Wawasan Al-Qur'an

oleh Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

Indeks Islam | Indeks Quraish Shihab | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

AKHLAK                                                   (3/3)
 
b. Akhlak terhadap sesama manusia
 
Banyak  sekali  rincian  yang  dikemukakan  Al-Quran berkaitan
dengan perlakuan terhadap sesama  manusia.  Petunjuk  mengenai
hal  ini  bukan  hanya dalam bentuk larangan melakukan hal-hal
negatif seperti  membunuh,  menyakiti  badan,  atau  mengambil
harta  tanpa  alasan  yang benar, melainkan juga sampai kepada
menyakiti hati dengan  jalan  menceritakan  aib  seseorang  di
belakangnya,  tidak  peduli aib itu benar atau salah, walaupun
sambil memberikan materi kepada yang disakiti hatinya itu.
 
     Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik
     daripada sedekah yang disertai dengan sesuatu yang
     menyakitkan (perasaan si penerima) (QS Al-Baqarah
     [2]: 263).
 
Di sisi lain Al-Quran menekankan bahwa setiap orang  hendaknya
didudukkan  secara  wajar.  Nabi  Muhammad  Saw.  --misalnya--
dinyatakan sebagai manusia seperti manusia  yang  lain,  namun
dinyatakan  pula  bahwa  beliau  adalah  Rasul yang memperoleh
wahyu dari Allah. Atas dasar itulah beliau  berhak  memperoleh
penghormatan  melebihi  manusia  1ain.  Karena  itu,  Al-Quran
berpesan kepada orang-orang Mukmin:
 
     Jangan meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi
     (saat berdialog), dan jangan pula mengeraskan suaramu
     (di hadapannya saat beliau diam) sebagaimana
     (kerasnya) suara sebagian kamu terhadap sebagian yang
     lain... (QS Al-Hujurat [49]: 2).
 
     Janganlah kamu jadikan panggilan (nama) Rasul di
     antara kamu, seperti panggilan sebagian kamu kepada
     sebagian (yang lain) (QS An-Nur [24]: 63).
 
Petunjuk ini berlaku kepada setiap orang yang harus dihormati.
 
Al-Quran juga  menekankan  perlunya  privasi  (kekuasaan  atau
kebebasan pribadi).
 
     Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki
     rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu meminta izin
     dan memberi salam kepada penghuninya (QS An-Nur [24]:
     27).
 
     Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak
     lelaki dan wanita yang kamu miliki, dan orang-orang
     yang belum balig di antara kamu meminta izin kepada
     kamu tiga kali (yaitu waktu) sebelum shalat subuh,
     ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah
     hari, dan sesudah shalat isya ... (QS An-Nur [24):
     58).
 
Salam yang diucapkan  itu  wajib  dijawab  dengan  salam  yang
serupa,  bahkan juga dianjurkan agar dijawab dengan salam yang
lebih baik (QS An-Nisa' [4]: 86).
 
Setiap   ucapan   haruslah   ucapan   yang   baik,    Al-Quran
memerintahkan,
 
     Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia (QS
     A1-Baqarah [2]: 83).
 
Bahkan lebih tepat jika kita berbicara sesuai  dengan  keadaan
dan  kedudukan mitra bicara, serta harus berisi perkataan yang
benar,
 
     Dan katakanlah perkataan yang benar (QS Al-Ahzab
     [33]: 70).
 
Tidak wajar  seseorang  mengucilkan  seseorang  atau  kelompok
1ain,  tidak  wajar pula berprasangka buruk tanpa alasan, atau
menceritakan   keburukan   seseorang,   dan    menyapa    atau
memanggilnya  dengan  sebutan  buruk  (baca  Al-Hujurat  [49]:
11-12) .
 
Yang melakukan kesalahan  hendaknya  dimaafkan.  Pemaafan  ini
hendaknya  disertai  dengan  kesadaran  bahwa  yang  memaafkan
berpotensi  pula  melakukan  kesalahan.  Karena  itu,   ketika
Misthah  --seorang  yang  selalu dibantu oleh Abu Bakar r.a.--
menyebarkan berita palsu tentang Aisyah, putrinya,  Abu  Bakar
dan  banyak  orang  lain  bersumpah  untuk tidak lagi membantu
Misthah. Tetapi Al-Quran turun menyatakan:
 
     Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan
     kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka
     tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabat(-nya),
     orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah
     dijalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan, serta
     berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah
     mengampuni kamu? Allah Maha Pengampun lagi Maha
     Penyayang (QS An-Nur [24]: 22).
 
