TITIK TEMU ISLAM DAN KRISTEN
Persepsi dan Salah Persepsi

oleh William Montgomery Watt


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
| Indeks Antar Agama | Indeks Artikel | Tentang Pengarang |

 

BAB 8. TITIK TEMU MODERN

Kini kita akan melihat aspek intelektual dalam hubungan antara umat Islam dan umat Kristen sejak tahun 1800 M, yakni, pada periode kereta api dan telegram, serta televisi dan komputer.

Hasrat Umat Islam Terhadap Pendidikan dan Teknologi Barat

Sehubungan dengan karya Edward Said tentang T.E. Lawrence di tengah bangsa Arab termasuk di antara tujuan-tujuannya: "pertama, mendorong orang Timur (yang tak bersemangat, tak berdaya, menyia-nyiakan waktu) agar senantiasa berada dalam gerakan; kedua, menentukan gerakan dalam bentuk barat secara esensial.' [1] Namun demikian, ini adalah pernyataan yang amat berani; ada gerakan di antara bangsa Arab yang sudah ada sebelum Lawrence "mendorong" mereka dan bukan untuk "memaksakan" sesuatu yang tidak mereka kehendaki, bahkan lebih menunjukkan bagaimana mereka mencapai cita-cita yang diidam-idamkan. Dapat diakui bahwa nasehat Lawrence ini telah merefleksikan sesuatu yang ada di dalam kepribadiannya, dan juga, dari keinginan-keinginan pemerintah Inggris yang kurang meluas. Akan tetapi fakta mendasar yang dikehendaki Lawrence dan pemerintah Inggris tersebut bagi bangsa Arab tidak diterima secara pasif, melainkan malah disambut secara aktif. Ini adalah pola untuk menemukan keseluruhan titik temu modern. Umat Islam selalu yang menginginkan modernisasi dan westernisasi; akan tetapi pengluasan yang mereka kehendaki itu bermacam-macam, dan acapkali berhenturan dengan umat Islam yang lain.

Di awal abad 18 Masehi, sebagian negarawan Ottoman menyatakan bahwa kekaisaran mereka ini telah menjadi rendah diri karena kalah dengan kekuatan-kekuatan Eropa barat, baik di bidang militer maupun di bidang-bidang yang lain. Pada tahun 1734, sebuah lembaga pendidikan untuk melatih perwira-perwira angkatan bersenjata dalam matematika Eropa telah dibuka di bawah bantuan hibah, namun tidak lama kemudian ditutup oleh perlawanan tentara Janissari, yang membakar habis kekuatan mereka ini. Setelah itu tidak banyak yang dapat dicapai hingga tahun 1773, ketika sekolah yang sama diperuntukkan bagi angkatan laut, yang mengembangkan juga sekolah teknik-kelautan. Ini adalah wujud kerjasama di tahun 1793 oleh sebuah sekolah teknik militer, namun juga hanya sedikit perkembangan yang dialami sampai setelah pembubaran tentara Janissari di tahun 1826. Mahasiswa di sekolah-sekolah tersebut harus melanjutkan belajar ke Perancis dan akibat yang dapat dirasakan pada saat itu adalah seluruh warga negara Ottoman mampu membaca buku-buku berbahasa Perancis dan mampu mengambil secluruh bentuk ide-ide politik. [2] Hal yang sama juga terjadi di Mesir, segera setelah Muhammad Ali mengangkat dirinya sebagai penguasa negeri ini di tahun 1805. Ia mulai menciptakan angkatan bersenjata dengan model Eropa dan karena itu harus dilatih oleh pelatih-pelatih Eropa.

Pernyataan tersebut dilakukan karena rasa tanggung jawab bagi pembaharuan dalam melatih angkatan bersenjata dan perwira-perwira angkatan laut. Sebagaimana pengganti-pengganti mereka, juga dinyatakan bahwa, apabila negeri-negeri mereka ingin memainkan peranan di dunia bangsa Eropa, maka mereka perlu sejumlah besar rakyatnya dengan pendidikan gaya Eropa untuk mengisi berbagai macam pekerjaan dan jabatan terhormat. Di samping oposisi yang mereka kembangkan ke arah tujuan ini dan sejak awal abad dua puluh di pusat Kekaisaran Ottoman dan di Mesir ada sistem pendidikan barat yang sempurna dimulai sejak sekolah dasar sampai universitas, meskipun propinsi-propinsi di kekaisaran tersebut tengah bergerak menuju akhir kehidupannya.

