|
|
|
|
|
PERBEDAAN TINGKAT KEUTAMAAN SESUAI DENGAN TINGKAT
PERBEDAAN WAKTU, TEMPAT DAN KEADAAN
DI SINI masalah yang perlu dijelaskan, yaitu prioritas
pelbagai perkara yang berkaitan dengan perbedaan waktu,
tempat, pribadi, dan keadaan.
Kebanyakan, hal itu berkaitan dengan perbedaan yang
dipengaruhi oleh waktu, lingkungan, dan pribadi seseorang. Dan
banyak sekali contoh untuk ini.
AMALAN DUNIAWI YANG PALING AFDAL
Ulama kita berbeda pendapat mengenai jenis pekerjaan mana yang
paling utama dan paling banyak pahalanya di sisi Allah SWT,
apakah pertanian, perindustrian, ataukah perdagangan?
Penyebab perbedaan pendapat ini ialah hadits-hadits yang
menjelaskan keutamaan masingmasing jenis pekerjaan tersebut.
Keutamaan Pertanian dijelaskan oleh hadits berikut ini.
"Tidak ada seorang Muslimpun yang bercocok tanam
kemudian dimakan oleh burung, manusia, atau binatang
lainnya kecuali hal itu dianggap sebagai shadaqah yang
dikeluarkan olehnya." 43
Tentang keutamaan perindustrian diterangkan oleh hadits,
"Tidak seorangpun yang memakan makanan yang lebih balk
dibandingkan dengan makanan yang berasal dari
pekerjaan tangannya sendiri." 44
Tentang keutamaan berniaga dijelaskan oleh hadits,
"Seorang pedagang yang jujur akan dibangkitkan bersama
para nabi dan orang-orang jujur serta para syahid." 45
Karena adanya hadits-hadits tersebut, maka para ulama ada yang
lebih mengutamakan satu profesi atas yang lainnya. Akan tetapi
para ulama yang mengecek kebenaran ketiga hadits tersebut
berkata, "Kami tidak melebihkan sama sekali satu profesi atas
yang lainnya, tetapi keutamaannya terletak pada keperluan
masyarakat terhadap ketiga profesi tersebut."
Kalau sedang terjadi masa kekurangan pangan, dan masyarakat
sangat memerlukan bahan makanan sehari-hari mereka, maka
pertanian adalah paling utama dibandingkan dua profesi yang
lainnya, karena dapat menjaga umat dari kelaparan, sebab
kelaparan merupakan bencana yang sangat membahayakan. Sehingga
dalam hal ini pertanian dianggap dapat menyiapkan bahan-bahan
makanan. Kalau pertanian merupakan sesuatu yang sulit
diusahakan, maka kesabaran untuk tetap bertani merupakan
pekerjaan yang paling utama.
Kalau bahan makanan melimpah, pertanian mudah diusahakan, dan
orang-orang memerlukan pelbagai industri, sehingga kaum
Muslimin tidak perlu lagi mengimpor barang-barang industri
tersebut; perindustrian dapat membuka lapangan kerja bagi para
penganggur; serta dapat melindungi keamanan negara --karena
adanya perindustrian senjata; dan dapat menutup kekurangan
produksi umat, maka perindustrian merupakan pekerjaan yang
paling utama.
Ketika dunia pertanian dan perindustrian tercukupi, kemudian
masyarakat memerlukan orang yang memasarkan kedua produk
tersebut ke negara lain, sehingga orang tersebut merupakan
perantara yang baik antara produsen dan konsumen; dan ketika
dunia perniagaan dikuasai oleh orang-orang yang tamak,
penimbun harta benda dan keperluan orang banyak, sehingga
mereka dapat memainkan harga di pasaran, maka pekerjaan yang
paling utama pada saat itu ialah perdagangan. Khususnya bila
perdagangan ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak
melalaikan Allah SWT, shalat dan zakat karena melakukan
perniagaan tersebut.
Satu hal yang sangat diperlukan oleh umat kita pada abad ini
ialah teknologi canggih, sehingga umat dapat memasuki abad ini
dengan senjata ilmu pengetahuannya, dan tidak ketinggalan
zaman. Umat tidak akan dapat membangkitkan misi Islamnya yang
sangat dihormati oleh Allah SWT dan diberi kenikmatan yang
sempurna sehingga mereka dapat mengajak seluruh dunia
kepadanya, kalau umat ini kalah dengan yang lainnya dalam
peralatan dan senjata yang canggih.
Oleh sebab itu, metodologi dan sistem pendidikan harus
ditingkatkan untuk mencapai tujuan tersebut dan mengembalikan
lagi kedudukan Islam yang terhormat di mata dunia. Ketika itu
Islam mempunyai peradaban yang sangat maju, dengan akar yang
mendalam, cabang yang sangat luas, serta siap menyongsong masa
depan. Metodologi dan sistem pendidikan itu harus melihat
kepada hal-hal yang sangat diperlukan oleh Islam dan umat
Islam, serta perkembangan dunia ilmu pengetahuan yang
dipadukan dengan akidah, sistem dan peradaban Islam.
Sesungguhnya penguasaan teknologi canggih dan ilmu-ilmu yang
menjadi perantara ke arah itu merupakan satu kewajiban
sekaligus kepentingan. Kewajiban yang diwajibkan oleh agama,
dan kepentingan yang didesak oleh kehidupan nyata kaum
Muslimin. Itulah prioritas yang harus didahulukan oleh umat
kita sekarang ini.
IBADAH YANG PALING UTAMA
Masalah ibadah juga serupa dengan hal di atas, dalam kaitannya
dengan individu. Para ulama berselisih pendapat mengenai hal
ini, sehingga banyak sekali pendapat yang mereka kemukakan.
Pendapat yang paling mendekati kebenaran menurut saya ialah
pendapat Imam Ibn al-Qayyim, walaupun dia juga berbeda
pendapat dengan orang lain, dari satu waktu ke waktu yang
lain, dan dari satu tempat ke tempat yang lain, dan dari satu
keadaan kepada keadaan yang lain.
Dalam buku al-Madarij, imam Ibn al-Qayyim mengatakan,
"Kemudian orang yang termasuk kelompok 'Hanya kepada-Mu kami
menyembah' mempunyai hak untuk memiliki ibadah yang paling
utama, paling bermanfaat, dan paling berhak untuk melebihkan
ibadatnya daripada yang lain. Ada empat golongan yang termasuk
dalam kelompok ini:
Pertama, adalah kelompok yang memandang bahwa ibadah yang
paling bermanfaat dan paling afdal adalah ibadah yang paling
sukar dan sulit untuk dilaksanakan.
Mereka berkata, "Karena sesungguhnya hal itu merupakan sesuatu
yang paling jauh dari hawa nafsu, sekaligus merupakan hakikat
penghambaan."
Mereka berkata, "Pahala yang kita terima akan tergantung
kepada tingkat kesulitan yang kita lakukan." Mereka
meriwayatkan hadits yang tidak ada dasarnya: "Amal ibadah yang
paling afdal ialah yang paling sulit dan sukar dilakukan." 46
Mereka memang orang perfeksionis dan penyiksa jiwa mereka.
Mereka berkata, "Hanya dengan cara seperti itu jiwa kami bisa
lurus, karena jiwa ini memiliki sifat malas dan lemah, serta
hendak menyatu dengan bumi. Jiwa itu tidak akan baik kecuali
dengan memberikan beban berat dan kesulitan padanya.
Kedua, mereka yang mengatakan bahwa ibadah yang paling utama
ialah melepaskan diri dan menjauhi dunia, mempersedikit
kepentingan kita terhadap nya, dan tidak memberikan perhatian
kepadanya. Kelompok ini terbagi menjadi dua:
1) Kelompok awam yang menduga bahwa perkara ini
merupakan tujuan akhir, sehingga mereka berusaha keras
untuk mencapainya. Mereka mengajak orang untuk
melakukannya. Mereka berkata, "Perbuatan ini lebih utama
daripada ilmu dan ibadah." Sehingga mereka memandang
bahwa zuhud di dunia merupakan tujuan dan inti ibadah.
2) Kelompok khusus yang melihat bahwa perkara ini
merupakan tujuan antara, untuk mencapai tujuan yang
lebih jauh yaitu ketenangan hati terhadap Allah SWT.
