151. RAJA (RASA HARAP) DAN KHAUF
(RASA TAKUT)
- "Jikalau Anda ingin dibukakan pintu harapan maka
perhatikanlah karunia Allah Swt. kepada Anda. Jikalau
Anda ingin dibukakan pintu rasa takut maka perhatikanlah
sesuatu yang Anda persembahkan untuk-Nya."
Jikalau Anda ingin dibukakan pintu raja' (rasa
harap kepada Allah Swt.), maka perhatikanlah semua
karunia-Nya yang telah diberikan kepada Anda. Bukanlah Dia
telah memberikan Anda makanan dan minuman? Sehingga, Anda
tidak kelaparan. Bukanlah Dia celah memberikan Anda pakaian?
Sehingga, Anda tidak bertelanjang dan kedinginan.
Perhatikanlah, Dia menempatkan Anda di muka bumi ini
sehingga Anda bisa hidup tenang, tenteram, dan menikmati
semua anugerah-Nya. Jikalau Anda berharap kepada-Nya maka
tidak ada yang mustahil dalam harapan Anda. Jikalau Anda
mengharapkan kenikmatan yang lebih baik lagi dan abadi maka
tempatnya adalah surga. Berharaplah kepada-Nya, dan jangan
pernah berhenti berdoa, niscaya Anda akan mendapatkan
sesuatu yang Anda inginkan.
Sementara itu, jikalau Anda ingin dibukakan pintu
khauf (rasa takut kepada-Nya) maka perhatikanlah
sesuatu yang telah Anda persembahkan kepada-Nya. Apakah
amalan yang Anda lakukan selama ini telah maksimal atau
masih dipenuhi kekurangan? Tatkala Dia memerintahkan Anda
untuk mengerjakan shalat, apakah Anda mengerjakannya dengan
baik dan penuh keikhlasan? Ketika Anda diperintahkan untuk
tidak dengki dan dendam, apakah Anda telah menjalankannya
atau tidak? Perhatikanlah posisi Anda dari semua perintah
dan larangan-Nya.
Anda telah menikmati semua nikmat Allah Swt., kemudian
Anda bermaksiat kepada-Nya, apakah Anda tidak takut dengan
siksaan-Nya, azab-Nya, dan neraka-Nya? Kembalilah kepada-Nya
dan bertaubatlah dengan sebenarbenarnya.
152. MALAM KESEMPITAN DAN SIANG
KELAPANGAN
- "Barangkali, Allah Swt. memberi faedah kepada Anda
di malam kesempitan, yang tidak Anda dapatkan di tengah
cahaya siang kelapangan. Kalian tidak dapat mengetahui
secara pasti sesuatu yang lebih bermanfaat bagi
kalian."
Ketika Anda berada di dalam kesempitan maka jangan
bersedih dan mengeluh. Sebab, bisa jadi, Anda mendapatkan
hikmah besar di baliknya, yang mungkin tidak akan pernah
Anda dapatkan ketika lapang.
Ketika Anda sengsara maka rasa harap Anda kepada Allah
Swt. sangat besar manfaatnya. Semua rasa sombong yang ada di
dalam hati Anda akan hancur. Semua rasa egois yang tertanam
di dalam dada Anda akan lenyap. Hati Anda akan dipenuhi oleh
rasa takut terhadap azab-Nya dan rasa hina di
hadapan-Nya.
Ini berbeda halnya ketika Anda diberikan kelapangan. Anda
akan merasa senang karena memiliki harta, kebahagiaan, dan
kesenangan. Bahkan, Anda mungkin berharap ingin mendapatkan
lebih banyak lagi. Jikalau tidak hati-hati, bisa jadi Anda
akan terjerumus ke dalam lembah kekufuran, yaitu kufur
nikmat dengan tidak pernah mensyukurinya.
Oleh karena itu, Allah Swt. lebih mengetahui sesuatu yang
lebih baik bagi Anda. Mungkin Anda menyangka bahwa jikalau
Anda kaya dan terus hidup makmur, maka itu tentu lebih baik
bagi Anda. Namun, Dia berpendapat lain, jikalau Anda
sengsara dan hidup serba seadanya maka itu lebih baik bagi
Anda.
Cobalah Anda perhatikan kehidupan di sekeliling Anda.
Berapa banyak orang kaya yang tidak mampu bersyukur dan
menjalankan perintah Sang Khaliq? Dulu, ketika masih miskin,
ia rajin ke masjid dan tidak pernah lalai menjalankan
perintah-Nya. Namun, ketika kekayaan menghampirinya, ia
lalai dan larut dalam lautan materi. Memang, tidak semua
orang seperti itu, namun sebagian besar mereka masuk ke
dalam kategori ini.
Barangkali, sesuatu yang Anda benci adalah baik di
hadapan Allah Swt. dan, barangkali sesuatu yang Anda cintai
adalah buruk dalam pandangan-Nya. Berusahalah dengan
sebaik-baiknya, dan serahkan hasilnya kepada Penguasa Anda.
Semua yang ditakdirkan oleh Allah Swt. maka itu adalah yang
terbaik bagi Anda.
153. TEMPAT TERBITNYA CAHAYA ALLAH
SWT.
- "Tempat terbitnya cahaya adalah hati dan
relung-relung jiwa."
Apa Anda mengetahui di mana tempat cahaya Ilahi
berada?!
Yah, cahaya Ilahi berada di dalam hati dan relung-relung
jiwa, yang merupakan tempat mengenal Allah Swt., mengetahui
rahasia-rahasia-Nya, dan gudang segala kelebihan yang
diberikan oleh Allah Swt. kepada para hamba-Nya.
Cahaya itu memang bersarang di dalam hati. Namun, perlu
Anda ingat bahwa semua itu tidak akan muncul ke permukaan,
kecuali dengan bantuan-Nya. Jikalau Anda tidak hati-hati dan
selalu larut dalam perbuatan maksiat, maka cahaya tersebut
akan redup, bahkan tertutupi.
Berusahalah untuk senantiasa menjaga cahaya itu dengan
menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala
larangan-Nya. Jikalau Allah Swt. telah mengangkat hijab yang
ada di dalam hati Anda, maka cahaya-Nya akan terlihat jelas
di wajah Anda. Bahkan, Anda akan mampu melihat sesuatu yang
tidak mungkin dilihat dengan mata biasa, dan mengetahui
rahasia yang tidak diketahui orang lain. Saat itu, Anda akan
mencapai makrifat-Nya, yaitu tingkatan yang dirindukan
setiap salik.
154. SUMBER CAHAYA HATI
"Cahaya yang tersimpan di dalam hati bersumber dari
cahaya yang datang dari gudang kegaiban."
Pada bagian sebelumnya, telah dijelaskan bahwa cahaya itu
terdapat di dalam hati. Pertanyaannya sekarang, apakah Anda
mengetahui dari mana cahaya itu berasal?!
Yah, cahaya itu berasal dari Allah Swt. Cahaya itu
tersimpan dalam perbendaharaan gaib. Allah Swt. memberikan
cahaya tersebut kepada hati-hati yang suci dan jauh dari
maksiat. Semakin banyak ketaatan yang Anda lakukan, maka
hati Anda akan semakin suci, dan cahaya Ilahi akan semakin
mudah menghampirinya. Sebaliknya, semakin banyak maksiat
yang Anda lakukan, maka hati Anda akan semakin gelap dan
hitam, sehingga sebaliknya. cahaya itu terhalangi dari hati
Anda.
Cobalah Anda perhatikan kertas putih yang bersih,
bagaimana keadaannya jikalau diberikan cahaya? Bukanlah ia
akan memantulkannya?! Kemudian, perhatikan pula bagaimana
jikalau kertas itu dipantulkan cahaya dalam keadaan kotor
dan hitam. Apakah akan mampu memantulkan cahaya?!
Pertanyaan itu tidak perlu dijawab, sebab Anda sendiri
sudah mengetahui jawaban yang sebenarnya. Itulah hati Anda,
yang harus Anda jaga dengan sebaik-baiknya.
155. DUA JENIS CAHAYA
- "Ada cahaya yang mampu memperlihatkan makhluk
Allah Swt. kepada Anda, dan ada pula cahaya yang dapat
memperlihatkan sifat-sifat-Nya kepada Anda."
Cahaya Allah Swt. yang diberikan kepada Anda terbagi dua.
Pertama, cahaya yang akan memperlihatkan kepada Anda
mengenai makhluk-Nya. Jikalau Anda telah mendapatkan cahaya
ini, maka Anda akan mampu mengenal hakikat segala sesuatu
yang ada di dunia ini. Kemudian, Anda juga akan mampu
menjadikannya sebagai sarana menuju hadirat-Nya.
Berapa banyak manusia yang terlena oleh kehidupan dunia
ini? Ketika mereka diberikan harta, mereka malah
menghabiskannya dalam kemaksiatan, bukan dimanfaatkan untuk
mendekatkan diri kepada-Nya, seperti bershadaqah, berzakat,
dan lain sebagainya. Jikalau mereka diberikan anak
keturunan, maka ia justru menghabiskan waktu
bersenang-senang dengannya, sehingga menyebabkannya lalai
menunaikan kewajibannya terhadap Sang Khaliq. Dan, masih
banyak lagi contoh yang bisa dijadikan teladan dalam hal
ini.
Kedua, cahaya yang akan menyingkapkan Anda mengenai
sifat-sifat-Nya. dengan cahaya ini, Anda akan mampu mencapai
makrifat. Keimanan yang Anda miliki akan bersambung dengan
cahaya sifat-sifat-Nya. Jikalau Anda telah mendapatkan
cahaya jenis kedua ini, maka Anda akan mampu menyingkap
rahasia di balik ketetapan-Nya. Jikalau orang masih gundah
gulana menghadapi takdir buruk-Nya, maka Anda justru akan
bisa menenangkannya dan menyingkap hikmah di baliknya.
Cahaya kedua adalah kelanjutan dari cahaya yang pertama.
Jikalau Anda baru mendapatkan cahaya yang pertama maka
langkah yang Anda tuju belum sempurna. Teruslah melangkah,
dan rajinlah beribadah, mudah-mudahan Anda akan mampu
mendapatkan cahaya kedua yang merupakan dambaan setiap
salik.
156. HATI YANG BERHENTI DI HADAPAN
CAHAYA
- "Bisa jadi, hati berhenti bersama cahaya-cahaya,
sebagaimana jiwa terhijab oleh gelapnya bayang-bayang
ciptaan."
Tatkala hati melihat cahaya yang dipancarkan oleh Allah
Swt. maka bisa jadi akan berhenti di hadapannya. Ini adalah
sebuah tanda bahwa hati Anda masih belum mencapai
kesempurnaan.
Teruslah berjalan dan melangkahkan hati. Jangan hanya
berhenti di hadapan cahaya. Pencarian Anda yang sebenarnya
adalah pada sesuatu yang ada di balik cahaya itu, yaitu
Allah Swt. Cahaya yang Anda lihat hanyalah tanda
kebesaran-Nya, dan bahwa perjalanan Anda hampir mencapai
puncaknya.
Jikalau Anda berhenti sampai di situ maka cahaya itu
justru akan menjadi hijab yang menghalangi upaya Anda
mencapai tujuan. Sadarlah segera. Kenyataan yang sedang Anda
alami itu adalah seperti jiwa yang ditutupi oleh gelapnya
bayang-bayang makhluk.
Hanya saja, bedanya, yang satu penghalangnya adalah
cahaya, sedangkan yang satu lagi kegelapan. Perhatikanlah
itu dengan baik-baik, dan jangan sampai tertipu.
157. CARA ALLAH SWT. MENUTUP CAHAYA
BATIN
- "Allah Swt. menutup cahaya relung-relung jiwa
dengan tebalnya perbuatan-perbuatan zhahir untuk
memuliakannya, agar tidak murahan karena terlihat nyata
dan tidak dipanggil dengan lisan ketenaran."
Allah Swt. sengaja menutup cahaya yang ada di
relung-relung jiwa dengan perbuatan-perbuatan zhahir sebagai
bentuk kehormatan baginya. Apakah Anda tidak menyaksikan
bahwa setiap yang tertutup itu jauh lebih berharga dan lebih
dihormati dari yang terbuka? Biasanya, setiap sesuatu yang
mudah dilihat dan disaksikan, nilainya berkurang dalam
pandangan orang lain.
Misalnya, ketika Anda menyaksikan perempuan yang memakai
hijab atau menutup aurat, bukankah Anda lebih menghormatinya
dan tidak berani mengganggunya? Hal ini berbanding terbalik
dengan perempuan yang selalu mengumbar aurat. Anda sama
sekali tidak respek dan tertarik dengan gayanya, bahkan
menjadi bahan cemoohan Anda. Itulah contoh kecil yang bisa
kita dapatkan di tengah-tengah masyarakat. Dan, begitu juga
halnya dengan cahaya hati. Ia sengaja ditutupi oleh Allah
Swt. dengan perbuatan-perbuatan zhahir.
Intinya, jikalau Anda ingin membuka dan memperlihatkan
cahaya itu, maka perbaikilah perbuatan Anda. Janganlah
melakukan hal-hal yang dilarang oleh-Nya, dan kerjakan
selalu perintah-Nya. Selama Anda masih melanggar aturan-Nya
maka cahaya itu akan selalu tertutup.
158. TANDA WALI ALLAH SWT.
- "Maha Suci Allah Swt. yang tidak menjadikan tanda
wali-wali-Nya, kecuali dengan tanda diri-Nya. Dan, tanda
itu tidak akan sampai kepada mereka, kecuali orang yang
diinginkan-Nya untuk sampai kepada-Nya."
Para wali Allah Swt. adalah orang-orang yang memiliki
kedudukan khusus di sisi-Nya. Mereka telah mendapatkan
cahaya-Nya dan mengetahui hikmah dan rahasia yang ada di
balik sebuah peristiwa. Jikalau ada yang bertanya kepada
Anda, apakah ciri-ciri seorang wali? Jawablah, bahwa orang
wali itu tidak memiliki tanda-tanda khusus yang dapat
diketahui oleh seluruh manusia. Allah Swt. menjadikan
diri-Nya sebagai tanda bagi para wali-Nya. Artinya, jikalau
Anda mengenal-Nya maka Anda akan mengenal wali-Nya.
Sangat tepat jikalau ada seorang ulama yang mengatakan,
"Jikalau Anda melihat seseorang, kemudian Anda langsung
mengingat Allah Swt., maka ketahuilah bahwa ia adalah
wali-Nya."
Tidak semua orang bisa menemui wali-Nya, sebab orang yang
wali itu sulit ditemukan di tengah keramaian. Ia
berpenampilan layaknya manusia biasa. Hanya orang-orang yang
telah ditentukan Allah Swt. yang bisa menemui-Nya, agar bisa
memohon doanya demi kebaikannya di dunia dan akhirat. Ia
akan selalu memberikan petunjuk kepada manusia yang lain
menuju kebenaran. Belajarlah kepadanya agar Anda sampai di
sisi Allah Swt.
159. ANTARA RAHASIA MALAKUT DAN RAHASIA
HAMBA
- "Bisa jadi, Allah Swt. memperlihatkan kegaiban
malakut-Nya kepada Anda, tetapi juga menghalangi Anda
untuk mengetahui rahasia-rahasia para
hamba-Nya."
Mungkin Anda mampu mengetahui rahasia-rahasia yang ada di
alam semesta ini yang letaknya jauh dari Anda. Namun, Anda
tidak mampu mengetahui rahasia-rahasia yang ada di dalam
diri seorang hamba, padahal ia berada dekat dari Anda. Ini
adalah ketetapan Allah Swt. yang pasti ada hikmahnya. Hanya
saja, terkadang Anda mampu mengetahuinya, dan terkadang pula
lemah memikirkan hikmah tersebut.
Cobalah Anda pikirkan sejenak. Anda mampu mengetahui
kegaiban malakut-Nya, namun tidak mampu mengetahui rahasia
para hamba-Nya.
Jenis yang pertama (mengetahui rahasia alam semesta)
begitu jauh dari Anda, bahkan Anda tidak mampu menjangkaunya
sama sekali dengan tangan Anda. Sedangkan jenis kedua (tidak
mengetahui rahasia seseorang) begitu dekat dari Anda, bahkan
berada di hadapan Anda. Anda bisa menyentuhnya,
menyalaminya, bahkan memukulnya. Hanya saja, Anda tidak
mampu menyelami sesuatu yang ada di dalam jiwanya.
Walaupun begitu, Anda harus tetap tulus dan ikhlas dalam
menjalankan ibadah kepadaNya. Berusaha terus dengan
penuh kesungguhan untuk mendapatkan cahaya-Nya. Hanya dengan
seperti itulah, Anda akan mampu menyibak rahasia yang ada di
balik sebuah benda atau peristiwa.
|