|
|
82. ANTARA KELAPANGAN DAN
KESEMPITAN
- "Orang-orang arif lebih takut jikalau dilapangkan
daripada disempitkan. Tidak ada yang mampu menjaga
batasan-batasan adab ketika lapang, kecuali hanya
sedikit."
Orang-orang yang arif lebih takut menghadapi kekayaan
daripada kemiskinan. Dalam kehidupan sehari-hari, Anda bisa
menyaksikan jutaan kaum muslimin yang tergelincir dalam
jurang kemaksiatan karena rayuan harta. Seseorang yang
dulunya shalih dan rajin ke masjid, tiba-tiba kehidupannya
berubah 180 derajat; ia tidak mau ke masjid, bahkan
cenderung menjauh. Seseorang yang dulunya rajin berdakwah
dan beribadah, sekarang larut dalam kekufuran dan kelalaian
karena harta selalu membuatnya sibuk.
Berbeda halnya dengan kemiskinan. di satu sisi,
kemiskinan memang mendekatkan kepada kekufuran, sebagaimana
yang dijelaskan oleh Rasulullah Saw. Namun, di sisi lain,
jikalau keimanan kuat maka kemiskinan justru lebih akan
mendekatkan seseorang kepada Allah Swt. Seorang yang hidup
sempit dan menderita, lebih besar kemungkinannya mendekatkan
diri kepada-Nya. Sebab, karena ia merasa hina dan butuh
kepada-Nya.
Semenjak zaman dahulu sampai sekarang ini, masih menjadi
perdebatan hebat di kalangan para ulama tentang orang yang
paling mulia di sisi-Nya antara orang kaya yang bersyukur
atau orang miskin yang bersabar.
Masing-masing kelompok tersebut memiliki kedudukan
istimewa di sisi-Nya. Selama orang kaya mensyukuri
nikmat-Nya, yaitu dengan mengeluarkan zakatnya dan
memanfaatkannya di jalan kebenaran, tentu ia akan
mendapatkan keutamaan di sisi-Nya. di sisi lain, jikalau
seorang miskin mampu bersabar menghadapi kesempitan hidup,
tentu ia layak menempati Surga ar-Rahman.
Namun, ada satu hal yang bisa memuliakan orang kaya yang
bersyukur, yaitu ketika ia bisa melakukan semua ibadah yang
dilakukan oleh orang miskin, seperti shalat, dzikir, puasa,
dan lain sebagainya, plus ia bisa menyumbangkan hartanya di
jalan-Nya. Dan, poin terakhir ini tidak bisa dilakukan oleh
orang miskin.
Intinya, apa pun yang menimpa Anda, baik kelapangan
maupun kesempitan, maka bersikaplah secara bijak. Jikalau
Anda sedang lapang maka jangan sombong dan terlena. Jikalau
Anda sempit maka janganlah putus asa. Kembalilah semuanya
kepada-Nya, sebagai sebaik-baik tempat kembali.
|
|
|
(sebelum, sesudah)
KITAB AL-HIKAM DAN PENJELASANNYA
Diterjemahkan dari Kitab Al-Hikam Karya Syekh
Ibnu 'Athaillah as-Sakandari
Penyusun dan Penerjemah: D.A. Pakih Sati, Lc.
Editor: Rusdianto
Tata Sampul: Zizi
Tata Isi: Bambang
Pracetak: Wardi
Cetakan Pertama, September 2017
Penerbit: Noktah
Sampangan Gg. Perkutut No.325-B
Jl. Wonosari, Baturetno
Banguntapan Yogyakarta
Telp: (0274) 4353776, 081804374879
Fax: (0274) 4353776
E-mail: redaksi_divapress@yahoo.com,
sekred.divapress@gmail.com
Blog: www.blogdivapress.com
Website: www.divapress-online.com
Indeks Islam |
Indeks Sufi | Indeks
Artikel | Tentang
Penulis
ISNET Homepage |
MEDIA Homepage | Program
Kerja | Koleksi |
Anggota
Please direct any suggestion to
Media
Team
|