Kang Sejo Melihat Tuhan

oleh Mohammad Sobary

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

PADEPOKAN PANDITO RATU
 
Diam-diam, mungkin Emha Ainun Nadjib benar ketika mengatakan
bahwa  pada dasarnya tiap-tiap orang melihat dunia cuma dari
pojok di mana dia berdiri. Dunia yang kita lihat dari  pojok
kita itu jadinya tampak cuma kecil. Cara pandang semacam ini
menyebabkan terjadinya proses penyederhanaan atas  persoalan
yang  sebenarnya  kompleks.  Bagaimanapun, dari sudut tempat
kita berdiri itu tidak semua persoalan dapat kita lihat.
 
Tapi bukan itu saja. Melihat dunia "cuma dari pojok di  mana
kita   berdiri"   bisa   juga  berarti  bahwa  kita  melihat
kompleksitas persoalan semata dari kepentingan kita sendiri.
Kendala-kendala  seperti  ini  bisa membuat kita tidak bebas
melihat dunia yang lebih luas.
 
Begitu  jugalah  reaksi-reaksi   atas   lontaran   pemikiran
Jenderal  (Purn)  Soemitro  mengenai perlunya ABRI mengambil
jarak dari  kekuasaan  itu.  Berbagai  pihak  yang  kemudian
berbicara  soal  itu, juga orang-orang yang saya ajak bicara
tentang  itu,  kurang  menarik   dilihat   dari   perspektif
pemikiran teoretis.
 
Tetapi,  pemikiran  Soemitro  sendiri  sebenarnya juga belum
jelas, apakah ia ingin mengacu pada tradisi  kekuasaan  Jawa
ataukah  ingin menciptakan tradisi baru. Jika yang kedua ini
yang dimaksud, penjelasan yang ia  berikan  kepada  wartawan
pun  tidak memberikan gambaran mengenai bagaimana seharusnya
posisi politis ABRI sekarang dan di masa mendatang.
 
Kita pun tidak tahu  pasti  adakah  Soemitro  bicara  begitu
semata  karena  ia  tak  lagi aktif di dunia kemiliteran dan
politik. Dengan kata lain, bisakah ia bicara  begitu  ketika
masih  seorang  jenderal  dengan  kekuasaan Pangkopkamtib di
tangan pada 1970-an yang lalu?
 
Kalau ia menginginkan  terjadinya  transformasi  kelembagaan
dalam dunia politik ABRI, mestinya pemikiran ini dikemukakan
dulu ketika masih berkuasa. Sebab ketika berkuasa, ia  punya
kekuasaan real untuk mengambil langkah tertentu.
 
Sebaliknya, kalau ia sekadar mengimbau kesadaran moral orang
per orang, imbauan semacam itu mungkin  cuma  akan  didengar
mereka yang tak lagi terkait dengan struktur kekuasaan resmi
 
Dan  kita  tahu,  jarang  sebuah imbauan moral bisa langsung
menimbulkan transformasi sosio-kultural dalam masyarakat.
 
Dilihat dari kepentingan praktis, dan mungkin yang mendesak,
orang  lantas  bisa  bertanya:  buat apa gagasan seperti itu
dikemukakan?
 
Bagi saya, gagasan itu memang tidak punya  kegunaan  praktis
apa  pun.  Dengan  kata  lain,  ia  baru berarti buat proses
pendidikan untuk memetik buah di masa  yang  masih  jauh  di
depan.  Kalau  ini  harapan di belakang pernyataan Soemitro,
saya hormati prinsipnya.
 
Dalam  tradisi  politik  Jawa,  raja  adalah  pusat   segala
kekuasaan.  Prajurit (tentara) tidak punya kekuasaan politis
apa pun karena ia hanya merupakan  ubo  rampe  (pelengkapan)
dan  pendukung kekuasaan sang raja. Meskipun begitu, mungkin
tidak bisa kita mengatakan  bahwa  tentara  mengambil  jarak
dari kekuasaan. Bagaimanapun, posisi tentara lekat pada, dan
memang bagian dari, kekuasaan itu sendiri.
 
Satu-satunya  kekuatan  yang  jelas  mengambil  jarak   dari
kekuasaan  cuma  pandito.  Strukturnya  menjadi  jelas: ratu
(raja) berumah di kraton,  sedangkan  pandito  (empu,  resi)
berumah  di  angin,  di  luar struktur kekuasaan raja. Dalam
batas tertentu, pandito merupakan ratu (raja)  dalam  bentuk
dan struktur kekuasaan yang lain.
 
