Artikel Yayasan Paramadina

Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

III.12. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI           (1/3)
        SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH
                                           oleh Zainun Kamal
 
Paham teologi Asy'ari termasuk  paham  teologi  tradisional,
yang   mengambil   posisi  antara  ekstrim  rasionalis  yang
menggunakan metafor dan  golongan  ekstrim  tekstualis  yang
leterlek.  Ia  mengambil  posisi di antara aliran Mu'tazilah
dan Salafiyah, tetapi "benang merah"  sebagai  jalan  tengah
yang  diambilnya  tidak  begitu jelas. Suatu kali ia memihak
Mu'tazilah, lain kali cenderung ke Salafiyah, dan lain  kali
lagi,  mengambil  kedua  pendapat  dari  kedua  aliran  yang
bertentangan itu lalu mengkompromikannya menjadi satu. [1]
 
Untuk meninjau  pemikiran-pemikiran  al-Asy'ari  lebih  baik
memaparkan lebih dulu sejarah hidupnya meski secara ringkas.
Dengan pemaparan ini akan terlihat gambaran  latar  belakang
pemikirannya. Sebab suatu pemikiran merupakan hasil refleksi
zaman dan kondisi dari suatu masyarakat. Dan al-Asy'ari juga
tidak lepas dari konteks zaman dan maksyarakatnya sendiri.
 
Sebenarnya, nama asli Imam Asy'ari adalah Ali Ibn Ismail [2]
-keluarga Abu Musa al-Asy'ari. [3]  Panggilan  akrabnya  Abu
al-Hasan  [4].  Dia  dilahirkan di Bashrah pada 260 H./875 M
[5] -saat wafatnya filsuf Arab muslim al-Kindi. [6] Ia wafat
di Baghdad pada tahun 324 H./935 M.
 
Abu   al-Hasan  al-Asy'ari  pada  mulanya  belajar  membaca,
menulis dan menghafal al-Qur'an dalam asuhan  orang  tuanya,
yang  kebetulan  meninggal  dunia  ketika  ia  masih  kecil.
Selanjutnya dia belajar kepada ulama  Hadits,  Fiqh,  Tafsir
dan   bahasa   antara  lain  kepada  al-Saji,  Abu  Khalifah
al-Jumhi, Sahal Ibn Nuh, Muhammad Ibn Ya'kub,  Abdur  Rahman
Ibn  Khalf dan lain-lain. [7] Demikian juga ia belajar Fiqih
Syafi'i kepada seorang faqih: Abu Ishak  al-Maruzi  (w.  340
H./951 M.) -seorang tokoh Mu'tazilah di Bashrah. Sampai umur
empat puluh tahun ia selalu bersama ustaz  al-Juba'i,  serta
ikut   berpartisipasi   dalam  mempertahankan  ajaran-ajaran
Mu'tazilah. [9]
 
Pada tahun 300 H./915 M dalam usia 40  tahun,  Abu  al-Hasan
al-Asy'ari  meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah. Untuk hal
ini  terdapat   beberapa   pendapat   mengenai   sebab-sebab
meninggalkan  atau keluar dari Mu'tazilah. Sebab klasik yang
biasa  disebut  perpisahan   dia   dengan   gurunya   karena
terjadinya  dialog antara keduanya tentang salah satu ajaran
pokok Mu'tazilah, yaitu masalah "keadilan Tuhan." Mu'tazilah
berpendapat,   "semua  perbuatan  Tuhan  tidak  kosong  dari
manfaat dan kemashlahatan. Tuhan tidak menghendaki  sesuatu,
kecuali   bermanfaat   bagi   manusia,   bahkan   Dia  mesti
menghendaki  yang  baik  dan  terbaik  untuk   kemashlahatan
manusia. Paham ini di sebut al-Shalah wa 'l-Ashlah. [10]
 
Dialog tersebut berlangsung sebagai berikut:
 
Al-Asy'ari  (A) - Bagaimana pendapat tuan tentang nasib tiga
orang  bersaudara  setelah  wafat;  yang  tua   mati   dalam
bertaqwa;  yang kedua mati kafir; dan yang ketiga mati dalam
keadaan masih kecil.
 
Aldubba'i (J) - yang  taqwa  mendapat  terbaik;  yang  kafir
masuk neraka; dan yang kecil selamat dari bahaya neraka.
 
