Al-Hikam dan Penjelasannya

Syekh Ibnu 'Athaillah as Sakandari

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

119. ALLAH SWT. MENGETAHUI KARAKTER ANDA

"Tatkala Allah Swt. mengetahui bahwa di dalam diri Anda terdapat rasa jemu maka Dia menjadikan Anda menjalani aneka ragam ketaatan. Dan, tatkala Dia mengetahui rasa rakus menggerogoti diri Anda maka Dia membatasinya dalam waktu-waktu tertentu saja. Semua itu bertujuan agar Anda bertekad untuk mendirikan shalat, bukan sekadar mengerjakannya semata. Sebab, tidak setiap orang yang mengerjakan shalat itu mampu mendirikannya."

Dalam diri manusia, ada rasa jenuh dan bosan untuk melakukan pekerjaan atau aktivitas yang monoton. Allah Swt. Maha Mengetahui segala sesuatu yang dibutuhkan oleh para hamba-Nya. Sebab, Dia-lah yang menciptakan dan menetapkan takdir segala sesuatu. Allah Swt. mengetahui hakikat segala sesuatu, dan tidak ada yang luput dari pandangan-Nya.

Agar rasa bosan tidak menghinggapi para hamba-Nya ketika menjalankan ketaatan, maka Allah Swt. tidak hanya mewajibkan satu ibadah kepada mereka, melainkan Dia menetapkan beraneka ragam ibadah. Ada shalat, puasa, haji, zakat, dan lain sebagainya. Ada ibadah yang berkaitan dengan badan, hati, perbuatan, dan perkataan. Kerjakanlah ibadah yang lain ketika Anda merasa jenuh menjalankan satu ibadah. Meninggalkan satu ibadah sunnah untuk mengerjakan ibadah sunnah lainnya demi mengusir rasa bosan di dalam diri, tentu bukan persoalan yang dilarang dalam agama.

Selain itu, Allah Swt. mengetahui adanya rasa tamak pada diri Anda dalam beribadah. Seseorang yang melampaui batas dalam beribadah, misalnya shalat, maka ia akan terus-menerus menghabiskan waktu untuk shalat. Akibatnya, ia akan melalaikan tanggung jawab menghidupi keluarga, anak, dan istri. Orang tersebut juga akan melalaikan hubungan dengan masyarakat dan tugas sebagai seorang warga negara.

Oleh karena itu, Allah Swt. menentukan waktu-waktu dalam beribadah agar Anda tidak terus-menerus larut dalam ibadah kepada-Nya. Misalnya, Anda diperintahkan mengerjakan shalat Subuh ketika fajar terbit. Artinya, setelah selesai mengerjakan shalat Subuh, Anda diperintahkan untuk mengais rezeki dan berusaha di bumi. Anda diperintahkan menunaikan shalat Zhuhur pada waktu matahari sudah tergelincir. Artinya, Anda diperintahkan beristirahat sejenak dari aktivitas duniawi, setelah itu Anda boleh melanjutkan aktivitas Anda kembali. Begitulah seterusnya.

Pertanyaannya sekarang, kenapa suatu ibadah tentukan waktunya? Kenapa waktunya tidak disesuaikan dengan keinginan pelakunya saja? Jawabannya mudah. Ketika Anda melaksanakan shalat maka yang dituntut dari Anda bukanlah sekadar mengerjakan, tetapi mendirikannya. Alangkah jauh-Nya perbedaan di antara keduanya.

Mendirikan shalat berarti mengerjakannya sesuai dengan rukun dan syaratnya, serta penuh dengan kekhusyukan. Selain itu, juga merefleksikan kandungan maknanya dalam realitas kehidupan yang nyata.

Sedangkan yang dimaksud mengerjakan shalat adalah semata-mata untuk melepaskan kewajiban. Sehingga, makna dan fungsi shalat tidak akan membekas bagi pelakunya. Intinya, akselerasi ibadah bertujuan membuat Anda rileks dalam menjalankannya.

(sebelum, sesudah)


KITAB AL-HIKAM DAN PENJELASANNYA
Diterjemahkan dari Kitab Al-Hikam Karya Syekh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari

Penyusun dan Penerjemah: D.A. Pakih Sati, Lc.
Editor: Rusdianto
Tata Sampul: Zizi
Tata Isi: Bambang
Pracetak: Wardi

Cetakan Pertama, September 2017

Penerbit: Noktah
Sampangan Gg. Perkutut No.325-B
Jl. Wonosari, Baturetno
Banguntapan Yogyakarta
Telp: (0274) 4353776, 081804374879
Fax: (0274) 4353776
E-mail: redaksi_divapress@yahoo.com, sekred.divapress@gmail.com
Blog: www.blogdivapress.com
Website: www.divapress-online.com

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team