Kang Sejo Melihat Tuhan

oleh Mohammad Sobary

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

BUNGKUK DAN KENTUT
 
Ada Kolonel Muamar Khadafy di Libya, ada Utomo Danandjaya di
Indonesia. Tidak kebetulan kedua tokoh ini disebut bersamaan
dalam peristiwa yang sama. Khadafy adalah tokoh urakan  yang
gandrung  akan  kesederajatan  di antara bangsa-bangsa Arab.
Dan kesederajatan itu baginya ialah tampilnya manusia bebas,
manusia  yang  tak perlu mencium tangan sesamanya. Pernah ia
meneriaki Raja Hasan dari Maroko  karena  kedapatan  mencium
tangan orang lain
 
"Ya,  Hasan,  kapan Arab akan maju kalau tradisi cium tangan
masih dilestarikan?" katanya
 
Utomo   Danandjaya   juga   tokoh   yang   gigih   mendukung
egaliterianisme.  Ia,  dengan  kata  lain,  berbagi aspirasi
bersama Khadafy. Bedanya, Khadafy  menentang  ketidakbebasan
jiwa  yang  tampil  dalam  bentuk  cium  tangan.  Utomo emoh
melihat orang  membungkukkan  badan  di  depan  orang  lain.
Begitulah,  saya  pernah  didamprat dalam suatu rapat Majlis
Reboan, karena ketika lewat di  depan  Pak  Tjip  (Soetjipto
Wirosardjono) saya membungkuk.
 
"Mengapa   kamu   mesti   membungkuk  di  depan  Mas  Tjip?"
semburnya.
 
Saya cuma mesem. Saya berharap ia tahu apa arti bungkuk saya
itu.  Maka  dalam  Majlis Reboan pekan lalu, saya membungkuk
lagi  ketika  salaman  dengan   Pak   Tjip.   Saya   sengaja
berlama-lama  agar  kelihatan  olehnya.  Pak  Tjip berbisik,
"Awas, ketahuan Utomo kamu dimarahi lagi nanti."
 
Diam-diam membungkuk itu bukan cuma sekadar sebuah peristiwa
biologis,   melainkan   juga,  terutama  buat  saya,  sebuah
fenomena kultural yang bisa  mengundang  multi-interpretasi.
Membungkuk  rutin  yang  dilakukan  umat  Islam dalam shalat
mereka (ruku), itu  secara  psikologis  melambangkan  adanya
pengakuan  bahwa  di atas manusia yang berkuasa di bumi ini,
ada lagi maha-kekuasaan. Namun  membungkuk  dalam  arti  ini
oleh  orang  Kejawen  (atau  oknum  orang Kejawen) direduksi
menjadi cuma sebuah unsur gerak badan.
 
Mungkin, maksudnya karena  dalam  membungkuk  itu  terlampau
ditekankan  unsur  eksoteris, kurang disertai kedalaman. Hal
ini tentu bisa  diperdebatkan  panjang  lebar.  Tapi,  dalam
kolom  pendek  ini saya cuma ingin konsentrasi pada tafsiran
membungkuk itu lebih lanjut.
 
Dalam hubungan antar-manusia, membungkuk merupakan  ungkapan
kesadaran  kelas.  Orang  yang  posisinya lebih rendah, atau
lebih  muda,  biasanya  membungkuk  pada  pihak  yang  lebih
tinggi,  lebih  tua. Resminya, membungkuk dalam hubungan ini
cuma untuk memenuhi tuntutan sopan santun serta sikap hormat
dari yang muda terhadap yang lebih tua.
 
Tetapi  dalam  hubungan  resmi  antara atasan dan bawahan di
kantor-kantor, membungkuk tiba-tiba berganti wajah; ia  lalu
sarat  berbagai muatan kepentingan. Makna membungkuk sebagai
sopan santun dengan begini sudah  dikorup.  Membungkuk  jadi
ukuran  loyalitas.  Dan  simbiose  mutualistis  dalam proses
membungkuk pun terjadi: yang dibungkuki (atasan) berbahagia,
yang membungkuk (bawahan) memperoleh "bayarannya".
 
