Kang Sejo Melihat Tuhan

oleh Mohammad Sobary

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

RENDRA, ADAWIAH DAN BIMA                               (2/2)
 
Maka tak mengherankan juga bila  kemudian  corak  pengalaman
rohaniah  yang  diperoleh  seseorang  dalam perjalanan batin
seperti  itu  bersifat  khas,  unik,  dan  mempribadi.  Jika
tataran   telah  sampai,  Allah  berkenan  membukakan  hijab
(tabir) yang menutup segenap rahasia, dan kini  mata  (hati)
itu  diperkenankan  melihat  apa  yang  tak nampak oleh mata
wadak. Keunikan seperti itu  tak  terjelaskan.  Nalar  tidak
mampu  menggapainya.  Oleh  karena  itu, hal-hal yang sangat
pribadi seperti ini biasanya tak usah diceritakan pada orang
lain.  Kiai  biasanya  menyarankan  agar  itu tetap disimpan
baik-baik untuk diri sendiri. Salah satu alasannya, mungkin,
agar orang tak kemudian merasa sombong karena telah berhasil
mencapai tataran itu di dalam perjalanan rohaniahnya .
 
Kata "mencapai,' itu sendiri sebenarnya tidak begitu  tepat,
karena apa sebenarnya yang bisa kita capai, selain bahwa itu
semua semata karena kemurahan Allah? Kita, dengan kata lain,
tak  pernah mencapai apa-apa. Bahkan proses "mystical union"
itu  sendiri  (curigo  manjing  warongko,  warongko  manjing
curiga,  gambaran  mengenai  keris  yang  menyatu  ke  dalam
rangkanya --atau jumbuhing  kawulo  Gusti),  sebenarnya  juga
bukan  sebuah  achievement,  melainkan hadiah dari Yang Maha
Murah.
 
Etika  seperti  ini  hanya   berarti   untuk   sekali   lagi
mengingatkan  bahwa  status  kita  sebagai  hamba sebenarnya
lemah, tak berdaya, seperti tercermin  dalam  prinsip  Jawa:
kita  ini bukan siapa-siapa, tak punya apa-apa, dan tak bisa
apa-apa. Serupa dengan la khawla wala quata illa billah itu.
 
Di dalam serat Wulang Reh, karya "kasusastran"  Jawa  (dalam
bentuk syair) yang ditulis oleh Kanjeng Sunan Paku Buono IV,
terdapat juga ajaran untuk hidup secara asketik, dengan mana
usaha  menuju  kasampurnaning  urip (kesempurnaan hidup) dan
mendekat  Yang  Moho  Widi  (Allah  Yang  Maha  Kuasa)  bisa
dicapai.  Dalam tembang Kinanthi ajaran itu bertutur:
 
     Pada gulangen ing kalbu
     ing sasmita amrih lantip
     aja pijer mangan nendra
     kaprawiran den kaesti
     pesunen sarira nira
     sudanen dhahar lan guling
     
    (Intinya, orang harus melatih kepekaan hati
     agar tajam menangkap gejala dan tanda-tanda.
     Orang pun tak boleh mengumbar nafsu makan
     serta tidur).
 
Di dalam dunia tarekat pun "laku"  batin  seperti  ini  juga
ada.  Praktek  "riadloh"  (intinya latihan untuk hidup lebih
prihatin, berupa mengurangi tidur,  mengurangi  makan,  atau
puasa,  dan hanya makan umbi-umbian saat berbuka), merupakan
bagian dari corak perjalanan batin yang panjang, yang  harus
ditempuh seorang murid yang menempuh jalan sufi
 
Jalalluddin   Rumi,  seperti  diterjemahkan  Taufiq  Ismail,
menggambarkan kemurahan Allah  dalam  sajaknya  yang  bagus.
Intinya,  Nabi  Musa  mendengar seorang gembala yang berdoa,
menanyakan di mana Ia (Allah) tinggal. Ia (si  gembala)  itu
ingin  menjadi kacung-Nya. Ia ingin membersihkan sandal-Nya,
serta menyisir rambut-Nya.
 
Mendengar doa itu Musa marah. Anak itu dianggap tidak sopan.
Kata-kata  seperti  itu dianggap tidak layak untuk diucapkan
pada Allah. Dan anak itu  -yang  merasa  sangat  malu--  lari
pontang-panting dan menyobek-nyobek bajunya. Kabur dia.
 
Allah   menegur  Musa.  Nabi  itu,  yang  tugasnya  --seperti
nabi-nabi lain-- mendekatkan hamba-hamba pada  Allah,  justru
telah menjauhkan mereka dari-Nya.
 
Aku tidak perlu puji-puji itu, kata Allah
Karena Aku terlampau tinggi
Hati yang mengucapkannya itu yang perlu
Aku tidak perlu kata-kata indah
Aku perlu hati penuh perasaan
 
Macam-macam cara manusia
Menunjukkan cara pengabdian mereka padaKu
Asal pengabdian itu tulus dan ikilas
Aku terima
Aku terima ...
 
Saya terpesona membaca sajak  itu.  Saya  merasa  dihadapkan
pada  kenyataan  bahwa  mungkin  saja  gambaran kita tentang
Allah selama ini keliru belaka. Bahwa  bahkan  seorang  nabi
pun  bisa  salah  persepsi  seperti  itu,  jelas  akan lebih
mempertegas  betapa  lebih  besar  kemungkinan  salah   kita
menilai hakikat Allah.
 
Rumi  dan  juga  Taufiq Ismail, yang menerjemahkannya, bukan
sekadar penulis dan penerjemah  yang  bisa  secara  obyektif
bicara  mengenai  kesufian.  Mereka,  lebih  dari  itu, juga
orang-orang yang mencoba sendiri mengalami hidup seperti itu
secara  intens,  dan sungguh-sungguh. Sajak ini, dengan kata
lain, bukan  sekadar  cerminan  kemampuan  intelektual  sang
penulis, melainkan juga potret pergulatan batin mereka.
 
Jarang para da'i (guru dakwah) mampu menggugah rasa haru dan
menggebrak  kesadaran  kita   seperti   itu.   Dalam   hidup
keseharian   kita,  cara  orang  menyampaikan  ajaran  agama
kelewat normatif, dipagari  patokan-patokan  yang  kaku  dan
seolah  tak ada kompromi, tak ada alternatif. Tafsir tentang
ajaran seolah menjadi sesuatu yang pasti.
 
Tapi ungkapan seorang penyair yang sudah  jauh  menyelam  ke
dasar   samodra   hakikat,   mampu  mengantarkan  kita  pada
kesadaran  bahwa  inti  dari  segala  inti  pemujaan   bukan
keindahan  ornamen dan segenap saji-sajian, bukan pula warna
jubah serta surban dan jilbab yang rapat. Pujian  kita  akan
sampai  jika  kita sertai dengan ketulusan. Ikhlas dan tulus
merupakan "pesawat" paling canggih yang mengantarkan kita ke
singgasana Sang Raja Diraja.
 
Barangkali  hal  ini  juga  bisa  menjadi  ilustrasi  betapa
manusia   tak   dibedakan   dari   sudut    pandai-bodohnya,
kaya-miskinnya,  tinggi-rendah  status  sosialnya, melainkan
pada tingkat iman dan ketulusan cintanya pada pusat  samodra
Yang Maha Kasih itu.
 
Sajak  ini  merupakan bagian dari pergulatan spiritual Rumi,
penyair sufi kita, yang gigih  mencari  makna  lebih  hakiki
dalam pola penyembahan seorang hamba terhadap Tuhannya. Dari
sajak Rumi ini kita jadi tahu bahwa sebenarnya  Tuhan  tidak
galak  sebagaimana  gambaran  yang kita peroleh dari ceramah
dan khotbah-khotbah  di  sekitar  kita  selama  ini.  Tuhan,
dengan  kata  lain,  juga  mesem,  penuh  pengertian,  penuh
Kebapakan dalam memahami keterbatasan para hamba-hambaNya.
 
Pencarian hakikat seperti ini  nampaknya  terus  berlangsung
dari  zaman  ke zaman. Para penyair memang berhadapan dengan
kesulitan dan sejumlah keterbatasan yang  khas  milik  zaman
mereka.  Penyair  biasa  mungkin  sudah  larut diterpa ombak
zaman, dan koit karenanya. Artinya, mungkin mereka  berkarya
ala   kadarnya.  Tapi  mereka  yang  memiliki  kecenderungan
melawan tantangan dan bosan terhadap hal-hal yang cuma biasa
saja  dalam  hidup  keseharian  kita akan terus menyelam dan
menyelam dalam  untuk  keluar  dengan  renungan  yang  tidak
biasa.
 
Sejak   dekade   1970-an  kita  bahkan  menyaksikan  sejenis
gelombang kesungguhan  pada  sejumlah  penyair  untuk  tidak
sekadar  menampilkan  karya-karya  yang  sufistik  sifatnya,
melainkan juga serius belajar  (dan  mungkin  juga  menempuh
laku  batin)  kesufian itu sendiri. Tokoh seperti Al Mukarom
Emha Ainun Nadjib, Abdul  Hadi  WM,  Mas  Danarto,  Sutardji
Calzeum Bachri, Kuntowijoyo, Taufiq Ismail, Hamid Jabar, dan
lain-lain,  bisa  disebut  sebagai  sedikit  contoh.  Selain
Rabiah  Al  Adawiah,  Bima  dan  mungkin  juga  Rendra, Emha
nampaknya masuk ke  dalam  deretan  orang-orang  yang  sudah
"sampai",  sudah "menemukan" dalam pencariannya. Buktinya ia
sering mengaku bahwa jika ia  selesai  mengerjakan  sesuatu,
pada   hakikatnya  bukan  dia  yang  mengerjakan.  Ia  hanya
lantaran.
 
-----------------------
KANG SEJO MELIHAT TUHAN
Mohammad Sobary
GM 204 93.692
Cetakan ketiga: Juli 1995
Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama
Jln. Palmerah Selatan 24-26, Jakarta 10270

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team