Sejarah Perkembangan Ajaran Trinitas

oleh L. Berkhof
Diterjemahkan oleh:
Drs. H. Thoriq A. Hindun

Indeks Kristiani | Indeks Artikel


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

KONTROVERSI KRISTOLOGIS

 
Masalah Kristologis dapat didekati  dari  segi  teologi  dan
dari  segi soteriology. Walaupun Bapak Gereja yang terdahulu
tidak kehilangan pandangan  mengenai  landasan  soteriologis
mengenai  doktrin  Kristus,  tetapi mereka tidak menonjolkan
hal tersebut  dalam  pembahasan-pembahasan  pokoknya.  Napas
dari  kontroversi  trinitarian merupakan landasan pendekatan
studi   mengenai   Kristus   dari   segi    teologi    saja.
Keputusan-keputusan     yang     menimbulkan     kontroversi
trinitarian, yakni bahwa Kristus sebagai putra Allah  (Allah
anak)  adalah konsubstansial dengan Father (Allah Bapak) dan
oleh karena itu merupakan  very  God,  hal  ini  menimbulkan
pertanyaan    mengenai   hubungan   antara   ketuhanan   dan
kemanusiaan dalam Kristus
 
Kontroversi  Kristologis  yang  terdahulu  tidak  menyajikan
suatu  pembaharuan  yang mendatangkan kebaikan. Nafsu sering
dituruti,  intrik-intrik  yang  tidak  layak   juga   sering
memainkan  suatu  bagian  penting, dan bahkan kekerasan juga
kadang-kadang dilakukan. Jadi dapat  dilihat  bahwa  suasana
seperti  tersebut di atas hanya dapat menimbulkan error, dan
kontroversi ini menimbulkan suatu formulasi mengenai doktrin
dari  person  of  Christ yang masih dianggap sebagai standar
sekarang ini. Holy Spirit  (Rohul  Kudus)  telah  membimbing
Gereja,  ke  dalam  suasana  kebenaran  yang nyata, walaupun
bimbingan tersebut sering shame dan confuse (membingungkan).
Ada  beberapa  klaim  bahwa  Gereja  tersebut terlalu banyak
berusaha  mendefinisikan  atau  menjelaskan   misteri   yang
berasal  dari  seluruh  definisi  terdahulu. Namun demikian,
akan  lahir  dalam  pemikiran  bahwa  early  Church  (Gereja
terdahulu)  tidak  mengklaim  mampu untuk menembus kedalaman
dari doktrin yang maha besar  ini,  dan  tidak  berpura-pura
untuk  memberikan  suatu  solusi  mengenai masalah inkarnasi
dalam  rumusan  Chalcedon.  Hal  tersebut  hanya   merupakan
kebenaran   terhadap   kesalahan   teori   saja,  dan  untuk
memberikan suatu rumusan mengenai konstruksi kebenaran  yang
sejati.
 
Gereja   melakukan   penelitian  mengenai  konsepsi  tentang
Kristus, yang dipertimbangkan terhadap hal-hal berikut:
 
(a) Kebenaran tentang kematian Kristus;
(b) Kebenaran mengenai kemanusiaan Kristus;
(c) Gabungan dan kematian dan kemanusiaan dalam
    satu person, dan
(d) Perbedaan nyata dari kematian dan kemanusiaan
    dalam satu person.
 
Jelas bahwa sepanjang requirement ini  tidak  dipenuhi  atau
hanya  sebagian dipenuhi maka konsepsi mengenai Kristus akan
menjadi   tidak   sempurna   (defective).   Seluruh   bid'ah
Kristologis  yang timbul dalam Gereja terdahulu berasal dari
kegagalan  untuk  menggabungkan  seluruh  elemen-elemen  ini
dalam  doctrinal  statement mengenai kebenaran. Ada beberapa
orang  yang  menyangkal  secara  keseluruhan  atau  sebagian
mengenai  kebenaran kematian Kristus, dan ada yang membantah
secara keseluruhan atau  sebagian  mengenai  kebenaran  dari
kemanusiaan  Kristus. Beberapa orang menekankan keesaan dari
person dengan mengorbankan  dua  nature  lainnya,  dan  yang
lainnya  menekankan perbedaan karakter dari dua nature dalam
Kristus dengan mengorbankan keesaan dari person.
 
