Al-Hikam dan Penjelasannya

Syekh Ibnu 'Athaillah as Sakandari

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

82. ANTARA KELAPANGAN DAN KESEMPITAN

"Orang-orang arif lebih takut jikalau dilapangkan daripada disempitkan. Tidak ada yang mampu menjaga batasan-batasan adab ketika lapang, kecuali hanya sedikit."

Orang-orang yang arif lebih takut menghadapi kekayaan daripada kemiskinan. Dalam kehidupan sehari-hari, Anda bisa menyaksikan jutaan kaum muslimin yang tergelincir dalam jurang kemaksiatan karena rayuan harta. Seseorang yang dulunya shalih dan rajin ke masjid, tiba-tiba kehidupannya berubah 180 derajat; ia tidak mau ke masjid, bahkan cenderung menjauh. Seseorang yang dulunya rajin berdakwah dan beribadah, sekarang larut dalam kekufuran dan kelalaian karena harta selalu membuatnya sibuk.

Berbeda halnya dengan kemiskinan. di satu sisi, kemiskinan memang mendekatkan kepada kekufuran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah Saw. Namun, di sisi lain, jikalau keimanan kuat maka kemiskinan justru lebih akan mendekatkan seseorang kepada Allah Swt. Seorang yang hidup sempit dan menderita, lebih besar kemungkinannya mendekatkan diri kepada-Nya. Sebab, karena ia merasa hina dan butuh kepada-Nya.

Semenjak zaman dahulu sampai sekarang ini, masih menjadi perdebatan hebat di kalangan para ulama tentang orang yang paling mulia di sisi-Nya antara orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar.

Masing-masing kelompok tersebut memiliki kedudukan istimewa di sisi-Nya. Selama orang kaya mensyukuri nikmat-Nya, yaitu dengan mengeluarkan zakatnya dan memanfaatkannya di jalan kebenaran, tentu ia akan mendapatkan keutamaan di sisi-Nya. di sisi lain, jikalau seorang miskin mampu bersabar menghadapi kesempitan hidup, tentu ia layak menempati Surga ar-Rahman.

Namun, ada satu hal yang bisa memuliakan orang kaya yang bersyukur, yaitu ketika ia bisa melakukan semua ibadah yang dilakukan oleh orang miskin, seperti shalat, dzikir, puasa, dan lain sebagainya, plus ia bisa menyumbangkan hartanya di jalan-Nya. Dan, poin terakhir ini tidak bisa dilakukan oleh orang miskin.

Intinya, apa pun yang menimpa Anda, baik kelapangan maupun kesempitan, maka bersikaplah secara bijak. Jikalau Anda sedang lapang maka jangan sombong dan terlena. Jikalau Anda sempit maka janganlah putus asa. Kembalilah semuanya kepada-Nya, sebagai sebaik-baik tempat kembali.

(sebelum, sesudah)


KITAB AL-HIKAM DAN PENJELASANNYA
Diterjemahkan dari Kitab Al-Hikam Karya Syekh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari

Penyusun dan Penerjemah: D.A. Pakih Sati, Lc.
Editor: Rusdianto
Tata Sampul: Zizi
Tata Isi: Bambang
Pracetak: Wardi

Cetakan Pertama, September 2017

Penerbit: Noktah
Sampangan Gg. Perkutut No.325-B
Jl. Wonosari, Baturetno
Banguntapan Yogyakarta
Telp: (0274) 4353776, 081804374879
Fax: (0274) 4353776
E-mail: redaksi_divapress@yahoo.com, sekred.divapress@gmail.com
Blog: www.blogdivapress.com
Website: www.divapress-online.com

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team