat The Bible, the Qur'an and Science p. 125 oleh Maurice Bucaille).

Inspirasi Awal

Benih-benih buklet ini, "Al-Qur' an --Mu'jizat dari mu'-jizat-mu'jizat,"-- mungkin disebar oleh duta besar keliling Islam, orator ulung --Maulana Abdul Aleem Siddiqui. Saya masih bersekolah ketika ia mengunjungi Afrika Selatan dalam ceramah kelilingnya pada tahun 1934. Di antara banyak pembicara terpelajar, saya mendengarnya berbicara pada "Pengembangan Ilmu Pengetahuan oleh Umat Islam."

Sesudah itu, sebuah buklet dengan judul yang sama dipublikasikan oleh World Federation of Islamic Missions (Federasi Dunia Misi-misi Islam ), Karachi, Pakistan, yang membawa kembali kegembiraan dan getaran hati dari ceramah, yang telah saya dengar dalam usia belasan tahun. Kenangan atas abdi Islam tersebut, saya produksi ulang di sini, untuk anak cucu, beberapa kata yang telah dikatakan tentang hubungan antara kitab suci Al-Qur'an dan cabang-cabang ilmu pengetahuan:

Peringatan Terhadap Ilmu Pengetahuan

"Penekanan Al-Qur'an untuk mempelajari alam secara ilmiah adalah fenomena unik dalam literatur keagamaan dunia. Hal ini menarik perhatian kita berulang-ulang terhadap bermacam-macam fenomena alam yang terjadi di sekitar kita. Berulang-ulang memperingatkan umat Islam bahwa mencari ilmu pengetahuan adalah salah satu kewajiban agama. Secara berulang menekankan kebenaran besar yang tidak diketahui dunia sebelum turunnya Al-Qur'an bahwa segala sesuatu di alam adalah untuk melayani manusia dan harus dimanfaatkan untuk kegunaannya. Memperingatkan kita agar mempelajari struktur dan fungsi organ manusia, struktur, fungsi dan distribusi hewan, bentuk, struktur, fungsi, klasifikasi dan distribusi tumbuhan, dan ini semua adalah masalah ilmu biologi.

  • "Memperingatkan kita untuk mempelajari susunan alam dan sifat materi secara umum sebagai pengaruh energi, yang merupakan masalah ilmu fisika modern."
  • "Memperingatkan kita untuk mempelajari sifat-sifat zat baik dasar atau campuran dan hukum-hukum kombinasinya dan aksi satu zat atas yang lainnya yang merupakan masalah ilmu kimia modern."
  • "Memperingatkan kita untuk mempelajari struktur dan mineral penyusun bumi, lapisan susunan yang berbeda, perubahan yang terjadi dalam materi organik dan anorganik dan lain-lain, dan lain-lain, yang merupakan masalah ilmu geologi modern.
  • "Memperingatkan kita untuk mempelajari penggambaran bumi secara umum, pembagian fisiknya menjadi lautan, sungai-sungai, gunung-gunung, daratan dan lain-lain, serta mineral-mineral, tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan di dalamnya, dan pembagian politisnya yang merupakan masalah ilmu geografi modern."
  • "Memperingatkan kita untuk mempelajari alasan-alasan yang menyebabkan pergantian hari dan malam, perbedaan musim, pergerakan planet-planet dan fenomena angkasa lainnya, yang merupakan masalah ilinu astronomi modern."
  • "Memperingatkan kita untuk mempelajari pergerakan angin, formasi dan evolusi awan dan produksi hujan, dan fenomena serupa lainnya, yang merupakan masalah ilmu meteorologi modern."

Selama berabad-abad, umat Islam memimpin dunia dalam bidang ilmu pengetahuan. Kemudian secara perlahan, kepemimpinan itu lambat-laun mulai hilang dari tangan mereka. Umat Islam telah gagal dalam peran kepemimpinan mereka dan orang-orang materialistis Eropa bergerak maju mengisi kekosongan kepemimpinan yang ditinggalkan oleh umat Islam.

Lebih jauh, Maulana mencatat kontribusi yang dibuat oleh umat Islam sebagai berikut:

"Pergolakan intelektual yang dibuat oleh Islam adalah salah satu yang dahsyat. Tidak ada bagian pengetahuan apapun yang tak tersentuh oleh para sarjana Muslim dan mengukir sebuah kedudukan tinggi bagi mereka sendiri."

"Sejujurnya, Islam menghendaki komunitas umat Islam menjadi komunitas intelektual, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan semua bentuk pengetahuan lainnya adalah satu dari tujuan utama Islam. Jika bukan karena umat Islam, Eropa tidak akan pernah melihat jalan ke arah Renaissance dan era ilmu pengetahuan modern tidak akan pernah dimulai. Bangsa-bangsa tersebut telah menerima ilmu pengetahuan dari Eropa secara tidak langsung; pada kenyataannya adalah murid-murid masa lalu dari komunitas Islam. Umat manusia berhutang pada Islam, hutang yang tidak akan pernah dapat dibayar, dan terima kasih yang tidak akan pernah dilupakan."