Para pembaharu yang membawa perubahan-perubahan ini harus menghadapi berbagai gerakan oposisi yang memusuhi, terutama dari golongan ulama yang di Kekaisaran Ottoman telah begitu rapi terorganisir ke dalam sebuah hirarki dengan kelas-kelas yang banyak. Pimpinan hirarki ulama yang paling atas adalah Syaikh al-Islam, yang menjadi salah satu dari tiga orang paling kuat di Kekaisaran tersebut. Sebelum pembaharuan-pembaharuan dimulai, golongan ulama mengontrol semua pendidikan yang lebih tinggi dalam tipe tradisionalnya, bahkan mengontrol semua administrasi hukum di pengadilan dan reformulasi hukum jika dimungkinkan. Intisari tingkat-tingkat lebih tinggi pendidikan Islam tradisional adalah jurisprudensi (fiqh) dan bukannya teologi sebagaimana golongan orientalias Kristen pikirkan. Jenjang yang paling bawah sistem pendidikan ini adalah sekolah-sekolah Al-Qur'an lokal, dimana anak-anak lelaki belajar membaca dan menulis dalam pelajaran hafalan Al-Qur'an. Para pembaharu tidak berusaha merubah sistem pendidikan tradisional ini, melainkan membuat sistem alternatif pada semua tingkat pendidikan. Sejak paruhan abad dua puluh sebagian besar pemuda di seluruh negeri Islam telah terdidik dalam lembaga-lembaga yang terutama mempergunakan model barat dan sistem tradisional telah menjadi terbelakang.

Dalam Islam Sunni (bentuk Islam itu "dibangun" pada negara negara Islam lainnya selain Iran), sang pemimpin negara itu tidak mempunyai kekuasaan untuk membuat undang-undang baru. Satu-satunya undang-undang adalah Syari'ah, hukum Allah. Ulama diakui mempunyai otoritas untuk menciptakan penerapan-penerapan baru asas-asas Syari'ah bilamana situasi-situasi baru menghendaki. Kebanyakan pemimpin negara dapat membuat aturan-aturan yang memperlihatkan bagaimana undang-undang itu ditentukan pada kasus-kasus khusus; misalnya aturan perundangan yang terkadang disebut Qanun. Sebagaimana Kekaisaran Ottoman menjadi lebih terlibat perdagangan dengan Eropa, sebagian ketentuan-ketentuan Syari'ah, sebagai yang dipahami secara tradisional, agaknya sudah tidak memenuhi syarat yang dibutuhkan dan kiranya pejabat pemerintah telah mendesak ulama untuk melakukan perubahan-perubahan. Ketika ulama menolak untuk melaksanakan tuntutan perubahan ini, maka sang penguasa mengizinkan dan mengisukan pengakuan terhadap Qanun-qanun bahkan malah undang-undang yang sama sekali baru. Pertama dari undang-undang hukum baru itu adalah undang-undang Perniagaan yang diumumkan pada tahun 1850, karena diperlukan untuk menciptakan pengadilan lain selain pengadilan Syari'ah. Undang-undang baru ini diikuti oleh undang-undang hukum pidana dan undang-undang perdagangan yang lain. Tak lama kemudian bukan hanya serangkaian undang-undang hukum yang dirubah, melainkan diganti juga sejumlah luas pengadilan yang merupakan lembaga untuk memberikan keputusan jurisdiksi bagi ulama. Jadi dalam hal undang-undang banyak hal yang sama terjadi seperti dalam pendidikan; sistem yang lama ditinggalkan sementara sistem alternatif baru diciptakan.

Bagi umat Islam di India-Inggris begitu amat berbeda. Inggris membangun sekolah-sekolah model Eropa dalam rangka melatih dan mendidik murid-murid untuk menduduki jabatan-jabatan rendah dalam bidang administrasi. Kesempatan pendidikan ini disambut dengan semangat tinggi oleh umat Hindu, namun kurang mendapat perhatian bagi kebanyakan umat Islam. Akibatnya adalah umat Hindu yang bekerja di bidang administrasi pemerincahan jumlahnya lebih besar daripada umat Hindu yang bekerja di negeri ini secara keseluruhan. Kemarahan umat Islam atas kenyataan ini merupakan salah satu faktor yang membawa Pemberontakan besar-besaran bangsa India pada tahun 1857. Setelah Pemberontakan ini padam umat Islam kesal dan patah hati, namun Sir Sayyid Ahmad Khan membujuk umat Islam agar dapat mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah Inggris tanpa takut kehilangan keimanannya dan pendidikan tersebut begitu menarik perhatian masyarakat Islam, yang kalau tidak demikian maka umat Islam India akan terjebak ke dalam posisi yang rendah. Untuk tujuan-tujuannya lebih lanjut, Ahmad Khan mendirikan Perguruan Islam Anglo-Oriental, yang kemudian berkembang menjadi Universitas Aligarh. Dia begitu dahsyat ditentang oleh ulama dan golongan konservatif di India, dituduh sebagai bid'ah dan kufur bahkan dihukum mati oleh Mufti Madinah. [3]

