|
|
|
|
|
MANUSIA (2/3)
c.Petunjuk-petunjuk keagamaan.
Masih banyak ayat-ayat lain yang dapat dikemukakan tentang
sifat dan potensi manusia serta arah yang harus ia tuju.
Dari kitab suci Al-Quran dan hadis-hadis Nabi Saw. diperoleh
informasi serta isyarat-isyarat yang boleh jadi dapat
mengungkap sebagian misteri makhluk ini. Namun demikian,
pemahaman atau informasi dan isyarat tersebut tidak dapat
dilepaskan dari subjektivitas manusia, sehingga ia tetap
mengandung kemungkinan benar atau salah, seperti halnya yang
dikemukakan oleh tulisan ini.
Secara tegas Al-Quran mengemukakan bahwa manusia pertama
diciptakan dari tanah dan Ruh Ilahi melalui proses yang tidak
dijelaskan rinciannya, sedangkan reproduksi manusia, walaupun
dikemukakan tahapan-tahapannya, namun tahapan tersebut lebih
banyak berkaitan dengan unsur tanahnya.
Isyarat yang menyangkut unsur immaterial, ditemukan antara
lain dalam uraian tentang sifat-sifat manusia, dan dari uraian
tentang fithrah, nafs, qalb, dan ruh yang menghiasi makhluk
manusia. Berikut dicoba untuk memahami istilah-istilah
tersebut.
Fithrah
Dari segi bahasa, kata fithrah terambil dari akar kata
al-fathr yang berarti belahan, dan dari makna ini lahir
makna-makna lain antara lain "penciptaan" atau "kejadian".
Konon sahabat Nabi, Ibnu Abbas tidak tahu persis makna kata
fathir pada ayat-ayat yang berbicara tentang penciptaan langit
dan bumi sampai ia mendengar pertengkaran tentan kepemilikan
satu sumur. Salah seorang berkata, "Ana fathar tuhu". Ibnu
Abbas memahami kalimat ini dalam arti, "Saya yang membuatnya
pertama kali." Dan dari situ Ibnu Abbas memahami bahwa kata
ini digunakan untuk penciptaan atau kejadian sejak awal.
Fithrah manusia adalah kejadiannya sejak semula atau bawaan
sejak lahirnya.
Dalam Al-Quran kata ini dalam berbagai bentuknya terulang
sebanyak dua puluh delapan kali, empat belas diantaranya dalam
konteks uraian tentang bumi dan atau langit. Sisanya dalam
konteks penciptaan manusia baik dari sisi pengakuan bahwa
penciptanya adalah Allah, maupun dari segi uraian tentang
fitrah manusia. Yang terakhir ini ditemukan sekali yaitu pada
surat Al-Rum ayat 30:
Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama, (pilihan) fitrah Allah
yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tidak ada
perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
Merujuk kepada fitrah yang dikemukakan di atas, dapat ditarik
kesimpulan bahwa manusia sejak asal kejadiannya, membawa
potensi beragama yang lurus, dan dipahami oleh para ulama
sebagai tauhid.
Selanjutnya dipahami juga, bahwa fitrah adalah bagian dan
khalq (penciptaan) Allah.
Kalau kita memahami kata la pada ayat tersebut dalam arti
"tidak", maka ini berarti bahwa seseorang tidak dapat
menghindar dari fitrah itu. Dalam konteks ayat ini, ia berarti
bahwa fitrah keagamaan akan melekat pada diri manusia untuk
selama lamanya, walaupun boleh jadi tidak diakui atau
diabaikannya.
Tetapi apakah fitrah manusia hanya terbatas pada fitrah
keagamaan? Jelas tidak. Bukan saja karena redaksi ayat ini
tidak dalam bentuk pembatasan tetapi juga karena masih ada
ayat-ayat lain yang membicarakan tentang penciptann potensi
manusia --walaupun tidak menggunakan kata fitrah, seperti
misalnya:
Telah dihiaskan kepada manusia kecenderungan hati
kepada perempuan (atau lelaki), anak lelaki (dari
perempuan), serta harta yang banyak berupa emas,
perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang
(QS Ali 'Imran [3]: 14).
Karena itu agaknya tepat kesimpulan Muhammad bin Asyur dalam
tafsirnya tentang surat Al-Rum (30): 30, yang menyatakan
bahwa:
Fitrah adalah bentuk dan sistem yang diwujudkan Allah
pada setiap makhluk. Fitrah yang berkaitan dengan
manusia adalah apa yang diciptakan Allah pada manusia
yang berkaitan dengan jasmani dan akalnya (serta
ruhnya).