Orator ulung ini (Maulana) mengakhiri penjelasan yang bagus sekali dari topik "Pengembangan Ilmu Pengetahuan oleh Umat Islam" dengan kata-kata:

"Sebelum saya menyimpulkan, izinkan saya menegaskan sekali lagi bahwa komunitas Islam betul-betul merupakan kreasi Islam yang pada gilirannya berakar dalam wahyu Tuhan. Hanya iman dan penerapan (ajaran) Islam yang dapat membuat seseorang menjadi Muslim. Dalam Islam ada yang disebut kewajiban agama di mana seorang Muslim harus menyelidiki realitas obyek di sekitarnya, sehingga penyelidikan ilmiahnya itu dapat membimbingnya untuk mengetahui penciptanya. Penyelidikan ilmu pengetahuan dalam Islam bukanlah suatu akhir tetapi sebuah alat untuk proses pencapaian dari sebuah akhir yang lebih tinggi. Yang betul-betul merupakan akhir sebenarnya dari kemanusiaan.

"Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali." (QS. Al-Baqarah: 156).

Ceramah Yang Saya Tinggalkan

Saya mendapat kehormatan mendengarkan pidato di atas secara langsung pada tahun 1934. Di akhir tigapuluhan saya mempunyai pidato tersebut dalam bentuk sebuah buklet. Saya menghafalnya dengan beberapa perubahan dan modifikasi, selagi masih bekerja di toko Muslim pada stasiun Adams Mission. Saya begitu bersemangat, sehingga saya mengatur rencana dengan kampus Adam untuk berpidato dan memberi kuliah kepada para mahasiswa dengan topik tersebut. Pada waktu itu saya tidak sepenuhnya mengerti besarnya tugas saya tetapi saya tidak akan pernah yakin sampai atasan Muslim saya datang untuk menolong saya? Dia mengancam akan memecat saya jika saya tidak membatalkan kuliah umum pertama saya. Saya mundur. Atasan saya betul-betul sudah menyepelekan peringatan Allah. Saya juga, tidak mengetahui lebih baik. Saya tidak dapat berkata sikap apa yang harus diambil jika saya mendapat peringatan ini:

"Katakanlah: 'Jika bapa-bapa, anak anak, saudara-saudara, istri istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dan pada Allah dan Rasu1-Nya dan dari berjihad di Jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.' Dan, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS. At-Taubah: 24).

Terima kasih (?) kepada saudara saya yang penakut, kuliah pertama saya bagi misionaris Kristen dan siswa pelatihan pendeta yang telah dengan tekun saya rencanakan, hafalkan, dan latih menjadi tak berarti. Barangkali saya dikembalikan 10 tahun karir saya dalam pidato umum. Terdapat berjuta-juta orang seperti atasan Muslim saya yang ketakutan oleh pertimbangan-pertimbangan materi seperti disebutkan dalam ayat di atas, orang yang tidak hanya tidak akan menyampaikan perintah suci Islam sendiri tetapi menghalangi semua yang telah dipersiapkan untuk melakukan tugas itu. Namun mereka menunjukkan sikap yang paling shaleh: menjadi tidak berguna --Allah melukiskan hal tersebut: "Pelanggar yang sesat!"

Terima Tantangan Tersebut

Pada pidato yang terdahulu Maulana telah menarik perhatian kita terhadap peringatan Al-Qur'an kepada kita untuk merenungkan ilmu biologi, fisika, kimia, geologi, meteorologi dan lain-lain. Baru-baru ini sarjana seperti Maurice Bucaille, Keith Moore dan Sheik Zindani telah menulis aspek ilmu pengetahuan yang berbeda dari Al-Qur'an. Tetapi jangkauannya tanpa batas. Al-Qur'an yang mulia adalah sebuah lautan pengetahuan. Pada dunia spesialisasi ini para cendikiawan Muslim harus menerima tantangan yang diisyaratkan oleh Maulana pada pertengahan tiga puluhan. Mereka tidak perlu mencoba-coba dalam setiap bidang. Masing-masing mempunyai spesialisasi khususnya sendiri. Generasi muda Islam sangat membutuhkan informasi dan artikel serta brosur-brosur kecil tentang berbagai ilmu pengetahuan untuk merangsang hasrat mereka. Ensiklopedi mungkin menyusul. Insya Allah!

Saya tidak perlu minta maaf karena menyerahkan penjelasan ilmu pengetahuan Qur'ani kepada para cendikiawan Muslim. Bahkan para non-Muslim harus didorong untuk menggali kedalaman hikmah seperti diabadikan dalam kitab Allah. Sebagai seorang awam, saya akan berbagi dengan Anda mu'jizat alamiah dari Al-Qur'an dalam apa yang tampak buat saya sebagai fakta-fakta yang sederhana, biasa.

(sebelum, sesudah)


The Choice Islam and Christianity
Judul edisi Indonesia: Dialog Islam Kristen
Pengarang: Ahmeed Deedat
Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Cetakan I: Juni 1999, Cetakan II: September 1999 (Revisi)
(Versi online dilakukan oleh jrm@detik.com September 2000)


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Dirancang oleh MEDIA, 1997-2000.
Hak cipta © dicadangkan.