Petunjuk Jalan

Sayyid Quthb

 

Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Penterjemah
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

Saat ini umat manusia sedang berada di tepi juang kehancuran. Bukan karena faktor ancaman kehancuran yang menggantung di atas kepala mereka, karena hal itu hanyalah gejala-gejala sakit, bukan sakit itu sendiri. Namun karena kebangkrutannya dalam dunia "nilai-nilai" yang dengannya kehidupan manusia dapat berkembang dengan perkembangan yang sehat, dan meningkat ke arah yang lebih baik. Ha ini amat jelas tampak di dunia Barat, yang tidak lagi dapat memberikan panutan "nilai-nilai" bagi umat manusia. Bahkan ia tidak lagi memiliki justifikasi yang memuaskan bagi dirinya sendiri untuk terus berhak tampil di dunia. Setelah Demokrasi di sana telah berakhir ke dalam suatu kebangkrutan, karena ia mulai meminjam --secara perlahan-- dan mengadopsi sistem yang dianut oleh blok Timur, terutama dalam sistem ekonomi! Di bawah nama Sosialisme!

Demikian juga halnya dengan blok Timur sendiri. Teori-teori sosial, terutama Marxisme, yang pada awalnya telah membius banyak orang di Timur --juga di Barat-- dengan melihatnya sebagai aliran pemikiran yang mengandung unsur ideologi yang menjanjikan, kini telah amat mundur dari segi 'pemikiran', dengan jelas. Sehingga hampir hanya terpusat pada konsep 'negara' dan perangkat pendukungnya. Yang berarti telah amat menjauh dari dasar-dasar aliran pemikiran ini. Secara umum ia bertentangan dengan fithrah manusia dan kebutuhan-kebutuhannya. Sehingga ia hanya dapat hidup di lingkungan sosial yang kacau dan hancur! Atau lingkungan yang sebelumnya dikuasai oleh sistem diktator dalam waktu yang lama! Bahkan dalam lingkungan sosial seperti itu pun, Marxisme telah mempertontonkan kegagalan material-ekonominya. Seperti yang diperlihatkan oleh Prusia --sebuah contoh masyarakat yang mengaplikasikan sistem komunisme-- yang mengalami kekurangan bahan pangan, padahal sebelumnya produk pangannya selalu surplus, hingga pada masa kekaisaran sekalipun. Akibanya ia harus mengimpor gandum dan bahan-bahan pangan dari negara lain. Dan menjual simpanan emasnya untuk membeli bahan pangan yang mereka butuhkan. Hal tersebut terjadi karena kegagalan perkebunan komunis yang mereka laksanakan, dan gagalnya sistem yang mereka anut, yang bertentangan dengan fithrah dasar manusia.

Oleh karena itu, umat manusia memerlukan kepemimpinan yang baru!

Kepemimpinan orang Barat terhadap umat manusia hampir berakhir masanya. Bukan karena peradaban Barat telah bangkrut secara material, atau melemah dari segi kekuatan ekonomi dan militer. Namun, sistem barat telah berakhir perannya, karena ia tidak lagi memiliki kekayaan 'nilai-nilai' yang membuatnya layak untuk memimpin.

Umat manusia memerlukan kepemimpinan yang mampu mempertahankan dan mengembangkan peradaban material yang telah dicapai oleh umat manusia saat ini, melalui kejeniusan Eropa dalam menciptakan kreasi material, dan mamu memberikan umat manusia nilai-nilai baru yang serius dan sempurna --dibandingkan dengan apa yang dikenal sebelumnya oleh umat manusia-- dan dengan manhaj yang genuine, positif dan realistis sekaligus. Islam sajalah yang memiliki nilai-nilai dan manhaj tersebut.

Kebangkitan ilmu pengetahuan telah menjalankan perannya. Yang dimulai bersamaan dengan era renaissance pada abad ke enam belas, dan mencapai puncaknya pada masa abad delapan belas dan sembilan belas. Namun ia tidak lagi memiliki kekayaan itu lagi.

Demikian juga dengan "nasionalisme" yang timbul pada masa itu, dan perkumpulan masyarakat lokal, telah menjalankan perannya selama masa itu. Namun dia juga tidak lagi memiliki kekayaan yang baru untuk diberikan kepada umat manusia. Kemudian sistem individualisme dan komunisme juga gagal.

