Kang Sejo Melihat Tuhan

oleh Mohammad Sobary

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

KOTAK SOSIO-KULTURAL
 
"Makin lama makin cinta pada Muhammadiyah. Saya  ingin  bila
kelak saya mati, keranda saya ditutup bendera Muhammadiyah."
 
Ini ucapan Bung Karno. Ketika tokoh ini kemudian wafat dalam
kesepian di Wisma Yaso, Jakarta, jenazahnya disalatkan  oleh
almarhum  Buya Hamka, tokoh yang pernah disudutkannya secara
politis. Buya Hamka  bersedia  menyembahyangkan  Bung  Karno
karena   Menteri  Sekretaris  Negara  Alamsyah,  waktu  itu,
membujuk agar Buya berbesar jiwa.
 
Saya dengar alasan ini dari Buya Hamka sendiri  dalam  suatu
salat  Jumat  di  Mesjid Agung Al-Azhar, Jakarta. Saya tidak
tahu pasti,  adakah  keranda  Bung  Karno  kemudian  ditutup
bendera  Muhammadiyah.  Samar-samar  saya  ingat, ada berita
dari  seorang  warga  Muhammadiyah,  bahwa   wasiat   beliau
dipenuhi.
 
Nurcholish  Madjid pernah menulis di harian Pelita, komitmen
kita sebagai umat Islam ialah  komitmen  pada  nilai,  bukan
pada  golongan.  Pemikiran  ini  menarik.  Kita  tahu, nilai
memiliki kepastian relatif. Sedang golongan tidak. Seseorang
boleh  "berkulit"  haji,  berbendera  Muhammadiyah  atau  NU
memang; tapi jaminan dari orang itu bahwa ia akan senantiasa
lurus   dan  bersikap  luhur  sebagaimana  nilai-nilai  yang
melekat pada baju yang dipakainya, tidak ada.
 
Bagaimanakah corak pemihakan Bung Karno  pada  Muhammadiyah?
Kita  tidak  tahu.  Bung  Karno sendiri tak secara eksplisit
menjelaskannya. Sementara itu  sumber  tertulis  tidak  ada.
Dugaan   saya,  Bung  Karno  punya  banyak  komitmen  nilai,
sekaligus golongan. Di tengah kaum  Marhaen,  ia  bilang  ia
juga  Marhaenis.  Di  tengah  orang-orang Komunis dia bilang
bahwa dia seorang Marxis. Orang pun tahu, ia  juga  menyebut
dirinya seorang agamawan.
 
Apakah  Bung  Karno  plin-plan?  Ia  Bapak bangsa. Ia merasa
harus  berdiri  di   atas   semua   golongan.   Agaknya   ia
beranggapan,  meskipun  tak  dikatakannya, keragaman identik
dengan perpecahan. Sedang ia gandrung akan  persatuan.  Kata
Bernard    Dahm,    hanya   Bung   Karno-lah   yang   karena
ke-Jawa-annya, bisa menggabungkan ketiga  hal  berbeda  satu
sama  lain  itu  ke dalam satu sintesa harmonis. Karena bagi
orang Jawa, segala sesuatu itu pada dasarnya satu.
 
Dalam  salah  satu  sajak  religiusnya,  Farriduddin   Attar
memandang   Dunia,  penyair  Taufiq  Ismail  bicara  tentang
pemikiran Attar.  Bagi  Attar,  katanya,  dunia  ini  nampak
sebagai  sebuah  kotak.  Manusia  hidup,  beranak,  bercucu,
berkemenakan, bekerja, tidur dan bermimpi, di  dalam  kotak.
Manusia, di dunia ini, kerjanya sibuk membuat kotak-kotak.
 
Amir Machdum, guru saya, melarang saya masuk partai politik.
Alasannya, partai  mengurung,  membatasi  kita.  Padahal  ia
sendiri,  dulu,  orang  PNI.  Saya sendiri anak Muhammadiyah
karena lahir di  lingkungan  Muhammadiyah,  dan  sekolah  di
sekolah  Muhammadiyah.  Setelah  saya  tahu  NU, ibadah saya
mirip NU tapi "partai" saya tetap Muhammadiyah.
 
Ketika mahasiswa, kotak yang saya pilih HMI. Tapi ketika Ogi
Indra Yoga, golongan independen, mencalonkan diri jadi ketua
Senat Mahasiswa FIS UI (nama dulu), saya mendukungnya karena
dia  populer,  rajin  bekerja,  dan  mau  berpikir.  Masriel
Mansyur, lawannya dari HMI, tidak saya dukung. Benar  dugaan
saya,  Masriel  kalah.  Toh  saya  menolak tawaran Ogi, sang
pemenang,   untuk   menjadi   salah   satu   stafnya.   Saya
memperlihatkan  solidaritas  terhadap  kawan-kawan HMI lain,
yang tak satu pun mendapat tawaran Ogi. Dalam hal ini,  saya
tegas  memperlihatkan  warna "jaket" HMI. "Lebih baik, kalau
tidak mau, bilang saja tidak  mau.  Jangan  banyak  alasan,"
katanya.
 
Belakangan  saya  mikir,  kita  gandrung demokrasi dan sadar
akan kebhinekaan etnis, agama,  dan  corak  pemikiran  dalam
masyarakat   kita,  tapi  mengapa  kita  tak  cukup  longgar
mendengar argumen lain yang tak sejalan dengan kita? Mengapa
kita  tak  sabar  menghadapi  kebhinekaan?  "Kalau mau serba
seragam," kata Rendra,  "lebih  baik  jadilah  pembuat  batu
bata."
 
Keseragaman  memang  mengesankan berfungsinya mesin rekayasa
yang otoriter, kaku,  dan  dingin,  mirip  teriak  kebulatan
tekad  yang  mekanistis.  Saya  lebih suka kebhinekaan. Tapi
dalam kebhinekaan ada cacat yang tak  saya  sukai.  Di  sini
orang  bisa,  dan  mungkin mudah, tergelincir ke dalam kotak
fanatisme yang selalu siap mengurung kita.
 
Potensi ricuh dalam kotak ini sama besar dengan rasa  sumpek
di  bawah  keseragaman  yang  serba  otoriter. Kedua-duanya,
dengan kata lain, punya kemungkinan untuk jadi jelek. Namun,
karena  lazimnya orang harus memilih, bagi saya, kebhinekaan
itu baik,  asal  kita  tidak  terkurung.  Artinya,  di  saat
diperlukan,  kita  harus  bisa keluar dari kepompong (agama,
kelompok, golongan, etnis, partai  politik)  yang  mengurung
kita   karena,   sekali  lagi  mengutip  Nurcholish  Madjid,
komitmen kita pada nilai, bukan pada golongan.
 
---------------
Mohammad Sobary, Editor, No. 24/Thn. IV/23 Februari 1991

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team