Kang Sejo Melihat Tuhan

oleh Mohammad Sobary

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

MASYARAKAT KAGETAN
 
Tiga bulan lalu  kita  diguncang  oleh  Jusuf  Randy,  tokoh
komputer   yang  licin  itu.  Sebelumnya  juga  kita  pernah
dikagetkan Jusuf Ongkowijaya yang juga penggombal.
 
Di sekitar kita nampaknya banyak orang  "sakit"  yang  gemar
membuat sensasi yang merugikan masyarakat.
 
Dalam kasus Randy kita terperangah sukses besarnya. Di balik
kekaguman massa yang buru-buru itu sedikitnya orang  melihat
dua hal: uang dan kemasyhuran.
 
Kursus  komputer, lambang "kemajuan" hari ini, lalu menjamur
di  mana-mana.  Mungkin  ada  bahkan  peserta  kursus   yang
diam-diam  memendam ambisi menjadi semacam Randy lain karena
tergiur oleh figur Randy  yang  mengesankan:  pintar,  kaya,
dermawan, terkenal.
 
Di  tingkat lebih bawah keadaan seperti itu juga menggejala.
Tukang  soto  yang  sukses,  misalnya,  tak  akan  dibiarkan
sendirian.    Di    sekitarnya   akan   segera   bermunculan
tukang-tukang soto lain yang ingin meraih sukses serupa.
 
Agaknya kita tangkas dalam mengagumi dan meniru  pihak  yang
dikagumi  itu bila di dalamnya ada unsur uang dan ketenaran.
Nampaknya uang dan ketenaran sudah menjadi tujuan hidup.
 
Kita lalu jadi terbiasa menilai sukses seseorang hanya  dari
segi   pemilikan  materi.  Sukses  artinya  kaya,  terkenal.
Prestasi dalam bentuk lain: kejujuran ketekunan, seperti tak
punya arti lagi.
 
Akibatnya  terjadi  semacam pendangkalan rasa malu dan harga
diri. Orang tak lagi merasa  malu  atau  risi  menjadi  kaya
dengan jalan tak halal.
 
Benar  juga  barangkali,  kita  hidup  dalam masyarakat yang
gelisah. Di  sekitar  kita  banyak  kemapanan  lama  berubah
cepat,  sering  tanpa  kita  kehendaki.  Pijakan  moral kita
digugat di  sana  sini  untuk  menjawab  persoalan-persoalan
baru. Segi-segi yang bersifat tabu dan sakral dituntut, demi
modernisasi, demi  pembangunan,  untuk  dirasionalkan.  Kita
diminta menjadi lebih sekular.
 
Tapi   di   situlah  persoalannya:  kita  belum  siap.  Maka
muncullah kemudian situasi anomi dalam masyarakat kita, yang
membuat  kita  goyah,  karena dasar pijakan moral lama telah
bergeser  meninggalkan  "kekolotan"  kita,  sementara  dasar
pijakan moralitas baru belum lagi ditemukan.
 
Tak    mengherankan,    banyak    kejadian    membuat   kita
terkaget-kaget dan gelisah. Sejak  hasil  penelitian  dokter
Wimpi  tentang  kehidupan  seks  remaja  di  Bali diumumkan,
menyusul angket Eko dari Yogya, yang juga mencari jawab atas
persoalan   seks  di  kalangan  remaja  kota  itu,  kemudian
menyusul lagi kasus kumpul kebo  di  kota  yang  sama,  kita
dihadapkan pada hal-hal yang mengejutkan.
 
Ribut-ribut  tentang  "adik baru" akhir-akhir ini barangkali
bisa dimasukkan ke dalam kategori kejutan  kita.  Celakanya,
kita  tak  punya  jawaban  tuntas  atas  persoalan-persoalan
tersebut kecuali moralitas  lama  yang  sudah  barang  tentu
tidak lagi cocok dengan tuntutan.
 
Kita  memang  hidup  dalam situasi dilematis. Pada satu sisi
kita menghendaki aspek-aspek tertentu dalam  kehidupan  kita
diubah  demi  kemajuan,  tapi  kita  masih  belum  rela bila
tiba-tiba  kita  dituntut  menghadapi  kenyataan  berubahnya
aspek-aspek  lain  yang maunya masih ingin kita pertahankan.
Kita menjadi gelisah.
 
