Musyawarah Burung
(Mantiqu't-Thair)

Faridu'd-Din Attar

36. Pertanyaan Burung Kedua Puluh

Seekor burung lain berkata pada Hudhud, "O Pemimpin di Jalan ini, apa yang seharusnya kumohon pada Simurgh bila aku sampai ke tempat persemayamannya? Karena olehnya dunia ini akan diterangi, aku pun tak tahu apa yang seharusnya kumohon. Bila aku tahu apa yang paling baik kumohon dari Simurgh di atas singgasananya, maka hatiku pun akan lebih senang."

Hudhud menjawab, "O Si gila! Amboi! Kau tak tahu apa yang seharusnya kaumohon? Mohonlah apa yang paling kauinginkan. Siapa pun mestinya tahu apa yang ingin dimohonnya, meskipun Simurgh sendiri jauh lebih baik dari apa saja yang mungkin kauinginkan. Inginkah kau mengetahui dari dia apa yang ingin kau mohon?'

Doa Syaikh Rubdar

Ktika Bu Ali Rubdar hendak meninggal, ia mengucapkan kata-kata ini, "Jiwaku mengetar di bibirku dengan pengharapan akan kebahagiaan abadi. Pintu-pintu langit terbuka. dan menyediakan singgasana bagiku di sorga. Orang-orang suci yang bersemayam di istana keabadian berseru bersama suara burung-hurung bulbul. 'Masuklah, o pencinta sejati. Bersyukurlah dan berjalanlah dengan gembira, karena tiada seorang pun di dunia pernah melihat tempat ini.' O Tuhan, bila aku mendapat karunia dan rahmat-Mu, jiwaku tak akan tergelincir dari keteguhan keyakinan. Aku tak akan menundukkan kepalaku seperti di dunia insan, karena jiwaku telah dibentuk oleh cinta-Mu, dan demikianlah aku pun tak mengenal sorga maupun neraka.

Bila aku menjadi abu, tak akan terdapat lagi dalam diriku wujud lain kecuali Engkau. Kukenal Engkau tetapi tak kukenal agama maupun kekufuran. Aku Engkau, Engkau Aku. Kudambakan Engkau, jiwaku dalam Engkau. Engkau semata yang penting bagiku. Engkau bagiku dunia ini dan dunia nanti. Puaskanlah, meskipun teramat sedikit, kebutuhan hatiku yang terluka. Tunjukkanlah, meskipun sedikit, cinta-Mu padaku, karena aku bernafas hanya karena Engkau."

Sabda Tuhan Pada Daud

Tuhan dari Atas bersabda pada Daud, "Katakan pada hamba-hambaKu: 'O gumpal tanah! Seandainya Aku tak punya sorga sebagai ganjaran dan neraka sebagai hukuman, akankah kamu tetap ingat padaKu? Kalau tak ada cahaya maupun api, akankah kamu tetap ingat padaKu? Tetapi karena Aku layak mendapat kehormatan tertinggi, kamu harus memujaKu tanpa pengharapan atau ketakutan; namun, bila kamu tak pernah ditopang pengharapan atau ketakutan, akankah kamu tetap ingat padaKu? Karena Aku Junjunganmu, hendaknya kamu memujaKu dari dasar hatimu. Buanglah segala yang bukan Aku, bakar itu hingga menjadi abu, dan campakkan abu itu ke angin keutamaan."

Mahmud dan Ayaz

Suatu hari Mahmud memanggil hamba kesayangannya dan memberikan mahkotanya pada orang itu, lalu didudukkannya orang itu di atas singgasananya, dan katanya, "Ayaz, kuberikan padamu kerajaan dan bala tentaraku. Perintahlah, karena negeri ini milikmu; dan kini kuharapkan kau menggantikan kedudukanku dan mencampakkan anting-anting tanda penghambaanmu itu ke Bulan dan Ikan."

Ketika para perwira dan orang-orang istana mendengar tentang itu, mata mereka pun menjadi hitam karena iri dan mereka pun berkata. "Tiada pernah di dunia ini seorang raja memberikan kehormatan setinggi itu pada seorang hamba." Tetapi Ayaz menangis, dan mereka pun berkata padanya, "Adakah kau gila? Kau bukan lagi hamba, melainkan termasuk golongan raja-raja. Mengapa kau menangis? Hendaknya kau merasa puas!" Ayaz menjawab, "Tuan-tuan tak mengetahui keadaan yang sebenarnya. Tuan-tuan tak mengerti bahwa Sultan yang memerintah negeri yang besar ini telah membuang diriku dari hadapannya. Ia harapkan hamba memerintah kerajaannya, tetapi hamba tak ingin berpisah daripadanya. Hamba ingin mengabdi padanya, tetapi tidak meninggalkannya. Apa pula urusan hamba dengan pemerintahan dan jabatan raja? Kebahagiaan hamba ialah dalam melihat wajahnya."

Belajarlah dari Ayaz bagaimana mengabdi Tuhan kau yang tinggal bermalas-malas siang dan malam, asyik dengan kesenangan-kesenangan murah dan rendah. Ayaz turun dari puncak kekuasaan, tetapi kau tak beranjak dari tempatmu, tidak pula kau punya keinginan sedikit pun untuk mengubah dirimu sendiri. Kepada siapakah kau akhirnya akan dapat menuturkan kesedihan-kesedihanmu. Selama kau terikat pada sorga dan neraka, bagaimana kau akan dapat memahami rahasia yang ingin kusingkapkan padamu; tetapi bila kau tak lagi terikat pada keduanya itu maka fajar kerahasiaan akan menyingsing dari dalam malam. Lagi pula taman sorga tidak teruntuk bagi yang tak acuh dan langit tertinggi hanya teruntuk bagi mereka yang berhati.

