Musyawarah Burung
(Mantiqu't-Thair)

Faridu'd-Din Attar

28. Pertanyaan-Pertanyaan Burung Kedua Belas

Seekor burung lain berkata pada Hudhud, "O kau, yang menjadi penunjuk jalan kami, apakah hasilnya nanti kalau kemauanku kuserahkan padamu. Dari kemauanku sendiri aku tak dapat menerima susah-payah dan penderitaan yang kutahu pasti akan kualami, tetapi aku dapat menyetujui untuk menaati perintah-perintahmu; dan bila kebetulan aku nanti memalingkan kepalaku, maka aku akan berusaha memperbaikinya.

Hudhud menjawab, "Kau telah bicara dengan baik kita tak dapat mengharapkan yang lebih baik dari ini. Sebab bagaimana dapat kau tetap menguasai dirimu sendiri bila kau menuruti kesukaan-kesukaan dan kebencian-kebencianmu? Tetapi bila kau taat dengan suka rela, kau dapat menjadi penguasa dirimu sendiri. Ia yang tunduk pada kepatuhan di Jalan ini terbebas dari tipu daya dan terhindar dari banyak kesulitan. Sesaat mengabdi Tuhan menurut hukum yang benar sama harganya dengan seumur hidup mengabdi dunia. Ia yang menerima penderitaan karena tak melakukan usaha apa pun sama halnya dengan anjing sesat yang harus menuruti keinginan setiap orang lalu. Tetapi ia yang menanggung biar sejenak pun penderitaan karena melakukan usaha di Jalan ini akan mendapat ganjaran sepenuhnya

Bayazid dan Tarmazi

Seorang alim yang pandai, poros dunia dan dianugerahi sifat-sifat utama, membeberkan yang berikut. "Suatu malam," katanya "Dalam mimpi kulihat Bayazid dan Tarmazi, yang minta padaku menjadi pemimpin mereka. Aku begitu heran kenapa kedua syaikh yang mulia ini memperlakukan aku dengan kehormatan semacam itu. Kemudian kuingat bahwa suatu pagi aku pernah mendesahkan keluh dari dasar hatiku, dan ketika membubung, keluh itu mengayunkan palu pengetuk gerbang suci, sehingga gerbang terbuka bagiku. Aku masuk, dan segala orang alim dan pengikut-pengikutnya yang bicara tanpa kata-kata, menanyakan sesuatu tentang diriku semua mereka, kecuali Bayazid Bistami yang ingin bertemu dengan aku tetapi tak menanyakan apa-apa. Ia berkata, 'Ketika kudengar seruan hatimu, aku menyadari bahwa apa yang perlu bagiku hanyalah menaati perintah-perintahmu, dipimpin oleh kemauanmu. Karena aku ini tak berarti apa-apa, maka tak layak bagiku untuk mengatakan apa yang kuinginkan. Cukuplah bagi si hamba mengiakan kehendak-kehendak ju jungannya.

Itulah sebabnya kedua syaikh itu memperlakukan aku dengan hormat, dan memberikan padaku tempat yang lebih tinggi. Bila seseorang berlaku patuh, ia berbuat sesuai dengan sabda Tuhan. Ia bukan hamba Allah yang membanggakan kedudukannya sebagai hamba. Hamba sejati memperlihatkan sifatnya pada saat diuji. Maka patuhilah cobaan-cobaan, agar kau dapat mengenal dirimu sendiri."

Hamba dan Jubah Kehormatan

Seorang raja memberi jubah kehormatan pada seorang hamba yang pergi dengan amat merasa bangga pada dirinya sendiri. Tengah ia berjalan, debu jalanan mengendap padanya dan tanpa pikir ia menghapus wajahnya dengan lengan jubah itu. Seseorang yang iri terhadapnya tanpa buang-buang waktu melaporkan pada raja, yang karena murka pada pelanggaran adat kesopanan ini, menghukum hamba itu dengan hukum tusuk.

Ia yang merendahkan kehormatan dirinya sendiri dengan kelakuan yang tak pantas, tidaklah layak berseba pada permadani raja.

(sebelum, sesudah)


Musyawarah Burung terjemahan Hartojo Andangdjaja
Judul asli: Mantiqu't-Thair oleh Faridu'd-Din Attar
Diterjemahkan dari The Conference of the Birds (C. S. Nott).
Diterbitkan oleh PT DUNIA PUSTAKA JAYA
Jalan Kramat 11. No. 31 A, Jakarta Pusat
Anggota IKAPI
Cetakan pertama: 1983

Indeks artikel kelompok ini | Disclaimer
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Dirancang oleh MEDIA, 1997-2001.
Hak cipta © dicadangkan.