Osama bin Laden
Melawan Amerika

Editor: Ahmad Dhumyathi Bashori, M.A.


Pria Yang Sangat dibenci Amerika

Prof. Khalid Mahmud

Mengapa Osama kembali menjadi berita utama di berbagai media setelah lama tidak diperbincangkan? Persembunyiannya tidak diketahui, bahkan mungkin juga oleh FBI.

Dia sudah lama tidak muncul dan persembunyiannya atau memberi pernyataan publik yang punya konsekuensi politis. Dan sampai saat ini belum ada indikasi kuat yang mengatakan bahwa pengikutnya dalam keadaan siap siaga untuk melancarkan serangan baru. Bahkan orang yang masuk dalam target buruan AS ini semakin diblokir hampir di semua lini. Amerika senang untuk membenci dia, tapi dia tidak terlalu menghiraukan apa yang sedang direncanakan AS.

Six-Plus-Two di kota Tashkent diadakan, di antara persoalan-persoalan yang tercantum dalam kesepakatan dengan Taliban adalah keberadaan Osama di Afghanistan. Amerika sudah bertekad bulat menemukan dia hidup atau mati, dan masih ada kesempatan untuk melayangkan pesan ke Kabul.

Akan tetapi, Taliban adalah "makhluk" lain yang tidak terbiasa berkomunikasi dengan riak gelombang yang sama. Tidaklah aneh ketika konferensi itu gagal, kepala delegasi negosiasi Taliban mengatakan, "Terlalu aneh untuk mewujudkan perdamaian di Afghanistan jika harus ada Amerika."

Desas-desus pendaratan pasukan komando AS di Pakistan santer terdengar, dengan rencana penyerangan masuk ke Afghanistan. Beberapa harian dalam bahasa Urdu mengatakan bahwa komando AS telah siap untuk dilepas dengan misi ini. Terlepas dan apakah isu ini berdasar atau tidak, yang jelas pemerintah Pakistan sudah terjebak dalam sikap yang salah. Menteri Dalam Negeri, Chaudhry Shujaat Hussain seharusnya mengeluarkan pernyataan bahwa Pakistan tidak akan memperkenankan teritorialnya dipergunakan untuk operasi apa pun terhadap Osama bin Laden.

Pada Agustus 1998, AS menembakkan rudal-rudal yang menghancurkan tempat berlatih dekat Durand Line, menewaskan 26 orang Akan tetapi, tembakan rudal-rudal pembalasan AS luput dari sasaran utama. Osama sedang tidak berada di tempat yang dituduh sebagai tempat markas operasional. Di antara mereka yang terbunuh adalah warga Pakistan, yang secara sukarela telah pergi untuk jihad.

Jelaslah bahwa target serangan AS adalah tempat berlatih mujahidin Kashmir. Kesalahan mengidentiflkasi sasaran tembak mengakibatkan AS harus mengakui kompleksitas operasi penjaringan Osama. Kelompok militan Islam terus menyuarakan rencana pembalasan atas serangan dan agresi membabi buta ini. Sentimen anti-AS kian meningkat di kalaugan rakyat Muslim. Di tengah pernyataan pemerintah yang mengatakan tidak mengetahui rencana serangan AS tersebut, banyak timbul kecurigaan di kalaugan rakyat akan "sandiwara" Islamabad.

Untuk memperlihatkan kecurigaan mereka atas sandiwara pemerintah Islamabad, rakyat bahkan tidak percaya kalau rudal-rudal tersebut benar-benar ditembakkan dari Samudra Hindia. Beberapa kritikan ditujukan kepada Islamabad tentang penerapan standar ganda, menuduh Islamabad mencoba "berlari dengan kelinci dan berburn dengan anjing buru."

Kecurigaan ini bukan tanpa alasan. Hal ini diperkuat dengan kesepakatan Washington berkenaan dengan proyek perencanaan AS yang mengancam wilayah ini. Sikap pro-India AS dalam dispensasi regional bukan tanpa alasan dan banyak orang yang menentang, "Mengapa mereka terlalu meributkan 600 militan Kashmir yang menduduki dataran tiuggi Kargil?" Selama ini pertikaian di Cans Kontrol di Kashmir tidak begitu meresahkan Amerika. Banyak orang Pakistan yang enggan membeli "kengerian konfrontasi nuklir" sebagai niat untuk menarik simpati AS di Kargil. Menurut pengkritik, ini merupakan upaya membuka peluang menemukan legitimasi status quo di Kashmir sebagai sebuah penyelesaian akhir.

Kampanye India yang sudah lama berlangsung terhadap "terorisme perbatasan" di Kashmir dapat mencuri hati Amerika walaupun dulu Amerika sempat lama "menjalin cinta" dengan kelompok fundamentalis Islam yang berujung dengan peperangan militan di Afghanistan. Sejak berakhirnya kekuasaan Merah di Kabul, terlalu banyak "air" mengalir dari sungai di sana yang akhirnya menjadi bumerang, dan Amerika tidak perlu lagi mensponsori jihad untuk mengalahkan musuhnya.