Dalam kegelisahan itu kita mencari pegangan. Kita juga butuh
tokoh yang bisa dijadikan panutan.
 
Dalam  kaitan  dengan  kasus kumpul kebo di Yogya, sejarawan
Sartono Kartodirdjo tampil dengan  kesaksian,  bahwa  kumpul
kebo  merupakan  gejala  yang sudah lama terjadi. Masyarakat
yang kaget dan kecewa melihat  potret  diri  telah  ternoda,
dengan pernyataan itu bisa ditenangkan kembali.
 
Gampang kita dibikin kaget, tapi gampang juga dibikin tenang
kembali. Kita  rela  mengikuti  tokoh  panutan  kita.  Dalam
berbagai  hal,  kita  memang  sudah terbiasa ditentukan oleh
pihak lain. Kita lalu jadi terbiasa juga untuk tak  berpikir
sendiri.  Mungkin hal itu karena lingkungan budaya kita kaya
dengan     petunjuk,      nasihat,      pengarahan,      dan
penataran-penataran,  sebelum  kita  mulai  melakukan  suatu
tugas tertentu. Lingkungan nampaknya cukup memanjakan  kita.
Jadi buat apa susah payah berpikir sendiri?
 
Juklak  (petunjuk  pelaksanaan)  dan  tuntas  (tuntutan dari
atas)   yang   mengesankan   ketidakdewasaan   itu,   selalu
diberikan.  Bawahan di kantor-kantor umumnya bertindak hanya
bila sudah memperoleh juklak itu. Pola tindakan  kita  sudah
ditentukan,  tak  peduli aneka ragam kenyataan lapangan yang
butuh pendekatan lain. Kita  selalu  tak  punya  jawab  atas
soal-soal yang datang mendadak.
 
Hidup  sudah  menjadi  amat teknis, dan mungkin kering juga.
Tak mengherankan bila kita tak  bisa  lagi  terharu  melihat
derita  orang  lain.  Wajar  bila pusat-pusat kesenian sepi,
tapi pusat-pusat  perbelanjaan  berjejal.  Kecuali  seniman,
mungkin  tinggal  sedikit  di  masyarakat  kita  orang  yang
terbiasa merenung. Kehidupan "normal" sudah dibakukan dengan
rumus-rumus tetap. Lebih-lebih dikalangan birokrat.
 
Sejak   kecil   kita   sudah   terbiasa   "ditentukan"  oleh
kekuatan-kekuatan di luar  diri  kita  sendiri.  Di  sekolah
ujian dibiasakan dengan pilihan ganda yang kurang merangsang
daya  nalar.  Memasuki  dunia  kerja  kita  dibimbing  untuk
tangkas  menghapal  kategori-kategori  yang  Pancasilais dan
yang  bukan  Pancasilais,   tanpa   sepenuhnya   sadar   apa
sebetulnya  penjabaran  konsep  "Pancasilais"  itu  di dalam
kehidupan sehari-hari.
 
Tradisi tuntun menuntun ini merayap juga ke dalam  kehidupan
politik  praktis.  Tak  jarang  sikap dan pernyataan politik
kaum muda dituntun dan diarahkan ke suatu tujuan yang  belum
tentu  sepenuh  hati  diterima kaum muda. Tapi demi harmoni,
selaras, seimbang  dengan  lingkungan,  mereka  manut  saja.
Sebagai  generasi  penerus  yang baik, pemuda mewarisi betul
bakat para pejabat yang dalam setiap pidatonya selalu  sarat
dengan slogan-slogan besar.
 
Di   forum   DPR   pun  para  senator  kita  yang  terhormat
melembagakan kebiasaan mohon petunjuk sebelum  sidang-sidang
penting  dimulai.  Barangkali  ini  memang unggah-ungguh dan
tradisi ketimuran yang harus dilestarikan? Saya  tidak  tahu
pasti.  Yang  jelas,  dalam  dunia  yang sedang berubah kita
memerlukan  pegangan  yang  pasti-pasti,  buat   memperkecil
risiko.  Kalau  toh  risiko  itu  ada,  kita  tahu  kita tak
sendirian memikulnya.
 
---------------
Mohammad Sobary, Media Indonesia, Jumat 7 April 1989

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team