Menumpukan segala perhatian dan mengosongkan hati untuk
mencintai dan menyerahkan diri kepada Allah, bertawakkal
kepada-Nya dan menyibukkan diri untuk mencari
keridhaan-Nya. Mereka memandang bahwa ibadah yang paling
utama ialah dalam kelompok yang cinta kepada Allah,
terus berzikir dengan hati dan lisan, serta menyibukkan
diri untuk selalu mengingat-Nya tanpa mempedulikan
perbedaan yang terdapat dalam hati. Kelompok inipun
terbagi menjadi dua:
a) Kelompok 'arifun, yang apabila datang perintah dan
larangan mereka segera melakukannya walaupun mereka
harus berpisah dan melepaskan kelompoknya.
b) Kelompok yang menyimpang, yaitu orang-orang yang
berkata, "Tujuan ibadah ialah menyatukan hati kepada
Allah. Jika ada sesuatu yang dapat memisahkan diri
mereka dari Allah maka mereka tidak berpaling kepadanya.
Barangkali salah seorang di antara mereka berkata, "Yang
harus diminta untuk berwirid adalah orang yang lalai.
Mengapa hati yang semua waktunya dipenuhi dengan wirid
juga diminta untuk itu?"
Kelompok ini terbagi lagi menjadi dua, yaitu kelompok yang
meninggalkan kewajiban dan fardhu untuk perkumpulannya; dan
kelompok yang mengerjakan kewajiban tetapi meninggalkan semua
amalan sunat. Sebagian pengikut kelompok ini pernah bertanya
kepada seorang syaikh yang arif: "Jika muadzin mengumandangkan
adzan dan aku sedang berada di perkumpulanku terhadap Allah,
lalu jika aku berdiri dan ke luar, maka aku akan terpisah dari
mereka. Tetapi jika aku tetap di tempat itu, maka aku tetap
berada di perkumpulanku. Manakah kedua hal ini yang lebih
utama bagiku?"
Syaikh yang arif menjawab, "Jika muadzin mengumandangkan
adzan, dan engkau berada di bawah Arsy, maka berdirilah dan
jawablah orang yang mengajak kepada Allah, kemudian kembalilah
ke tempatmu. Hal ini karena sesungguhnya perkumpulan terhadap
Allah merupakan bagian daripada ruh dan hati, dan menjawab
ajakan muadzin adalah hak Tuhan. Maka barangsiapa yang
mendahulukan kepentingan ruhnya atas hak Tuhannya, tidak
termasuk kelompok "hanya kepada-Mu kami menyembah"."
Ketiga, adalah kelompok yang melihat bahwa ibadah yang paling
bermanfaat ialah ibadah yang sangat banyak manfaatnya. Mereka
memandang bahwa ibadah ini lebih utama daripada ibadah yang
sedikit manfaatnya. Mereka melihat bahwa berkhidmat terhadap
fakir miskin, menyibukkan diri untuk kemaslahatan manusia dan
memenuhi hajat keperluan mereka, memberikan bantuan harta
benda dan tenaga merupakan ibadah yang paling utama. Mereka
berusaha keras untuk melakukan ibadah ini, berdasarkan sabda
Nabi saw,
"Semua makhluk ini adalah (berada dalam) asuhan Allah;
dan mereka yang paling dicintai-Nya ialah (mereka)
yang paling bermanfaat bagi asuhan-Nya." (Diriwayatkan
oleh Abu Ya'la)47
Mereka berhujjah bahwa amalan orang yang beribadah hanya
kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan amalan orang yang
bermanfaat menjalar kepada orang lain. Manakah kedua jenis
orang ini yang lebih utama?
Mereka berkata, "Oleh karena itulah orang alim lebih utama
daripada orang yang ahli ibadah, sebagaimana kelebihan bulan
purnama atas bintang gemintang yang lain."48
Mereka berkata bahwa Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin
Abu Thalib r.a.
"Sungguh bila engkau dapat memberikan petunjuk Allah
kepada satu orang, maka hal itu lebih baik daripada
melimpahnya berbagai nikmat kepada dirimu." 49
Pemberian keutamaan seperti ini ialah karena adanya manfaat
yang dapat dirasakan oleh orang lain. Di samping itu, ada
argumentasi lain, berupa sabda Rasulullah saw,
"Barangsiapa mengajak orang kepada suatu petunjuk,
maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang
yang mengikat, petunjuknya, tanpa mengurangi
sedikitpun pahala orang yang melakukannya." 50
Mereka juga berargumentasi dengan sabda Rasulullah saw,
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat
kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada
manusia." 51
"Sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan
ampunan kepada Allah oleh semua penghuni langit dan
bumi, sampai ikan hiu yang ada di lautan dan semut
yang berada di lubangnya." 52
Merekajuga mengemukakan argumentasi bahwa sesungguhnya para
nabi diutus ke dunia ini untuk menyampaikan kebaikan kepada
makhluk-Nya dan memberikan petunjuk Allah kepada mereka, agar
kehidupan dunia dan akhirat mereka betul-betul bermanfaat.
Para nabi itu tidak diutus untuk menyampaikan agar manusia
berkhalwat (menyendiri) dan memisahkan diri dari keramaian
manusia, agar mereka hidup seperti pendeta. Oleh karena itu
Nabi saw tidak begitu suka terhadap orang yang memperuntukkan
seluruh waktunya untuk beribadah dan meninggalkan pergaulan
dengan manusia. Mereka melihat bahwa berpisah untuk
melaksanakan urusan Allah, dan memberikan perkhidmatan kepada
hamba-Nya dan melakukan kebajikan untuk mereka adalah lebih
utama daripada perkumpulan mereka.
Keempat, ialah kelompok yang mengatakan bahwa ibadah yang
paling utama ialah bekerja untuk memperoleh keridhaan Tuhan
setiap waktu, dengan melihat keperluan yang mendesak pada
waktu itu. Oleh sebab itu, ibadah yang paling utama pada waktu
perjuangan adalah berjuang, walaupun dia harus meninggalkan
wirid, shalat malam dan puasa sunat; dan bahkan menunda shalat
fardhu, kalau keadaan tidak aman.
Yang paling utama, menurut mereka, kalau kita kedatangan
seorang tamu, maka kita harus menghormatinya, dan menyibukkan
diri dalam menyambutnya walaupun kita harus meninggalkan wirid
yang sunat. Begitu pula dalam memberikan layanan terhadap
istri dan keluarga.
Ibadah yang paling utama pada waktu sahur ialah shalat dan
membaca al-Qur'an, berdo,a, berdzikir, dan beristighfar.
Ibadah yang paling utama ketika kita mengajar murid-murid dan
mengajar orang yang bodoh ialah betul-betul mengajar dan
memusatkan pikiran kepada tugas yang kita emban itu.
Ibadah yang paling utama pada waktu adzan ialah meninggalkan
wirid, dan segera menyambut seruan muadzin.
Ibadah yang paling utama pada waktu shalat fardhu yang lima
ialah bersungguh-sungguh melaksanakannya sesempurna mungkin,
dan segera melaksanakannya pada awal waktunya. Keluar menuju
masjid, dan semakin jauh tempatnya maka semakin utama.
Kalau pada suatu waktu tenaga kita sangat diperlukan dan juga
harta benda kita, maka kita harus mempersiapkan pemberian
bantuan itu, dan lebih mendahulukan pekerjaan ini daripada
membaca wirid dan berkhalwat.
Amalan yang paling utama ketika kita mendengarkan bacaan
al-Qur'an ialah memusatkan hati dan pikiran kita untuk
menghayati dan memahaminya seakan-akan Allah SWT sedang
berbicara kepada kita. Kalau seluruh perhatian hati kita
terpusat pada apa yang difirmankan oleh-Nya, maka kehendak
hati kita untuk melaksanakan segala perintah-Nya adalah lebih
utama daripada memusatkan hati kita kepada surat yang datang
dari penguasa.
Amalan yang paling utama ketika kita sedang berwukuf di Arafah
ialah bersungguh-sungguh merendahkan hati, berdo'a, dan
berzikir kepada Allah, tanpa harus melaksanakan puasa yang
dapat melemahkan tubuh kita ketika itu.
Amalan yang paling utama pada tanggal sepuluh Dzul Hijjah
ialah memperbanyak ibadah, khususnya membaca takbir, tahlil,
dan tahmid. Hal ini lebih utama daripada jihad yang bukan
fardhu 'ain.
