|
|
135. BENTUK PENJAGAAN ALLAH SWT.
- "Tirai Allah Swt. itu ada dua. Pertama, tirai yang
menghalangi dari maksiat. Kedua, tirai ketika melakukan
maksiat. Orang-orang awam memohon kepada-Nya untuk
dilindungi dari maksiat karena takut kedudukan mereka
jatuh di hadapan manusia. Sedangkan orang-orang khusus
memohon kepada-Nya untuk dilindungi dari maksiat karena
takut jatuh kedudukan mereka di hadapan-Nya."
Secara umum, penjagaan Allah Swt. terhadap para hamba-Nya
ada dua bentuk. Berikut kedua bentuk tersebut.
Pertama, penjagaan dari maksiat. Allah Swt. menjaga para
hamba-Nya agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan.
Misalnya, Anda sedang sangat lapar, namun belum sampai pada
tingkatan darurat. Ketika Anda sedang jalan-jalan, Anda
melihat sebungkus nasi lengkap dengan lauk-pauknya. Jikalau
Anda mengambilnya maka Anda dianggap mencuri, sebab itu
adalah hak orang lain, bukan milik Anda. Jikalau tidak
diambil maka perut Anda akan terus keroncongan.
Pertanyaannya, bagaimanakah cara Allah Swt. menjaga
hamba-Nya dalam keadaan seperti ini?
Bisa jadi, Allah Swt. mengilhamkan ke dalam hati hamba
tersebut agar mengingat dosa dari perbuatan maksiat yang
akan dilakukan. Panasnya api neraka lebih dahsyat daripada
rasa lapar yang sedang dirasakannya saat ini. atau, bisa
juga Dia menghadirkan pemiliknya, kemudian menawarinya ikut
makan bersama pemilik nasi tersebut, atau memberikan makanan
itu kepadanya. Pastinya, Dia akan memberikan jalan kepada
hamba tersebut agar bebas dari maksiat dan tidak masuk ke
dalam lingkarannya.
Kedua, penjagaan dalam perbuatan maksiat. Ketika Anda
melakukan perbuatan maksiat maka Allah Swt. akan menjaga
Anda dengan tidak menyebarkan aib Anda di hadapan khalayak
ramai. Dalam kehidupan sehari-hari, berapa banyak maksiat
yang Anda lakukan, terutama secara sembunyi-sembunyi. Tidak
ada yang mengetahuinya, kecuali Allah Swt. dan Anda. Bahkan,
maksiat yang Anda lakukan itu, jikalau disebarkan, maka Anda
akan merasa sangat malu untuk berjalan atau tampil di muka
umum.
Akan tetapi, kasih sayang Allah Swt. selalu dicurahkan
kepada para hamba-Nya. Allah Swt. menutupi aib seorang hamba
dan tidak menyebarkannya kepada orang lain. Kehormatan Anda
tetap terjaga, dan Anda tidak kehilangan harga diri.
Masalahnya, terkadang kita tidak mensyukuri nikmat besar
yang diberikan Allah Swt. kepada kita ini. Kita tidak
menjadi jera melakukan maksiat. Kita selalu melakukannya
lagi dan lagi, seolah-olah kita tidak pernah jera bermaksiat
kepada-Nya. Marilah bertaubat dengan sebenar-benarnya, dan
menjauhi semua larangan-Nya.
Itulah dua jenis penjagaan yang diberikan oleh Allah Swt.
kepada para hamba-Nya. Secara umum, ada perbedaan di
kalangan orang awam dan orang khusus dalam menyikapinya.
Orang awam meminta kepada Allah Swt. agar dilindungi dari
maksiat, sehingga nama baiknya tidak tercoreng di hadapan
khalayak dan tidak malu berhadapan dengan mereka. Sedangkan
orang khusus, ia meminta kepada Allah Swt. agar dilindungi
dari maksiat, sehingga kedudukannya tidak jatuh di
hadapan-Nya. Alangkah jauhnya perbedaan kedua kelompok
ini.
|
|
|
(sebelum, sesudah)
KITAB AL-HIKAM DAN PENJELASANNYA
Diterjemahkan dari Kitab Al-Hikam Karya Syekh
Ibnu 'Athaillah as-Sakandari
Penyusun dan Penerjemah: D.A. Pakih Sati, Lc.
Editor: Rusdianto
Tata Sampul: Zizi
Tata Isi: Bambang
Pracetak: Wardi
Cetakan Pertama, September 2017
Penerbit: Noktah
Sampangan Gg. Perkutut No.325-B
Jl. Wonosari, Baturetno
Banguntapan Yogyakarta
Telp: (0274) 4353776, 081804374879
Fax: (0274) 4353776
E-mail: redaksi_divapress@yahoo.com,
sekred.divapress@gmail.com
Blog: www.blogdivapress.com
Website: www.divapress-online.com
Indeks Islam |
Indeks Sufi | Indeks
Artikel | Tentang
Penulis
ISNET Homepage |
MEDIA Homepage | Program
Kerja | Koleksi |
Anggota
Please direct any suggestion to
Media
Team
|