Maka datanglah masanya bagi Islam dan umat Islam untuk berperan, pada saat umat manusia sedang amat membutuhkan, kebingungan dan mengalami kekacauan. Datanglah masa peran kepemimpinan Islam, yang tidak mengingkari kreatifitas material di bumi, karena ia melihatnya sebagai tugas manusia, semenjak Allah SWT memberikan amanah kekhalifahan di atas muka bumi kepadanya. Dan menilainya --dengan syarat-syarat khusus-- sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, dan suatu usaha untuk mencapai tujuan keberadaan manusia di muka bumi ini.

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Al Baqarah: 30

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." Adz Dzaariyaat: 56

datanglah masa berperannya "umat Islam" untuk mewujudkan kehendak Allah SWT dalam pengutusan mereka kepada manusia:

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." Ali Imran: 110

"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." Al Baqarah: 143.

* * *

Tetapi Islam tidak dapat menjalankan perannya kecuali jika ia telah terwujudkan dalam suatu masyarakat, atau umat. Karena manusia tidak mau mendengarkan suatu aqidah yang berisi ajaran semata, yang tidak mempunyai bukti realistis dalam kehidupan nyata. Sementara keberadaan "Umat Islam" bisa dikatakan telah terputus semenjak beberapa abad yang lalu. Umat Islam bukanlah 'tanah' tempat hidupnya Islam. Ia juga bukan. 'bangsa' yang nenek-moyang mereka, pada beberapa abad yang lalu dalam sejarah, hidup dengan sistem Islam. Namun "umat Islam" adalah sekelompok manusia yang kehidupan mereka, gambaran hidup, sistem, nilai dan ukuran-ukuran mereka seluruhnya bersumber dari manhaj Islam. Umat ini, dengan karakteristik seperti ini, telah punah semenjak terputushnya penegakan hukum dengan syari'at Allah dari seluruh muka bumi.

Kita harus 'mewujudkan kembali' keberadaan 'umat' ini, sehingga Islam dapat menjalankan perannya yang ditunggu-tunggu dalam memimpin manusia, sekali lagi.

Kita harus 'membangkitkan' umat itu, yang telah tertutupi oleh perjalanan berbagai generasi, pandangan hidup, kondisi yang selalu berubah, sistem-sistem yang beragam, yang tidak memiliki hubungan sama sekali dengan Islam, juga dengan manhaj Islam. Meskipun tetap ada mengklaim bahwa ia masih berdiri dalam apa yang dinamakan dengan 'Dunia Islam'!

Aku mengetahui bahwa jarak antara usaha untuk 'membangkitkan' dengan masa penyerahan 'tampuk kepemimpinan' itu masih jauh sekali. Karena umat Islam telah punah dari 'wujud'nya dan dari 'pandangan mata' semenjak lama. Sementara kepemimpinan manusia telah dipegang oleh pemikiran lain, bangsa lain, pandangan hidup yang lain, dan dengan bentuk yang lain, dalam masa yang lama. Kreatifitas Eropa pada masa itu telah menciptakan kekayaan yang besar dalam bentuk 'ilmu pengetahuan', 'budaya', 'sistem' dan 'produk material'. Ini adalah capaian yang besar, yang membawa manusia ke puncaknya. Sehingga untuk menggantikan peran tersebut tentulah tidak mudah. Apalagi apa yang dinamakan dengan 'dunia Islam' hampir bisa dikatakan masih kosong dari capaian-capaian seperti itu!

Namun demikian, meskipun kondisinya demikian, kita tetap harus menguasakan 'kebangkitan Islam', sejauh apapun jarak yang merentang antara usaha pembangkitan dengan masa penyerahan tampuk kekuasaan kepemimpinan manusia. Usaha untuk membangkitan Islam kembali adalah langkah pertama yang tidak mungkin diabaikan!

* * *

Agar usaha kita ini menjadi jelas, pertama kita harus mengetahui --dengan pasti--kemampuan-kemampuan umat ini untuk memimpin manusia. Agar kita tidak salah menilai unsur-unsurnya yang diperlukan dalam usaha pembangkitan yang pertama.