A  -  Kalau  yang  kecil ingin mendapatkan tempat yang lebih
baik di Sorga, mungkinkah?
 
J - Tidak, karena tempat  itu  hanya  dapat  dicapai  dengan
jalan  ibadat  dan kepatuhan kepada Tuhan. Adapun anak kecil
belum mempunyai ibadat dan kepatuhan kepada-Nya.
 
A- Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan:  itu  bukan
salahku. Sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan
mengerjakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh  yang
taqwa itu.
 
J  -  Allah  akan  menjawab kepada anak kecil itu, Aku tahu,
jika engkau terus hidup, engkau  akan  berbuat  maksiat  dan
engkau  akan mendapat siksa; maka Saya (Allah - Red) matikan
engkau adalah untuk kemaslahatanmu.
 
A - Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, "Ya  Tuhanku
Engkau  ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa
depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku?
 
Al-Jubba'i  menjawab,  "Engkau  gila,  (dalam  riwayat  lain
dikatakan,   bahwa   Al-Jubba'i   hanya  terdiam  dan  tidak
menjawab). [11]
 
Dalam percakapan di atas, al-Jubba'i, jagoan Mu'tazilah itu,
tampaknya   dengan   mudah   saja  dapat  ditumbangkan  oleh
al-Asy'ari. Tetapi dialog ini kelihatannya  hanyalah  sebuah
ilustrasi yang dibuat para pengikut al-Asy'ari sendiri untuk
memperlihatkan perbedaan logikanya dengan logika orang-orang
Mu'tazilah.
 
Bagi  Mu'tazilah,  si anak kecil tentu tidak akan mengajukan
protes kepada Allah, karena dia sendiri tahu,  bahwa  sesuai
dengan  keadilan Tuhan, tempat yang cocok untuknya memang di
sana. Kalau Tuhan menempatkan anak  kecil  sederajat  dengan
tempat  orang  yang  taqwa, tentu dia sendiri akan merasakan
bahwa Tuhan sudah tidak adil lagi terhadap  dirinya.  Sebab,
tempatnya   memang   bukanlah  seharusnya  sederajat  dengan
orang-orang yang taqwa.
 
Di  alam  akhirat,  menurut  Mu'tazilah,  tidak   ada   lagi
perdebatan  tentang  keadilan  Tuhan. Di sana, manusia sudah
mendapati al-Wa'ad wa al-Wa'id. Dia  sudah  menepati  janji.
Yang  taqwa  mendapat sorga, yang kafir mendapat neraka, dan
jika di sana terdapat yang  meninggal  dunia  dalam  keadaan
masih  kecil,  baik  anak-anak orang mukmin atau kafir, maka
bagi mereka tidak ada alasan  untuk  disiksa,  karena  Tuhan
Maha Suci dari penganiayaan. [12]
 
Bagi  yang kafir lebih tidak punya alasan lagi. Sebab, Tuhan
lebih memperhatikan kemaslahatannya di  dunia.  Tuhan  tidak
menghendaki   kekafirannya.  Berarti,  jika  ia  kafir  sama
artinya dengan kehendak diri sendiri. Sementara, dia sendiri
sudah  tahu  akibat  kekafirannya, karena ia diberi akal dan
petunjuk. [13] Jadi,  kalau  yang  kafir  harus  menyalahkan
Tuhan  atas  kehendak  dan  perbuatannya  sendiri,  maka  ia
dianggap  oleh  Memorandum  suatu   pemikiran   yang   tidak
rasional.
 
Sebab   lain   yang  biasa  disebutkan  adalah  meninggalkan
ajaran-ajaran  Mu'tazilah  karena  pernah  bermimpi  melihat
Rasulullah  saw  sebanyak  tiga kali. Mimpi itu terjadi pada
bulan Ramadhan. Mimpi pertama terjadi pada tanggal 10; mimpi
kedua  pada  tanggal duapuluh, dan mimpi ketiga pada tanggal
tigapuluh. [14] Dalam mimpi yang terjadi pada bulan Ramadlan
itu  Rasulullah  menyampaikan  bahwa  madzhab ahli haditslah
yang benar, karena itulah madzhabnya yang berasal dari saya.
[15]
 
Diriwayatkan  bahwa  al-Asy'ari  sebelum mengambil keputusan
untuk keluar dari Mu'tazilah, ia mengisolir diri di rumahnya
selama  limabelas  hari. Sesudah itu ia pergi ke mesjid lalu
naik mimbar dan menyampaikan:
 
"Saya dulu mengatakan, bahwa al-Qur'an adalah makhluk; Allah
swt.  tidak dapat dilihat dengan pandangan mata orang mukmin
di  akhirat  dan  perbuatan  jahat  adalah  perbuatan   saya
sendiri.  Sekarang  saya  taubat  dari  semuanya  itu.  Saya
lemparkan keyakinan-keyakinan lama  saya,  sebagaimana  saya
lemparkan  baju ini (isyarat pada jubahnya). Dan saya keluar
dari kekejian dan skandal Mu'tazilah." [16]
 
Terlepas dari soal  sesuai  atau  tidaknya  uraian  di  atas
dengan  fakta  sejarah;  maka dari sisi lain dapat pula kita
ungkapkan sebab yang mendorong al-Asy'ari meninggalkan faham
Mu'tazilah.    Sebab    itu    ialah    rasa   skeptis   dan
ketidakpercayaannya   lagi    terhadap    kemampuan    akal,
sebagaimana  yang  pernah  pula  dialami  oleh al-Ghazali di
kemudian hari. Pada kedua tokoh ini terdapat suatu  indikasi
kesamaan yang sangat mirip.
 
Al-Asy'ari,  sebagai  contoh pendiri aliran, setelah belajar
pada  Mu'tazilah,  kemudian  merasa   tidak   puas,   lantas
menyerangnya.   Demikian   juga  halnya  dengan  al-Ghazali,
sebagai  benteng  pertahanan  yang  kokoh  terhadap   aliran
al-Asy'ari,  setelah  ia  belajar  filsafat, kemudian merasa
tidak  puas,  lalu  menyerang   pula.   Al-Asy'ari   memakai
ungkapan-ungkapan   yang   pedas   sekali   dalam  menyerang
Mu'tazilah,   dengan   tuduhan   sebagai   golongan   sesat,
penyeleweng,  dan  majusinya  umat.  Begitu  pula al-Ghazali
menyerang  para  filsuf,  dengan  tuduhan  sebagai  golongan
bid'ah  dan  kufur.  Al-Asy'ari melakukan sanggahan terhadap
Mu'tazilah  setelah  ia   mengetahui   benar   akan   aliran
Mu'tazilah  itu.  Setelah  itu  ia  menulis sebuah buku yang
bernama Maqalat  al-Islamiyyin  yang  berisikan  kepercayaan
aliran-aliran.  Dan untuk bantahannya ia menulis lagi sebuah
buku yang bernama al-Ibanah.  Demikian  juga  halnya  dengan
al-Ghazali,   setelah  mengkaji  filsafat  secara  mendalam,
kemudian  ia  tulis  pemikiran-pemikiran  filsuf  itu  dalam
sebuah  buku  yang bernama Maqasid al-Falsafah. Setelah itu,
baru ia melakukan  bantahan-bantahan  terhadap  para  filsuf
dengan   mengarang   sebuah   buku   yang   bernama  Tahafut
al-Falasifah (kesalahan para filsuf).
 
Sebagaimana diketahui, pemegang  janji  rasional  pada  masa
al-Asy'ari   adalah   para   tokoh  Mu'tazilah,  karena  itu
sanggahannya tertuju  langsung  pada  Mu'tazilah.  Sementara
para  filsuf yang dinilai sebagai pewaris pemikiran rasional
Mu'tazilah, maka al-Ghazali sebagai pembela ikhlas  terhadap
aliran   al-Asy'ari   harus   dengan  tegas  pula  melakukan
sanggahan terhadap filsuf.
 
Pemikiran al-Asy'ari yang asli baru dapat diketahui  setelah
ia   menyatakan   pemisahan   dirinya  dari  Mu'tazilah  dan
pengakuannya menganut paham aqidah  salafiyah  aliran  Ahmad
bin   Hambal.   [17]  Yaitu  keimanan  yang  tidak  didasari
penyelaman persoalan gaib yang mendalam. Di  sisi  lain,  ia
hanya  percaya  pada  akidah dengan dalil yang ditunjuk oleh
nash, dan dipahami secara tekstual sebagaimana yang tertulis
dalam  Kitab  suci  dan  sunnah  Rasul. Fungsi akal hanyalah
sebagai saksi pembenar dan penjelas  dalil-dalil  al-Qur'an.
[18]  Jadi  akal  terletak  di belakang nash-nash agama yang
tidak boleh berdiri sendiri. Ia  bukanlah  hakim  yang  akan
mengadili.  Spekulasi  apapun  terhadap  segala sesuatu yang
sakral dianggap suatu bid'ah. Setiap dogma harus  dipercayai
tanpa mengajukan pertanyaan bagaimana dan mengapa.
 
Sekarang   permasalahannya   ialah,   sampai  seberapa  jauh
al-Asy'ari   meninggalkan   ajaran-ajaran   Mu'tazilah   dan
keikhlasannya  terhadap  ajaran  Salafiyah. Untuk mengetahui
ajaran-ajaran   al-Asy'ari,   kita   dapat   melihat    pada
kitab-kitab yang ditulisnya, terutama:
 
1.Maqalat al-Islamiyyin, merupakan karangan yang pertama
  dalam soal-soal kepercayaan Islam. Buku ini menjadi sumber
  yang penting, karena ketelitian dan kejujuran pengarangnya.
  Buku ini terdiri -dari tiga bagian:
 
  a.Tinjauan tentang golongan-golongan dalam Islam
  b.Aqidah aliran Ashhab al-Hadits dan Ahl al-Sunnah, dan
  c.Beberapa persoalan ilmu Kalam.
 
2.Al-Ibanah 'an Ushul al-Diyanah, berisikan uraian tentang
  kepercayaan Ahl al-Sunnah dan pernyataan penghargaannya
  terhadap persoalan-persoalan yang banyak dan penting. Dalam
  buku ini ia menyerang dengan pedas aliran Mu'tazilah.
 
3.Kitab al-Luma' fi al-Radd 'ala ahl al-Zaigh wa al-bida',
  berisikan sorotan terhadap lawan-lawannya dalam beberapa
  persoalan ilmu Kalam.
 
Para ahli mempertanyakan tentang  perbedaan  kandungan  yang
terdapat  pada  kedua  kitabnya al-Ibanah dan al-Luma'. Yang
pertama, peranan naql lebih  tinggi  ketimbang  akal.  Dalam
arti,  Salafiahnya  lebih  dominan  dibandingkan Mu'tazilah.
Sedangkan buku kedua (al-Luma'), peranan akal  lebih  tinggi
dalam  memahami  nash-nash.  Di sini terlihat adanya anjuran
kembali untuk memahami nash-nash agama  dengan  metode  ilmu
kalam. [19]
 
Perbedaan  ini bisa terjadi, karena al-Asy'ari pada kitabnya
al-Ibanah ditulisnya langsung setelah  pernyataannya  keluar
dari  Mu'tazilah.  Jadi,  secara  psikologis,  bukunya dalam
rangka menonjolkan  sikap  loyalnya  terhadap  kaum  Salafi,
sebagai  rekan  barunya.  Dan  sikap  kebenciannya  terhadap
Mu'tazilah karena penilaiannya  sebagai  musuh  yang  sedang
dihadapinya,  meski  dulu  teman  akrabnya.  Sebenarnya, ini
dapat dipahami. Sebab, seseorang yang selama  ini  dijadikan
teman  baik,  oleh  karena  suatu hal berubah menjadi musuh,
maka ia akan memperlihatkan sikap  bencinya  terhadap  musuh
itu.  Dan  sebaliknya  akan  memperlihatkan  sikap  loyalnya
terhadap   teman   baru.   Karena   itu,   kitab   al-Ibanah
mencerminkan  tingkat  kesunyian  secara  penuh. Sebaliknya,
menampakkan sikap bencinya terhadap Mu'tazilah lebih  nyata.
Karena  itu,  kitab  al-Ibanah  menurut  para  ahli  ditulis
langsung setelah al-Asy'ari meninggalkan faham Mu'tazilah.
 
                                            (bersambung 2/3)
 
--------------------------------------------
Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah
Editor: Budhy Munawar-Rachman
Penerbit Yayasan Paramadina
Jln. Metro Pondok Indah
Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21
Jakarta Selatan
Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173
Fax. (021) 7507174

Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team