Al-Hikam dan Penjelasannya

Syekh Ibnu 'Athaillah as Sakandari

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

151. RAJA (RASA HARAP) DAN KHAUF (RASA TAKUT)

"Jikalau Anda ingin dibukakan pintu harapan maka perhatikanlah karunia Allah Swt. kepada Anda. Jikalau Anda ingin dibukakan pintu rasa takut maka perhatikanlah sesuatu yang Anda persembahkan untuk-Nya."

Jikalau Anda ingin dibukakan pintu raja' (rasa harap kepada Allah Swt.), maka perhatikanlah semua karunia-Nya yang telah diberikan kepada Anda. Bukanlah Dia telah memberikan Anda makanan dan minuman? Sehingga, Anda tidak kelaparan. Bukanlah Dia celah memberikan Anda pakaian? Sehingga, Anda tidak bertelanjang dan kedinginan. Perhatikanlah, Dia menempatkan Anda di muka bumi ini sehingga Anda bisa hidup tenang, tenteram, dan menikmati semua anugerah-Nya. Jikalau Anda berharap kepada-Nya maka tidak ada yang mustahil dalam harapan Anda. Jikalau Anda mengharapkan kenikmatan yang lebih baik lagi dan abadi maka tempatnya adalah surga. Berharaplah kepada-Nya, dan jangan pernah berhenti berdoa, niscaya Anda akan mendapatkan sesuatu yang Anda inginkan.

Sementara itu, jikalau Anda ingin dibukakan pintu khauf (rasa takut kepada-Nya) maka perhatikanlah sesuatu yang telah Anda persembahkan kepada-Nya. Apakah amalan yang Anda lakukan selama ini telah maksimal atau masih dipenuhi kekurangan? Tatkala Dia memerintahkan Anda untuk mengerjakan shalat, apakah Anda mengerjakannya dengan baik dan penuh keikhlasan? Ketika Anda diperintahkan untuk tidak dengki dan dendam, apakah Anda telah menjalankannya atau tidak? Perhatikanlah posisi Anda dari semua perintah dan larangan-Nya.

Anda telah menikmati semua nikmat Allah Swt., kemudian Anda bermaksiat kepada-Nya, apakah Anda tidak takut dengan siksaan-Nya, azab-Nya, dan neraka-Nya? Kembalilah kepada-Nya dan bertaubatlah dengan sebenar­benarnya.

152. MALAM KESEMPITAN DAN SIANG KELAPANGAN

"Barangkali, Allah Swt. memberi faedah kepada Anda di malam kesempitan, yang tidak Anda dapatkan di tengah cahaya siang kelapangan. Kalian tidak dapat mengetahui secara pasti sesuatu yang lebih bermanfaat bagi kalian."

Ketika Anda berada di dalam kesempitan maka jangan bersedih dan mengeluh. Sebab, bisa jadi, Anda mendapatkan hikmah besar di baliknya, yang mungkin tidak akan pernah Anda dapatkan ketika lapang.

Ketika Anda sengsara maka rasa harap Anda kepada Allah Swt. sangat besar manfaatnya. Semua rasa sombong yang ada di dalam hati Anda akan hancur. Semua rasa egois yang tertanam di dalam dada Anda akan lenyap. Hati Anda akan dipenuhi oleh rasa takut terhadap azab-Nya dan rasa hina di hadapan-Nya.

Ini berbeda halnya ketika Anda diberikan kelapangan. Anda akan merasa senang karena memiliki harta, kebahagiaan, dan kesenangan. Bahkan, Anda mungkin berharap ingin mendapatkan lebih banyak lagi. Jikalau tidak hati-hati, bisa jadi Anda akan terjerumus ke dalam lembah kekufuran, yaitu kufur nikmat dengan tidak pernah mensyukurinya.

Oleh karena itu, Allah Swt. lebih mengetahui sesuatu yang lebih baik bagi Anda. Mungkin Anda menyangka bahwa jikalau Anda kaya dan terus hidup makmur, maka itu tentu lebih baik bagi Anda. Namun, Dia berpendapat lain, jikalau Anda sengsara dan hidup serba seadanya maka itu lebih baik bagi Anda.

Cobalah Anda perhatikan kehidupan di sekeliling Anda. Berapa banyak orang kaya yang tidak mampu bersyukur dan menjalankan perintah Sang Khaliq? Dulu, ketika masih miskin, ia rajin ke masjid dan tidak pernah lalai menjalankan perintah-Nya. Namun, ketika kekayaan menghampirinya, ia lalai dan larut dalam lautan materi. Memang, tidak semua orang seperti itu, namun sebagian besar mereka masuk ke dalam kategori ini.

Barangkali, sesuatu yang Anda benci adalah baik di hadapan Allah Swt. dan, barangkali sesuatu yang Anda cintai adalah buruk dalam pandangan-Nya. Berusahalah dengan sebaik-baiknya, dan serahkan hasilnya kepada Penguasa Anda. Semua yang ditakdirkan oleh Allah Swt. maka itu adalah yang terbaik bagi Anda.

153. TEMPAT TERBITNYA CAHAYA ALLAH SWT.

"Tempat terbitnya cahaya adalah hati dan relung-relung jiwa."

Apa Anda mengetahui di mana tempat cahaya Ilahi berada?!

Yah, cahaya Ilahi berada di dalam hati dan relung-relung jiwa, yang merupakan tempat mengenal Allah Swt., mengetahui rahasia-rahasia-Nya, dan gudang segala kelebihan yang diberikan oleh Allah Swt. kepada para hamba-Nya.

Cahaya itu memang bersarang di dalam hati. Namun, perlu Anda ingat bahwa semua itu tidak akan muncul ke permukaan, kecuali dengan bantuan-Nya. Jikalau Anda tidak hati-hati dan selalu larut dalam perbuatan maksiat, maka cahaya tersebut akan redup, bahkan tertutupi.

Berusahalah untuk senantiasa menjaga cahaya itu dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Jikalau Allah Swt. telah mengangkat hijab yang ada di dalam hati Anda, maka cahaya-Nya akan terlihat jelas di wajah Anda. Bahkan, Anda akan mampu melihat sesuatu yang tidak mungkin dilihat dengan mata biasa, dan mengetahui rahasia yang tidak diketahui orang lain. Saat itu, Anda akan mencapai makrifat-Nya, yaitu tingkatan yang dirindukan setiap salik.

154. SUMBER CAHAYA HATI

"Cahaya yang tersimpan di dalam hati bersumber dari cahaya yang datang dari gudang kegaiban."

Pada bagian sebelumnya, telah dijelaskan bahwa cahaya itu terdapat di dalam hati. Pertanyaannya sekarang, apakah Anda mengetahui dari mana cahaya itu berasal?!

Yah, cahaya itu berasal dari Allah Swt. Cahaya itu tersimpan dalam perbendaharaan gaib. Allah Swt. memberikan cahaya tersebut kepada hati-hati yang suci dan jauh dari maksiat. Semakin banyak ketaatan yang Anda lakukan, maka hati Anda akan semakin suci, dan cahaya Ilahi akan semakin mudah menghampirinya. Sebaliknya, semakin banyak maksiat yang Anda lakukan, maka hati Anda akan semakin gelap dan hitam, sehingga sebaliknya. cahaya itu terhalangi dari hati Anda.

Cobalah Anda perhatikan kertas putih yang bersih, bagaimana keadaannya jikalau diberikan cahaya? Bukanlah ia akan memantulkannya?! Kemudian, perhatikan pula bagaimana jikalau kertas itu dipantulkan cahaya dalam keadaan kotor dan hitam. Apakah akan mampu memantulkan cahaya?!

Pertanyaan itu tidak perlu dijawab, sebab Anda sendiri sudah mengetahui jawaban yang sebenarnya. Itulah hati Anda, yang harus Anda jaga dengan sebaik-baiknya.

155. DUA JENIS CAHAYA

"Ada cahaya yang mampu memperlihatkan makhluk Allah Swt. kepada Anda, dan ada pula cahaya yang dapat memperlihatkan sifat-sifat-Nya kepada Anda."

Cahaya Allah Swt. yang diberikan kepada Anda terbagi dua. Pertama, cahaya yang akan memperlihatkan kepada Anda mengenai makhluk-Nya. Jikalau Anda telah mendapatkan cahaya ini, maka Anda akan mampu mengenal hakikat segala sesuatu yang ada di dunia ini. Kemudian, Anda juga akan mampu menjadikannya sebagai sarana menuju hadirat-Nya.

Berapa banyak manusia yang terlena oleh kehidupan dunia ini? Ketika mereka diberikan harta, mereka malah menghabiskannya dalam kemaksiatan, bukan dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, seperti bershadaqah, berzakat, dan lain sebagainya. Jikalau mereka diberikan anak keturunan, maka ia justru menghabiskan waktu bersenang-senang dengannya, sehingga menyebabkannya lalai menunaikan kewajibannya terhadap Sang Khaliq. Dan, masih banyak lagi contoh yang bisa dijadikan teladan dalam hal ini.

Kedua, cahaya yang akan menyingkapkan Anda mengenai sifat-sifat-Nya. dengan cahaya ini, Anda akan mampu mencapai makrifat. Keimanan yang Anda miliki akan bersambung dengan cahaya sifat-sifat-Nya. Jikalau Anda telah mendapatkan cahaya jenis kedua ini, maka Anda akan mampu menyingkap rahasia di balik ketetapan-Nya. Jikalau orang masih gundah gulana menghadapi takdir buruk-Nya, maka Anda justru akan bisa menenangkannya dan menyingkap hikmah di baliknya. Cahaya kedua adalah kelanjutan dari cahaya yang pertama.

Jikalau Anda baru mendapatkan cahaya yang pertama maka langkah yang Anda tuju belum sempurna. Teruslah melangkah, dan rajinlah beribadah, mudah-mudahan Anda akan mampu mendapatkan cahaya kedua yang merupakan dambaan setiap salik.

156. HATI YANG BERHENTI DI HADAPAN CAHAYA

"Bisa jadi, hati berhenti bersama cahaya-cahaya, sebagaimana jiwa terhijab oleh gelapnya bayang-bayang ciptaan."

Tatkala hati melihat cahaya yang dipancarkan oleh Allah Swt. maka bisa jadi akan berhenti di hadapannya. Ini adalah sebuah tanda bahwa hati Anda masih belum mencapai kesempurnaan.

Teruslah berjalan dan melangkahkan hati. Jangan hanya berhenti di hadapan cahaya. Pencarian Anda yang sebenarnya adalah pada sesuatu yang ada di balik cahaya itu, yaitu Allah Swt. Cahaya yang Anda lihat hanyalah tanda kebesaran-Nya, dan bahwa perjalanan Anda hampir mencapai puncaknya.

Jikalau Anda berhenti sampai di situ maka cahaya itu justru akan menjadi hijab yang menghalangi upaya Anda mencapai tujuan. Sadarlah segera. Kenyataan yang sedang Anda alami itu adalah seperti jiwa yang ditutupi oleh gelapnya bayang-bayang makhluk.

Hanya saja, bedanya, yang satu penghalangnya adalah cahaya, sedangkan yang satu lagi kegelapan. Perhatikanlah itu dengan baik-baik, dan jangan sampai tertipu.

157. CARA ALLAH SWT. MENUTUP CAHAYA BATIN

"Allah Swt. menutup cahaya relung-relung jiwa dengan tebalnya perbuatan-perbuatan zhahir untuk memuliakannya, agar tidak murahan karena terlihat nyata dan tidak dipanggil dengan lisan ketenaran."

Allah Swt. sengaja menutup cahaya yang ada di relung-relung jiwa dengan perbuatan-perbuatan zhahir sebagai bentuk kehormatan baginya. Apakah Anda tidak menyaksikan bahwa setiap yang tertutup itu jauh lebih berharga dan lebih dihormati dari yang terbuka? Biasanya, setiap sesuatu yang mudah dilihat dan disaksikan, nilainya berkurang dalam pandangan orang lain.

Misalnya, ketika Anda menyaksikan perempuan yang memakai hijab atau menutup aurat, bukankah Anda lebih menghormatinya dan tidak berani mengganggunya? Hal ini berbanding terbalik dengan perempuan yang selalu mengumbar aurat. Anda sama sekali tidak respek dan tertarik dengan gayanya, bahkan menjadi bahan cemoohan Anda. Itulah contoh kecil yang bisa kita dapatkan di tengah-tengah masyarakat. Dan, begitu juga halnya dengan cahaya hati. Ia sengaja ditutupi oleh Allah Swt. dengan perbuatan-perbuatan zhahir.

Intinya, jikalau Anda ingin membuka dan memperlihatkan cahaya itu, maka perbaikilah perbuatan Anda. Janganlah melakukan hal-hal yang dilarang oleh-Nya, dan kerjakan selalu perintah-Nya. Selama Anda masih melanggar aturan-Nya maka cahaya itu akan selalu tertutup.

158. TANDA WALI ALLAH SWT.

"Maha Suci Allah Swt. yang tidak menjadikan tanda wali-wali-Nya, kecuali dengan tanda diri-Nya. Dan, tanda itu tidak akan sampai kepada mereka, kecuali orang yang diinginkan-Nya untuk sampai kepada-Nya."

Para wali Allah Swt. adalah orang-orang yang memiliki kedudukan khusus di sisi-Nya. Mereka telah mendapatkan cahaya-Nya dan mengetahui hikmah dan rahasia yang ada di balik sebuah peristiwa. Jikalau ada yang bertanya kepada Anda, apakah ciri-ciri seorang wali? Jawablah, bahwa orang wali itu tidak memiliki tanda-tanda khusus yang dapat diketahui oleh seluruh manusia. Allah Swt. menjadikan diri-Nya sebagai tanda bagi para wali-Nya. Artinya, jikalau Anda mengenal-Nya maka Anda akan mengenal wali-Nya.

Sangat tepat jikalau ada seorang ulama yang mengatakan, "Jikalau Anda melihat seseorang, kemudian Anda langsung mengingat Allah Swt., maka ketahuilah bahwa ia adalah wali-Nya."

Tidak semua orang bisa menemui wali-Nya, sebab orang yang wali itu sulit ditemukan di tengah keramaian. Ia berpenampilan layaknya manusia biasa. Hanya orang-orang yang telah ditentukan Allah Swt. yang bisa menemui-Nya, agar bisa memohon doanya demi kebaikannya di dunia dan akhirat. Ia akan selalu memberikan petunjuk kepada manusia yang lain menuju kebenaran. Belajarlah kepadanya agar Anda sampai di sisi Allah Swt.

159. ANTARA RAHASIA MALAKUT DAN RAHASIA HAMBA

"Bisa jadi, Allah Swt. memperlihatkan kegaiban malakut-Nya kepada Anda, tetapi juga menghalangi Anda untuk mengetahui rahasia-rahasia para hamba-Nya."

Mungkin Anda mampu mengetahui rahasia-rahasia yang ada di alam semesta ini yang letaknya jauh dari Anda. Namun, Anda tidak mampu mengetahui rahasia-rahasia yang ada di dalam diri seorang hamba, padahal ia berada dekat dari Anda. Ini adalah ketetapan Allah Swt. yang pasti ada hikmahnya. Hanya saja, terkadang Anda mampu mengetahuinya, dan terkadang pula lemah memikirkan hikmah tersebut.

Cobalah Anda pikirkan sejenak. Anda mampu mengetahui kegaiban malakut-Nya, namun tidak mampu mengetahui rahasia para hamba-Nya.

Jenis yang pertama (mengetahui rahasia alam semesta) begitu jauh dari Anda, bahkan Anda tidak mampu menjangkaunya sama sekali dengan tangan Anda. Sedangkan jenis kedua (tidak mengetahui rahasia seseorang) begitu dekat dari Anda, bahkan berada di hadapan Anda. Anda bisa menyentuhnya, menyalaminya, bahkan memukulnya. Hanya saja, Anda tidak mampu menyelami sesuatu yang ada di dalam jiwanya.

Walaupun begitu, Anda harus tetap tulus dan ikhlas dalam menjalankan ibadah kepada­Nya. Berusaha terus dengan penuh kesungguhan untuk mendapatkan cahaya-Nya. Hanya dengan seperti itulah, Anda akan mampu menyibak rahasia yang ada di balik sebuah benda atau peristiwa.

(sebelum, sesudah)


KITAB AL-HIKAM DAN PENJELASANNYA
Diterjemahkan dari Kitab Al-Hikam Karya Syekh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari

Penyusun dan Penerjemah: D.A. Pakih Sati, Lc.
Editor: Rusdianto
Tata Sampul: Zizi
Tata Isi: Bambang
Pracetak: Wardi

Cetakan Pertama, September 2017

Penerbit: Noktah
Sampangan Gg. Perkutut No.325-B
Jl. Wonosari, Baturetno
Banguntapan Yogyakarta
Telp: (0274) 4353776, 081804374879
Fax: (0274) 4353776
E-mail: redaksi_divapress@yahoo.com, sekred.divapress@gmail.com
Blog: www.blogdivapress.com
Website: www.divapress-online.com

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team