|
|
119. ALLAH SWT. MENGETAHUI KARAKTER
ANDA
- "Tatkala Allah Swt. mengetahui bahwa di dalam diri
Anda terdapat rasa jemu maka Dia menjadikan Anda
menjalani aneka ragam ketaatan. Dan, tatkala Dia
mengetahui rasa rakus menggerogoti diri Anda maka Dia
membatasinya dalam waktu-waktu tertentu saja. Semua itu
bertujuan agar Anda bertekad untuk mendirikan shalat,
bukan sekadar mengerjakannya semata. Sebab, tidak setiap
orang yang mengerjakan shalat itu mampu
mendirikannya."
Dalam diri manusia, ada rasa jenuh dan bosan untuk
melakukan pekerjaan atau aktivitas yang monoton. Allah Swt.
Maha Mengetahui segala sesuatu yang dibutuhkan oleh para
hamba-Nya. Sebab, Dia-lah yang menciptakan dan menetapkan
takdir segala sesuatu. Allah Swt. mengetahui hakikat segala
sesuatu, dan tidak ada yang luput dari pandangan-Nya.
Agar rasa bosan tidak menghinggapi para hamba-Nya ketika
menjalankan ketaatan, maka Allah Swt. tidak hanya mewajibkan
satu ibadah kepada mereka, melainkan Dia menetapkan beraneka
ragam ibadah. Ada shalat, puasa, haji, zakat, dan lain
sebagainya. Ada ibadah yang berkaitan dengan badan, hati,
perbuatan, dan perkataan. Kerjakanlah ibadah yang lain
ketika Anda merasa jenuh menjalankan satu ibadah.
Meninggalkan satu ibadah sunnah untuk mengerjakan ibadah
sunnah lainnya demi mengusir rasa bosan di dalam diri, tentu
bukan persoalan yang dilarang dalam agama.
Selain itu, Allah Swt. mengetahui adanya rasa tamak pada
diri Anda dalam beribadah. Seseorang yang melampaui batas
dalam beribadah, misalnya shalat, maka ia akan terus-menerus
menghabiskan waktu untuk shalat. Akibatnya, ia akan
melalaikan tanggung jawab menghidupi keluarga, anak, dan
istri. Orang tersebut juga akan melalaikan hubungan dengan
masyarakat dan tugas sebagai seorang warga negara.
Oleh karena itu, Allah Swt. menentukan waktu-waktu dalam
beribadah agar Anda tidak terus-menerus larut dalam ibadah
kepada-Nya. Misalnya, Anda diperintahkan mengerjakan shalat
Subuh ketika fajar terbit. Artinya, setelah selesai
mengerjakan shalat Subuh, Anda diperintahkan untuk mengais
rezeki dan berusaha di bumi. Anda diperintahkan menunaikan
shalat Zhuhur pada waktu matahari sudah tergelincir.
Artinya, Anda diperintahkan beristirahat sejenak dari
aktivitas duniawi, setelah itu Anda boleh melanjutkan
aktivitas Anda kembali. Begitulah seterusnya.
Pertanyaannya sekarang, kenapa suatu ibadah tentukan
waktunya? Kenapa waktunya tidak disesuaikan dengan keinginan
pelakunya saja? Jawabannya mudah. Ketika Anda melaksanakan
shalat maka yang dituntut dari Anda bukanlah sekadar
mengerjakan, tetapi mendirikannya. Alangkah jauh-Nya
perbedaan di antara keduanya.
Mendirikan shalat berarti mengerjakannya sesuai dengan
rukun dan syaratnya, serta penuh dengan kekhusyukan. Selain
itu, juga merefleksikan kandungan maknanya dalam realitas
kehidupan yang nyata.
Sedangkan yang dimaksud mengerjakan shalat adalah
semata-mata untuk melepaskan kewajiban. Sehingga, makna dan
fungsi shalat tidak akan membekas bagi pelakunya. Intinya,
akselerasi ibadah bertujuan membuat Anda rileks dalam
menjalankannya.
|
|
|
(sebelum, sesudah)
KITAB AL-HIKAM DAN PENJELASANNYA
Diterjemahkan dari Kitab Al-Hikam Karya Syekh
Ibnu 'Athaillah as-Sakandari
Penyusun dan Penerjemah: D.A. Pakih Sati, Lc.
Editor: Rusdianto
Tata Sampul: Zizi
Tata Isi: Bambang
Pracetak: Wardi
Cetakan Pertama, September 2017
Penerbit: Noktah
Sampangan Gg. Perkutut No.325-B
Jl. Wonosari, Baturetno
Banguntapan Yogyakarta
Telp: (0274) 4353776, 081804374879
Fax: (0274) 4353776
E-mail: redaksi_divapress@yahoo.com,
sekred.divapress@gmail.com
Blog: www.blogdivapress.com
Website: www.divapress-online.com
Indeks Islam |
Indeks Sufi | Indeks
Artikel | Tentang
Penulis
ISNET Homepage |
MEDIA Homepage | Program
Kerja | Koleksi |
Anggota
Please direct any suggestion to
Media
Team
|