Al-Hikam dan Penjelasannya

Syekh Ibnu 'Athaillah as Sakandari

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

17. BAGAIMANA ALLAH SWT. BISA TERHIJAB?

"Bagaimana bisa dibayangkan bahwa Allah Swt. terhijab oleh sesuatu, padahal Dia-lah yang menampakkan segala sesuatu?
Bagaimana bisa dibayangkan bahwa Dia terhijab oleh sesuatu, padahal Dia tampak di segala sesuatu?
Bagaimana bisa dibayangkan bahwa Dia terhijab oleh sesuatu, padahal Dia tampak dalam segala sesuatu?
Bagaimana bisa dibayangkan bahwa Dia terhijab oleh sesuatu, padahal Dia tampak untuk segala sesuatu?
Bagaimana bisa dibayangkan bahwa Dia terhijab oleh sesuatu, padahal Dia telah tampak sebelum segala sesuatu?
Bagaimana bisa dibayangkan bahwa Dia terhijab oleh segala sesuatu, padahal Dia lebih tampak dari segala sesuatu?
Bagaimana bisa dibayangkan bahwa Dia terhijab oleh sesuatu, padahal Dia adalah Dzat yang Maha Esa dan tidak sesuatu pun yang bersama-Nya?
Bagaimana bisa dibayangkan bahwa Dia terhijab oleh sesuatu, padahal Dia lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu?
Bagaimana bisa dibayangkan bahwa Dia terhijab oleh sesuatu, padahal jikalau bukan karena-Nya maka tidak akan ada segala sesuatu? Sungguh menakjubkan, bagaimana wujud itu bis a ada di dalam ketiadaan?
Bagaimana sesuatu yang baru itu bisa menetap bersama sesuatu yang memiliki sifat Maha Terdahulu?"

Bagaimana akal sehat bisa membayangkan bahwa Allah Swt. yang menciptakan segala sesuatu bisa dihalangi oleh makhluk yang diciptakan-Nya? Ini adalah sebuah kemustahilan yang tidak mungkin dapat diyakini dan dipercayai, kecuali oleh orang-orang yang mengalami masalah otak. Sedangkan orang-orang yang berakal sehat maka mereka tidak akan pernah mempercayainya.

Bagaimana akal sehat akan membayangkan bahwa Dia akan terhijab oleh segala sesuatu yang justru menampakkan kekuasaan-Nya? Dia ada di segala sesuatu, di dalamnya, dan untuknya, yaitu sifat-sifat-Nya yang menunjukkan jati diri-Nya. Jikalau Anda melihat ibu yang mengasihi anak-anaknya dan sangat menyayanginya, maka ketahuilah bahwa kasih sayang-Nya melebihi semua itu. Jikalau Anda melihat seorang yang dermawan dan mengeluarkan bagian hartanya tanpa berpikir panjang, maka ketahuilah bahwa Dia lebih dermawan daripada orang itu.

Bagaimana akal sehat akan membayangkan bahwa Dia akan terhijab oleh sesuatu, padahal Dia adalah Dzat yang ada pertama kali, dan tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya. Dia adalah yang pertama dan terakhir. Semua kekuasaan dan kehendak berada di tangan-Nya. Jikalau Dia menginginkan sesuatu maka Dia cukup mengatakan, "Terjadilah," maka ia akan terjadi.

Bagaimana akal sehat akan membayangkan bahwa Dia akan terhijab oleh sesuatu, padahal Dia adalah Dzat yang Maha Kuasa terhadap segala sesuatu? Coba Anda sebutkan satu per satu makhluk yang ada di semesta ini, tentu tidak ada satu pun makhluk yang mampu melampaui kekuasaan-Nya. Bagaimana mungkin seorang makhluk mampu melampaui kekuasaan Khaliq-Nya? Tidak ada akal sehat yang mampu menerima pernyataan ini.

Bagaimana mungkin akal sehat akan membayangkan bahwa Dia akan terhijab oleh sesuatu, padahal Dia adalah Dzat yang Maha Esa? Dia adalah Tunggal, dan tidak ada seorang pun yang bersama-Nya. Dia tidak memiliki anak, dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada seorang pun yang sepadan dengan-Nya. Ini sangat berbeda sekali dengan keyakinan orang-orang Nasrani, yang mengatakan bahwa Tuhan itu tiga dalam satu: Tuhan Ayah, Tuhan Ibu, dan Tuhan Anak. Ini adalah pemikiran kacau yang sulit dipahami, bahkan tidak mungkin diterima oleh logika.

Bagaimana mungkin akal sehat akan membayangkan bahwa Dia akan terhijab oleh sesuatu, padahal Dia lebih dekat kepada hamba dan makhluk-Nya daripada segala sesuatu. Dia selalu mengawasi setiap waktu. Dia tahu segala sesuatu yang dikerjakan oleh makhluk-Nya. Dia bisa melihat sesuatu yang dilakukan oleh semut hitam di kegelapan malam, bahkan mengetahui debu kecil yang beterbangan dihembus oleh angin. Intinya, Dia bisa melihat apa pun yang terjadi di alam semesta ini, sehingga Dia tidak mungkin terhijab oleh sesuatu yang berada di bahwa kuasa-Nya.

Bagaimana mungkin akal sehat akan membayangkan bahwa Dia akan terhijab oleh sesuatu, padahal jikalau bukan karena diri-Nya maka sesuatu tidak ada? Bagaimana Dia akan terhijab oleh makhluk, padahal makhluk itu adalah ciptaan-Nya? Bagaimana mungkin Dia akan terhijab oleh setan, padahal setan itu adalah makhluk-Nya yang berada di bawah kekuasaan-Nya. Jikalau Dia mengatakan, "Mati," maka semuanya akan mati.

Sungguh menakjubkan. Bagaimana mungkin sesuatu yang awalnya tidak ada, kemudian diciptakan, lalu ia bisa menempati posisi Dzat yang Maha berdiri sendiri dan Maha Awal? dan, bagaimana mungkin sesuatu yang baru bisa disandingkan dengan sesuatu yang bersifat qidam? Ini adalah sebuah kemustahilan yang nyata.

Ingatlah, bahwa wujud yang sebenarnya adalah wujud Allah Swt. Sedangkan Anda dan seluruh makhluk-Nya adalah sesuatu yang diciptakan dan berada di bawah genggaman-Nya. Wujud Anda sama dengan ketiadaan. Anda tidak memiliki kuasa apa pun. Kalaupun Anda seorang raja atau penguasa maka kekuasaan Anda hanyalah pinjaman belaka, dan berhak diambil oleh pemilik-Nya suatu hari nanti; sebagaimana halnya nyawa yang berada di dalam diri Anda.

(sebelum, sesudah)


KITAB AL-HIKAM DAN PENJELASANNYA
Diterjemahkan dari Kitab Al-Hikam Karya Syekh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari

Penyusun dan Penerjemah: D.A. Pakih Sati, Lc.
Editor: Rusdianto
Tata Sampul: Zizi
Tata Isi: Bambang
Pracetak: Wardi

Cetakan Pertama, September 2017

Penerbit: Noktah
Sampangan Gg. Perkutut No.325-B
Jl. Wonosari, Baturetno
Banguntapan Yogyakarta
Telp: (0274) 4353776, 081804374879
Fax: (0274) 4353776
E-mail: redaksi_divapress@yahoo.com, sekred.divapress@gmail.com
Blog: www.blogdivapress.com
Website: www.divapress-online.com

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team