         1. Kontroversi Tahap Pertama
 
   a. Latar Belakang
 
Kontroversi ini  juga  mempunyai  akar-akar  di  masa  lalu.
Monarki-monarki  Ebionites,  Alogi,  dan  Dynamic  membantah
kematian  Kristus,  dan  monarki  Docetae,  Gnostics   serta
Modalests  menolak  kemanusiaan  Kristus.  Secara  sederhana
mereka menolak salah satu  bentuk  problem.  Sedangkan  yang
lainnya, yang kurang radikal, membantah baik kematian maupun
kemanusiaan  yang  sempurna  dari   Kristus.   Bangsa   Aria
membantah  bahwa  Son-Logos  ,  yang berinkarnasi dalam diri
Kristus,  memiliki   Ketuhanan   yang   mutlak.   Sebaliknya
Apollinaries,  yang  merupakan  seorang Bishop dari Laodicea
(390  dc),  membantah  kebenaran  kemanusiaan   dari   Yesus
Kristus.  Dia  (Apollinaries)  membuat  konsep  mengenai man
(manusia)  yang  terdiri  atas  raga,  jiwa  dan  roh,   dan
merupakan  solusi  masalah mengenai dua nature dalam Kristus
menurut teori  yang  ditempatkan  Logos  pada  human  pneuma
(spirit).    Menurut    pendapatnya    lebih   mudah   untuk
mempertahankan keesaan dari person  of  Christ,  jika  Logos
diakui  sebagai  orang yang lebih banyak menempatkan prinsip
rasional  dalam  man.  Terhadap  Arius  dia   mempertahankan
kebenaran  dari  ketuhanan  Kristus, dan mempertahankan atau
memperkokoh   ketidakberdosaan    Kristus    dengan    jalan
mensubstitusi  Logos  pada  human  pneuma  yang  dianggapnya
sebagai tempat dosa. Menurut pendapatnya suatu human  nature
yang  lengkap  secara  alamiah  haruslah  sinfulness  (penuh
dengan  dosa).  Lagi  pula,  dia  berusaha   untuk   membuat
inkarnasi  yang  dapat dipikirkan dengan jalan mengasumsikan
suatu kecenderungan eternal  pada  kemanusiaan  dalam  Logos
himself   sebagai   archetypal   man.   Tetapi  solusi  dari
Apollinares ini tidak  memuaskan,  oleh  karena  sebagaimana
yang  dikatakan  Shedd  "bilamana bagian rasional dipisahkan
dari bagian manusia, maka manusia tersebut menjadi idiot dan
brutal."  Namun  demikian  tujuannya  dapat dipuji dalam hal
usahanya  untuk  memperkokoh   keesaan   dari   person   dan
ketidakberdosaan Kristus.
 
Akan  tetapi  ada  oposisi terhadap solusi permasalahan yang
diajukan  oleh  Apollinaries.  Cappadocians  dan  Hilary  of
Poitiers  mempertahankan  bahwa  jika  logos  tidak dianggap
human nature dalam integritasnya,  maka  dia  tidak  mungkin
menjadi  redeemer  yang  sempurna  bagi  kita. Sejak seluruh
orang yang  berdosa  diperbaharui  (ditebus),  maka  Kristus
dianggap  sebagai human nature secara keseluruhan, dan bukan
merupakan bagian sederhana yang  tidak  penting  dari  human
nature tersebut.
 
Mereka  juga  menunjukkan  bagian  atau  unsur docetic dalam
pengajaran Apollinaries. Jika tidak  ada  real  human  dalam
diri  Kristus,  maka tidak akan ada real probation dan tidak
ada real advance dalam  kemanusiaan  Kristus.  Akan  tetapi,
para  penentang  Apollinaries  bahkan menekankan kemanusiaan
yang lengkap dari Kristus, membuat  konsep  atau  menganggap
hal  ini sebagai yang tertutupi oleh bayang-bayang Ketuhanan
dari Kristus. Gregory of Nyssa berkata bahwa daging  Kristus
telah  diubah  dan hilang seluruh sifat-sifat awalnya karena
bersatu dengan Ketuhanan.
 
Salah satu hasil dari preliminary dari kekecauan ini  adalah
bahwa  Synod of Alexandria pada tahun 362 menunjukkan adanya
jiwa manusia dalam Kristus. Kata "jiwa" (soul)  dipergunakan
oleh  Synod  sebagai  unsur  nasional  yang  inklusif,  yang
disebut oleh Apo,llinaries sabagai pneum atau nous.
 
   b. Pembagian Kontroversi
 
      1. Nestorian Party
 
Beberapa di antara Gereja terdahulu  mempergunakan  ekspresi
yang  tampaknya  menyangkal  adanya dua nature dalam Kristus
dan  mempostulasikan  suatu  nature   yang   tunggal   yakni
"inkarnasi  yang  menarik."  Dari  segi  pandangan ini Maria
sering dinamakan sebagai theotokos, ibu dari tuhan.  Sekolah
Alexandria  khususnya menolak kecenderungan ini. Sebaliknya,
sekolah Antioch berada pada kutub pandangan yang lain.
 