Manusia berjalan dengan kakinya adalah fitrah jasadiahnya,
sementara menarik kesimpulan melalui premis-premis adalah
fitrah akliahnya. Senang menerima nikmat dan sedih bila
ditimpa musibah juga adalah fitrahnya.
Nafs
Kata nafs dalam Al-Quran mempunyai aneka makna, sekali
diartikan sebagai totalitas manusia, seperti antara lain
maksud surat Al-Maidah ayat 32, di kali lain ia menunjuk
kepada apa yang terdapat dalam diri manusia yang menghasilkan
tingkah laku seperti maksud kandungan firman Allah.
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan satu
masyarakat, sehingga mereka mengubah apa yang terdapat
dalam diri mereka (QS Al-Ra'd [13]: 11)
Kata nafs digunakan juga untuk menunjuk kepada "diri Tuhaan"
(kalau istilah ini dapat diterima), seperti dalam firman-Nya
dalam surat Al-An'am {6): 19:
Allah mewajibkan atas diri-Nya menganugerahkan rahmat.
Secara umum dapat dikatakan bahwa nafs dalam konteks
pembicaraan tentang manusia, menunjuk kepada sisi dalam
manusia yang berpotensi baik dan buruk.
Dalam pandangan Al-Quran, nafs diciptakan Allah dalam keadaan
sempurna untuk berfungsi menampung serta mendorong manusia
berbuat kebaikan dar1 keburukan, dan karena itu sisi dalam
manusia inilah yang oleh Al-Quran dianjurkan untuk diberi
perhatian lebih besar.
Demi nafs serta penyempurnaan ciptaan, Allah
mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwann (QS
Al-Syams [91]: 7-8).
Mengilhamkan berarti memberi potensi agar manusia melalui nafs
dapat menangkap makna baik dan buruk, serta dapat mendorongnya
untuk melakukan kebaikan dan keburukan.
Di sini antara lain terlihat perbedaan pengertian kata ini
menurut Al-Quran dengan terminologi kaum sufi, yang oleh
Al-Qusyairi dalam risalahnya dinyatakan bahwa, "Nafs dalam
pengertian kaum sufi adalah sesuatu yang melahirkan sifat
tercela dan perilaku buruk." Pengertian kaum sufi ini sama
dengan penjelasan Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang antara
lain, menjelaskan arti kata nafsu, sebagai "dorongan hati yang
kuat untuk berbuat kurang baik".
Walaupun Al-Quran menegaskan bahwa nafs berpotensi positif dan
negatif, namun diperoleh pula isyarat bahwa pada hakikatnya
potensi positif manusia lebih kuat dari potensi negatifnya,
hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat dari daya tarik
kebaikan. Karena itu manusia dituntut agar memelihara kesucian
nafs, dan tidak mengotorinya,
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang
menyucikannya dan merugilah orang-orang yang
mengotorinya (QS Al-Syams [91]: 9-10)
Bahwa kecenderungannya kepada kebaikan lebih kuat dipahami
dari isyarat beberapa ayat, antara lain firman-Nya:
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai
dengan kesanggupannya. Nafs memperoleh ganjaran dan
apa yang diusahakannya, dan memperoleh siksa dari apa
yang diusahakannya (QS Al-Baqarah [2]: 286)
Kata kasabat yang dalam ayat di atas menunjuk kepada usaha
baik sehingga memperoleh ganjaran, adalah patron yang
digunakan bahasa Arab untuk menggambarkan pekerjaan yang
dilakukan dengan mudah, sedangkan iktasabat adalah patron yang
digunakan untuk menunjuk kepada hal-hal yang sulit lagi berat.
Ini --menurut pakar Al-Quran Muhammad Abduh-- mengisyaratkan
bahwa nafs pada hakikatnya lebih mudah melakukan hal-hal yang
baik daripada melakukan kejahatan, dan pada gilirannya
mengisyaratkan bahwa manusia pada dasarnya diciptakan Allah
untuk melakukan kebaikan.
Ayat lain yang sejalan dengan isyarat di atas, adalah
firman-Nya
Wahai manusia! Apa yang memperdayakanmu (berbuat dosa)
terhadap Tuhanmu yang telah menciptakan engkau,
menyempurnakan kejadianmu, dan menjadikan engkau
"adil" (seimbang atau cenderung kepada keadilan) (QS
Al-Infithar [82): 6-7).