Umat ini, saat ini, tiak mampu --dan ia tidak dituntut-- untuk mengajukan suatu kemajuan luar biasa dalam bidang kreasi material, yang membuat orang lain menjadi tunduk, dan mampu mendesakkan kepemimpinan internasionalnya dari sisi ini. Kejeniusan Eropa telah mendahului kemajuan dalam bidang ini dalam bentuk yang amat maju dan luas. Sehingga diperkirakan, dalam beberapa abad mendatang, kemajuan materialnya belum ada yang dapat menandinginya!.

Oleh karena itu, kita harus menengok sisi lainnya! Yaitu sisi yang dibutuhkan dan tidak dimiliki oleh peradaban ini!

Ini tidak berarti bahwa kita menafikan kreatifitas material. Karena merupakan suatu kewajiban bagi kita untuk mengusahakan capaian dalam bidang itu. Namun bukan suatu capaian yang kita andalkan untuk maju menjadi pemimpin umat manusia pada era kontemporer ini. Yang kita usahakan capai dalam bidang itu adalah sekadar kemampuan dasar yang dibutuhkan bagi keberadaan kita. Demikian juga sebagai kewajiban yang diharuskan oleh 'weltanschauung Islam", yang memberikan amanah kekhalifahan di atas muka bumi kepada manusia, dan mejadikan hal itu --dengan syarat tertentu-- sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, serta sebagai usaha untuk mewujudkan tujuan keberadaan manusia.

Dengan demikian, kita harus mengajukan sisi lain --selain kreatifitas material-- dan itu tidak lain adalah "'aqidah" dan "manhaj" Islam yang memberikan kemungkinan bagi manusia untuk mempertahankan capaian kejeniusan materialnya, di bawah pengawasan konsep yang memenuhi kebutuhan fithrah manusia dan kreatifitas material. Juga kita harus mengusahakan terlebih dahulu agar aqidah serta manhaj itu terwujudkan dalam kelompok manusia, atau dengan kata lain dalam masyarakat Islam.

* * *

Dunia saat ini, seluruhnya hidup dalam "kejahiliahan", dari segi dasar yang menjadi landasan pokok unsur-unsur kehidupan dan sistem-sistemnya. Kejahiliahan yang sama sekali tidak tergoyahkan oleh kemudahan-kemudahan yang dihasilkan oleh capaian-capaian material dan produk kreatifitas yang mengagumkan ini!

Kejahiliahan ini berpijak pada pelanggaran terhadap kekuasaan Allah SWT di atas muka bumi, khususnya adalah tentang Uluhiyah, yaitu al Hakimiah (otoritas kekuasaan). Mereka menisbahkan otoritas kekuasaan ini kepada manusia. Sehingga sebagian dari mereka menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan. Bukan dalam bentuk primitif yang sederhana, yang dikenal dalama kejahiliahan zaman lampau, namun dalam bentuk klaim keberhakkan menciptakan pandangan hidup, nilai-nilai, hukum, undang-undang, sistem dan institusi yang steril dari manhaj Allah SWT bagi kehidupan ini, dan dalam hal yang tidak diizinkan oleh Allah SWT. Padahal, penistaan "umat manusia" secara umum yang terjadi pada sistem Komunisme, serta kezaliman yang menimpa "individu" dan bangsa-bangsa yang dilakukan oleh kekuasaan kapital dan kolonial dalam sistem "Kapitalisme", semua itu adalah hasil dari pelanggaran terhadap kekuasaan Allah SWT, dan pengingkaran terhadap kemuliaan manusia yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada manusia!

Di sini, manhaj Islam mempunyai konsep yang khas. Jika dalam sistem selain sistem Islam, manusia saling menyembah satu sama lain --dalam berbagai bentuk-- maka dalam manhaj Islam semata-lah seluruh manusia terbebaskan dari penyembahan satu sama lain, yaitu dengan menyembah Allah SWT semata, menerima perintah dari Allah SWT semata, dan tunduk kepada Allah SWT.

Di sinilah perbedaan mendasar antara Islam dengan konsep lainnya. Demikian juga, inilah pandangan hidup yang baru yang dapat kita berikan kepada umat manusia --serta yang berkaitan dengannya, berupa pengaruh konsep tersebut yang mengakar dalam kehidupan realitas manusia-- inilah kekayaan yang tidak dimiliki oleh umat manusia. Karena ia bukan "produk" peradaban Barat, juga bukan hasil kejeniusan Eropa! Baik Barat atau Timur.