Amalan yang paling utama pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan
ialah pergi ke masjid, berkhalwat, beri'tikaf dan meninggalkan
pergaulan dengan manusia. Sehingga banyak ulama yang memandang
bahwa hal ini lebih utama daripada mengajarkan ilmu kepada
mereka, dan mengajar mereka membaca al-Qur'an .
Amalan yang paling utama ketika teman kita sakit atau
meninggal dunia ialah menjenguknya, dan mengantarkan
jenazahnya, serta mengutamakan hal ini daripada berkhalwat dan
menghadiri perkumpulan kita.
Amalan yang paling utama ketika turun bencana ialah bersabar
terhadap orang yang ada di sekitarmu tanpa harus melarikan
diri dari mereka. Karena sesungguhnya orang mu'min yang
bergaul dengan manusia harus bersabar terhadap bencana yang
menimpa mereka. Bersabar terhadap mereka adalah lebii, utama
daripada tidak bergaul dengan mereka yang menyakiti hati
mereka. Yang paling utama ialah tetap bergaul baik dengan
mereka. Hal ini lebih baik daripada mengucilkan diri dari
mereka ketika mereka mendapatkan bencana. Kalau kita melihat
bahwa bila kita bergaul dengan mereka akan dapat menghilangkan
atau mengurangi kesedihan mereka maka bergau1 dengan mereka
dipandang lebih utama daripada mengucilkan diri dari mereka.
Amalan yang paling utama setiap waktu ialah mengutamakan
pencapaian keridhaan Allah SWT pada setiap waktu dan keadaan,
memusatkan perhatian terhadap kewajiban, dan tugas kita setiap
waktu.
Orang-orang seperti ini adalah orang yang memang benar-benar
ahli ibadah. Sedangkan tiga kelompok sebelum kelompok ini
adalah ahli ibadah yang tidak mutlak. Apabila salah seorang
dari tiga kelompok ini ke luar dari kelompoknya dan berpisah
dari mereka, maka dia melihat dirinya kurang dan meninggalkan
ibadahnya. Mereka menyembah Allah SWT dengan satu bentuk saja.
Sedangkan orang yang disebut sebagai ahli ibadah yang mutlak
ialah yang tidak mempunyai tujuan dalam ibadahnya, kecuali
hanya mencari keridhaan Allah SWT di manapun dia berada,
walaupun dia harus mendahulukan urusan yang lainnya. Dia
senantiasa berpindah-pindah dalam tingkatan ibadahnya, setiap
kali ada kesempatan baginya untuk meningkatkan taraf
peribadatannya. Dia akan memusatkan perhatiannya kepada amalan
yang sedang dihadapinya di manapun dia berada sampai tampak
ada tingkatan lain yang lebih tinggi. Dia terus meningkat
sehingga berakhir perjalanan hidupnya.
Ketika Anda melihat ulama, dia berada di tengah-tengah mereka;
jika Anda melihat para hamba, maka kamu melihatnya di
tengah-tengah mereka; jika Anda melihat para pejuang, maka
kamu melihatnya berada di tengah-tengah mereka; jika Anda
melihat orang yang berdzikir, maka Anda akan melihatnya di
tengah tengah mereka; jika Anda melihat orang-orang yang
bershadaqah dan melakukan kebajikan, maka Anda melihatnya
bersama mereka; jika Anda melihat orang-orang yang memusatkan
perhatiannya kepada Allah SWT, maka Anda menemukannya berada
di tengah-tengah mereka. Dia adalah hamba yang mutlak, yang
tidak memiliki bentuk, tidak terikat, dan amal perbuatannya
tidak ditujukan untuk dirinya sendiri, walaupun dia tidak
merasakan kelezatan dan kenikmatan beribadah. Tetapi semua
perbuatannya hanya ditujukan untuk Tuhannya, walaupun
kelezatan dan kenikmatan beribadah itu ada pada orang lain.