Dibanding  dengan  orang-orang  dari  etnis lain, orang Jawa
mungkin lebih mahir membungkuk. Di Jawa ada raja-raja,  yang
menuntut  banyak  pada  rakyatnya.  Rakyat harus membungkuk,
baik    secara    ekonomis    (mengirim    asok    gelondong
pengareng-areng  atau mudahnya upeti) maupun secara biologis
(menyembah Ngerso Dalem Ingkang Sinuwun  Baginda  Raja).  Di
Batak  atau Aceh persoalannya lain. Konon di sana tiap orang
adalah  raja.  Jadi  mana  bisa  orang  yang   sama   belaka
derajatnya itu harus membungkuk?
 
Seorang  sahabat  saya dari Sumatera Barat pernah bercerita,
ada orang Minang yang heran:  Sejak  kapan  sebenarnya  kita
(orang    Minang)   belajar   membungkuk?   Pertanyaan   itu
dikemukakan dalam  kaitan  dengan  kenyataan  sosio-kultural
kita  saat ini, ketika kita dapati tiap orang tiba-tiba jadi
orang Jawa.
 
Di zaman penjajahan Belanda (bule yang tak bisa membungkuk),
bukan  hanya  tidak  mengurangi  kebiasaan  kita membungkuk,
melainkan malah mempertegas keharusan kita  membungkuk  pada
mereka.  Kondisi  parah  ini  diperparah  lagi  oleh Jepang.
Alhasil, kita terus jadi orang yang membungkuk-bungkuk.
 
Di awal  revolusi  sebenarnya  kebiasaan  membungkuk  dicoba
dikurangi.   Sikap   kesederajatan   yang   terpantul  dalam
penggunaan kata Bung (Bung Karno, Bung Hatta, Bung  Sjahrir)
misalnya, mengisyaratkan hasrat itu.
 
Sekarang keadaan berubah lagi. Banyak orang non-Jawa menjadi
Jawa tidak cuma karena membungkukkan badan,  melainkan  juga
karena  sudah  gandrung  membungkukkan  lidah,  mungkin juga
mental  (?)  mereka.   Mereka   terkesan   begitu   teresapi
(setidaknya  di  kulit  luar)  oleh hal-hal yang serba Jawa.
Mengutip wisdom Jawa, piwulang Jawa dan aneka filsafat hidup
Jawa, kadang tanpa juntrungan yang pas. Ini mungkin termasuk
sikap pejabat dan para artis juga.  Pendeknya,  orang  belum
puas  sebelum  mengucap  kata  mbalelo,  ngono yo ngono ...,
sekti tanpo aji, ngluruk tanpo bolo.
 
Pak  Tjip  tahu  bungkuk  saya  di  depannya  bukan  bungkuk
keterjajahan kultural. Ia tahu saya nakal. Jadi bungkuk saya
padanya hanyalah bungkuk suba sita Jawa, tanpa muatan  lain.
Dan  karena  itu  tak perlu ditafsirkan lain. Saya pun punya
obsesi  tentang  manusia  bebas.  Saya  punya  kecenderungan
melawan dominasi, apa saja coraknya. Perlawanan itu berbagai
macam bentuknya, tergantung keadaan.
 
Saya  mengutip  pepatah  Etiopia  dari  buku  James   Scott:
Domination  and  the  Art  of  Resistance.  Katanya, jika di
Etiopia seorang tuan besar  lewat,  petani  yang  bijak  pun
membungkuk  dalam-dalam, sambil diam-diam kentut. Membungkuk
dalam hal ini jadinya  adalah  sebuah  perlawanan  kultural,
tanpa  hiruk  pikuk,  hampir  tanpa  risiko. Dan justru amat
pedih bila yang dilawan mengerti artinya.
 
Pernah saya dibentak Satpam sebuah bank  di  pojok  bunderan
Senayan  itu,  dan saya pun membungkuk dengan takzim. Satpam
yang  selalu  di   bawah   dan   dalam   posisi   diperintah
terus-menerus itu membusungkan dada menikmati kemenangannya.
Padahal bagi saya, ia saya jadikan sejenis ledek munyuk buat
tontonan  gratis.  Artinya,  di  situ  saya membungkuk tidak
karena terjajah secara mental tapi semata berkat  kenakalan.
Saya  membungkuk  dalam  di depannya, dan saya pun diam-diam
juga kentut. Macam petani Etiopia itu.
 
---------------
Mohammad Sobary, Kompas, 9 Desember 1991

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team