|
|
|
Mahasiswa Kateketik
Agama yang benar untuk umat manusia ialah Agama Katolik,
demikianlah pendapatku. Agama yang mengajarkan cinta kasih
secara murni dan konsekwens. Dengan bekal keyakinan yang
semacam ini aku pindah dari Jakarta ke Lampung Ada dua hal
yang menyenangkan aku pindah ke Lampung. Pertama ialah dekat
dengan tempat orang tua dan kedua Staf LPKB Lampung semuanya
part-timer, jadi dengan kedatanganku menjadi satu-satunya
orang yang full-timer. Sehingga memang dengan demikian saya
menjadi orang yang menentukan policy LPKB.
Karena sering tugas luar, saya banyak bergaul dengan
masyarakat luas. Keinginan untuk melaksanakan ajaran Yesus:
"Pergilah dan ajarlah semua bangsa menjadi muridKu dan
permandikanlah mereka atas nama Bapa, dan Putera dan Roh
Kudus" menjadi demikian bernyala-nyala. Keinginan itu
kulaksanakan juga dengan menyerahkan waktuku untuk maksud
itu.
Rupanya hal itu menarik perhatian Bapak Uskup Lampung Mgr.
Albertus Hermelink Gentiaras SCY. Seorang Uskup yang begitu
rendah hati, bisa dijumpai oleh siapa saja kapan saja. Jika
seorang ingin menghadap beliau tidak perlu mendaftar
terlebih dahulu kepada Sekretaris Keuskupan seperti lajimnya
dibuat oleh kebanyakan Uskup. Oleh beliau aku kemudian
dikirim ke Fakultas Pendidikan Kateketik di Madiun di bawah
pimpinan Pastor Dr. Paulus Janssen C.M seorang yang suka
sekali bekerja keras seorang theolog dan social worker.
Pada waktu aku belum masuk ke Fakultas Pendidikan Kateketik
saya telah meragukan 2 hal. Yang pertama ialah: Dosa asal
dan tentang Santo dan &Santa (orang Suci). Bagaimana mungkin
seorang yang baru lahir dari rahim ibunya sudah berdosa
karena mewarisi dosa asal? Dan bagaimana mungkin Bapa Paus
di Vatikan bisa menetapkan bahwa seorang yang meninggal
dunia bisa ditetapkan sudah masuk surga. Ada juga hal lain,
yaitu tentang api pensucian. Sementara semua agama mengajar
bahwa hanya ada dua tempat ialah neraka dan surga di alam
sana, Gereja Katolik mengajarkan ada tempat lain ialah api
pencuci.
Tetapi semua kebimbangan itu kubiarkan saja, karena saya
berpendapat bahwa dengan menjadi Mahasiswa pada Fakutas
Pendidikan Kateketik keraguan dan kebimbangan itu akan
menjadi hilang atau sekurang-kurangnya bahkan menjadi jelas.
Tentang dosa asal, ada dosen yang menjelaskan bahwa semua
perbuatan orang tua bagaimanapun pasti berakibat pada anak.
Misalnya jika orang tuanya suka pergi ke wanita pelacur,
maka penyakit yang di derita bukan saja oleh dia tetapi
anak-cucunya ikut menanggung akibatnya. Hal itu untuk
sementara cukup memuaskan hatiku; walaupun dalam
perkembangan selanjutnya kebimbangan tentang hal ini muncul
lagi dan tetap tidak terjawab.
Tentang Santo dan Santa tidak ada jawaban yang memuaskan.
Yah, terima begitu saja. Bukankah ada suatu dogma bahwa Sri
Paus tidak bisa keliru dalam menentukan kaidah agama.
Jawaban itu bukan saja tidak memuaskan, bahkan keraguan
bertambah satu, yaitu apakah betul Sri Paus tidak bisa salah
dalam memutuskan kaidah agama? Hilang satu keraguan yakni
tentang dosa asal, muncul satu keraguan lain, yaitu tentang
ketidak-mungkinan salah dari Sri Paus di Vatikan.
Aku mulai banyak mengenal pendeta Protestan. Pada saat itu
Gereja Katolik, sudah maju dalam hal keinginan untuk ekomune
(hidup bersama dalam persatuan). Tetapi rupanya Gereja
Protestan masih memandang dengan mata curiga akan
keinginan-baik Gereja Katolik. Ada memang Gereja Protestan
yang sudah maju, misalnya Kristen Jawa, tetapi aliran
Pantekosta sukar sekali untuk bisa mengerti hal ini.
Sehingga dari aliran Pantekosta selalu ada usaha supaya
mendapat pemeluk yang sebanyak-banyaknya. Sedangkan,
pandangan Gereja Katolik dan Kristen Indonesia atau yang
sejenis, orang yang sudah mempercayai Kristus- sebagai juru
Selamat tidak usah ditarik lagi, barlah mereka tetap tenang
pada agamanya entah itu Katolik entah itu Protestan.
Perkenalan dangan para Pendeta menyebabkan saya bisa
menerima pandangan agama Protestan yang wajar tentang tidak
adanya pentahbisan (pelantikan) Santo-Santa, tentang tidak
ditekankannya masalah dosa asal. Dari mereka saya
mendapatkan buku Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Saya
simpan Kitab Suci itu dengan nada agak takut sebab
bagaimanapun Gereja Katolik belum mengijinkan secara luas
orang Katolik menyimpan buku-buku Kitab Suci terbitan
Protestan, bahkan pendeknya pada teorinya orang Katolik
dilarang membaca buku-buku tanpa Imprimatur (persetujuan
Uskup setempat) dan atau Nihil Obstat (tidak ada keberatan).
