Sinkronisasi Bumi-Bulan

T. Djamaluddin
(Staf Peneliti Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN, Bandung)


Sebaik-baik pemimpinmu adalah yang kamu cintai dan dia mencintai kamu, kamu doakan dan dia mendoakan kamu. Dan seburuk-buruk pemimpin kamu adalah yang kamu benci dan dia membenci kamu, kamu hujat dan dia menghujat kamu. (HR Muslim)

Sinkronisasi rotasi bumi-bulan menyebabkab periode revolusi bulan sama dengan periode rotasinya, yaitu 27,3 hari, sehingga wajah purnama tak pernah berubah. Selain itu, rotasi bumi diperlambat sehingga hari makin panjang 0.002 detik dalam seabad dan bulan menjauh sekitar 3,5 cm per tahun. Kelak, ratusan juta tahun mendatang rotasi bumi pun menjadi sinkron dengan rotasi dan revolusi bulan, yaitu satu hari sama dengan satu bulan, sekitar 48 hari menurut ukuran sekarang.

Bumi mengerem rotasi bulan dan bulan pun mengerem rotasi bumi yang menyebabkan sinkronisasi. Inilah pelajaran dari alam bagi pemimpin dan yang dipimpin. Ada upaya saling memahami dan saling menyesuaikan. Sama seperti bulan, yang dipimpin biasanya lebih cepat menyesuaikan diri, karena pengaruh pemimpin biasanya sangat kuat. Kemudian, pemimpin pun harus secepatnya menyesuaikan dirinya. Hanya pemimpin yang otoriter yang menghendaki kesetiaan sepihak.

Namun, tidak setiap kehendak harus dipenuhi, perlu dialog. Dalam lingkup keluarga, Allah mengingatkan istri dan anak-anak bisa membawa kebinasaan bila segala kehendaknya dituruti (QS 64:14-15). Pemimpin ummat pun diperintahkan tidak menuruti segala kemauan orang (QS 42:15). Ada aturan-aturan yang tetap harus dipatuhi.

Bulan bisa hancur bila terlalu dekat bumi. Sedikit menjauh diperlukan untuk mencapai kesetimbangan yang lebih harmonis. Demikian juga bila pemimpin dan pengikutnya terlalu dekat bisa merusakkan, menyuburkan kolusi dan nepotisme, mengkultuskan, atau menciptakan ikatan taklid yang kotraproduktif. Menjaga jarak diperlukan untuk saling mengoreksi secara wajar dan terbuka yang memunculkan sikap saling mencintai dan menghormati. Bila mulai muncul saling menghujat dan saling membenci, itu tanda buruknya kepemimpinan.


 T. Djamaluddin adalah peneliti bidang matahari & lingkungan antariksa, Lapan, Bandung.
 
Indeks artikel kelompok ini | Tentang Pengarang | Disclaimer
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Dirancang oleh MEDIA, 1997-2002.
Hak cipta © dicadangkan.