Kang Sejo Melihat Tuhan

oleh Mohammad Sobary

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

DOA YANG TAK MEMBEBASKAN
 
Para santri pun akhirnya  berkumpul  lagi  setelah  beberapa
lama sebelumnya mereka menerima tugas dari sang kiai.
 
"Sudah  mengerti pesan dalam surat itu?" tanya kiai, membuka
pertemuan kembali.
 
"Sudah, kiai, alhamdulillah," sahut salah seorang santri.
 
"Bagaimana isi pesan itu?"
 
Santri itu memperdengarkan bacaannya yang bagus  atas  surat
Al  Ma'un.  "Aroaital  ladzi  yukadzibu  biddin  ...," merdu
suaranya. Dan ia pun meneruskan pembacaan dan terjemahannya,
sampai selesai.
 
"Kamu?!" kata sang kiai kepada santri yang lain.
 
Santri  itu  pun  mengulangi  hal  yang sama. Ia pun membaca
ayat-ayat suci itu, disertai terjemahannya.
 
Setelah para santri lain memberi  jawaban  yang  sama,  sang
kiai tak lagi meneruskan bertanya pada santri berikutnya. Ia
berkesimpulan, semua santri pasti akan berbuat serupa.
 
"Kalian belum mengerti  kalau  begitu.  Kalian  cuma  hapal.
Mengerti  dan hapal itu beda," katanya lagi, dengan intonasi
lembut seperti semula.
 
Kiai  kita  ini  ialah  pendiri  perserikatan  yang  bernama
Muhammadiyah  yang  terkenal  itu:  Kiai  Haji Ahmad Dahlan.
Dialog ini terkenal di kalangan keluarga Muhammadiyah. Orang
Muhammadiyah menganggap "peristiwa" ini penting karena dalam
dialog itu terselip sebuah pesan jelas, bahwa agama tak cuma
minta  dipahami,  melainkan diamalkan. Ketika agama berhenti
pada titik pemahaman,  saat  itu  mungkin  agama  diturunkan
derajadnya menjadi "cuma" sejenis filsafat.
 
Agama,  dengan  kata lain, dipreteli fungsi-fungsi sosialnya
yang begitu penting dan yang  paling  relevan  dengan  hidup
kemasyarakatan kita.
 
Syahdan,  sejak  dialog  antara  kiai  dan  santri  itu lalu
didirikan sebuah panti asuhan,  tempat  menampung  anak-anak
yatim-piatu.  Langkah  ini  diambil  KH  Ahmad  Dahlan untuk
memenuhi perintah yang dikandung di  dalam  surat  Al  Ma'un
tersebut. Ini merupakan contoh kongkret bagi para santrinya,
mengenai bagaimana mereka harus memahami kandungan isi kitab
suci Al Qur'an.
 
Di  sana memang ada kalimat: "Tahukah kamu, orang-orang yang
mendustakan agama? " Dan dalam surat  ini  dijelaskan  bahwa
orang yang menyia-nyiakan anak yatim serta tak memberi makan
orang miskin, dimasukkan dalam kategori dusta itu.
 
Agama  diturunkan  Tuhan  buat  manusia,  dan   bukan   buat
kepentingan  Tuhan  itu  sendiri. Tuhan sudah kelewat mulia,
kelewat luhur, kelewat kaya. Pendeknya ia tak perlu  apa-apa
lagi.
 
Oleh  karena itu, sekali lagi, pemahaman KH Ahmad Dahlan itu
sungguh sangat kontekstual buat situasi kita saat  itu,  dan
juga  kini.  Ayat-ayat  suci  sungguh  bukan  untuk  dibaca,
dilagukan, dan dipertandingkan dari tingkat kabupaten sampai
tingkat  nasional,  melainkan untuk dimengerti, dipahami dan
dilaksanakan.
 
Sikap KH Ahmad Dahlan begitu tegas: ia tak ingin umat  Islam
hanya   menjadi   "burung   nyanyi",  (seperti  contoh  para
santrinya) yang  mengandalkan  suara  merdu.  Baginya,  yang
terpenting  adalah tindakan dan amal nyata. Relevansi sosial
dari agama, pendeknya, merupakan hal yang  penting.  Mungkin
malah yang terpenting.
 
Ibadah  puasa  selama  sebulan  itu  ditutup dengan lebaran.
Suasana  khusu',  penuh  tirakat  dan  sikap  prihatin  yang
nampaknya  dalam  itu  diakhiri  dengan sebuah pesta: makan,
minum, rokok dan segala macam yang selama sebulan  dilarang,
di hari itu halal semata hukumnya. Dan kita bersyukur.
 
Tradisi yang mewarnainya, dus sesuatu yang bukan bagian dari
ajaran, ialah sungkem pada orang-tua, mertua, bertemu  sanak
keluarga,  teman  kongkow,  teman  ngaji, teman sekolah atau
kantor, dan juga para tetangga. Suasana gembira memancar  di
tiap wajah. Hati pun terbuka buat saling memaafkan.
 