Hal ini khususnya terjadi dalam pengajaran dari Theodore  of
Mopsuestia.  Dia  mengambil  titik awalnya dalam kemanusiaan
yang  utuh  dari  Kristus  serta   realita   sempurna   dari
pengalaman    kemanusiaan   Kristus.   Menurut   pendapatnya
(Theodora),  sebenarnya  Kristus   berjuang   dengan   human
passion,   melalui   berbagai  godaan,  dan  keluar  sebagai
pemenang. Dia (Kristus) mempunyai kekuasaan  untuk  mencegah
dirinya dari dosa atau membebaskan dirinya dari dosa melalui
(a)  kelahirannya  yang  suci,   dan   (b)   kesatuan   dari
kemanusiannnya  dengan  ketuhanan Logos. Theodora menyangkal
perlunya indwelling dari Kristus, dan  membolehkannya  hanya
untuk  indwelling  moral. Dia tidak melihat adanya perbedaan
yang penting  tetapi  hanya  ada  perbedaan  derajat  antara
indwelling of God dalam Kristus dan yang percaya (believer).
Pandangan  ini  benar-benar  mensubstitusi  inkarnasi  moral
indwelling  pada  Logos  dalam  diri Yesus. Meskipun begitu,
Theodore enggan untuk membuat kesimpulan apakah pandangannya
tak  dapat  dihindarkan,  bahwa  ada personalitas yang ganda
dalam Kristus, dua person di mana  terdapat  suatu  gabungan
moral.  Dia  berkata  bahwa  gabungan  tersebut  sangat erat
sehingga kedua-duanya dapat berbicara sebagai  satu  person,
sebagaimana halnya suami dan istri dapat disebut satu tubuh.
 
Pengembangan  logika dari pandangan Antiochian dapat dilihat
dalam Nestorianism. Nestorius mengikuti jejak Theodore  yang
menyangkal   bahwa   bentuk   theotokos   dapat  benar-benar
diterapkan pada Maria dengan alasan yang sederhana bahwa dia
hanya   melahirkan   seorang   anak   laki-laki  yang  telah
ditetapkan  oleh  Logos.  Walaupun  Logos  tidak  melukiskan
kesimpulan  yang  layak bahwa diikuti dari posisi ini, namun
penentangnya yaitu Cyril memberikan kepadanya tanggung jawab
atas  kesimpulan  tersebut.  Dia menunjukkan bahwa, (a) jika
Maria bukan theotokos, yakni  ibu  seorang,  dan  orang  itu
adalah  tuhan  maka  asumsi dari seorang human being tunggal
pada fellowship dengan Logos disubstitusikan dari  inkarnasi
dari  God;  (b)  jika  Maria  bukan theotokos, maka hubungan
antara Kristus dengan  kemanusiaan  akan  berubah,  dan  dia
tidak   lebih   dari  redeemer  of  mankind.  Para  pengikut
Nestorius tidak ragu-ragu untuk membuat kesimpulan  tersebut
di atas.
 
Nestorianism     adalah     defektif    (tidak    sempurna),
ketidaksempurnaan ini bukan dalam doktrin  dari  dua  nature
dalam Kristus, tetapi dalam satu person. Baik kebenaran dari
kematian ataupun kebenaran dari kemanusiaan  adalah  diakui,
tetapi  kedua  hal tersebut tidak dikonsep dengan suatu cara
sebagaimana halnya membentuk suatu kesatuan yang  nyata  dan
mengkonstitusi  seorang  person  yang  tunggal. Kedua nature
tersebut juga merupakan  dua  person.  Pentingnya  perbedaan
antara  nature  sebagai  substansi yang dimiliki secara umum
dan person sebagai suatu substansi yang  relatif  independen
dari nature tersebut, adalah benar-benar tidak diakui.
 
Perihal  perpaduan  dua  nature (sifat) dalam kesadaran akan
diri yang tunggal, maka Nestorianism  menempatkan  perpaduan
tersebut  berdampingan  dengan setiap lainnya tanpa melebihi
gabungan moral dan simpatik di  antaranya.  The  man  Christ
bukanlah  God,  tetapi God-bearer, theophoros, yaitu pemilik
Godhead. Kristus dipuja, bukan karena  Kristus  adalah  God,
tetapi   karena   God  ada  dalam  diri  Kristus.  Pendirian
Nestorianism yang kuat ini yaitu  pendirian  yang  melakukan
pencarian keadilan sepenuhnya akan kemanusiaan Kristus. Pada
waktu  yang  bersamaan  tersebut  pendirian   itu   bertolak
belakang  dengan  seluruh  scriptural  proofs untuk kesatuan
person dalam mediator. Pendirian tersebut mengabaikan Gereja
dengan contoh agung akan kesalehan sejati dan moralitas akan
human person of  Yesus,  tetapi  menggali  pendirian  divine
human  Redeemer,  menggali  sumber  seluruh  kekuasaan  atau
kekuatan spiritual, keagungan, dan penyelamatan.
 