Doa Rabi'ah

"O Tuhan, kau yang tahu akan rahasia segala sesuatu, lenyapkanlah keinginan-keinginan duniawi musuh-musuhku, dan karunia sahabat-sahabatku dengan keabadian kehidupan nanti. Tetapi tentang diriku, aku tak terikat pada keduanya. Kalaupun kumiliki dunia kini atau dunia nanti, namun aku akan memandang keduanya tak berarti dibandingkan dengan berada di dekatMu. Aku hanya memerlukan Kau semata. Kalau sampai pula aku menghadapkan mataku ke arah kedua dunia itu, atau mendambakan apa pun selain Kau, aku pun akan menjadi tak lebih dari seorang yang tak beriman."

Sabda Tuhan Kepada Daud

Sang Pencipta Dunia bersabda kepada Daud dari balik tabir rahasia. "Segala yang ada, baik atau buruk, tampak atau tak tampak, bergerak atau tak bergerak, hanyalah barang pengganti semata jika semua itu bukan Aku sendiri yang tak akan kau temukan gantinya maupun kembarannya. Karena tiada satu pun yang dapat menggantikan Aku, janganlah kau memisahkan dirimu sendiri daripada-Ku. Aku perlu bagimu, kau terikat pada-Ku. Karena itu, kau dambakan apa yang menawarkan dirinya sendiri kalau itu bukan Aku."

Sultan Mahmud dan Berhala Somnat

Mahmud dan bala tentaranya menemukan di Somnat sebuah berhala bernama Lat, yang hendak dihancurkannya. Untuk menyelamatkan itu, orang-orang Hindu menawarkan emas seberat tujuh kali bobot berhala itu, tetapi Mahmud menolaknya dan memerintahkan membuat api besar untuk membakar patung pujaan itu. Kemudian salah seorang perwiranya memberanikan diri berkata, "Tuanku, tidakkah lebih baik menerima emas dan tidak membakar berhala itu?" "Perbuatan demikian akan menimbulkan pikiran padaku," kata Mahmud, "bahwa pada hari perhitungan penghabisan kelak, Al-Khalik tentulah akan mengatakan pada seluruh alam yang berkumpul: 'Perhatikan apa yang telah diperbuat Azaz dan Mahmud -si Azaz membuat berhala dan Mahmud menjualnya'."

Konon ketika berhala itu terbakar, seratus keranjang batu-batu berharga pun keluarlah, sehingga Mahmud mendapatkan harta pula. Katanya, "Lat telah mendapatkan apa yang patut didapatnya dan Tuhan telah mengganjar aku."

Cerita Kecil Lain tentang Mahmud

Ketika suluh para raja ini meninggalkan Gazna untuk berperang dengan orang-orang Hindu dan menghadapi bala tentara mereka yang besar, ia patah semangat, dan ia pun bersumpah kepada Malikulhakim bahwa bila ia menang, ia akan memberikan segala barang rampasan yang jatuh ke tangannya kepada para darwis. Ia mendapat kemenangan dan bala tentaranya dapat mengumpulkan sejumlah besar harta kekayaan. Ketika mereka yang berwajah hitam itu telah mundur meninggalkan barang-barang rampasan itu, Mahmud pun berkata, "Berikan ini pada para darwis, karena aku telah berjanji pada Tuhan untuk berbuat demikian, dan aku harus memegang teguh janjiku." Kemudian para perwiranya menyanggah dan berkata, "Mengapa memberikan begitu banyak emas dan perak pada segelintir orang yang tak ikut bertempur! Mengapa tak memberikannya pada bala tentara yang telah menanggung kesusahan pertempuran itu, atau setidak-tidaknya, menyimpannya dalam perbendaharaan kerajaan?"

Sultan pun ragu-ragu antara sumpahnya sendiri dan sanggahan-sanggahan itu. Sementara itu, Bu Hassein, seorang penggila Tuhan, yang cerdas tetapi tak terpelajar, lewat di jalan itu. Melihat dia, di jauhan Mahmud pun berkata, "Panggil si majenun itu; katakan padanya agar datang ke sini dan katakan apa yang mesti diperbuat, dan aku pun akan menaatinya; karena ia tak takut akan Sultan maupun tentara, ia akan memberikan pendapat yang tak berat sebelah." Ketika Sultan menyerahkan perkara itu pada Bu Hassein, orang itu pun berkata, "Tuanku, ini masalah dua obol, tetapi bila Tuanku ingin berbuat sepatutnya terhadap Tuhan, maka jangan pikirkan lagi, Tuan yang mulia, perkara dua obol ini; dan bila Tuan mendapatkan kemenangan lagi karena kemurahan-Nya, hendaklah Tuan malu menahan dua obol ini. Karena Tuhan telah menganugerahkan kemenangan pada Tuan, dapatkah apa yang teruntuk bagi Tuhan itu Tuan tahan bagi diri Tuan?"

Segera sesudah itu Mahmud pun memberikan harta kekayaan itu pada para darwis dan menjadi raja besar.

(sebelum, sesudah)


Musyawarah Burung terjemahan Hartojo Andangdjaja
Judul asli: Mantiqu't-Thair oleh Faridu'd-Din Attar
Diterjemahkan dari The Conference of the Birds (C. S. Nott).
Diterbitkan oleh PT DUNIA PUSTAKA JAYA
Jalan Kramat 11. No. 31 A, Jakarta Pusat
Anggota IKAPI
Cetakan pertama: 1983

Indeks artikel kelompok ini | Disclaimer
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Dirancang oleh MEDIA, 1997-2001.
Hak cipta © dicadangkan.