Kini mujahidin menjadi kata tabu dan "setan" baru bagi Washington yang tidak perlu dikampanyekan untuk menarik simpati dunia, tidak terkecuali mujahidin di Kashmir. Amerika berinisiatif untuk "menjinakkan setan ini sebelum mekar menjadi bunga" yang ternyata cepat tumbuh menjadi sumber ancaman baru, bagi hal yang mereka sebut ke jalan hidup yang beradab (civilized way of life). Memang Amerika belum secara terang-terangan mendeklarasikan perang terbuka dengan mujahidin di Kashmir, walau sudah ada satu kelompok --Harkat-ul-Ansar-- yang dinyatakan sebagai kelompok teroris. Namun, ada indikasi yang menunjukkan bahwa Amerika melihat kemungkinan bahaya yang timbul dan "internasionalisasi" perjuangan rakyat Kashmir.

Taliban belum mendapat dosis pukulan yang lebih menyakitkan, khususnya dalam kasus Osama. Di antara alasan yang dapat diberikan adalah bahwa AS tidak terlalu bersikeras menetralisasi rezim di Kabul yang diasumsi cocok untuk mengimbangi pengaruh Iran. Reportase sekitar tawaran negosiasi Taliban kepada AS dalam ekstradisi Osama merupakan suatu langkah mengejutkan. Namun tawaran ini menurut AS, jauh dari harapan karena persetujuan Osama harus menjadi prasyarat dalam negosiasi.

Dan semua pertimbangan, Taliban agak kecewa dengan sikap pemerintah Islamabad. Pemimpin tertinggi Taliban, Mulla Muhammad Omar, menyampaikan kekecewaannya melalui Maulana Fazlur Rahman (pimpinan jamaat Ulama Islam) tentang terhadap Kuwait pada 1990, merupakan provokasi bagi kekuatan agama. Laporan yang ditulis seorang mahasiswa Saudi di Harvard ke Deplu AS pada akhir 1998, mengatakan bahwa pemboman itu terjadi, pertama di Riyadh dan kedua di Dhahran, bukan berasal dan unsur luar. Akan tetapi, itu berasal dan mitra strategis AS, yaitu "sekte Wahabi arus-utama".

Ada sedikit hal yang menarik, kini Osama bin Laden muncul menjadi seorang pahlawan sejati di Dunia Islam, terlebih lagi bagi rakyat Pakistan. Menurut reportase di News Week, rakyat benar-benar kagum dengan keberaniannya menentang AS. "Masyarakat di Dunia Islam sudah begitu muak dengan arogansi AS," tulis harian berbahasa Prancis, Le Monde, pada September 1998. "Semua kekuatan Pentagon mungkin dapat dikerahkan untuk menaklukkan terorisme, tetapi itu tidak akan pernah dapat efektif membabat habis sampai ke akarnya selama keresahan dan kebencian Dunia Islam masih tumbuh dan ini yang terus memompa resistensi yang persisten," seperti dikutip seorang penulis editorial Mesir.

Seseorang tidak harus menjadi seorang Muslim yang fanatik untuk mempertanyakan peranan yang dikembangkan AS dewasa ini. Bahkan mereka yang tidak mendapatkan alasan apa pun untuk bergabung dengan jihad yang dikumandangkan Osama, tidak ingin dituding sebagai antek penguasa yang turut mengekalkan orde dunia yang tidak adil, hanya karena mendukung kebijakan AS. Le Monde mengatakan bahwa AS telah menjebak dirinya di dalam "perang peradaban", dan mendorong upaya-upaya untuk memperluas "perpecahan antara Dunia Islam dan Barat".

Setengah bulan yang lalu, ABC News melaporkan bahwa Osama berada pada tahap akhir rencana serangan barunya atas AS. FBI tidak memberi konfirmasi tentang kebenaran isu itu, namun segala persiapan dan pengamanan instalasi AS diperketat dan disiapsiagakan, baik di Afrika maupun di Timur Tengah. Sebelumnya, dua pejabat tinggi AS, Madeleine Albright dan kemudian William Cohen, masing-masing membatalkan kunjungan resminya ke Albania. Para pengamat menilai bahwa alarm sudah dipersiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan Osama. Dan ini mungkin akan menjadi justifikasi bagi mereka untuk mengulangi serangan ke Afghanistan.

AS yang kecanduan kekuasaan tidak memandang aksentuasi "konflik peradaban" sebagai kekeliruan. kalau memang benar mereka terus mengumbar kampanye vendetta, mungkin AS akan kehilangan kolega di Dunia Islam. Ironisnya, dilaporkan bahwa Mulla Omar mengatakan kepada Pangeran Saudi dalam kunjungannya ke Afghanistan, 'Allah telah menganugerahkan segala sesuatu dalam jumlah yang tidak terhitung, mengapa Anda mesti mengemis kepada AS?'

 

OSAMA BIN LADEN MELAWAN AMERIKA
Editor: Ahmad Dhumyathi Bashori MA.
Penerbit: Penerbit Mizan, Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124
Cetakan 1, Rajab 1421 /Oktober 2000
Telp.(022) 700931 Fax.(022) 707038

Indeks artikel kelompok ini | Disclaimer
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Dirancang oleh MEDIA, 1997-2001.
Hak cipta © dicadangkan.