Kang Sejo Melihat Tuhan

oleh Mohammad Sobary

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

MAPAN
 
Sebuah  konsep  sering  bisa  dianalogikan   sebagai   suatu
organisme  biologis.  Ia  hidup, punya kaki, dan berkembang.
Dan seperti layaknya "barang"  hidup,  ia  bisa  juga  mati.
Konsep  mapan misalnya, juga hidup, berkaki, berkembang, dan
punya kemungkinan mati seperti itu.
 
Tak diragukan, mapan berasal  dari  bahasa  Jawa.  Di  dalam
masyarakat  Jawa,  mapan  biasanya  diperuntukkan bagi ayam.
Orang kampung beternak ayam kecil-kecilan  sebagai  strategi
tradisional  mereka  menyimpan  uang, melengkapi cara mereka
menabung uang di tiang bambu  yang  mereka  lubangi  seperti
celengan dari tanah liat yang kita kenal itu. Ayam-ayam yang
sedikit jumlahnya itu, tiap  sore  menjelang  magrib  selalu
ditengok di kandangnya, apakah mereka sudah "mapan" semua.
 
Ini  mapan  dalam kehidupan ayam. Dalam hidup manusia, mapan
bisa tercermin  setidaknya  dalam  tiga  segi:  mapan  dalam
posisi  di suatu organisasi (birokrasi atau partai politik),
mapan dalam hidup rumah tangga, dan mapan  dalam  pemikiran.
Kemapanan   terakhir   ini   bisa   juga  disebut  kemapanan
intelektual.
 
Kemapanan  dalam  birokrasi  adalah  cerminan  dari   posisi
politis  yang stabil. Orang yang disayang oleh atasan karena
ia "anak manis", boleh dimasukkan dalam kategori stabil  dan
mapan  secara  politis.  Ia  bisa  terus-menerus  "dipakai".
Dengan kata lain, ia tak pernah mengalami bagaimana  rasanya
masuk  "kotak".  Tentu  saja  tak  perlu  dipersoalkan, bila
stabilitas politis  itu  berdampak  luas,  termasuk  membuat
stabil perekonomian rumah tangganya juga.
 
Orang  seperti ini bisa disebut sebagai bagian dari kelompok
established. Mereka memilih gaya hidup dan aspirasi kultural
tersendiri,  yang  berbeda,  bahkan  tak jarang bertentangan
dengan gaya hidup dan aspirasi  kultural  kelompok  lain  di
luar mereka. Kecuali itu, mereka juga memiliki ideologi yang
mereka kembangkan sendiri sebagai ideologi kaum mapan.
 
Mapan dalam hidup rumah tangga bisa  diukur  dari  dua  segi
psikologis   dan   ekonomis.  Tetapi,  pada  zaman  sekarang
nampaknya  ukuran-ukuran   ekonomi   mendominasi   segi-segi
kehidupan  lain, sehingga kemapanan pun selalu harus dilihat
dari dimensi ekonomi.
 
Tak ada yang bakal heran,  bila  kemapanan  sebuah  keluarga
lalu   dilambangkan  dengan  pemilikan  rumah  bagus,  mobil
mentereng, perjalanan ke  luar  negeri  untuk  urusan  dinas
maupun  rekreasi.  Gaya hidup macam ini kontras dilihat dari
kelompok-kelompok lain yang  belum  atau  tidak  mampu,  dan
mungkin  memacu  mereka  untuk  menuju  ke  sana juga. Maka,
sepertinya lalu  sudah  menjadi  gejala  umum,  bila  tampil
secara   keren   (setidaknya   kulit-kulit   luarnya)  perlu
diutamakan. Akibatnya,  mungkin  orang  lalu  jarang  berani
tampil apa adanya.
 
Kemapanan  politis  dan  ekonomis  sebenarnya  bisa bersifat
tumpang tindih. Orang yang  secara  ekonomis  sangat  mapan,
bisa  juga  disebut  sebagai bagian dari kelompok elite atau
kelompok  established,  seperti  orang  yang  mapan   secara
politis  tadi. Tetapi dalam tulisan ini saya mencoba memilah
keduanya sebagai dua sisi kehidupan,  yang  secara  analisis
memang bisa dipisahkan.
 
Kemapanan politis dan ekonomis mungkin merupakan konsep yang
netral. Artinya, bisa berkonotasi  baik,  bisa  juga  buruk.
Tetapi,  mapan  dalam  pemikiran atau kemapanan intelektual,
biasanya berkonotasi menyindir atau mengejek. Jadi  sifatnya
negatif  semata-mata.  Kemapanan di situ bukan suatu dambaan
bagi keharusan normatif dan ideal,  melainkan  sesuatu  yang
harus  dijauhi,  seperti halnya kita sekarang mencoba dengan
was-was menjauhi  AIDS.  Mapan  secara  intelektual  berarti
mandeg  berpikir.  Kreativitas tersendat. Daya nalar tumpul.
Pekerjaan  seorang  intelektual  yang  sudah   mapan   ialah
mengulang-ulang  kembali  apa  yang  sudah sering dikatakan.
Satu paper yang ia  tulis  dijajakan  ke  berbagai  seminar.
Pendek  kata,  ia  sudah  nyaris  menjadi kaset bagi dirinya
sendiri. Dilihat  dari  sudut  kreativitas,  sebenarnya  dia
sudah anumerta.
 
