Kang Sejo Melihat Tuhan

oleh Mohammad Sobary

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

GENGSI
 
Meskipun gengsi itu tidak enak dimakan, sering  dalam  hidup
ini  kita mati-matian memburunya. Demi gengsi orang bersedia
melakukan apa saja, berapa pun besar ongkos  dan  risikonya.
Banyak  tindakan  melawan  hukum,  tata  susila  dan  moral,
dilakukan demi mengejar gengsi.
 
Lain orang lain pula simbol-simbol yang dipandang bergengsi.
Unsur  etnis,  kesukuan,  agama,  tingkat  pendidikan, jenis
pekerjaan, jenis kelamin dan tingkat usia seseorang,  sering
mewarnai perbedaan-perbedaan tadi.
 
Unsur  lokal  (di  daerah  mana atau kompleks apa) seseorang
tinggal, juga mempengaruhi corak perbedaan gengsi  tadi.  Di
kompleks perumahan sederhana, orang masih bisa bangga betapa
ia baru pulang dari Blok M membeli mesin  cuci  atau  video.
Pekerjaan "mulia" itu biasanya diemban oleh, maaf agak terus
terang, kaum ibu.
 
Di kalangan sarjana, lain lagi ulah orang untuk  menunjukkan
gengsi  ini.  Pernah  seorang  doktor dari Indonesia memberi
ceramah di Universitas Monash, Australia, di depan mahasiswa
Indonesia. Dalam sepuluh dari tiga puluh menit ceramahnya ia
sibuk bicara tentang dirinya, termasuk bahwa ia  murid  Ivan
Illich dan Rostow yang beken itu.
 
Arti  simbolik  dari  "pidato"-nya  itu  pun merupakan usaha
menunjukkan gengsi  untuk  menimbulkan  efek  "wah".  Memang
banyak  orang  terkesima  mendengar murid Rostow itu bicara.
Namun ada juga yang tampak gelisah.  Saya  malah  mengantuk.
Ketika  ceramah  selesai,  orang  pun  menggerutu.  Katanya,
ceramahnya tidak  bermutu.  Saya  tidak  setuju.  Mana  bisa
doktor tidak bermutu?
 
"Kamu tidur kok bisa tidak setuju," gerutu salah seorang.
 
Maksud saya, mutu sudah terang ada, cuma tak setinggi langit
harapan kita. Memang salah para  pendengar.  Mereka  terlalu
banyak  berharap.  Orang  sering  keliru, dikiranya kualitas
luar negeri (dan murid sarjana kenamaan) mesti hebat.
 
Sebenarnya, kita musti sepaham dulu  dalam  dua  hal:  bahwa
kebesaran  guru  belum  tentu  merembes  ke murid, dan bahwa
doktor haruslah pertama-tama dilihat, apa boleh  buat,  cuma
sebagai  lambang  selesainya  sebuah  proses  administratif.
Artinya, tak usah dulu bicara tentang kemampuan akademisnya.
 
Namun, apa yang terjadi di sekitar kita  memang  lain.  Kita
terlanjur  menilai,  doktor  itu sebuah gengsi akademis yang
tinggi. Sikap seorang doktor dengan orang awam  pun  jadinya
ada   keserupaan.  Mereka,  pada  dasarnya,  kelewat  bangga
terhadap gengsi. Kenyataan tidak  seimbangnya  gelar  dengan
kemampuan  akademis,  atau,  tak  seimbangnya  gengsi dengan
esensinya sebagai seorang doktor, merupakan soal lain.
 
Kita lihat saja, misalnya, betapa  gigih  mahasiswa  sekadar
mengejar  lulus  demi  gelar.  Jadi  demi  gengsi. Dan bukan
memburu esensi. Sudah barang tentu sikap mereka salah.  Tapi
kurang  adil  kita  menimpakan  kesalahan  hanya  pada  para
pemburu  gengsi  itu.  Soalnya,  mungkin  kita  semua  punya
kontribusi  terhadap  terbentuknya sikap dan orientasi hidup
seperti itu. Mungkin kita semua sudah gila gengsi.
 
Membanggakan mantan guru,  almamater,  jabatan,  orang  tua,
atau  gelar  akademis,  diam-diam lalu menjadi lumrah. Tidak
punya kemandirian dianggap biasa. Jarang jadinya orang  yang
berani  bersikap  lugas, apa adanya. Kalau toh ada juga, itu
sebuah kekecualian.
 
Beberapa bulan lalu, saya  berkenalan  dengan  seorang  yang
rambutnya mulai memutih. Saya sulit menduga sebagai apa dia.
Dia hanya mengaku bekerja di sebuah  departemen,  yang  saya
tahu pusat penelitiannya baik. Tapi ketika saya tanya apakah
dia  peneliti,  dengan  datar  dia  menjawab:   "Saya   cuma
birokrat."
 
Tak  ada  kesan  apa-apa  di  wajahnya.  Di masyarakat kita,
birokrat  sering  dipandang  remeh.  Setidak-tidaknya  gelar
birokrat  tampak  tak seluhur cendekiawan, dramawan, penyair
atau ahli ini ahli itu. Citra birokrat terlanjur negatif.
 
Pengakuan "saya cuma birokrat" itu lalu  terasa  mengesankan
kegetiran.  Tapi  mungkin  juga  keberanian.  Penasaran saya
jadinya. Dari orang  lain  akhirnya  saya  tahu,  dia  bukan
sembarang  orang.  Dia  seorang  Dirjen.  Kabarnya,  Menteri
pernah menawarinya rumah di Menteng. Tapi dia menolak. Lebih
suka dia tinggal di rumah sederhana yang dibelinya sendiri.
 
Sebagai birokrat, rumus kerjanya cuma dua: "Bikin tiap orang
yang  keluar  dari  kamarmu   tersenyum   bahagia.   Jadikan
jabatanmu sarana ngibadah (beribadah)".
 
Saya kagum. Saleh orang ini. Tak banyak di negeri kita orang
yang  bicara  tentang  jabatan  sebagai   sarana   ngibadah.
Umumnya,  jabatan  dijadikan wahana mewujudkan impian-impian
dan sarana menjunjung tinggi (secara  sosial,  ekonomi,  dan
politis) gengsi keluarga, anak cucu dan para cicit.
 
---------------
Mohammad Sobary, Suara Pembaruan, 18 Januari 1992

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team