|
|
|
|
|
BAGAIMANA SAYA MENGENAL ISLAM
Sejarah ibarat roda, selalu berputar dan berputar. Demikian
pula dengan manusia. Apa yang baru dihari ini, akan usang
dikeesokannya, apa yang baik hari ini, belum tentulah baik
kemudiannya. Dunia penuh dinamika dan romantika. Sayapun
penuh dengan dinamika dan romantika. Pada tahun 1964 saya
naik kereta api dari Jakarta ke Surabaya, entah suatu
kesengajaan yang sudah diatur oleh Tuhan ataukah bagaimana,
tetapi yang jelas saya telah duduk berdampingan dengan
seorang yang mengaku bernama Haji Mahmud, yang tertarik oleh
ketekunan saya membaca injil, akibatnya berdialog, dan dalam
dialog itu ia memberikan pada saya "Sebuah ajaran Islam,"
yang bunyinya: 'Kul huallahu Ahad, Allahus samad, Lam yalid
walam yulad, Walam yakun lahu kufuwan Ahad,' yang artinya:
Katakanlah wahai Muhammad, sesungguhnva Allah itu Esa
tempatmu bergantung. Ia (Allah) tidak beranak dan tidak
diperanakkan, dan Ia tiadalah mempunyai tandingan."
Haji tersebut menerangkan, bahwa Islam bukan hanya sekedar
Agama, tetapi juga suatu risalah, suatu ideologie dan suatu
falsafah, yang cocok untuk sega]a bangsa dan golongan. Islam
tidak mengenal diskriminasi, dan jabatan, dan pangkat,
itulah sebabnya dalam mesjid hanya dipakai tikar, dan dalam
sambahyang semua ummatnya harus tunduk hingga mukanya ke
bumi tanpa memandang dia itu apa dan siapa.
|
|
|
|
|
|
| Indeks Antar Agama | Indeks Artikel | Tentang Pengarang | | ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota | |