Indonesia Tempo Doeloe
oleh E. Nijland (1897)

dikumpulkan dari berbagai sumber
untuk mempercepat penyebaran informasi secara efisien
dan menambah percepatan kemajuan Indonesia tercinta ...


Gambar 1. Halaman rumah pedesaan di tepi sungai kecil dengan kegiatan menumbuk padi yang dilakukan oleh dua orang perempuan. Satu penjual kue sedang lewat di halaman rumah, dan satunya lagi baru menyeberang jembatan. Dua orang anak laki-laki sedang mandi di sungai, dan seorang perempuan sedang menggendong anak kecil. Di kejauhan tampak seorang perempuan sedang menjemur pakaian. (sumber foto)


Gambar 2. Halaman rumah pedesaan dengan tiga orang perempuan sedang membatik, dan tiga anak sedang bermain. Seorang bapak sedang memperbaiki keris, dan seorang ibu sedang menggendong anak kecil. (sumber foto)


Gambar 3. Persawahan di pedesaan dengan dua orang laki-laki sedang mencangkul, dan beberapa perempuan sedang bertanam padi. (sumber foto)


Gambar 4. Menggembalakan kerbau di pedesaan. Kerbau sebagai alat pengangkutan utama selain kuda, tampak sebuah kereta ditarik kerbau. (sumber foto)


Gambar 5. Pertunjukan wayang kulit di sebuah pendopo yang diiringi gamelan. (sumber foto)


Gambar 6. Sarana penyebarangan di sungai menggunakan getek yang ditarik dengan tali. (sumber foto)

Lukisan ini merupakan karya litografi klasik dari abad ke-19 yang menggambarkan suasana penyeberangan sungai di pulau Jawa pada masa Hindia Belanda. Fokus utamanya adalah sebuah rakit besar atau perahu "getek" yang sedang mengangkut kereta kuda beserta penumpangnya melintasi sungai yang tenang. Karya ini menangkap momen penting dalam keseharian masyarakat masa lalu sebelum adanya infrastruktur jembatan modern yang memadai di wilayah pedalaman.

Dari sisi sejarah, gambar ini menunjukkan betapa vitalnya peran sungai sebagai jalur transportasi sekaligus tantangan logistik bagi perjalanan darat. Pada era tersebut, para pelancong yang menggunakan kereta kuda harus mengandalkan keahlian penduduk lokal untuk menyeberangkan kendaraan mereka menggunakan rakit kayu yang digerakkan dengan galah. Hal ini mencerminkan sistem transportasi tradisional yang sangat bergantung pada tenaga manusia dan kondisi alam.

Secara visual, lukisan ini menggunakan gaya Mooi Indie atau Hindia Molek yang menonjolkan keindahan alam tropis. Pemandangan latar belakangnya dipenuhi oleh pepohonan rimbun, pohon kelapa yang menjulang, dan cahaya matahari yang lembut, memberikan kesan damai dan eksotis. Detail pada riak air dan tekstur kayu perahu menunjukkan ketelitian seniman dalam merekam suasana lingkungan di Indonesia pada zaman kolonial.

Aspek sosial juga terlihat sangat jelas melalui keberagaman tokoh yang digambarkan. Di atas rakit, tampak perbedaan status sosial antara penumpang kereta yang berpakaian formal (melambangkan kelas atas atau bangsawan) dengan para pekerja lokal yang bertelanjang dada atau berpakaian sederhana. Interaksi ini memperlihatkan struktur hierarki masyarakat pada masa itu, di mana berbagai kelas sosial bertemu dalam satu kepentingan transportasi.

Secara keseluruhan, lukisan ini bukan sekadar karya seni estetis, melainkan dokumen sejarah visual yang berharga. Ia menceritakan tentang ketangguhan manusia dalam menaklukkan hambatan alam, sekaligus menjadi pengingat akan masa transisi teknologi di Indonesia. Melalui gambar ini, kita dapat melihat harmoni antara manusia, hewan, dan alam yang menjadi ciri khas kehidupan di tanah air pada ratusan tahun yang lalu.


Gambar 7. Tandu sebagai sarana transportasi perseorangan yang dipikul oleh dua orang atau lebih . (sumber foto)


Gambar 8. Kegiatan di sebuah pasar di pedesaan. (sumber foto)


Gambar 9. Sebuah warung di pedesaan. (sumber foto)


Gambar 10. Pos perondaan dengan dua orang peronda dan kelompok punggawa desa. (sumber foto)


Gambar 11. Sebuah sekolahan di Desa Majawarna. (sumber foto)


Gambar 12. Seorang kyai bersama santrinya yang membawa belanjaan, baru pulang dari masjid. (sumber foto)

(sebelum, sesudah)


(Alamat situs ini: http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Nijland/, http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Nijland/)