Orang seperti inilah yang dianggap telah dapat mewujudkan
"hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami
memohon pertolongan." Dia melaksanakan ayat ini dengan benar,
mengenakan pakaian yang telah tersedia, memakan yang paling
mudah, dan memusatkan perhatian terhadap perintah Allah setiap
waktu, menempati tempat duduk yang kosong baginya, tidak
melakukan ibadah yang mempunyai keterkaitan, tidak memiliki
bentuk luar, benar-benar bebas, dia terus berputar mengikuti
arus persoalan yang dia hadapi, beragama dengan agama yang
memerintahkan dirinya, merasa senang dengan kebenaran, dan
merasa asing dengan kebathilan. Dia bagaikan air hujan, di
manapun ia diturunkan selalu membawa manfaat. Dia bagaikan
pohon kurma yang pohonnya tidak gugur, dan semua pohonnya
bermanfaat sampaipun kepada durinya. Dia marah kepada
orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah dan melanggar
batas haram yang telah ditetapkan oleh-Nya. Dia milik Allah,
dengan Allah dan bersama Allah. Dia telah bersahabat dengan
Allah dengan khusyu', dan bersahabat dengan manusia dengan
penuh keramahan.Bahkan, ketika dia bersama Allah, dia
mengucilkan diri dari makhluk-Nya, dan menyepikan diri dari
mereka. Ketika dia bersama makhluk-Nya, dia betul-betul berada
di tengah-tengah mereka. Betapa unik dan langkanya manusia
seperti ini! Betapa agung dan gembiranya ketika dia bersama
Allah SWT, karena dia merasa tenang, dan damai di sisi-Nya.
Hanya Allah 'Azza wa Jalla tempat kita memohon pertolongan,
tempat kita bergantung, dan tempat kita kembali. 53
Catatan kaki:
43 Muttafaq 'Alaih dari Anas, (al-Lu'lu' wa al-Marjan, 1001)
44 Diriwayatkan oleh Ahmad dan Bukhari dari Miqdam (Shahih
al-Jami' as-Shaghir. 5546).
45 Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Sa'id dalam al-Buyu'
(1209), dan di-hasan-kan olehnya dalam beberapa naskah;
diriwayatkan oleh Ibn Majah dari Ibn Umar dalam at-Tijarat
(2139) tetapi di dalam isnad-nya ada seorang rawi yang dha'if.
46 Dalam al-Durar, al-Zarkasyi berkata: "Hadits ini tidak
dikenal. Al-Mazi berkata: "Ini termasuk salah satu hadits
gharib, yang tidak kita temukan di dalam salah satu kitab yang
enam (al-Kutub al-Sittah). Dalam al-Mawdhu' at al-Kubra.
al-Qari berkata: "Maknanya benar." Kemudian dia menguatkan
pendapatnya dengan riwayat dari 'Aisyah r.a. "Sesungguhnya
pahalamu tergantung kepada usahamu." (Lihat Kasyf al-Khafa',
1: 155)
47 Diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Kabir dan al-Awsath
dari Ibn Mas'ud; diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan al-Bazzar
dari Anas. Di dalam kedua sanad ini terdapat sesuatu yang
tertinggal sebagaimana dikatakan oleh al-Haitsami (8:191);
diriwayatkan oleh Thabrani dalam tiga bentuk dari Ibn Umar:
"Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah mereka yang
paling bermanfaat untuk manusia..." Hadits ini dianggap hasan
dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (176)
48 Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Abu Darda, yang
diriwayatkan oleh Ahmad dan para penulis kitab Sunan, dan Ibn
Hibban, sebagai yang tertulis dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir
(6297)
49 Diriwayatkan oleh Bukhari dari Ali bin Abu Thalib.
50 Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim. dan para penyusun kitab
sunan dari Abu Hurairah r.a. (Shahih al-Jami' as-Shaghir,
6234)
51 Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Umamah secara marfu':
"Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya, dan penghuni langit dan
bumi, sampaipun semut yang berada di dalam lubangnya, dan ikan
hiu yang ada di lautan memanjatkan shalawat kepada orang yang
mengajarkan kebaikan kepada manusia." Dia berkata bahwa hadits
ini adalah hasan shahih gharib (2686); dan diriwayatkan oleh
Thabrani sebagaimana disebutkan dalam al-Majma', (1:124).
52 Merupakan bagian dari hadits Abu Darda, di atas, dengan
sedikit perbedaan dalam redaksinya.
53 Madarij al-Salikin, 1:85-90; cetakan Al-sunnah
al-Muhammadiyyah.
------------------------------------------------------
FIQH PRIORITAS
Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah
Dr. Yusuf Al Qardhawy
Robbani Press, Jakarta
Cetakan pertama, Rajab 1416H/Desember 1996M
|
|
|
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota |