|
|
172. ANTARA KETETAPAN AZALI DENGAN
PERBUATAN
- "Allah Swt. mengetahui bahwa seluruh hamba ingin
mengetahui rahasia pertolongan-Nya, sehingga Dia
berfirman, Dia mengkhususkan dengan rahmat-Nya
kepada siapa pun yang diinginkan-Nya. Dia juga mengetahui
bahwa jikalau mereka dibiarkan, tentu mereka tidak akan
beramal karena berpegang kepada sesuatu yang sudah
ditetapkan pada zaman Azali. Allah Swt. juga
berfirman, Rahmat Allah Swt. dekat kepada
orang-orang yang berbuat baik.
Allah Swt. Maha Tahu mengenai segala yang tersirat di
dalam hati Anda; sebagaimana Dia mengetahui semua detail
perbuatan lahiriah yang Anda lakukan. Dia mengetahui bahwa
Anda ingin mengetahui rahasia para hamba; kenapa orang ini
mendapatkan keistimewaan seperti ini, dan orang itu
mendapatkan keistimewaan seperti itu? Untuk menuntaskan
keingintahuan Anda ini, maka Dia menegaskan di dalam
al-Quran al-Karim:
Dan, Allah menentukan siapa yang
dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian), dan
Allah mempunyai karunia yang besar. (QS.
al-Baqarah [2]: 105).
Ayat ini menegaskan bahwa Allah Swt. berhak memberikan
keistimewaan tertentu kepada siapa pun yang diinginkan-Nya.
Dan, ini tidak ada kaitannya dengan pola pikir yang
menyatakan bahwa kalau usaha seperti ini maka akan
mendapatkan hasil seperti ini, sebagaimana hal ini dipegang
oleh sebagian besar masyarakat kita. Akan tetapi, pemberian
tersebut berkaitan erat dengan hibah-Nya. Selama ini,
pemikiran yang berkembang di kalangan masyarakat menyatakan
bahwa jikalau seseorang ingin mendapatkan kelebihan
tertentu, misalnya tahan besi, atau tidak mempan peluru, dan
lain sebagainya, maka ia harus mengamalkan ibadah-ibadah
tertentu. Ini sama sekali tidak benar, dan tidak ada dalil
yang menjelaskan. Bahkan, hal tersebut bisa masuk dalam
kategori syirik karena beribadah untuk mengharapkan sesuatu
kepada selain-Nya. Semua yang didapatkan oleh seseorang
adalah karunia-Nya semata.
Selain itu, Allah Swt. pula yang menentukan siapakah di
antara para hamba-Nya yang masuk ke dalam kategori
orang-orang yang mendapatkan hidayah-Nya dan berbahagia di
akhirat kelak, serta siapa pula yang masuk ke dalam kategori
orang-orang yang sengsara dan akan mendiami neraka-Nya di
akhirat kelak. Semua itu sudah ada dalam catatan-Nya.
Jikalau mereka diberitahukan tentang rahasia para hamba
maka mereka akan meninggalkan amal kebajikan, karena
bergantung pada sesuatu yang sudah ditetapkan di Lauh
Mahfuzh. Padahal, amalan-amalan yang mereka kerjakan selama
di dunia ini adalah jalan dan sarana menggapai sesuatu yang
mereka harapkan. Mereka akan menyangka bahwa orang-orang
yang sudah ditakdirkan bahagia maka ia akan tetap bahagia,
walaupun tidak beramal sama sekali. Dan, orang-orang yang
sudah ditakdirkan sengsara, maka ia akan sengsara, walaupun
melakukan banyak amalan.
Untuk menghilangkan prasangka buruk ini, maka Allah Swt.
berfirman dalam al-Quran al-Karim:
Sesungguhnya, rahmat Allah Amat dekat
kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS.
al-Araaf [7]: 56).
Artinya, rahmat Allah Swt. senantiasa bersama dengan
orang-orang yang berbuat ihsan, yaitu orang-orang yang rajin
mengerjakan amal shalih. Sebaliknya, rahmat-Nya senantiasa
menjauh dari orang-orang yang gemar mengerjakan amal-amal
kejahatan. Ketentuan-Nya memang sudah ada semenjak zaman
azali. Namun, perlu diingat bahwa Allah Swt. menjadikan
alamat dan tanda-tanda yang menunjukkan masing-masing
kelompok. Jikalau seseorang rajin mengerjakan amal-amal
kebajikan, tentu ia termasuk kelompok ihsan. Jikalau
sebaliknya, tentu ia akan jauh dari sifat ihsan. Dan, Dia
tidak akan pernah menyia-nyiakan amalan para hamba-Nya.
Tidak selayaknya seorang muslim meninggalkan amal kebajikan,
ketaatan, dan ibadah karena bergantung pada ketetapan azali.
Sama sekali tidak pantas.
|