Al-Hikam dan Penjelasannya

Syekh Ibnu 'Athaillah as Sakandari

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

148. SIKAP ORANG YANG ZUHUD DAN ARIF SAAT MENDAPAT PUJIAN

"Jikalau orang-orang zuhud dipuji maka mereka akan resah karena mereka mendapat pujian itu berasal dari makhluk. Jikalau orang-orang arif dipuji maka mereka akan senang karena mendapat pujian itu berasal dari Penguasa Sebenarnya."

Orang zuhud adalah yang berusaha melepaskan diri dari ikatan-ikatan materi dan kenikmatan dunia, kemudian berusaha mengerahkan segenap tenaga dan usahanya untuk beribadah kepada Allah Swt. demi menggapai ridha-Nya. Jikalau orang seperti ini dipuji maka dadanya akan sesak dan tidak rela menerimanya. Ia menyadari bahwa pujian itu berasal dari makhluk, bukan dari Khaliq. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa pujian yang ditujukan kepadanya itu mengandung unsur kesyirikan, sebab yang berhak menerimanya hanyalah Dzat Penguasa semesta alam.

Orang yang zuhud hanya mengharap pujian dari Allah Swt. Sebab, semua pemberian dan ucapan Allah Swt. tidak ada yang sifatnya menipu. Semuanya benar. Ini berbanding terbalik dengan ucapan dan pujian yang berasal dari makhluk, yang masih bercampur dengan dusta dan kemunafikan.

Tindakan sebaliknya justru ditunjukkan oleh orang arif, yaitu sosok yang terkenal bijaksana dalam menghadapi masalah apa pun. Bahkan, ia mencapai tangga makrifat yang didambakan setiap salik. Ia meyakini bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak-Nya, termasuk pujian yang disampaikan oleh orang-orang kepadanya.

Orang yang arif akan bahagia saat mendapatkan pujian dari orang lain, dan menganggapnya sebagai karunia dari Dzat yang Maha Memiliki. Dia-lah yang telah menciptakan orang-orang tersebut, dan menuntun mereka untuk memujinya. Dia-lah yang menuntun orang-orang untuk mencintainya dan menerima keberadaannya.

Jikalau Allah Swt. mencintai seorang hamba, maka Dia akan menyeru Jibril dan memberitahukan kepadanya tentang rasa cinta-Nya. Kemudian, Jibril menyeru penduduk langit dan memberitahukan bahwa Allah Swt. mencintai si Fulan, serta memerintahkan mereka untuk mencintainya. Jikalau penduduk langit sudah mencintai hamba tersebut, maka Dia akan memberikan kepadanya penerimaan di bumi, sehingga ia dicintai dan dipuji oleh penduduk bumi. Artinya, pujian itu sebenarnya berasal dari Rabb semesta alam. Itulah dua sikap berbeda yang ditunjukkan oleh orang-orang yang zuhud dan arif.

(sebelum, sesudah)


KITAB AL-HIKAM DAN PENJELASANNYA
Diterjemahkan dari Kitab Al-Hikam Karya Syekh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari

Penyusun dan Penerjemah: D.A. Pakih Sati, Lc.
Editor: Rusdianto
Tata Sampul: Zizi
Tata Isi: Bambang
Pracetak: Wardi

Cetakan Pertama, September 2017

Penerbit: Noktah
Sampangan Gg. Perkutut No.325-B
Jl. Wonosari, Baturetno
Banguntapan Yogyakarta
Telp: (0274) 4353776, 081804374879
Fax: (0274) 4353776
E-mail: redaksi_divapress@yahoo.com, sekred.divapress@gmail.com
Blog: www.blogdivapress.com
Website: www.divapress-online.com

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team