Cara Restorasi Foto
Yogyakarta, Minggu, 04 Januari 2026
Proses restorasi foto menggunakan kecerdasan buatan (AI)
dimulai dengan tahap pra-pemrosesan dan digitalisasi.
Jika foto bersumber dari media fisik, dokumen tersebut harus
dipindai dengan resolusi tinggi. Dalam konteks foto dari
internet, AI akan menganalisis metadata dan kualitas piksel
yang ada. Algoritma awal akan mengidentifikasi jenis
kerusakan yang dominan, seperti noise digital,
artefak kompresi JPEG yang pecah-pecah, atau kekaburan
(blur) akibat lensa yang kurang fokus.
Tahap selanjutnya adalah rekonstruksi piksel
menggunakan teknologi Generative Adversarial
Networks (GAN). Di sini, AI bekerja
dengan dua sistem: satu sistem bertugas memperbaiki gambar
(generator) dan sistem lainnya menilai apakah hasil
perbaikan tersebut terlihat nyata atau palsu
(diskriminator). Proses ini memungkinkan AI untuk
"menebak" dan menciptakan kembali bagian yang hilang,
seperti serat kain atau tekstur kulit, berdasarkan jutaan
data gambar lain yang telah dipelajari sebelumnya.
Setelah struktur gambar terbentuk kembali, AI melakukan
pembatalan blur (deblurring) dan
peningkatan resolusi (super-resolution).
Teknik ini berbeda dengan memperbesar gambar secara
konvensional yang biasanya membuat foto menjadi pecah. AI
menambahkan piksel baru secara cerdas di antara piksel yang
sudah ada, sehingga garis-garis yang tadinya kabur menjadi
tajam dan tegas. Hal ini sangat efektif untuk memperjelas
fitur wajah atau teks pada latar belakang yang sebelumnya
tidak terbaca.
Tahap keempat melibatkan segmentasi dan pembersihan
noda secara otomatis. AI mampu membedakan mana yang
merupakan bagian dari subjek (seperti manusia atau bangunan)
dan mana yang merupakan cacat foto (seperti goresan, jamur,
atau debu). Dengan teknik image in-painting,
AI akan menghapus noda tersebut dan mengisinya dengan
informasi visual yang harmonis dengan area sekitarnya,
sehingga bekas kerusakan hilang tanpa meninggalkan jejak
manipulasi yang kasar.
Proses diakhiri dengan penyelarasan warna dan
peningkatan kontras (tonal adjustment). AI
akan menyeimbangkan tingkat pencahayaan agar bagian yang
terlalu gelap (underexposed) atau terlalu
terang (overexposed) kembali memiliki detail.
Jika foto aslinya hitam putih, sistem pewarnaan otomatis
(auto-colorization) dapat memprediksi warna
yang paling sesuai berdasarkan identifikasi objek, seperti
warna hijau untuk dedaunan atau biru untuk langit, sehingga
menghasilkan foto akhir yang terlihat modern namun tetap
mempertahankan estetika aslinya.
Gaya Vintage dan Sinematik
Gaya vintage dalam fotografi bertujuan
untuk mereplikasi karakteristik visual dari era kamera
analog dan film tua. Estetikanya ditandai dengan penggunaan
palet warna yang hangat atau cenderung kecokelatan
(sepia), kontras yang lebih rendah, serta adanya
tekstur halus seperti grain (bintik-bintik film). Gaya ini
sering kali memberikan kesan nostalgia, klasik, dan abadi,
seolah-olah membawa penonton kembali ke masa lalu dengan
nuansa yang lembut dan penuh kenangan.
Sebaliknya, gaya sinematik berfokus pada
penceritaan visual dengan atmosfer yang dramatis, layaknya
sebuah cuplikan dari film layar lebar. Gaya ini menonjolkan
permainan kontras yang tajam antara cahaya dan bayangan
(chiaroscuro), serta penggunaan palet warna
yang lebih berani dan terarah untuk membangun suasana hati
(mood). Dalam restorasi, gaya sinematik
memberikan kedalaman dimensi pada subjek sehingga foto
terlihat lebih hidup, modern, dan memiliki fokus yang kuat
pada detail ekspresi wajah atau elemen latar belakang yang
bercerita.

Bagian kiri-atas adalah gaya vintage dan
kanan-bawah gaya sinematik
|