      2. The Cyrillian Party
 
Oponen Nestorianism yang paling  menonjol  adalah  Cyril  of
Alexandria.  Menurutnya  Logos mengasumsikan sifat itu dalam
keesaannya,  agar  mendapatkan  kembali,  walaupun  demikian
hanya    membentuk    personal    subject    dalam   Godman.
Terminologinya tidak selalu jelas atau benar. Di salah  satu
pihak    dia    menjelaskan    kesederhanaan   bahwa   Logos
mengasumsikan sifat kemanusiaan, agar ada  dua  sifat  dalam
diri  Kristus,  yang  menyimpulkan  gabungan mereka yang tak
dapat dipisahkan dalam  satu  person  of  the  logos,  tanpa
adanya perubahan dalam sifat-sifat tersebut. Tetapi dia juga
menggunakan pernyataan dengan menekankan kesatuan dua  sifat
dalam  Kristus  dengan  menggunakan  mutual communication of
attributes, dan penjelasan akan person of Christ seakan-akan
merupakan  keesaan resultan. Pengertiannya ini sungguh jelas
menentang Nestorianism, karena dia menekankan keesaan person
of  Christ.  Sesungguhnya  tiga  ketentuan  di atas yang dia
jelaskan tersebut sesuai dengan  catholic  doctrine  of  the
day,  yaitu:  (a)  the  inseparable  conjunction  of the two
natures;  (b)  the  impersonality  and  dependence  of   the
manhood,   di   mana   Logos   menggunakannya   sebagai  His
instrument; dan (c) keesaan dan keabadian person in  Christ.
Walaupun     kadang-kadang     dia     menyatakan,     untuk
mempertimbangkan  kesalahan   Eutychian   selanjutnya.   Dia
menggunakan  istilah  phusis  (nature) hanya pada Logos, dan
tidak  pada  kemanusiaan  Kristus,  sehingga   penggunaannya
sebagai   sinonim   hypostases.   Ini   memberikan  beberapa
kesempatan untuk menggunakan doktrinnya, setelah  inkarnasi,
yaitu   hanya  ada  satu  sifat  divine  human  Kristus  dan
memungkinkannya bagi Monophysites mempertimbangkan  dirinya,
apabila   mereka  ingin  untuk  membuktikannya,  sebagaimana
adanya hanya satu person, maka  oleh  karena  itu  ada  juga
hanya   sifat  mediator  yang  tunggal.  Mereka  melanjutkan
pertimbangan  atas  dirinya  walaupun  penolakan  kuat  akan
beberapa gabungan sifat tersebut.
 
The  Council  of  Ephesus  melakukan  suatu  kompromi dengan
mempertahankan  bahwa  di   satu   pihak   theotokos   dapat
diberlakukan bagi Maria dan di lain pihak menegaskan doktrin
mengenai dua nuture Kristus yang berbeda.
 
      3. Eutycian Party
 
Banyak di antara pengikut Cyrill merasa tidak  puas.  Banyak
di  antara mereka yang tidak menghargai doktrin mengenai dua
nature yang berbeda. Eutyches mendukung penyebab dari teolog
Alexandrian  di  Konstantinopel, Euthyches merupakan seorang
rahib tua yang mempunyai pendirian yang tidak  seimbang  dan
merupakan   seorang   antinestorian.  Menurut  Theodora  dia
mempertahankan pengaruh atribut manusia  yang  berassimilasi
dengan  Tuhan  dalam  Kristus  baik  dengan jalan penyerapan
human nature dalam Ketuhanan maupun  fusi  dari  dua  nature
tersebut,  dengan  demikian  maka  dia (Kristus) punya tubuh
tidak konsubstansial dengan apa yang kita miliki (tubuh) dan
dia  (Kristus)  bukan  merupakan  human  yang  seperti dalam
pengertian  sehari-hari.  Dia  memohon   kepada   Leo   yang
merupakan   seorang   Bishop  di  Roma  karena  dia  dihukum
(dikucilkan) oleh Council of Constantinople pada tahun  448.
Setelah Leo menerima laporan lengkap mengenai kasus ini dari
Flavian  yang  merupakan  Bishop  Konstantinopel  dan  telah
mengemukakan   pendapatnya   maka   dia  mengalamatkan  atau
menunjukkan celebrated tome-nya kepada Plavian. Oleh  karena
tome  ini  sangat berpengaruh kepada formula Kaledonia, maka
perlu diketahui poin-poin utamanya yakni sebagai berikut:
 
