|
Gambar 8. 1876: Tarian Bedaya Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat. (Tropenmuseum dan proses
lanjutan) (sumber
foto)
Berdasarkan foto arsip ini (khususnya gambar
para penari wanita yang duduk berjajar) dan konteks
sejarah budaya Jawa, berikut adalah penjelasan
mendalam mengenai para penari Kraton Yogyakarta
pada masa tersebut (akhir abad ke-19 hingga awal
abad ke-20):
1. Identitas dan Jenis Tarian
- Format Penari (Bedhaya): Dalam
foto tersebut terlihat ada 9 orang penari muda.
Jumlah ini adalah ciri khas utama dari Tari
Bedhaya, tarian sakral di Kraton Yogyakarta yang
melambangkan 9 lubang hawa manusia atau arah
mata angin, serta keseimbangan alam
semesta.
- Usia Penari: Pada masa lalu, penari
Kraton sering kali dipilih dari gadis-gadis muda
yang belum akil balig (masih suci), yang sering
kali merupakan kerabat Sultan atau anak-anak
dari Abdi Dalem tingkat tinggi. Mereka dilatih
sejak usia dini untuk mencapai kelenturan dan
disiplin tubuh yang sempurna.
2. Busana (Kostum)
Busana yang dikenakan dalam foto tersebut adalah
busana "Gladhen" (latihan) atau busana untuk
tarian yang lebih sederhana, bukan busana kebesaran
Paes Ageng (yang menggunakan dodot
alas-alasan lengkap). Namun, tetap terlihat sangat
ningrat:
- Kain Batik: Mereka mengenakan kain
jarik dengan motif Parang, yang merupakan
motif larangan dan pada masa itu hanya boleh
dikenakan oleh kalangan kerabat raja (sentana
dalem). Warna aslinya kemungkinan besar adalah
cokelat soga (khas Yogya) dan putih/krem.
- Kemben: Bagian atas tubuh dibalut
kain (kemben/semekan) yang ketat untuk
menonjolkan postur tegak.
- Sampur (Selendang): Kain
panjang yang melilit di pinggang dan menjuntai
ke lantai. Ini adalah properti utama dalam
menari untuk mempertegas gerakan tangan
(ukel).
- Aksesoris: Mereka mengenakan kalung
susun (cekekan), kelat bahu (hiasan
lengan atas), dan gelang tangan.
3. Tata Rias dan Rambut
- Gelung Tekuk: Rambut ditata dalam
sanggul gaya Yogyakarta (gelung tekuk) yang
padat dan rapi.
- Hiasan Kepala: Terdapat hiasan bunga
(kemungkinan melati atau jebehan) dan hiasan
kepala berbentuk bulu atau cunduk yang
menjulang, menandakan keanggunan.
- Bedak: Pada masa itu, penari sering
menggunakan bedak mangir (kuning langsat) untuk
meratakan warna kulit wajah dan tubuh bagian
atas.
4. Sikap dan Filosofi (Joged Mataram)
Ekspresi para penari di foto tersebut tampak
sangat tenang, serius, dan menunduk. Ini
mencerminkan filosofi Joged Mataram yang
diajarkan di Kraton:
- Sawiji: Konsentrasi total tanpa
ketegangan.
- Greget: Semangat dalam diri yang
terkendali (tidak meledak-ledak).
- Sengguh: Percaya diri namun tidak
sombong.
- Ora Mingkuh: Keteguhan hati dan
disiplin (tidak mudah goyah).
Posisi tangan mereka yang ngapurancang
(terlipat di depan perut) saat duduk menunjukkan
sikap hormat dan kepatuhan yang tinggi terhadap
tata krama keraton.
Ringkasan Visual (Jika Berwarna)
Jika Anda membayangkan warna aslinya:
- Kulit: Kuning langsat atau sawo
matang dengan lulur mangir.
- Kain: Cokelat tua dan krem
(Sogan).
- Sampur: Bisa berwarna merah tua,
hijau, atau kuning emas (tergantung jenis
tarian).
- Perhiasan: Kuning emas.
|