Suatu ketika Rama Janssen yang memberikan kuliah Kitab Suci
(sebelum itu Bruder Honorius) memulai kuliahnya dengan
berkata: "Seperti kalian tahu, bahwa tidak boleh seorang
Katolik memakai kitab Injil terbitan Protestan." Hatiku
berdebar-debar juga, jangan jangan kena sanksi administrasi
saya. Tetapi beliau melanjutkan: "Tetapi berhubung dari
Katolik sendiri belum banyak usaha penerbitan Kitab Suci,
dan karena Saudara calon Guru Agama yang harus lebih tahu
dari pada umat biasa tentang Kitab Suci, maka Saudara perlu
mempunyai. Untuk memakai buku Injil terbitan Protestan harus
ada ijin dari Bapak Uskup setempat dalam hal ini Uskup
Surabaya, Mgr. Drs. J. Kloster CM. Saya, selaku pimpinan
Fakultas atas nama Bapa Uskup memberikan ijin secara umum,
khusus kepada para Mahasiswa saya untuk mempergunakan Bijbel
Protestan." Saya lega sekali. Keesokan harinya teman-temanku
mencari Injil itu sedang saya sendiri menjadi bebas
mengeluarkan Kitab Suci itu.
Yang saya kagumi dari golongan Protestan ialah mereka dapat
hafal ayat-ayat Injil itu. Sedang saya, calon Guru Agama
Katolik untuk mencari tempat-tempatnya dalam Injil masih
merasa sulit. Hal ini juga berlaku untuk semua orang Katolik
bahkan guru Agamanya juga.
Aku berpendapat, bahwa dengan mempunyai Injil imanku akan
bertambah kuat, tetapi tidak demikian halnya. Dalam suatu
tempat di dalam Pe:rjanjian Lama, sayang saya tidak bisa
mengingat lagi di mana letaknya dan untuk mencarinya kembali
ternyata sulit sekali, saya menemukan: "Bahwa dosa orang
lain tidak bisa dipertanggung jawabkan kepada orang lain
walaupun itu anaknya sendiri." Yah, dengan demikian jelas
bahwa dosa dan akibat dosa itu berlainan. Akibat dosa bisa
diwariskan tetapi dosa itu sendiri tidak bisa. Umpamanya,
anak seorang pembunuh dijauhkan dari pergaulan oleh
kawan-kawannya, tetapi dia sendiri tidak bisa dianggap salah
karena menjadi anak seorang pembunuh."
Kemudian hal ini di luar waktu kuliah saya tanyakan kepada
Pastor Bartels C.M., beliau hanya menjawalb: " Itu bukan hal
yang penting. Jika kau tidak percaya kepada dosa asal,
engkau engkau tidak dosa dan tetap bisa menjadi orang
Katolik yang baik." Saya berkata lagi: "Kalau demikian apa
bukan lebih baik saya menjadi Protestan saja, Rama?"
Rama menjawab: "Pikiranmu yang kacau anggap saja sebagai
godaan setan, dan sekarang banyaklah berdoa dengan tekun
lewat perantaraan bunda Maria."
Dari akibat membaca Bijbel saya mendapatkan hal lain yang
terasa ganjil. Hal itu ialah silsilah Yesus. Sebaiknya tidak
usah saya kutipkan Silsilah itu, tetapi saudara buka saja
Kitab Perjanjian Baru pada halaman pertama Injil Mateus.
Setelah Mateus memproklamirkan bahwa Yesus adalah Anak
Ibrahim, Anak Daud, dan menyuguhkan deretan nama-nama, maka
pada akhir silsilah itu Mateus berkata: "Yakub
memperanakkan Yusuf suami Maria, yarng melahirkan Yesus yang
disebut Kristus." Hal ini saya fikir aneh. Jika Yesus adalah
putera (keturunan) Ibrahim, maka lebih tepat jika yang
disebut keturunan Ibrahim itu Maria saja, bukan Yusuf yang
bukan saja Bapa dari jasmani Yesus.
Hal ini saya tanyakan kepada Rama Wignyopranoto C.M. beliau
menjawab: "Orang Yahudi itu garis keturunan adalah garis
Bapak sehingga lebih mudah jika yang disebut keturunan
Ibrahim itu Bapanya, bukan Ibunya. Tetapi itu tidak penting,
yang penting YESUS secara fakta sudah turun ke dunia
menyelamatkan umat manusia. Itu inti iman kita." Jawaban itu
tidak memuaskan saya, namun kesempatan tidak banyak untuk
mendiskusikan, karena katanya akan ada kesempatan untuk
mendiskusikannya dalam pelajaran yang akan datang waktu
membicarakan persoalan itu. Tetapi sampai Rama Wignyo studi
di Universitas Gregorian di Roma dan sampai saya keluar dari
pendidikan itu tidak ada kesempatan lagi untuk omong-omong
tentang hal itu.
Tetapi yang lebih mengherankan lagi ialah, saya mendapatkan
silsilah Yesus dalam Injil yang lain, yakni Injil Lukas. Di
situ dilukiskan bahwa Yesus adalah keturunan Daud dari garis
Natan yang ke 43, sedang dalam Injil Mateus adalah anak Daud
yang ke 27 dari garis Sulaiman. Terhadap ini belum pernah
saya tanyakan.
|
|
|
|
|
| Indeks Antar Agama |
Indeks Artikel | Tentang
Pengarang | Please direct any suggestion to Media Team |