Daging Zen Tulang Zen

oleh Paul Reps

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

KIKIR DALAM AJARAN
 
Seorang  dokter  muda  di  Tokyo yang bernama Kusuda bertemu
dengan teman sekolahnya yang telah mempelajari  Zen.  Dokter
muda itu menanyakan apakah Zen itu.
 
"Saya  tidak  bisa  mengatakan  kepada anda apakah Zen itu,"
temannya menjawab, "Tetapi satu hal yang  pasti.  Jika  anda
memahami Zen, anda tidak akan takut untuk mati."
 
"Baiklah,  "  kata  Kusuda. "Saya akan mencobanya. Dimanakah
saya bisa mendapatkan seorang guru?"
 
"Pergilah   ke   Guru   Nan-in,"   temannya   memberitahukan
kepadanya.
 
Oleh  sebab  itu  Kusuda  pergi menjumpai Nan-in. Ia membawa
sebuah pisau belati yang panjangnya sembilan  setengah  inci
untuk  mengetahui  apakah  guru itu takut akan kematian atau
tidak.
 
Ketika Nan-in melihat Kusuda, ia berseru, "Hai,  teman.  Apa
kabar?  Sudah  lama kita tidak berjumpa!" Ini membuat Kusuda
bingung,  lalu  ia  menjawab,  "Kita  belum  pernah  bertemu
sebelumnya."
 
"Benar,"  Nan-in  menjawab,  "Saya  kira anda adalah seorang
dokter yang belajar di sini."
 
Dengan sikap pembuka yang  seperti  ini,  Kusuda  kehilangan
kesempatan  untuk  menguji  si guru, sehingga dengan malu ia
memohon untuk diberikan instruksi Zen.
 
Nan-in mengatakan, "Zen bukanlah tugas yang berat. Jika anda
adalah  seorang  dokter,  perlakukanlah  pasien  anda dengan
kebaikan. Itulah Zen."
 
Kusuda mengundang  Nan-in  tiga  kali.  Setiap  kali  Nan-in
mengatakan  hal  yang  sama,  "Seorang  dokter  tidak  boleh
memboroskan waktunya di sini. Pulanglah dan rawatlah  pasien
anda."
 
Masih  belum  jelas bagi Kusuda bagaimana ajaran seperti itu
bisa menghapuskan ketakutan akan kematian. Oleh  sebab  itu,
pada  kunjungan  keempat ia mengeluh, "Teman saya mengatakan
bahwa  jika  mempelajari  Zen,  seseorang  akan   kehilangan
ketakutan  akan  kematian.  Setiap kali saya datang ke sini,
anda menasihati saya untuk merawat pasien saya.  Saya  sudah
tahu  hal  itu.  Jika  inilah yang anda katakan sebagai Zen,
saya tidak akan mengunjungi anda lagi."
 
Nan-in tersenyum dan menepuk dokter itu, "Saya telah terlalu
ketat terhadap anda. Marilah saya berikan sebuah koan kepada
anda." Ia memberikan kepada  Kusuda  sebuah  Mu  dari  Joshu
untuk  dipikirkan,  yang  merupakan  tugas  pencerah-pikiran
pertama di dalam buku yang  berjudul  "The  Gateless  Guide"
(Pintu Gerbang yang tidak Berbatas).
 
Kusuda  mengggeluti  masalah  Mu  (Tiada Apa-Apa) selama dua
tahun. Akhirnya, ia merasa  bahwa  telah  mencapai  kemajuan
dalam pikiran. Akan tetapi, si guru berkomentar, "Anda masih
belum mencapai kemajuan."
 
Kusuda melanjutkan  dengan  penuh  konsentrasi  selama  satu
setengah  tahun  lagi.  Pikirannya  menjadi  tenang. Problem
terselesaikan. Tiada Apa-Apa menjadi kebenaran.  Ia  merawat
pasiennya  dengan  baik dan bahkan tanpa ia sadari, ia telah
bebas dari pemikiran tentang kehidupan dan kematian.
 
Lalu, ketika ia mengunjungi Nan-in, gurunya  yang  dulu  ini
hanya tersenyum.
 
---------------------
Daging ZEN Tulang ZEN
Bunga Rampai Karya Tulis Pra-Zen dan Zen
Dikumpulkan oleh: Paul Reps
Edisi Keenam Oktober 1996
Yayasan Penerbit Karaniya
Anggota IKAPI, Kotakpos 1409 Bandung 40001

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team