Yogyakarta Tempo Doeloe - Tamansari

dikumpulkan dari berbagai sumber
untuk mempercepat penyebaran informasi secara efisien
dan menambah percepatan kemajuan Indonesia tercinta ...


Foto 1. 14 January 2007, 11:45: Bagian selatan pemandian Tamansari,
Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. (sumber foto)


Foto 2. 24 November 2011: Bagian utara pemandian Tamansari,
Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. (sumber foto)


Foto3. Pangeran Adipati Ario Praboe Soerjodilogo, Pangeran Pakoealam VIII

KGPAA Paku Alam VII, yang lahir dengan nama Raden Mas Ambarkusumo, adalah penguasa Kadipaten Pakualaman yang memerintah dari tahun 1906 hingga 1937. Beliau naik takhta menggantikan ayahnya, Paku Alam VI, dalam usia yang relatif muda. Selama masa kepemimpinannya, beliau dikenal sebagai sosok pemimpin yang berpandangan maju dan berusaha menyeimbangkan antara tradisi keraton yang luhur dengan pengaruh modernisasi dari Barat.

Dalam bidang politik dan sosial, Paku Alam VII merupakan tokoh yang sangat mendukung pergerakan nasional. Beliau dikenal sebagai pelindung dan penyokong utama organisasi Boedi Oetomo, serta sering menjadikan istananya sebagai tempat pertemuan para tokoh intelektual. Selain itu, beliau melakukan reformasi birokrasi dan administrasi di wilayah Pakualaman untuk menciptakan sistem pemerintahan yang lebih transparan dan efisien demi kesejahteraan rakyatnya.

Paku Alam VII juga memberikan perhatian besar pada dunia pendidikan dan kebudayaan. Beliau mendorong anak-anak muda, baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa, untuk mengenyam pendidikan modern. Di sisi lain, beliau sangat aktif melestarikan seni budaya Jawa, terutama seni tari dan sastra. Kedekatannya dengan Kasunanan Surakarta melalui pernikahan dengan putri Pakubuwono X juga semakin mempererat hubungan kebudayaan antar istana di Jawa.

Warisan kepemimpinan Paku Alam VII terlihat jelas dalam karakter Kadipaten Pakualaman yang menjadi pusat intelektual dan seni yang terbuka terhadap perkembangan zaman. Gaya busana beliau yang sering memadukan jas Eropa dengan kain batik tradisional, seperti yang terlihat dalam foto Anda, menjadi simbol ikonik dari semangat pembaruan tersebut. Beliau wafat pada tahun 1937 dan dikenang sebagai salah satu penguasa Pakualaman yang paling progresif dalam sejarah Yogyakarta.

(sebelum, sesudah)


(Alamat situs ini: http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Yogyakarta/, http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Yogyakarta/)