(a) Ada dua nature dalam Kristus, kedua nature ini berbeda
    secara permanen;
(b) Kedua nature tersebut bersatu dalam satu person, masing-
    masing nature tersebut memiliki fungsi sendiri-sendiri
    dalam kehidupan inkarnasi;
(c) Dari kesatuan nature dalam person tersebut terjadi
    komunikasi (comunicatio idio-matum);
(d) Pekerjaan atau tugas penebusan membutuhkan suatu
    mediator baik manusia dan Tuhan, passible dan impassible,
    mortal dan immortal. Inkarnasi merupakan suatu tindakan
    merendahkan diri dari Tuhan, tetapi dalam merendahkan
    diri tersebut Logos tidak berlaku seperti very God.
    Forma servi tidaklah mengurangi atau menurunkan formadei;
(e) Kemanusiaan dari Kristus adalah permanen,
    dan penyangkalannya mengimplikasikan suatu
    penyangkalan docetic yang realitas dari penderitaan
    Kristus. Hal ini benar-benar merupakan suatu ikhtisar
    dari Kristologi Barat.
          
      4. Keputusan dari Council Chalcedon
 
Setelah beberapa Council lokal menemukan,  membenarkan,  dan
menyalahkan     Eutyches,    maka    ecumenical    Chalcedon
(Council-nya)  melakukan  sidang   pada   tahun   451,   dan
permasalahan  utama  dalam  sidang  tersebut  adalah doktrin
mengenai person of Christ. Hal ini dibaca sebagai berikut:
 
"Kita,  pengikut  Holy  Father's  seluruhnya   dengan   satu
consent,  mengajar  orang  untuk  mengakui satu dan Same Son
yakni Yesus Kristus (Tuhan  Yesus  Kristus),  yang  sempurna
dalam Godhead dan juga sempurna dalam manhood; dia merupakan
truly God dan juga merupakan  truly  man,  karena  mempunyai
jiwa   dan   tubuh;  konsubstansial  dengan  Father  menurut
Godhead, dan konsubstansial  dengan  kita  menurut  manhood;
dalam  segala hal dia sama dengan kita, tapi dia tanpa dosa;
diperanakkan sebelum all  ages  dari  Father  sesuai  dengan
Godhead,  dan  pada  hari-hari  terakhir ini, untuk kita dan
untuk keselamatan kita, maka  dia  dilahirkan  dari  perawan
Maria,  yakni  Mother of God, sesuai dengan manhood; one and
the same Christ, Son, Lord, (hanya diperanakkan untuk berada
dalam  dua  nature,  inconfusedly  (assugutos), kekal (tidak
berubah-ubah/atreptos), tak dapat  dipisahkan  (adiairetos),
inseparable   (tidak   dapat   dipisahkan   =  archoristos),
perbedaan dari nature tersebut  tidak  berarti  oleh  karena
mereka bersatu, tetapi sifat-sifat dari masing-masing nature
tetap tampak  dan  bergabung  dalam  satu  person  dan  satu
substansi,  tidak  terpisah  atau  terbagi  dalam dua person
tetapi  hanya  dalam  one  and  the  same  Son,  yang  hanya
dilahirkan,  God  the  Word,  the  Lord Yesus Christ sebagai
rasul telah diberitakan dari  sejak  mula,  dan  Lord  Yesus
Christ  Himself memikirkan manusia dan Creed of Holy Fathers
telah menurunkan dia untuk kita!"
 
Implikasi-implikasi yang paling penting dalam statement  ini
adalah sebagai berikut:
 
(1) Sifat-sifat dari kedua nature tersebut disandang oleh
    satu person, misalnya keterbatasan pengetahuan dan
    kemahatahuan.
(2) Penderitaan dari Godman dapat dianggap sebagai
    penderitaan yang truly dan really infinited,
    sedangkan menurut nature ketuhanan hal tersebut
    tidaklah mungkin;
(3) Yang merupakan dasar dari basis yang membentuk
    personalitas Kristus adalah divinity (ketuhanan)
    bukan humanity (kemanusiaan);
(4) Logos tidak bersatu dalam seorang human individual
    yang berbeda, tetapi bersatu dengan satu human nature.
    Tidak ada seorang individual man yang pertama dengan
    siapa second person dalam Godhead bersatu dalam diri-Nya.
    Kesatuan tersebut dipengaruhi dengan substansi humanitas
    dalam diri perawan.
 