Di samping oposisi sejumlah besar umat Islam ini dilancarkan untuk pendidikan Inggris bagi anak-anak mereka, dinyatakan bahwa hanya dengan cara inilah umat Islam mempunyai tempat di masa depan India. Pengikut Sir Sayyid Ahmad Khan adalah Ameer Ali, yang menulis buku yang dalam edisi kemudian diberi judul The Spint of Islam. [4] Dengan cara ini dia mencoba menunjukkan bahwa Islam itu tidak terbelakang, melainkan sesuai dengan semua nilai Kemenangan liberalisme. Dia menjangkau sejarah yang hampir menciptakan titik-titik akhirnya, namun dia memampukan pembaratan umat Islam agar merasa bahwa agama Islam itu tidak rendah mutunya dibandingkan dengan agama Kristen.

Orang dapat memenuhi isi yang menjelaskan semua nilai-nilai yang berbeda tentang baratisasi yang dipegangi oleh umat Islam pada abad sekarang. Kiranya tepat untuk menggunakan istilah golongan "liberal" untuk orang-orang yang menerima tingkat westernisasi intelektual atau pendidikan, namun mereka begitu amat berbeda pada tingkatan westernisasi yang mereka terima. Kebanyakan peduli untuk mempertahankan sesuatu yang Islami secara distinktif. Dalam buku yang berjudul Islamic Foundamentalism and Modernity (halaman 65-70) (lihat Bab 3, catatan 26) saya memberikan keterangan ringkas tentang pemikiran mutakhir umat Islam liberal di berbagai negeri, secara khusus menjelaskan Mohammad Arkoun yang orang Algeria dan Fazlur Rahman yang orang Pakistan itu, yang belakangan telah meninggal dunia. Kedua orang pemikir ini bergerak begitu mudah di percaturan intelektual barat dan mengakui prinsip-prinsip sejarah dan kritisme literer, sungguhpun keprofesorannya di Chicago dan Paris telah memberi mereka kebebasan yang lebih besar untuk menerbitkan pemikiran dari para pemikir di negeri-negeri Islam. Keduanya bersiteguh dengan pendapat bahwa tempat sentral harus diberikan untuk telaah yang segar Al-Qur'an dari pandangan modern dan harus mengindikasikan garis-garis yang mereka pikirkan untuk yang akan datang. Maka kemajuan-kemajuan akan menciptakan arah formasi self image Islam lebih sahih bagi hari ini, namun masih tetap ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Semua gerakan ke arah westernisasi itu sangat ditentang oleh golongan fundamentalis dan mereka terkadang memberi kesan ingin menghilangkan kultur barat sama sekali. Namun demikian, di sisi lain mereka masih tetap ingin memperoleh keuntungan dari produk-produk teknologi barat; dan pada akhirnya mereka juga agaknya menghendaki negeri-negeri mereka itu mampu menghasilkan barang-barang tersebut. Apa yang mereka rasa gagal memahami adalah, meskipun manufaktur televisi dan komputer itu menjadi hal yang teknis semata tidak berkaitan dengan agama, hanyalah mungkin dihasilkan bila ada kerja keras dengan dibukanya pikiran manusia berasosiasi dengan pandangan barat yang modern; dan pembukaan pikiran manusia ini agaknya adalah yang diawasi keras oleh ulama.

 

TITIK TEMU ISLAM DAN KRISTEN Persepsi dan Salah Persepsi   William Montgomery Watt Penerjemah: Zaimudin   Hak Terjemahan pada Penerbit Gaya Media Pratama Jakarta Desain Sampul: Salimi Akhmad Diterbitkan Oleh: Penerbit Gaya Media Pratama Jakarta Dicetak Oleh: Percetakan Radar Jaya Jakarta Anggota IKAPI Cetakan 1, 1996   ISBN 979-578-007 7 Harga Rp. 9.500,-


| Indeks Antar Agama | Indeks Artikel | Tentang Pengarang |
| ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota |

Please direct any suggestion to Media Team