Oleh  karena  itu,  mereka  ogah  dikratonkan. Sebab, mereka
sudah punya  kraton  sendiri,  yakni  padepokan  kecil  yang
dihuni  bersama  para  cantrik.  Dengan  kata  lain, sebagai
subordinasi  kraton  (pusat),  padepokan  memperoleh   porsi
kekuasaan  justru karena pandito tidak berkuasa secara real.
Wilayah kekuasaan pandito adalah dunia moral.
 
Sebagai sebuah sistem tersendiri,  padepokan  punya  otonomi
penuh. Bagaimana strategi dan cara-cara sang resi memerintah
wilayahnya,  raja  tak  bisa  campur  tangan.  Pendek  kata,
pandito  merdeka.  Bahkan untuk urusan moral, ia adalah raja
(anutan) bagi sang raja. Bila kedaulatan pandito  dilanggar,
suara  pandito  tak  lagi  didengar raja, ini pertanda bahwa
kraton berada dalam ambang kehancuran.
 
Dengan kata lain, dunia  pandito  dan  ratu  berbeda.  Corak
kekuasaan   pandito   tidak   sama  dengan  kekuasaan  ratu.
Pemisahan kekuasaan  pandito-ratu  adalah  ibarat  pemisahan
badan dari roh. Raja adalah badan. Pandito roh.
 
Dalam  kaitan ini, orang tak bisa mengatakan yang satu lebih
penting daripada yang lain. Benar bahwa  peran  pandito-ratu
bisa  saja  hadir  dalam satu sosok pribadi yang sama. Namun
peran itu harus dijalankan pada waktu  yang  berbeda.  Dalam
tradisi  Jawa,  umumnya penggeseran itu dimulai dari ratu ke
pandito.  Tidak  pernah  ada  presendence  yang  sebaliknya:
seorang pandito kemudian menjadi ratu.
 
Yang  ada  ialah ratu yang lengser kalenggahan (meninggalkan
alam ramai) untuk mandito (menjadi pandito), dan tinggal  di
lereng-lereng   gunung,   bersama   para   cantrik   seperti
disebutkan di atas. Resi Begawan Abiyoso, pandito sakti yang
membuka  padepokan  di  Sapta Arga, itu dulunya seorang raja
agung binatara di Astina.
 
Transformasi  dari  ratu  ke  pandito   bukan   transformasi
psikologis.  Ia,  dengan  kata  lain,  merupakan sebuah laku
batin, ketika kebutuhan untuk  hidup  asketik  dirasa  telah
tiba saatnya untuk dipenuhi.
 
Laku   batin   seperti  ini  lebih  merupakan  kecenderungan
pribadi. Artinya, ia tidak  bisa  diprogramkan,  tidak  bisa
dimassalkan. Dengan kata lain, ia merupakan sebuah panggilan
hati.
 
Dan panggilan seperti itu datangnya  selalu  kelak,  setelah
orang  menjadi  tua,  setelah berhenti dari jabatan, setelah
jenuh  dengan  kekuasaan.  Atau  setelah  tak   lagi   tahan
menghadapi   kerasnya   benturan  dalam  dunia  politik  dan
kemiliteran.
 
Ada jadinya motif-motif melarikan diri  dari  kenyataan  itu
untuk  mencoba  hidup dengan selubung roh dan jubah panjang.
Namun banyak pula orang yang menempuh hidup asketik  sebagai
pandito   dengan  kesadaran  bahwa  mandito  adalah  pilihan
terbaik.  Dan  bahwa  dengan  mandito  ia  bisa   memberikan
sumbangan   lebih   besar   bagi   masyarakat,  bangsa,  dan
negaranya.
 
Sekali lagi,  saya  belum  tahu  secara  pasti,  apa  maksud
Soemitro   mengatakan   agar   ABRI   mengambil  jarak  dari
kekuasaan: untuk menyarankan  perubahan  kelembagaan,  untuk
mengimbau orang per orang, agar para mantan bersedia mandito
ataukah untuk kepentingannya sendiri?
 
---------------
Mohammad Sobary, Jawa Pos, 2 Februari 1992

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team