Islam di Simpang Jalan

oleh Muhammad Asad

 

Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Pengarang


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

5. TENTANG MENIRU

Peniruan mode hidup Barat --secara individual dan sosial-- oleh kaum Muslimin, pastilah merupakan bahaya yang terbesar bagi kehidupannya; atau lebih tepat: yang besar bagi kebangkitan kembali peradaban Islam. Asal dari penyakit kultural ini (hampir tidak mungkin menyebutnya dengan kata lain) mulai beberapa puluh tahun lalu dan berhubungan dengan rasa frustrasi kaum Muslimin yang melihat kekuatan dan kemajuan material Barat dan mengemukakan kontrasnya dengan masyarakat mereka sendiri yang menyedihkan. Karena ketidaktahuan kaum Muslimin akan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya --sangat besar disebabkan oleh sikap berpikir sempit golongan yang disebut ulama, timbul dalam idea kaum Muslimin bahwa mereka tidak akan sanggup mengikuti langkah bersama kemajuan bagian dunia lainnya kecuali apabila mereka menerima hukum-hukum sosial dan ekonomi Barat. Dunia Islam macet dan banyak orang Muslimin datang pada kesimpulan yang paling dangkal bahwa sistem sosial dan ekonomi Islam tidak dapat disepakatkan dengan tuntutan-tuntutan kemajuan, dan oleh karena itu harus disesuaikan dengan garis-garis Barat. Orang-orang "yang telah menerima sinar penerangan" itu tidak ambil pusing untuk bertanya betapa Islam, sebagai satu ajaran, bertanggungjawab atas kemunduran kaum Muslimin; mereka tidak mau berhenti untuk menyelidiki sikap Islam yang sesungguhnya, yaitu sikap al-Qur'an dan Sunnah; mereka hanya menunjukkan bahwa ajaran-ajaran ahli-ahli agama pada zamannya adalah dalam kebanyakan hal-hal itu merupakan rintangan bagi kemajuan dan capaian material. Alih-alih daripada mengarahkan perhatian pada sumber-sumber asli ajaran Islam, mereka menyamakan Syari'ah dengan fiqih yang telah kejang pada masanya, dan mendapatkan bahwa fiqih dalam zaman itu kekurangan dalam berbagai segi: akibatnya mereka kehilangan kepentingan praktis pada Syari'ah dan meninggalkannya pada wilayah sejarah dan pengetahuan-buku. Dan dengan demikian peradaban Barat muncul pada mereka sebagai satu-satunya jalan keluar dari bencana degenerasi Islam.

Karya-karya sekarang yang lebih bijaksana --diantaranya buku cemerlang Islamlasmaq oleh Pangeran Sa'id Halim Pasya yang secara konklusif membuktikan bahwa Syari'ah Islam bukanlah halangan bagi kemajuan modern --datang terlambat untuk membendung kekaguman buta pada Barat oleh sekian banyak kaum Muslimin. Efek penyembuhan dari karya-karya itu dinetralisir oleh pasang naik kesusasteraan apologetik yang kurang baik yang --sementara tidak menyangkal ajaran-ajaran praktis Islam-- berusaha menunjukkan bahwa Syari'ah dapat dipasang dibawah konsepsi-konsepsi sosial dan ekonomi Barat. Dengan demikian peniruan peradaban Barat oleh kaum Muslimin mereka anggap patut dibenarkan dan dirintislah jalan ke arah penyangkalan berangsur-angsur dari prinsip-prinsip Islam yang paling elementer --selalu di bawah samaran "kemajuan" Islam-- yang sekarang menandakan evolusi dari beberapa negeri Islam yang paling maju.

Adalah sia-sia untuk berbantah, seperti banyak dilakukan oleh kaum "intelektual" Muslim, bahwa tidaklah mengandung konsenkuensi spiritual apapun baik kita hidup dalam cara ini atau cara itu, baik kita memakai pakaian Eropa atau memakai pakaian orang tua kita, baik kita konservatif dalam cara kita berpakaian atau tidak. Tentu saja tidak ada pikiran sempit dalam Islam. Seperti telah dikatakan dalam pasal permulaan buku ini, Islam memberikan pada manusia satu wilayah kemungkinan-kemungkinan yang sangat luas sejauh ia tidak bertindak bertentangan dengan perintah-perintah agama. Tetapi lepas sama sekali dari kenyataan bahwa banyak hal yang merupakan bagian struktur sosial Barat --seperti umpamanya hubungan bebas pria dan wanita atau kepentingan modal sebagai basis aktivitas ekonomi-- pastilah bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam; karakter asli dari peradaban Barat secara definitif menyingkirkan orientasi religius manusia, seperti telah saya usahakan memperlihatkannya. Dan hanya manusia-manusia yang sangat dangkal pandangannya dapat percaya bahwa kita mungkin meniru satu kebudayaan dalam pandangan lahirnya tanpa sementara itu dipengaruhi oleh jiwa peradaban itu. Peradaban bukanlah satu bentuk kosong tetapi satu energi yang hidup. Pada saat kita mulai menerima bentuk kebudayaan lahir itu maka arus-arus yang terpadu padanya dan pengaruh-pengaruh dinamiknya mulai bekerja dalam diri kita dan dengan perlahan-lahan, tidak tampak, membentuk seluruh sikap mental kita. Adalah dalam penilaian sempurna pengalaman-pengalaman ini maka Nabi bersabda:

"Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia menjadi satu dari mereka." (Musnad Ibnu Hambal, Sunan Abi Da'ud).

Hadits yang terkenal ini bukan saja satu isyarat moral, tetapi juga merupakan satu pernyataan obyektif yang menegaskan bahwa tidak mungkin terelakkan kemungkinan kaum Muslimin terasimilasi oleh peradaban nonmuslim, apapun yang mereka tiru dalam wajah lahirnya.

Dalam pandangan ini hampir tidak mungkin untuk melihat perbedaan antara aspek-aspek "penting" dan "tidak penting" dari kehidupan sosial. Tidak ada yang tidak penting dalam rangkaian ini. Tidak akan ada kesalahan yang lebih besar daripada menganggap bahwa pakaian umpamanya hanyalah sesuatu yang bersifat "lahir" melulu dan dengan demikian tidak berakibat apa-apa pada wujud intelektual dan spiritual manusia. Pada umumnya pakaian adalah hasil dari perkembangan beradab-abad dari cita rasa manusia dalam arah yang khas. Modenya berhubungan dengan konsepsi-konsepsi estetik bangsa itu, dan demikian pula kecenderungan-kecenderungannya. Mode pakaian itu telah dibuat bentuknya dan terus menerus dibentuk lagi sesuai dengan perubahan-perubahan yang dilalui karakter dan kecenderungan-kecenderungan bangsa itu. Mode Eropa sekarang umpamanya, berhubungan sempurna dengan karakter intelektual dan moral Eropa. Sementara memakai pakaian Eropa kaum Muslimin dengan tidak sadar meniru cita rasa Eropa dan memalingkan wujud intelektual dan moralnya dalam cara demikian rupa yang kesudahannya sesuai dengan pakaian baru itu. Dan dengan berbuat demikian itu ia menyangkali kemungkinan-kemungkinan kultural ummatnya sendiri, ia menentang cita rasa tradisional mereka, kesukaan dan kebencian mereka, dan mengenakan pakaian budak intelektual dan moral yang diberikan oleh peradaban asing kepadanya.

Apabila seorang Muslim meniru pakaian, cara dan mode hidup Eropa, ia berkhianat memihak pada kebudayaan Eropa, betapapun juga sikap pura-puranya dalam pengakuannya. Praktis tidak mungkin meniru satu peradaban asing dalam kerangka intelektual dan estetiknya tanpa menerima penilaian jiwanya. Dan sama tidak mungkinnya untuk meniru jiwa satu peradaban yang bertentangan dengan pandangan hidup religius --tetapi tetap sebagai seorang Muslim yang baik.

Kecenderungan untuk meniru suatu peradaban asing adalah akibat dari satu perasaan kurang-harga-diri. Perasaan kurang-harga-diri ini, dan hanya ini saja, yang mendorong kaum Muslimin meniru peradaban Barat. Mereka memperbandingkan kekuatannya dan kecakapan teknik dan permukaannya yang cemerlang dengan kemelaratan sedih dari dunia Islam, dan mereka mulai percaya bahwa dalam masa kita tidak ada jalan selain jalan Eropa. Mempersalahkan Islam karena kekurangan-kekurangan kita sendiri mulai menjadi mode. Paling-paling yang disebut kaum intelektual mengambil satu sikap apologetik dan berusaha meyakinkan diri mereka sendiri dan orang-orang lain bahwa Islam dapat dipertemukan dengan peradaban Barat.

