115. ORANG YANG LALAI DAN ORANG YANG
BERAKAL
- "Orang yang lalai akan mengawali harinya dengan
sibuk menentukan sesuatu yang akan dilakukan. Sedangkan
orang yang berakal memulai harinya dengan sibuk menunggu
ketetapan Allah Swt. yang akan terjadi."
Orang yang lalai menjalankan perintah Allah Swt. dan
selalu menghampiri larangan-Nya akan memulai harinya dengan
menunggu sesuatu yang akan dilakukan pada hari ini. Ia juga
menunggu serta hasil yang akan didapatkan. Ia bergantung
pada diri sendiri dan merasa bisa menghasilkan lebih banyak
rezeki tanpa intervensi siapa pun.
Semua ini menunjukkan adanya kesalahan dalam berpikir.
Bukan itu yang harus Anda lakukan. Akan tetapi, jalankan
semua perintah-Nya dan jauhilah segala larangan-Nya. Rezeki
itu berada di tangan-Nya. Berusahalah, niscaya Anda akan
mendapatkan bagian Anda. Jangan pernah melalaikan ibadah
kepada-Nya.
Orang yang berakal selalu meyakini bahwa Allah Swt. sudah
menetapkan segala sesuatu baginya, baik rezeki, jodoh,
kematian, dan lain sebagainya. Ia akan mendapatkan rezeki
pada hari ini dengan nominal yang sama seperti yang telah
ditetapkan oleh Allah Swt. di Lauh Mahfuzh.
Jangan takut dan lalai menjalankan kewajiban yang telah
ditetapkan oleh Allah Swt. Sebab, Allah Swt. senantiasa akan
melimpahkan karunia-Nya kepada kita. Anda akan mendapatkan
dunia dan akhirat sekaligus bila tujuan Anda dalam beribadah
adalah untuk menggapai ridha-Nya. Sebaliknya, Anda hanya
akan mendapatkan dunia bila menyandarkan segala sesuatu
kepada dunia.
116. LIHATLAH ALLAH SWT., MAKA ANDA AKAN TENANG
"Para ahli ibadah dan orang-orang yang zuhud hanya merasa
risau hati mereka bila terhalang dari melihat Allah Swt.
dalam segala sesuatu. Sebaliknya, tidak ada sesuatu pun yang
dapat merisaukan hati mereka bila mereka mampu
menyaksikan-Nya."
Ahli ibadah adalah orang-orang yang mengabdikan diri
mereka sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah Swt. Setiap
momen senantiasa diisi dengan ketaatan dan ibadah. Sedangkan
orang-orang yang zuhud meninggalkan dunia untuk mendapatkan
keridhaan dan cinta-Nya. di antara mereka, tidak sedikit
yang berasal dari kalangan orang kaya, hanya saja harta
mereka berada di tangan, tidak sampai menyentuh hati mereka.
Sehingga, mereka bebas dan tidak dikendalikan oleh hawa
nafsu.
Kedua kelompok ini adalah orang-orang yang dekat kepada
Allah Swt. Hati mereka tidak pernah merasa risau, kecuali
bila belum atau terhalang dari menyaksikan sifat-sifat-Nya
dalam segala sesuatu.
Saat ditimpa musibah, mereka menyadari dan memahami bahwa
Allah Swt. adalah Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, yang tidak akan menguji hamba-Nya di atas
kemampuannya. Mereka tidak merasa risau atau khawatir karena
kehilangan harta, sebab mereka menyadari bahwa Allah Swt.
adalah Dzat yang Maha Kaya. Harta yang hilang bisa diganti
oleh Allah Swt. dalam sekejap mata.
Hati mereka tidak pernah sedih karena telah mampu
menyaksikan kebesaran Allah Swt. dalam segala sesuatu yang
ada di dunia ini. Hati mereka selalu dipenuhi oleh
ketenteraman dan kebahagiaan. Mereka sadar bahwa semua
ketentuan Allah Swt. adalah yang terbaik bagi mereka.
Maka, beribadahlah dengan ihsan. Bahkan, dalam segala
sesuatu pun, Anda harus bersikap ihsan. Bersikap ihsan dalam
setiap sesuatu berarti menyadari bahwa Allah Swt. senantiasa
melihat dan mengawasi gerak-gerik hamba-Nya. Allah Swt. itu
ada dan gaib, namun lebih dekat dari urat nadi Anda.
|