* * *

Kita --tanpa diragukan lagi-- memiliki sesuatu yang baru, yang serius dan sempurna. Sesuatu yang tidak diketahui oleh umat manusia. Dan tidak bisa pula mereka "memproduksinya"!

Namun, sesuatu yang baru ini harus terwujudkan --seperti telah kami katakan sebelumnya-- dalam realitas praksis. Umat Islam harus mewujudkan hal itu dalam keidupan. Dan ini berarti membutuhkan usaha "pembangkitan" dalam masyarakat Islam. Pembangkitan yang kemudian akan diikuti --pada suatu masa, jauh atau dekat-- oleh penyerahan tampuk kepemimpinan umat manusia.

Bagaimanakah upaya pembangkitan Islam ini dimulai?

Ia membutuhkan pionir-pionir yang menggerakkan proyek ini, dan berusaha mensukseskannya. Dengan menggerus kejahiliahan yang sedang mencengkeram di seluruh penjuru bumi. Ia mengusahakan hal ini sambil memisahkan diri dari kejahiliahan yang mengelilinginya, pada satu segi, dan pada segi yang lain juga menjaga kontaknya dengan cara tertentu, dengan kejahiliahan tersebut.

Pionir-pionir yang mempunyai tugas untuk menjalankan misi tersebut membutuhkan "Petunjuk Jalan", yang mendedahkan kepadanya peran yang harus dijalankannya, tugas utamanya, tujuan pokoknya, serta starting point bergeraknya dalam perjalanan yang panjang itu. Juga dengannya ia mengetahui sikap yang harus diambilnya terhadap kejahiliahan yang merajalela di seluruh penjuru bumi, dalam hal apa ia bertemu dengan manusia yang lain, dan dalam hal apa pula harus berpisah?, apa karakteristik dirinya, dan apa karakteristik kejahiliahan yang berada di sekitarnya? Bagaimana ia berkomunikasi dengan orang-orang jahiliah tersebut, dan apa yang harus ia komunikasikan kepada mereka? Selanjutnya, mengetahui dari mana ia mendapatkan semua karakteristik tersebut, dan bagaimana mendapatkanya?

Petunjuk Jalan ini harus disusun dari sumber pertama aqidah ini, yaitu Al Quran. Dari petunjuk-petunjuk utamanya, dan dari gambaran yang diciptakannya dalam diri tokoh-tokoh generasi pertama yang terpilih, yang dengannya Allah SWT menciptakan apa yang dikehendaki-Nya terwujud di bumi ini, sehingga merubah perjalanan sejarah kembali kepada jalan yang dikehendaki oleh Allah SWT.

* * *

Bagi pionir yang diharapkan dan ditunggu-tunggu itulah, aku tulis buku "Petunjuk Jalan" ini. Isi buku ini terdiri dari empat pasal yang aku sarikan dari kitab "Fi Zhilal al Quran" [Yaitu pasal: "sifat Manhaj Qurani", "Konsep Islam dan Budaya", "Jihad di Jalan Allah", serta "Berdirinya Masyarakat Islam dan Karakteristiknya."], sambil memberikan revisi, dan penambahan yang diperlukan untuk topik buku ini. Serta delapan pasal lain, selain pendahuluan ini, yang aku tulis secara bertahap, sesuai dengan ilham yang aku dapatkan dari manhaj Rabbani dalam Al Quran al Karim. Seluruh pasal tersebut terikat, meskipun terpisah-terpisah, oleh benang merah sebagai Petunjuk Jalan. Seperti halnya petunjuk-petunjuk atau rambu-rambu di jalan! Dan secara global, buku ini merupakan semacam seri pertama dari seri "Petunjuk Jalan" ini, yang aku harapkan bisa diikuti oleh seri berikutnya. Sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Allah SWT untuk menulis tentang Petunjuk Jalan ini.

Wabillahi at Taufiq.

Judul Asli: Ma'alim fi Thariq
Penulis: Sayyid Quthb
Penerjemah: Abdul Hayyie al Kattani
Penerbit: Penerbit: Daar Syuruuq

Edisi lengkap terjemahan berbahasa Indonesia dari buku ini, yang saya selesaikan bersama al akh Yodi Indrayadi, insya Allah akan diterbitkan oleh Gema Insani Press, Jakarta.

 

Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Penterjemah
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team