         2. Kontroversi Tahap Kedua
 
   a. Kekacauan setelah keputusan Council
 
Council Chalcedon tidak menetapkan akhir  dari  perselisihan
Kristologis,  berbeda dengan Council of Nicaea yang berhenti
pada kontroversi trinitarian.  Mesir,  Syria  dan  Palestina
merupakan  tempat  tinggal banyak di antara pengikut fanatik
dari penentang  Eutychian,  sedangkan  Roma  bahkan  semakin
menjadi   pusat   Orthodoxy.   Dalam   kenyataannya,  proses
perkembangan dogmatis pertama-tama berasal  dari  Timur  dan
berkembang  ke  Barat.  Setelah  Council Chalcedon mengikuti
Cyrill dan Eutychus, maka mereka disebut Monophysites,  oleh
karena  mereka  mengakui union Christ mempunyai suatu nature
yang komposit, tetapi menolak bahwa  Kristus  mempunyai  dua
nature  karena  mereka  menganggap  bahwa  dua  nature  yang
berbeda tersebut haruslah melibatkan suatu dualitas person.
 
Ada suatu perjuangan yang  berkepanjangan  dan  berliku-liku
antara  kedua pihak yang berbeda ini. Bahkan kaum Monophisit
tidak  seluruhnya  sepakat  atau  sependapat  dengan  mereka
sendiri.  Oleh karena itu mereka terbagi-bagi dalam beberapa
sekte, yang mempunyai nama  sendiri-sendiri  kata  Dr.  Orr,
"hal  tersebut  telah  cukup  memberikan  cold shifer kepada
seseorang." Theophaschisitis menekankan kenyataan bahwa  God
menderita;  Phthartolatrists  adalah sekte yang paling dekat
dengan formulasi Chalcedon, dan menekankan fakta bahwa human
nature  dari  Kristus  sama  dengan  human  nature yang kita
miliki yaitu yang  dapat  menderita,  dan  oleh  karena  itu
dikatakan  bahwa  merupakan  human  nature dapat disuap; dan
sekte  Aphthartodocetists   adalah   sekte   yang   mewakili
pandangan   sebaliknya,  katakanlah bahwa pandangan tersebut
menganggap human nature dari  Kristus  tidak  konsubstansial
dengan  human nature kita tetapi merupakan human nature yang
diberkati dengan nama tuhan, dan oleh karena  itu  merupakan
human  nature  yang  tidak  berdosa,  imperishable dan tidak
dapat disuap.
 
Yang paling gigih mempertahankan  Teologi  Chalcedon  adalah
Leontius  of Bizantium. Dia menambahkan suatu unsur ke dalam
konstruksi dogmatis dari  doktrin  Kristus,  hal  ini  lebih
banyak dilakukan oleh John of Damascus. Point-point dari hal
tersebut adalah penolakan atas Nestorianism akan menimbulkan
ide  mengenai  adanya  impersonal  independent  dalam  human
nature  dari  Kristus.  Hal  tersebut  dilaksanakan   dengan
menggunakan bentuk-bentuk Anuposthasis dan Anupostesia. Oleh
karena itu  Leontias  menegaskan  bahwa  human  nature  dari
Kristus   adalah   Enupostasia,   bukan   impersonal  tetapi
inpersonal, memiliki substansi personalnya dalam  Person  of
the Son of God dari inkarnasi yang singkat.
 
Pada   tahun   553  kaisar  Justinianus  memanggil  oikumene
(konsultannya)  ke  V  di  Konstantinopel,  yang   merupakan
monophisites  dalam  pengucilannya  dalam  tulisan Theodore,
tetapi tidak disukai karena dikutuk  oleh  penganggap  bahwa
konsul  Kaledonia  melakukan  hal  yang  sangat salah dengan
pengucilan tersebut.
 
   b. Asas tunggal yang bertentangan
 
Di dalam asas tunggal selalu ada  pertentangan-pertentangan,
pada lembaga-lembaga tersebut terdapat tanda yang menjadikan
di sekitar itu adanya suatu  percakapan  atau  diskusi  yang
tidak  harmonis.  Setiap pertanyaan yang penting tidak dapat
dijawab,  bukan  saja  mengenai  alam  tetapi  juga  masalah
pembangkitan  di  dalam  Kristen,  masalah  ini  yang  harus
dipecahkan di setiap pertanyaan yang seringkali  disampaikan
oleh  seseorang  dan  sering  pula  yang  disampaikannya itu
tentang alam.
 
Dalam hubungan ini atau  keadaan  yang  semacam  ini  sangat
penting  pertanyaan  tersebut  selalu  dilontarkan sekalipun
yang sudah lampau apalagi yang baru terjadi, hal ini  adalah
suatu  pertanyaan  yang  wajar meskipun di sana terdapat dua
Kristen (KP-KK), apabila kita yang  mengatakan  hal  semacam
itu  berarti  sama  saja  dengan merampas hak mereka (jemaat
Kristen) yang betul-betul sudah ada dalam  asasi  itu,  lagi
akan  mempengaruhi  dan  merindukan  terhadap alam tersebut.
Itulah  salah  satu  hal  kemanusiaan  Kristen  yang   telah
menjadikan suatu inkarnasi pada Tuhan.
 
   c. Bentuk doktrin yang dicetuskan oleh John of Damascus
 
John Damascus adalah seorang ahli agama dari  gereja  Yunani
dan  dia mencapai puncaknya dalam perkembangan sesuatu agama
yang  terpenting  untuk  dibuat   sebagaimana   yang   telah
dilakukan  dari  doktrin  pribadi Kristen. Menurut dia bahwa
logos itu adalah salah satu pemasukan dari kemanusiaan  alam
dan  tidak  ragu-ragu bahwa Yesus bukan pemasukan dari logos
(bukan simbol), artinya logos  itu  adalah  satu  formalitas
untuk  mengoreksi  pada  kesatuan  dari dua alam tadi, Logos
juga bukan pemasukan dari kemanusiaan perorangan  dan  bukan
pemasukan   kemanusiaan   alam   yang  utama,  akan  tetapi,
merupakan  suatu  kemanusiaan  pribadi,   kemanusiaan   alam
tatkala seseorang yang jiwanya belum berkembang atau sebagai
hipotesis mereka, melalui persatuan pada Logos  tadi  adalah
sesuatu kekuatan kepada orang bahwa Logos itu datangnya dari
Bunda Maria. Kemudian  kekuatan  wujud  manusia  dalam  diri
Kristus  mempunyai  kemerdekaan  pribadi  bagi mereka, wujud
pribadi itu melalui Logos dan ilustrasi  dua  alam  tersebut
dalam Kristen.
 
Menyatukan  badan  dengan  jiwa  pada seseorang, itulah asal
mulanya ibadah dalam kemanusiaan Kristen yang  menghubungkan
tanda-tanda  ibadah pada perikemanusiaan alam kelak kemudian
mereka boleh berkata bahwa Tuhan  itu  yang  menghukum  atau
mengazab disebabkan ibadah tersebut.
 
Alam   perikemanusiaan   itu   hanya  mempunyai  efek  yakni
mendapatkan kemurnian secara pasif (ibadah yang tidak sampai
karena  kurang  khusuk,  anak  Tuhan itu mempunyai suatu hal
yang lengkap dalam  pribadi  kemanusiaannya,  maka  dia  itu
adalah  menjadi  pujian  atau  pujaan  dalam Gereja. Menurut
pendapat itu adalah suatu ikatan yang besar dari kemanusiaan
pada Yesus bagaikan kedudukan suatu organ, hal itu diizinkan
atau  disepakati  oleh   dua   kajian   alam   tadi   dimana
undang-undang dari salah satunya akan menyangkut pada setiap
alam dan hal ini pula segala sesuatu yang ada di dalam agama
Kristen  adalah  hak  kemanusiaannya. Selain dari itu, kedua
yang sama tadi dianggap benar oleh Prosodium Nastarion.
 
Akibatnya atau hasil  permasalahan  itu  akan  membangkitkan
atau  membuahkan ilmu "Asas Tunggal" sebagai indikasi mereka
yang memulai dari satu persatuan pribadi menjadi sesuatu hal
yang  dikehendakinya. Doktrin ini juga mengambil dari bentuk
kemanusiaan yang akan  dianugerahkan  sebagai  tanda  ucapan
terima  kasih  di  dalam  memuja  kelak  kemudian hari, maka
ucapan  itu  akan  mendapat  pahala   atau   diterima   jika
benar-benar  dan  akan  ada  sanksinya jika salah atau tidak
khusuk, hal itu adalah suatu cara dari mereka beribadah yang
mengandung  perikemanusiaan,  ilmu  dari  asas  tunggal  itu
disebut Duothlites. Hal itu mereka ambil dari dua keyakinan,
keyakinan  alam  dan  keyakinan  yang  terpilih  pada  waktu
sekarang dalam dua keinginan atau  anugerah  dalam  Kristen.
Jadi  ilmu  dari asas tunggal tadi adalah suatu peluang dari
mereka untuk mempersatukan dari  kehidupan  seseorang  dalam
umat Kristen.
 