Kata "menjadikan engkau adil" dipahami oleh sementara pakar
seperti Yusuf Ali sebagai kecenderungan berbuat adil. Pendapat
ini cukup beralasan, karena dengan pemahaman semacam itu,
menjadi amat lurus kecaman Allah terhadap manusia yang
mendurhakainya.
Al-Quran juga mengisyaratkan keanekaragaman nafs serta
peringkat-peringkatnya, secara eksplisit disebutkan tentang
an-nafs al-lawamah, ammarah, dan muthmainnah.
Di sisi lain ditemukan pula isyarat bahwa nafs merupakan
wadah.Firman Allah dalam surat Al-Ra'd (13): 11 yang dikutip
di atas, mengisyaratkan bahwa nafs menampung paling tidak
gagasan dan kemauan. Suatu kaum tidak dapat berubah keadaan
lahiriahnya, sebelum mereka mengubah lebih dulu apa yang ada
dalam wadah nafs-nya. Yang ada di sini antara lain adalah
gagasan dan kemauan atau tekad untuk berubah. Gagasan yang
benar, yang disertai dengan kemauan satu kelompok masyarakat,
dapat mengubah keadaan masyarakat itu. Tetapi gagasan saja
tanpa kemauan, atau kemauan saja tanpa gagasan tidak akan
menghasilkan perubahan.
Yang terdapat dalam wadah nafs bukan hanya gagasan dan kemauan
yang disadari manusia, tetapi juga menampung sekian banyak hal
lainnya, bahkan boleh jadi ada hal-hal yang sudah hilang dari
ingatan pemiliknya.
Al-Quran mengisyaratkan hal tersebut,
Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguh nya
Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi (QS
Thaha [20]: 7).
Yang lebih tersembunyi dan rahasia adalah yang terdapat dalam
"bawah sadar manusia", sedangkan yang tersembunyi adalah "yang
disadari manusia namun dirahasiakannya."
Khalifah keempat Ali bin Abi Thalib pernah berkata:
Tidak seorangpun menyembunyikan sesuatu kecuali tampak
pada salah ucapnya atau air mukanya.
Apa yang ada dalam nafs dapat juga muncul dalam mimpi, yang
oleh Al-Quran pada garis besarnya dibagi dalam dua bagian
pokok. Pertamaa dinamainya ru'ya dan kedua dinamainya
adhghatsu ahlam. Yang pertama dipahami sebagai gambaran atau
simbol dari peristiwa yang telah, sedang, atau akan dialami,
dan yang belum atau tidak terlintas dalam benak yang
memimpikannya. Yang kedua lahir dan keresahan atau perhatian
manusia terhadap sesuatu dan hal-hal yang telah berada di
bawah sadarnya.
Dalam wadah nams terdapat qalb.
Qalb
Kata qalb terambil dari akar kata yang bermakna membalik
karena seringkali ia berbolak-balik, sekali senang sekali
susah, sekali setuju dan sekali menolak. qa1b amat berpotensi
untuk tidak konsisten. Al-Quran pun menggambarkan demikian,
ada yang baik, ada pula sebaliknya. Berikut beberapa contoh.
a. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat
peringatan bagi orang-orang yang memiliki kalbu, atau
yang mencurahkan pendengaran lagi menjadi saks~ (QS
Qaf [50]: 37)
b. Kami jadikan dalam kalbu orang-orang yang mengikuti
(Isa a.s ) kasih sagang dan rahmat (QS Al-Hadid [57]:
27).
c. Kami akan mencampakkan ke dalam hati orang-orang
kafir rasa takut (QS Ali 'Imran [3]: 151).
d. Dia (Allah) menjadikan kamu cinta kepada keimanan,
dan menghiasinya indah dalam kalbumu (QS Al-Hujurat
[49]: 7).
Dari ayat-ayat di atas terlihat bahwa kalbu adalah wadah dari
pengajaran, kasih sayang, takut, dan keimanan. Dari isi kalbu
yang dijelaskan oleh ayat-ayat di atas (demikian juga
ayat-ayat lainnya), dapat ditarik kesimpulan bahwa kalbu
memang menampung hal-hal yang disadari oleh pemiliknya. Ini
merupakan salah satu perbedaan antara kalbu dan nafs. Bukankah
seperti yang dinyatakan sebelumnya bahwa nafs menampung apa
yang berada di bawah sadar, dan atau sesuatu yang tidak
diingat lagi?
---------------- (bersambung 3/3)
WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net
|
|
|
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota |