Tafsir (1)

Goenawan Mohamad

BAGAIMANA berbicara dengan seorang fanatik? Bagaimana berdialog dengan Baruch Goldstein, yang menembaki orang Palestina di Masjid Ibrahim?

"Cintailah orang asing itu: kalian juga orang asing tatkala hidup di Tanah Mesir". Itu sebuah kalimat Taurat, sabda Tuhan untuk umat Yahudi. Howard Jacobson, penulis Roots Schmoots - Journey Among Jews, pernah mengutip ayat itu di depan orang-orang macam Goldstein, para pemukim Yahudi yang umumnya datang ke Israel dan Brooklyn, New York. Mereka mendengarkan. Tapi mereka tegar seperti tembok pencakar langit dan batu karang.

Orang macam Goldstein, yang berbicara Ibrani dengan aksen Amerika, merasa lebih benar, lebih saleh. Mereka ingin lebih keras. Mungkin karena mereka berasal dari sebuah negeri yang dulu dibangun Thomas Jefferson, tapi kini jadi sebuah negeri di mana sekte kepercayaan bisa bertaut dengan kekerasan, di mana nama Tuhan dan senjata jadi bisnis besar, dan orang bertindak dari rohani yang sering menganggur -- dari suatu "spiritual idleness," kata Jacobson. Para zilot, yang berapi-api dalam iman itu, punya tafsir sendiri. Juga terhadap perintah cinta-terhadap-orang-asing itu. Bagi mereka, yang dimaksud oleh ayat Taurat itu sebenarnya ialah "cintailah orang asing, selama mereka itu Yahudi."

"Gila," sebut Jacobson (ia sendiri Yahudi) tentang para pendatang dan Brooklyn itu, di sebuah tulisan dalam The Independent yang membahas sindrom Baruch Goldstein di Israel dewasa ini. "Lunatics." Bagi Jacobson, beda antara "lunatics" dan 'fanatics" memang tak begitu penting: kedua-duanya bisa memutarbalikkan isi dan jalan pikiran. Cara mereka menafsirkan ayat Taurat telah menunjukkan itu. Soalnya kemudian, bagaimana itu mungkin, bagaimana kita menjelaskan fakta ini: kitab-kitab suci menganjurkan damai, tapi begitu banyak kekerasan dilakukan atas nama Tuhan dan iman. Jungkir-balik akalkah namanya, bila ada orang yang tiap minggu ke gereja, dan berkali-kali mendengar kata Kasih dan Kristus, tapi di malam hari mengenakan topeng dan jubah putih, bergambar salib, dan muncul sebagai Ku Klux Klan, untuk meneror orang hitam? Ataukah ini kepatuhan kepada perintah Tuhan secara murni, bila gerilya muslim di Aljazair dan Mesir membunuhi orang yang belum tentu bersalah?

Pada mulanya adalah tafsir. Sejarah pemikiran agama adalah sebuah sejarah interpretasi. Tapi teori bagaimana tafsir bisa lahir ternyata tak mudah. Pernah orang berpikir, sebuah tafsir terjadi ketika di hadapan sebuah teks, si pembaca menginterpretasikannya menurut yang dikehendaki si pengarang. Author, dalam bahasa Inggris, berhubungan dengan kata authority: sang pengarang adalah pemegang wewenang.

Tapi bagaimana kita tahu pasti apa kehendak pengarang, ketika ada bagian dari teks itu yang bermakna ganda, remang, penuh kiasan? Bagaimana bila teks itu puisi, sebagaimana sifat kitab-kitab suci, yang tak "lurus-lugas" seperti prosa? Bisakah kita bertanya artinya kepada Sang Pengarang? Tidak, tentu, karena teks telah ditulis dan disebar, dan jarak antara seorang pembaca dan seorang pengarang telah jauh. Tuhan pun kini tak berfirman langsung lagi kepada manusia, seperti Ia dulu kepada Musa Alaihisalam dan Muhammad SAW. Maka, ada yang berpendapat bahwa bagaimanapun tafsir terjadi karena si pembaca bukan nol; ia juga punya kompetensi. Komaruddin Hidayat, dalam tulisannya tentang Islam dan postmodernisme dalam Kalam, mengatakan bahwa semakin cerdas seorang membaca teks, semakin cerdas pula teks itu memberi jawab. Baginya, si pembaca bukanlah pembaca yang hanya tunduk, takluk; ia pembaca yang berdialog dengan teks.

Pada tahun 1957, ada seorang Spanyol menulis La hora del lector. Pada tahun 1962, Umberto Eco dan Italia menulis Opera aperta. Mereka menegaskan bahwa kita bisa bicara tentang momen berperannya sang pembaca, dan bahwa sebuah teks adalah karya yang terbuka: menyilakan masuk wewenang setiap penafsir. Meskipun Eco pada tahun 1992 meninjau kembali pandangannya -- tentu, seorang Jack the Ripper perlu dianggap sinting seandainya ia mengaku ia menggorok karena ia mengikuti Alkitab -- akhirnya bisa saja seorang fanatik punya tafsir yang fanatik tentang Sabda, dan membunuh sambil mengingat ayat suci. Maka, mungkin saja seorang fanatik punya tafsir yang fanatik pula, dan orang macam Goldstein membunuh sambil mengingat ayat suci.

Memang tak mudah kita tahu bahwa orang macam inilah yang benar. Ternyata kitapun harus bertanya apa gerangan daya sebuah teks suci untuk mengubah perilaku, jika jangan-jangan kecenderungan manusia sendiri yang menentukan makna ltu.

2 April 1994

(Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 4, Grafiti, Jakarta, 1995, h. 74-76)


Nadirsyah Hosen adalah dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
 
Indeks artikel kelompok ini | Tentang Pengarang | Disclaimer
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Dirancang oleh MEDIA, 1997-2002.
Hak cipta © dicadangkan.