Pada   suatu  waktu,  bentuk  kekuatan  yang  dipakai  dalam
kontroversi dalam penyempurnaan kehendak hal itu akan segera
menjelma  sebagai  bentuk yang lebih definitif, hal itu akan
timbul di  dalam  pikiran  tetapi,  kata-kata  will  (kabul)
dipakai  dalam  hayalan  di  luar dugaan segeralah diucapkan
artinya kabul atau will  itu  merasa  sudah  menjelma  untuk
menentukan  hal  itu,  maka  kita  pilih di antara benar dan
salah. Sekalipun sering kali  menggunakan  istilah  will  di
luar  hayalan  semata-mata  hanyalah  untuk mengisi insting,
nafsu biasa atau juga nafsu yang  berlebihan,  yang  membawa
efek  bagi mereka itu terserah mana yang ingin dilakukannya.
Semuanya itu diliputi dalam bentuk rasa  selalu  dikabulkan,
pada kontroversi kuno dengan demikian akan menimbulkan suatu
pertanyaan, apakah Kristen  itu  sempurna  sepanjang  zaman,
tidak  menakutkan  atau  mengagetkan  dalam  penderitaan dan
mati. Di dalam  jenis  kemanusiaan  maka  Kristen  itu  akan
memberikan perikemanusiaan di dalam tingkah laku mereka.
 
Pada  abad  ke  6 salah satu lembaga di Konstantinopel (680)
merupakan salah  satu  anjuran  dari  Pastur  di  Roma,  dia
mengadakan  doktrin  tentang  dua keinginan dan dua kekuatan
sebagaimana kedudukan pada masa Ortodox,  akan  tetapi  juga
diputuskan  bahwa kemanusiaan harus selalu disamakan sebagai
induk ibadah. Pendapat yang dicetuskan di dalam  kemanusiaan
atau  persatuan ini dengan ibadah tidak menjadi kurang dalam
kemanusiaan tetapi tingkat  kesempurnaannya  dari  persatuan
itu pun selalu menjadi pemegang peranan untuk menyempurnakan
keharmonisan.
 
   d. Ilmu kekristenan dalam Gereja Barat
 
Perbandingan Gereja Barat masih kurang sempurna tanpa adanya
kajian  oleh  bangsa  Timur.  Seluruh  pemikiran Barat tidak
memuaskan di dalam hubungannya baik di  waktu  mendiskusikan
pertanyaan-pertanyaan  yang  perlu  dijawab  secara mendalam
oleh berbagai macam ahli filosof  Barat  yang  terampil  dan
tidak  diragukan  keaktifannya  beribadah  di  dunia  Barat.
Perpindahan baru  dari  ilmu  Kristen  telah  ditemukan  dan
timbul  di  Spanyol  pada  abad  ke  7  & 8, namanya disebut
Adoptionist Controversy,  bentuk  itu  memaparkan  keakraban
orang  Prancis  sejak  utusan  dari  Toloda mengumumkan pada
tahun  676,  bahwa  Kristen  adalah  salah   satu   perintis
pengangkatan   Doktrin  Kelix,  salah  seorang  Pastur  dari
Urgela, dia mengatakan bahwa Kristen  merupakan  pelaksanaan
ibadah  manusia secara alami (agama tauhid) bahwa itu adalah
Logos. Dia hanya sebagai anak dari Tuhan dalam bayangan alam
saja tetapi Kristen adalah kemanusiaan di samping anak Allah
yang  diangkat  atau  dinobatkan.  Kini   ia   dicari   oleh
sekelompok  manusia  atau  oleh  perorangan pribadi dan pada
kenyataannya merupakan suatu penekanan dari waktu ke  waktu,
padahal,  kenyataannya  dia  itu  adalah  anak  manusia  dan
diambil sebagai pribadi anak Allah. Teori ini membuat  suatu
perdebatan  di  antara  alam dan anak Allah dahulu, jadi hal
ini  dapat  dijelaskan  tujuan  mereka  itu   adalah   untuk
melestarikan yang dua tadi, agar dirinya diakui sebagai anak
Allah. Di  dalam  tuntunan  naskah  yang  menunjukkan  bahwa
Kristen  itu  adalah  seorang  anak  kepada ayahnya dan pada
kenyataannya kepercayaan itu dijadikan anak  pada  ayah  dan
selalu  disebut persaudaraan atau persahabatan pada Kristen.
Umumnya di dalam Kristen disebut anak Allah  dan  itu  hanya
bayangan belaka, supaya penerangan tersebut dapat dimengerti
dan diterima. Dan supaya menerangkan dalam arti lebih lanjut
serta  menimbulkan rasa kepercayaan atau keyakinan pada umat
manusia, tatkala Kristus dilahirkan di Betlehem dan  sebagai
tempat  kelahirannya  agama  itu  maka  pada  waktu itu pula
dibaptis; Baptisan itu mengandung pengertian  bahwa  Kristus
diangkat sebagai anak Allah.

(sebelum, sesudah)


The History of Christian Doctrine
Sejarah Perkembangan Ajaran Trinitas
L. Berkhof
Penerbit CV. Sinar Baru
Cetakan pertama: 1992
Bandung
Indeks Kristiani | Indeks Artikel
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team