Urusan  ibadah  kita  menjadi  juga  urusan nasional. Negara
mendapat untung, setidaknya dari penjualan benda-benda  pos.
Permintaan  dan  pengiriman maaf tak bisa jalan tanpa amplop
dan perangko.
 
Pulang ke kampung juga  merupakan  tradisi  lain  yang  ikut
mewarnai kemeriahan lebaran. Negara juga ikut terlibat dalam
acara ini. Mungkin juga  memperoleh  untung  dari  penjualan
tiket  kereta,  pesawat  dan  kapal  laut,  buat kepentingan
orang-orang yang bergembira ini.
 
Suasana tirakat tak boleh  berlama-lama.  Tuhan  menghendaki
segala    yang    mudah,   sederhana   dan   kepenak,   bagi
hamba-hambaNya. Tapi persoalannya, jika  puasa  sebulan  itu
dianggap  media  latihan  hidup  asketik, pengerahan segenap
kekuatan lahir dan batin untuk menangkap esensi serta  makna
ajaran  suciNya,  apakah kemudian yang kita bawa "pulang" ke
dunia  ini?  Apa  hasil  pengembaraan  rohaniah,  yang  bisa
kongkret kita abdikan buat kepentingan kemanusiaan?
 
Pertama-tama, barangkali harus diakui bahwa tak setiap hamba
memang  telah  "berhasil"  menghayati  esensi  ajaran   yang
terkandung  dalam puasa. Mungkin kita ini masih pada tataran
"burung nyayi": kita baru hapal, dan belum mengerti, seperti
kata  Kiai Dahlan tadi. Kita sibuk ngaji, sibuk bertilawatil
Qur'an, mungkin kurang sibuk berbuat.
 
Kecuali itu, dari tahun ke tahun, mungkin suasana  "tirakat"
dalam  bulan puasa semakin nampak berubah. Benar, kita masih
fasih bicara solidaritas sosial, kita juga punya  kepedulian
terhadap kemiskinan, tapi bagaimanakah tindakan kita?
 
Acara   buka  puasa  menggejala  di  mana-mana.  Acara-acara
semacam itu sering berarti makan besar dan  enak.  Dan  kita
boleh bertanya pada diri sendiri, berapa puluh kalikah acara
seperti itu kita hadiri selama sebulan itu?
 
Atas nama kekeluargaan, kangen-kangenan antara sesama  teman
dalam organisasi ketika mahasiswa, kumpul tanpa suatu tujuan
tertentu selain buka bersama, atau  bahkan  dengan  motivasi
bisnis, acara buka puasa bersama diadakan di hotel mewah.
 
Tak  jadi soal memang, karena kita makin makmur. Tapi "kita"
di  sini  siapa  gerangan  orangnya?  Nampaknya  cuma  kelas
menengah  dan  atas.  Dengan kata lain, golongan rakyat yang
sehari penghasilannya 2-3 ribu, tak akan pernah  ikut  acara
macam ini.
 
Tak  jadi  soal  juga  memang, kalau kita tak ada kepedulian
terhadap mereka.  Tak  jadi  soal  kalau  kita  tak  belajar
menaruh  iba  dan rasa kasih pada mereka yang di bawah, yang
tertindas.
 
Jarak antara sesama kita, sebenarnya jauh.  Setidaknya,  tak
sedekat  yang  kita  bayangkan.  Dan  tak  sedekat yang kita
gambarkan secara ideal bahwa tiap umat, menurut ajaran, satu
sama lain adalah saudara.
 
"Saudara yang bagaimana?" saya bertanya
 
Soal  serius  dalam hidup kita, umat, ialah bahwa kita lupa,
ajaran itu bukan realitas. Tapi kita sudah puas dengan semua
yang ideal. Dan berhentilah kita di tataran itu.
 
Maka  kita  pun  menyanyikan  lagu bahwa agama memperhatikan
yang miskin dan menyantuni yang yatim. Kita  menyanyi  dalam
arti  sebenarnya  karena  kita  lupa  bahwa  agama  di  situ
menuntut tindakan kita. Ucapan "Selamat Lebaran"  yang  kita
sampaikan  pada mereka yang lebih miskin jadinya cuma ucapan
kosong  atau  setengah  kosong,  karena  tanpa  kita  sertai
tindakan  yang  jelas  bisa membebaskan mereka dari struktur
yang mengurung dan memiskinkan mereka itu.
 
Sebagai doa, ucapan kita jelas mulia. Tapi bagaimanapun,  ia
belum merupakan doa yang membebaskan.
 
---------------
Mohammad Sobary,
Jakarta Jakarta, No.300, 28 Maret- 3 April 1992

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team