Musyawarah Burung
(Mantiqu't-Thair)

Faridu'd-Din Attar

35. Pertanyaan Burung Kesembilan Belas

Seekor burung lain berkata pada Hudhud, "Katakan padaku, kau yang terpuji di seluruh dunia, apakah yang mesti kuperbuat agar merasa puas akan perjalanan ini? Jika kau katakan padaku, hatiku akan menjadi lebih ringan dan aku akan bersedia dipimpin dalam usaha ini. Sesungguhnya, petunjuk perlu, agar kita tak menjadi takut. Karena aku hanya ingin menerima petunjuk dari dunia gaib, maka dengan alasan yang layak, ku tolak petunjuk palsu dari makhluk-makhluk di bumi."

"Selama kau hidup," jawab Hudhud, "hendaklah kau merasa puas mengingat Tuhan, dan waspadalah terhadap omongan yang tak bijaksana. Bila kau dapat berbuat demikian, kerisauan dan kesedihan jiwamu akan lenyap. Hiduplah dalam Tuhan dengan rasa puas; berputarlah bagai kubah langit lantaran cinta pada-Nya. Jika ada yang lebih baik lagi kau ketahui, katakanlah itu, o burung malang, agar kau dapat merasa bahagia setidak-tidaknya buat sejenak."

Cerita Kecil tentang Sahabat Tuhan

Seorang sahabat Tuhan yang hampir meninggal mulai menangis dan orang-orang yang ada bersamanya menanyakan kenapa. "Aku menangis bagai awan-awan musim semi," katanya, "karena saatnya telah tiba ketika aku akan mati dan aku risau. Mengingat bahwa hatiku sudah senantiasa bersama Tuhan, bagaimana mungkin aku akan mati?" Seorang dari mereka yang hadir berkata, "Karena hatimu selalu bersama Tuhan, maka kau akan mendapatkan kematian yang baik." Sufi itu menjawab, "Bagaimana mungkin ajal datang pada dia yang menyatukan diri dengan Tuhan! Karena aku sudah bersamaNya, maka kematianku tampaknya mustahil."

Ia yang puas untuk hidup sebagai bagian dari kesemestaan yang besar meninggalkan nafsu keakuannya dan menjadi bebas. Beradalah kau dalam kepuasan dengan sahabatmu, bagai mawar dalam kelopak.

Cerita Kecil Kiasi

Seorang yang telah mencapai kesempurnaan berkata, "Selama tujuh tahun aku telah menyempurnakan diri dan kini aku berada dalam haru-gembira, kepuasan dan kebahagiaan, dan dalam keadaan begini, aku pun ikut serta memiliki Keagungan luhur dan menyatu dengan Keilahian itu sendiri. Adapun kalian, sementara kalian sibuk mencari kesalahan orang-orang lain, bagaimana mungkin kalian akan merasakan kegembiraan di dunia gaib? Jika kalian mencari kesalahan-kesalahan dengan mata menyelidik, bagaimana mungkin kalian mengetahui hal-hal di dunia batin? Kalian tiada segan berbuat begitu teliti mencari kesalahan-kesalahan orang lain, tetapi terhadap kesalahan-kesalahan kalian sendiri, kalian buta. Maka akuilah kesalahan-kesalahan kalian sendiri, meskipun kalian berdosa, Tuhan akan menaruh belas kasih pada kalian."

Kedua Laki-Laki yang Mabuk

Seorang laki-laki yang kelewat banyak minum minuman jernih itu, sering sampai pada keadaan di mana dia kehilangan baik kesadaran maupun rasa kehormatan dirinya. Suatu kali, seorang kawan memergokinya dalam keadaan yang patut disayangkan, terbaring di jalan. Demikianlah si kawan mendapatkan karung lalu menaruh si mabuk dalam karung itu dengan memasukkan kakinya lebih dulu, kemudian mendukung karung itu di pundaknya dan membawanya pulang Di tengah jalan, muncul orang mabuk yang lain, berjalan sempoyongan, ditopang kawannya. Melihat ini, laki-laki yang kepalanya menggelapai dari dalam karung itu bangun, dan melihat orang lain dalam keadaan yang patut dikasihani itu, ia pun berkata menyesalkan, "Ah, laki-laki celaka, lain kali kalau minum anggur, kurangi dua piala lagi, maka kau pun akan dapat berjalan seperti aku sekarang ini --bebas dan sendiri."

Keadaan kita sendiri pun tak berbeda. Kita melihat kesalahan-kesalahan karena kita tak cinta. Bila kita punya sedikit saja pengertian tentang cinta yang sebenarnya, kesalahan-kesalahan mereka yang dekat dengan kita akan tampak sebagai sifat-sifat yang baik.

Pecinta dan Kekasihnya

Seorang laki-laki muda, pemberani dan galak bagai singa, selama lima tahun bercinta dengan seorang wanita. Pada yang sebelah dari mata wanita jelita itu ada sebuah bintik kecil, tetapi laki-laki itu, setiap memandang kecantikan kekasihnya, tak pernah melihat bintik itu. Bagaimana mungkin seorang laki-laki yang sedang mabuk cinta, memperhatikan suatu cacat yang begitu kecil? Namun, pada waktunya, cintanya mulai berkurang dan ia pun mendapatkan kembali kewaspadaannya. Pada saat itulah ia dapat melihat bintik itu, dan bertanya pada kekasihnya bagaimana dapat terjadi yang demikian. Kata wanita itu, "Bintik itu tampak pada saat ketika cintamu mulai dingin. Bila cintamu padaku menjadi berkurang, mataku pun menjadi demikian bagimu."

O yang berhati buta! Berapa lama kau akan terus mencari kesalahan-kesalahan orang lain? Berusahalah untuk melek terhadap apa-apa yang kau sembunyikan dengan begitu cermat. Bila kau melihat kesalahan-kesalahanmu sendiri dengan segala keburukannya, kau tak akan begitu merisaukan kesalahan-kesalahan orang lain.

Polisi dan Laki-Laki yang Mabuk

Seorang polisi memukul jatuh seorang laki-laki mabuk yang berkata padanya. "Mengapa menjadi marah begitu rupa? Kau berbuat sesuatu yang melanggar hukum. Aku tak menyakiti seorang pun, tetapi kau melibatkan dirimu sendiri dalam kemabukan dan melemparkan kemabukan itu ke jalan. Kau jauh lebih mabuk daripada aku, tetapi tak seorang pun memperhatikan ini. Maka tinggalkan aku sendiri, dan tuntutlah keadilan terhadap dirimu sendiri."

(sebelum, sesudah)


Musyawarah Burung terjemahan Hartojo Andangdjaja
Judul asli: Mantiqu't-Thair oleh Faridu'd-Din Attar
Diterjemahkan dari The Conference of the Birds (C. S. Nott).
Diterbitkan oleh PT DUNIA PUSTAKA JAYA
Jalan Kramat 11. No. 31 A, Jakarta Pusat
Anggota IKAPI
Cetakan pertama: 1983

Indeks artikel kelompok ini | Disclaimer
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Dirancang oleh MEDIA, 1997-2001.
Hak cipta © dicadangkan.