|
Foto3. Pangeran Adipati Ario Praboe
Soerjodilogo, Pangeran Pakoealam VIII
KGPAA Paku Alam VII, yang lahir dengan nama
Raden Mas Ambarkusumo, adalah penguasa Kadipaten
Pakualaman yang memerintah dari tahun 1906 hingga
1937. Beliau naik takhta menggantikan ayahnya, Paku
Alam VI, dalam usia yang relatif muda. Selama masa
kepemimpinannya, beliau dikenal sebagai sosok
pemimpin yang berpandangan maju dan berusaha
menyeimbangkan antara tradisi keraton yang luhur
dengan pengaruh modernisasi dari Barat.
Dalam bidang politik dan sosial, Paku Alam VII
merupakan tokoh yang sangat mendukung pergerakan
nasional. Beliau dikenal sebagai pelindung dan
penyokong utama organisasi Boedi Oetomo, serta
sering menjadikan istananya sebagai tempat
pertemuan para tokoh intelektual. Selain itu,
beliau melakukan reformasi birokrasi dan
administrasi di wilayah Pakualaman untuk
menciptakan sistem pemerintahan yang lebih
transparan dan efisien demi kesejahteraan
rakyatnya.
Paku Alam VII juga memberikan perhatian besar
pada dunia pendidikan dan kebudayaan. Beliau
mendorong anak-anak muda, baik dari kalangan
bangsawan maupun rakyat biasa, untuk mengenyam
pendidikan modern. Di sisi lain, beliau sangat
aktif melestarikan seni budaya Jawa, terutama seni
tari dan sastra. Kedekatannya dengan Kasunanan
Surakarta melalui pernikahan dengan putri
Pakubuwono X juga semakin mempererat hubungan
kebudayaan antar istana di Jawa.
Warisan kepemimpinan Paku Alam VII terlihat
jelas dalam karakter Kadipaten Pakualaman yang
menjadi pusat intelektual dan seni yang terbuka
terhadap perkembangan zaman. Gaya busana beliau
yang sering memadukan jas Eropa dengan kain batik
tradisional, seperti yang terlihat dalam foto Anda,
menjadi simbol ikonik dari semangat pembaruan
tersebut. Beliau wafat pada tahun 1937 dan dikenang
sebagai salah satu penguasa Pakualaman yang paling
progresif dalam sejarah Yogyakarta.
|