Kita  tahu,  kaum  intelektual  memiliki citra ideal sebagai
manusia bebas dan kreatif. Mereka tidak pernah  merasa  puas
dengan  jawaban  sementara.  Kehausan  mereka akan kebenaran
membuat mereka terus  menggali  jawaban  baru.  Dengan  kata
lain,  untuk  memenuhi  rasa  penasaran  akademis  yang  tak
kunjung terpuaskan, kaum intelektual  selalu  gigih  mencari
jawab atas teka-teki metafisika dan sosial dalam hidup ini.
 
Karena  kebenaran  merupakan harga tertinggi dalam hidupnya,
kaum intelektual jarang bersedia menempuh jalan kompromi dan
jenis-jenis  jalan  "lunak" lainnya, yang hanya akan menodai
kredibilitas. Kompromi, bagi mereka,  haram  hukumnya.  Oleh
karena itu, mereka berani berbeda dari siapa saja.
 
Benar,  mereka  tetap bagian dari apa yang disebut komunitas
akademis, tetapi tidak akan  pernah  mereka  menjadi  bagian
dari mainstream dalam masyarakat, di mana mereka hidup. Pada
dasarnya,  kaum  intelektual  menempuh  cara  hidup  makhluk
soliter.  Mereka  sendirian,  macam dinosaurus. Dianggap tak
lazim bila kaum intelektual hidup dalam rombongan.
 
Kaum intelektual karenanya sering mendapat  stigma  "elitis"
tapi  jangan  katakan hal itu pada Ignas Kleden. Ia tak akan
percaya.  Baginya,  kaum  intelektual  kita  justru   kurang
elitis.  Secara  ekonomis  mungkin  banyak  intelektual yang
elitis cara hidupnya, namun  secara  akademis  itu  nonsense
saja bagi Ignas.
 
Di  masyarakat  negara  berkembang, umumnya kaum intelektual
juga memanggul posisi politis sebagai kekuatan yang  memihak
kaum  lemah.  Setidaknya,  ini merupakan apa yang seharusnya
ada.  Komitmen  sosial  mereka  kuat  untuk   membela   kaum
tertindas. Mereka berani menghadang sejumlah risiko.
 
Ini   karena   bagi   mereka   tak   ada  sesuatu  pun  yang
dikhawatirkan akan hilang dari  tangan,  karena  tak  adanya
pamrih-pamrih  sosial, ekonomis atau politis tadi. Kalau toh
pamrih itu ada, biasanya bersifat kerohanian. Dambaan mereka
bukanlah   kerajaan  duniawi,  melainkan  kerajaan  di  alam
keabadian kelak.
 
Kaum intelektual  yang  memilih  jalan  "sepi"  ini  (secara
sosial,  ekonomis, politis), biasanya anti-kemapanan. Mereka
emoh menjadi bagian kaum established, meskipun tak  berarti,
mereka   cuma  menjadi  juru  bicara  bagi  kelompok  mereka
sendiri. Penolakannya untuk bergabung dengan kelompok mapan,
justru  merupakan  konsekuensi  logis dari pemihakannya pada
kaum lemah yang tersingkir, atau sengaja  disingkirkan  oleh
berbagai  mekanisme politik, yang memperoleh pembenaran dari
ideologi kaum mapan tadi.
 
Mungkin, dengan demikian, kecenderungannya  "menyendiri"  di
luar sistem tidak cuma demi menjaga "purifikasi" semata-mata
tetapi juga harus diartikan sebagai  sikap  protes  terhadap
keadaan.  Soedjatmoko punya argumen yang bagus, bahwa dengan
berada di luar sistem, suara  kaum  intelektual  akan  lebih
efektif  didengar.  Memang  masih  bisa  diperdebatkan, mana
lebih menguntungkan intelektual yang di dalam atau  di  luar
sistem.
 
Samar-samar  saya  menangkap  kekhawatiran Goenawan Mohamad,
yang menulis, Semoga Mereka tak Berkhianat,  ketika  Kongres
ICMI  di  Malang  tahun  lalu. Ini suatu empati dari seorang
intelektual terhadap sesamanya,  untuk  saling  menjaga  dan
mengingatkan  agar  yang  berada  di  dalam  pun tetap mampu
menjaga  purifikasi  tadi.  Seperti  Julien  Benda,  mungkin
Goenawan   Mohamad   tak   ingin  melihat  kaum  intelektual
mengkhianati kodratnya,  dan  menjadi  mapan  karena  pesona
sangkar emas.
 
---------------
Mohammad Sobary, Kompas, Kamis, 30 Januari 1992

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team