Sebagian dari ciri orang bertakwa dijelaskan dalam Quran surat
Ali Imran (3): 134, yaitu:
 
     Maksudnya mereka mampu menahan amarahnya, dan
     memaafkan, (bahkan) berbuat baik (terhadap mereka
     yang pernah melakukan kesalahan terhadapnya),
     sesungguhnya Allah senang terhadap orang yang berbuat
     baik.
 
Di dunia Barat, sering dinyatakan, bahwa "Anda boleh melakukan
perbuatan  apa  pun selama tidak bertentangan dengan hak orang
lain",  tetapi  dalam  Al-Quran   ditemukan   anjuran,   "Anda
hendaknya   mendahulukan   kepentingan   orang  lain  daripada
kepentingan Anda sendiri."
 
     Mereka mengutamakan orang lain daripada diri mereka
     sendiri, walaupun mereka amat membutuhkan (QS
     Al-Hasyr [59]: 9).
 
Jika ada orang yang digelari gentleman --yakni  yang  memiliki
harga diri, berucap benar, dan bersikap lemah lembut {terutama
kepada    wanita)--    seorang    Muslim    yang     mengikuti
petunjuk-petunjuk  akhlak Al-Quran tidak hanya pantas bergelar
demikian, melainkan lebih dari itu, dan orang  demikian  dalam
bahasa Al-Quran disebut al-muhsin.
 
c. Akhlak terhadap lingkungan
 
Yang dimaksud lingkungan di sini adalah  segala  sesuatu  yang
berada  di  sekitar  manusia,  baik binatang, tumbuh-tumbuhan,
maupun benda-benda tak bernyawa.
 
Pada  dasarnya,  akhlak  yang  diajarkan   Al-Quran   terhadap
lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah.
 
Kekhalifahan  menuntut  adanya interaksi antara manusia dengan
sesamanya dan manusia terhadap alam.  Kekhalifahan  mengandung
arti pengayoman, pemeliharaan, serta pembimbingan, agar setiap
makhluk mencapai tujuan penciptaannya.
 
Dalam  pandangan  akhlak  Islam,  seseorang  tidak  dibenarkan
mengambil  buah  sebelum  matang,  atau  memetik bunga sebelum
mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan  kepada
makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.
 
Ini   berarti   manusia   dituntut   untuk  mampu  menghormati
proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua  proses
yang   sedang  terjadi.  Yang  demikian  mengantarkan  manusia
bertanggung jawab,  sehingga  ia  tidak  melakukan  perusakan,
bahkan dengan kata lain, "Setiap perusakan terhadap lingkungan
harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia sendiri."
 
Binatang, tumbuhan,  dan  benda-benda  tak  bernyawa  semuanya
diciptakan  oleh Allah Swt. dan menjadi milik-Nya, serta semua
memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan
sang Muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah "umat" Tuhan
yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.
 
Karena itu dalam Al-Quran surat Al-An'am  (6):  38  ditegaskan
bahwa  binatang  melata  dan  burung-burung  pun  adalah  umat
seperti manusia  juga,  sehingga  semuanya  --seperti  ditulis
Al-Qurthubi  (W.  671  H)  di  dalam  tafsirnya-- "Tidak boleh
diperlakukan secara aniaya."
 
Jangankan dalam masa damai, dalam saat peperangan pun terdapat
petunjuk   Al-Quran   yang  melarang  melakukan  penganiayaan.
Jangankan terhadap manusia dan binatang, bahkan mencabut  atau
menebang  pepohonan  pun  terlarang,  kecuali  kalau terpaksa,
tetapi itu pun harus seizin Allah, dalam  arti  harus  sejalan
dengan   tujuan-tujuan   penciptaan   dan   demi  kemaslahatan
terbesar.
 
     Apa saja yang kamu tebang dari pohon (kurma) atau
     kamu biarkan tumbuh, berdiri di atas pokoknya, maka
     itu semua adalah atas izin Allah ... (QS Al-Hasyr
     [59]: 5).
 
Bahwa semuanya adalah milik Allah, mengantarkan manusia kepada
kesadaran  bahwa  apa  pun  yang  berada  di  dalam  genggaman
tangannya,   tidak   lain   kecuali    amanat    yang    harus
dipertanggungjawabkan. "Setiap jengkal tanah yang terhampar di
bumi, setiap angin sepoi yang berhembus di udara,  dan  setiap
tetes   hujan   yang  tercurah  dari  langit  akan  dimintakan
pertanggungjawaban   manusia   menyangkut   pemeliharaan   dan
pemanfatannya",   demikian   kandungan  penjelasan  Nabi  Saw.
tentang firman-Nya dalam Al-Quran surat At-Takatsur  (102):  8
yang   berbunyi,  "Kamu  sekalian  pasti  akan  diminta  untuk
mempertanggungjawabkan nikmat  (yang  kamu  peroleh)."  Dengan
demikian  bukan  saja  dituntut  agar  tidak  alpa  dan angkuh
terhadap sumber daya yang dimilikinya, melainkan juga dituntut
untuk  memperhatikan  apa  yang  sebenarnya  dikehendaki  oleh
Pemilik (Tuhan) menyangkut apa yang berada di sekitar manusia.
 
     Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta yang
     berada di antara keduanya, kecuali dengan (tujuan)
     yang hak dan pada waktu yang ditentukan (QS Al-Ahqaf
     [46]: 3).
 
Pernyataan Tuhan ini mengundang seluruh  manusia  untuk  tidak
hanya  memikirkan  kepentingan  diri  sendiri,  kelompok, atau
bangsa, dan jenisnya saja, melainkan juga harus  berpikir  dan
bersikap   demi  kemaslahatan  semua  pihak.  Ia  tidak  boleh
bersikap sebagai penakluk alam  atau  berlaku  sewenang-wenang
terhadapnya.  Memang,  istilah  penaklukan  alam tidak dikenal
dalam ajaran Islam. Istilah itu muncul  dari  pandangan  mitos
Yunani  yang  beranggapan  bahwa  benda-benda  alam  merupakan
dewa-dewa yang memusuhi manusia sehingga harus ditaklukkan.
 
Yang menundukkan alam menurut Al-Quran adalah  Allah.  Manusia
tidak sedikit pun mempunyai kemampuan kecuali berkat kemampuan
yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.
 
     Mahasuci Allah yang menjadikan (binatang) ini mudah
     bagi kami, sedangkan kami sendiri tidak mempunyai
     kemampuan untuk itu (QS Az-Zukhruf [43]: 13)
 
Jika  demikian,  manusia  tidak  mencari  kemenangan,   tetapi
keselarasan   dengan   alam.  Keduanya  tunduk  kepada  Allah,
sehingga mereka harus dapat bersahabat.
 
Al-Quran menekankan agar umat Islam meneladani  Nabi  Muhammad
Saw.  yang membawa rahmat untuk seluruh alam (segala sesuatu).
Untuk  menyebarkan  rahmat  itu,  Nabi  Muhammad  Saw.  bahkan
memberi  nama  semua  yang menjadi milik pribadinya, sekalipun
benda-benda itu tak bernyawa. "Nama" memberikan  kesan  adanya
kepribadian, sedangkan kesan itu mengantarkan kepada kesadaran
untuk bersahabat dengan pemilik nama.
 
Sebelum  Eropa  mengenal  Organisasi  Pencinta  Binatang  Nabi
Muhammad Saw. telah mengajarkan,
 
     Bertakwalah kepada Allah dalam perlakuanmu terhadap
     binatang, kendarailah, dan beri makanlah dengan baik.
 
Di samping prinsip kekhalifahan yang disebutkan di atas, masih
ada lagi prinsip taskhir, yang berarti penundukan. Namun dapat
juga berarti "perendahan". Firman Allah yang menggunakan  akar
kata itu dalam Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 11 adalah
 
     Janganlah ada satu kaum yang merendahkan kaum yang
     lain.
 
     Dan Dia (Allah) menundukkan untuk kamu; semua yang
     ada di langit dan di bumi semuanya (sebagai rahmat)
     dari-Nya (QS Al-Jatsiyah [45]: 13).
 
Ini berarti bahwa alam  raya  telah  ditundukkan  Allah  untuk
manusia.  Manusia dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
Namun pada saat yang sama,  manusia  tidak  boleh  tunduk  dan
merendahkan  diri kepada segala sesuatu yang telah direndahkan
Allah untuknya, berapa pun harga  benda-benda  itu.  Ia  tidak
boleh   diperbudak   oleh  benda-benda  itu.  Ia  tidak  boleh
diperbudak    oleh    benda-benda    sehingga     mengorbankan
kepentingannya  sendiri.  Manusia dalam hal ini dituntut untuk
selalu mengingat-ingat, bahwa ia boleh meraih apa pun  asalkan
yang   diraihnya   serta  cara  meraihnya  tidak  mengorbankan
kepentingannya di akhirat kelak.
 
                              ***
 
Akhirnya kita dapat mengakhiri uraian  ini  dengan  menyatakan
bahwa  keberagamaan  seseorang  diukur  dari  akhlaknya.  Nabi
bersabda,
 
     Agama adalah hubungan interaksi yang baik.
 
Beliau juga bersabda:
 
     Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan
     (amal) seorang mukmin pada hari kiamat, melebihi
     akhlak yang luhur (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).[]
 
----------------
WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net

Indeks Islam | Indeks Quraish Shihab | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team