Untuk mencapai regenerasi Islam, kaum Muslimin harus membebaskan diri mereka seluruhnya dari jiwa apologia bagi agamanya sebelum mengambil tindakan-tindakan reformasi. Seorang Muslim harus hidup dengan kepala terangkat. Ia harus menyadari bahwa ia bersifat khas dan berbeda dari bagian dunia lainnya dan ia harus belajar merasa bangga karena perbedaannya itu. Ia harus berusaha, untuk memelihara perbedaan itu sebagai sifat yang mahal dan menyerukannya dengan bangga kepada dunia --alih-alih daripada sikap apologetik untuk itu dan mencoba untuk menyerapkan diri ke dalam lingkungan kultural lain. Ini tidak berarti bahwa kaum Muslimin harus memencilkan diri dari suara-suara yang datang, dari luar. Selalu boleh menerima pengaruh-pengaruh baru yang positif dari peradaban asing tanpa harus menghancurkan peradabannya sendiri. Contoh hal semacam itu adalah renaissance Eropa. Di sana kita lihat betapa bersedia Eropa menerima pengaruh-pengaruh Arab dalam isi dan metoda belajar. Tetapi Eropa tidak pernah meniru wajah lahir dan jiwa kultur Arab dan tidak pernah mengkorbankan kebebasan intelektual dan estetikanya sendiri. Eropa menggunakan pengaruh-pengaruh Arab hanya sebagai pupuk atas tanahnya sendiri, tepat seperti orang-orang Arab menggunakan pengaruh-pengaruh Hellenisme pada masanya. Dalam kedua hal ini hasilnya adalah yang berupa tumbuhan baru yang kuat dari peradaban asli, penuh kepercayaan pada diri sendiri. Tidak ada satu peradaban dapat menjadi makmur, ataupun hidup, sesudah kehilangan kebanggaan ini dan sesudah kehilangan hubungan dengan masa lalunya sendiri.

Tetapi dunia Islam, dengan kecenderungannya yang meningkat untuk meniru Eropa dan mengasimilasi idea-idea Barat, berangsur-angsur sedang memotong ikatan-ikatan yang menyambung dia dengan masa lalunya, dan oleh karena itu bukan saja kehilangan dasar kulturalnya tetapi juga dasar spiritualnya. Tetapi banjir dahsyat kebudayaan Barat telah menyapu akar-akar itu menjadi telanjang; dan pohon itu perlahan-lahan luruh karena kekurangan zat makanan. Daun-daunnya gugur, dahannya layu. Pada akhirnya batangnya sendiri dalam bahaya keruntuhan.

Demikianlah peradaban Barat tidak dapat menjadi jalan yang benar untuk menghidupkan lagi kaum Muslimin dari kemabukan mental dan sosial yang disebabkan oleh degenerasi agama praktis menjadi kebiasaan melulu tanpa hidup dan tanpa kepentingan moral. Maka dimana lagi kaum Muslimin harus mencari dorongan spiritual dan intelektual yang sangat dibutuhkan pada masa-masa ini?

Jawabnya sama sederhananya dengan pertanyaan itu sendiri; sesungguhnya jawabannya telah termasuk dalam pertanyaan itu sendiri. Seperti telah dikatakan berulang-ulang sebelumnya, Islam bukan saja satu "kepercayaan hati" tetapi juga satu program hidup individual dan sosial dengan ketentuan-ketentuan yang sangat jelas sekali. Ini dapat dihancurkan dengan diasimilasikannya pada kultur asing yang mempunyai dasar-dasar moral yang berbeda secara hakiki. Sama seperti itu, dapat diregenerasi pada saat ia dibawa kembali pada realitasnya sendiri dan diberi nilai dari satu faktor yang menentukan dan membentuk kehidupan pribadi dan kehidupan sosial dalam segala aspek-aspeknya.

Di tengah-tengah tabrakan ide-ide baru dan arus-arus kultural bersimpang siur, yang demikian khas bagi zaman kita ini, Islam tidak lagi dapat tinggal dalam bentuk kosong. Ia telah terbangun dari tidur tersihirnya selama berabad-abad; tetapi itu berarti kelaparan; ia harus bangkit atau mati. Permasalahan yang menantang kaum Muslimin sekarang adalah problema musafir yang tiba di simpang jalan. Ia dapat diam di tempatnya, tetapi ini berarti mati kelaparan. Ia dapat memilih jalan yang bertanda "Menuju Peradaban Barat" tetapi kalau demikian maka ia harus meninggalkan masa lalunya untuk selama-lamanya. Atau ia memilih jalan yang bertanda: "Menuju Realitas Islam". Jalan ini saja yang dapat tampil bagi mereka yang percaya akan masa lulu mereka dan percaya akan kemungkinan peralihan ke dalam masa depan yang hidup.

(sebelum, sesudah)


Islam di Simpang Jalan
Judul asli: Islam at the Crossroads
Cetakan pertama: Delhi (India), 1935
Edisi Indonesia: Islam di Simpang Jalan
Penterjemah: M. Hashem
Cetakan pertama: YAPI, Surabaya, 1967
Cetakan kedua: PUSTAKA, Bandung, 1981
Hak cipta: Muhammad Asad
All rights reserved.

Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Pengarang
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team