Al-Hikam dan Penjelasannya

Syekh Ibnu 'Athaillah as Sakandari

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

21. KONSENTRASI TERHADAP TUJUAN

"Tidaklah semangat seorang salik (ahli ibadah) untuk ingin berhenti ketika dibukakan baginya (hal gaib), kecuali seruan hakikat berkata kepadanya, 'Yang engkau cari berada di hadapanmu.' Dan, tidaklah ketika terlihat fenomena-fenomena indah di hadapannya, kecuali hakikat berkata kepadanya, 'Kami hanyalah fitnah, maka janganlah engkau kufur.'"

Ketika seorang ahli ibadah mampu mengetahui dan memahami rahasia-rahasia di balik sebuah kejadian, maka hendaklah semangatnya tidak melemah dan merasa telah mencapai sesuatu yang menjadi tujuan. Tidak, sama sekali tidak. Ia belum mencapai tujuan itu. Ketika ia merasa sudah sampai di finish, maka hakikat akan memanggil dan menyerbunya bahwa tujuannya masih jauh di depan dan harus terus ditempuhnya.

Ingatlah bahwa jalan menuju Allah Swt. adalah panjang dan tidak akan pernah ada habisnya. Selama nyawa masih dikandung badan dan napas masih berhembus, maka seorang hamba harus terus berusaha dan berlari menghampiri tujuannya. Jikalau ia sudah mencapai tingkat hikmah maka itu hanyalah tahapan perjalanan, belum sampai pada ujungnya.

Berapa banyak Anda saksikan fenomena di masyarakat, ketika seorang ahli ibadah tertipu oleh ibadahnya sendiri. Ketika ia mampu melakukan sesuatu yang luar biasa maka ia takjub dan merasa telah mencapai maqam tertinggi. Tidak, sebenarnya tidak. Bisa jadi, ia telah ditipu oleh setan sehingga takjub dengan diri sendiri, dan merasa sudah tidak membutuhkan ibadah lagi kepada-Nya.

Janganlah Anda takjub melihat seseorang yang bisa melakukan perkara luar biasa, sampai Anda benar-benar menyaksikan ibadahnya, kedekatannya kepada Allah Swt., dan kesesuaian antara amalan yang dilakukan dengan tuntunan Rasulullah Saw.

Al-Alusi berkata, 'Jikalau engkau melihat seseorang yang mampu terbang di udara dan berjalan di atas air, maka janganlah takjub dulu, sampai engkau melihat amalan-amalannya."

Jikalau Anda mendapatkan kenikmatan dunia - baik wanita, jabatan, kemewahan, dan lain sebagainya - maka janganlah terlena

atas semua itu. Semua yang Anda dapatkan itu sama sekali bukan untuk dijadikan serikat/sekutu bagi Tuhan. Semua itu hanyalah makhluk dan perhiasan belaka. Jikalau tidak hati-hati maka Anda akan terlena dan larut dalam kefanaan. Sehingga, Anda melupakan ibadah kepada-Nya, bahkan menjauh sejauh-jauhnya.

Na'udzubillah min dzalik.

(sebelum, sesudah)


KITAB AL-HIKAM DAN PENJELASANNYA
Diterjemahkan dari Kitab Al-Hikam Karya Syekh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari

Penyusun dan Penerjemah: D.A. Pakih Sati, Lc.
Editor: Rusdianto
Tata Sampul: Zizi
Tata Isi: Bambang
Pracetak: Wardi

Cetakan Pertama, September 2017

Penerbit: Noktah
Sampangan Gg. Perkutut No.325-B
Jl. Wonosari, Baturetno
Banguntapan Yogyakarta
Telp: (0274) 4353776, 081804374879
Fax: (0274) 4353776
E-mail: redaksi_divapress@yahoo.com, sekred.divapress@gmail.com
Blog: www.blogdivapress.com
Website: www.divapress-online.com

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team