2. IBADAH DAN USAHA HARUS SEIMBANG
- Keinginanmu untuk berkonsentrasi (ibadah)
kepada Allah Swt.) padahal Dia telah menetapkan agar
berusaha, merupakan bagian dari syahwat tersembunyi.
Keinginanmu berusaha, padahal Dia menetapkan untuk
konsentrasi beribadah, merupakan bentuk penurunan
semangat yang tinggi
Keinginan Anda untuk mengonsentrasikan diri beribadah
kepada Allah Swt. dan melepaskan diri dari segala usaha,
pekerjaan, dan tindakan yang sebenarnya tidak terlarang
secara syara, bahkan tidak pula makruh,
merupakan bagian dari syahwat yang tersembunyi.
Allah Swt. yang Maha Bijaksana telah mengatur segala
urusan hamba-Nya, baik yang kecil maupun yang besar, baik
yang nyata maupun yang tersembunyi. Tidak ada seorang
manusia pun di dunia, kecuali ia berada di bawah
pengaturanNya; walaupun ia kafir.
Walaupun Anda mengonsentrasikan diri untuk beribadah
kepada Allah Swt., akan tetapi Anda tetap harus berusaha dan
bekerja demi menghidupi diri sendiri dan keluarga. Allah
Swt. sudah menentukan bahwa rezeki itu tidak datang dengan
sendirinya, akan tetapi harus dicari dan diusahakan. Jika
pekerjaan Anda hanya di masjid maka tidak ada rezeki yang
menghampirinya. Hal ini sesuai dengan perkataan Umar bin
Khathab Ra., Sesungguhnya, langit tidak menurunkan
hujan emas dan perak.
Keinginan seorang hamba yang menyelisihi ketentuan Allah
Swt. dalam syariat-Nya adalah bentuk syahwat tersembunyi.
Sebagai seorang hamba, tidak ada yang bisa dilakukan,
kecuali menjalankan sesuatu yang telah ditetapkan-Nya. Kita
tidak memiliki kemampuan apa pun. Semua kekuatan dan
kekuasaan berada di tangan-Nya. Janganlah sampai kesombongan
merasuk ke dalam diri, sehingga merasa paling hebat dan
tidak membutuhkan siapa pun, bahkan terhadap Sang Pencipta.
Ini adalah sebuah tindakan kriminal dalam akidah yang harus
dibuang jauhjauh.
Dalam setiap ketentuan-Nya, pasti ada hikmah dan faedah
yang sebagian besarnya tidak mampu diketahui oleh akal
manusia. Sebaliknya, keinginan kita untuk berusaha dan
melarutkan diri di dalamnya, sehingga lalai beribadah
menyembah Allah Swt., merupakan bentuk keterpurukan dari
semangat yang tinggi. di zaman sekarang, dikenal dengan
istilah workaholic. Bekerja terus-menerus tanpa mengenal
lelah dan istirahat, bahkan jikalau tidak bekerja maka ia
akan sakit.
Tindakan seperti ini juga tidak diizinkan oleh syariat.
Bagaimana mungkin Anda melarutkan diri dalam pekerjaan,
padahal Sang Pencipta telah mengatur Anda untuk melarutkan
diri dalam ibadah kepada-Nya (apabila tiba waktunya)? Hal
ini agar Anda bisa bersama-Nya, menyaksikan-Nya, dan
merasakan kenikmatan di hadapan-Nya.
Ketika Anda lalai dalam menyembah Allah Swt., dan sibuk
dengan usaha-usaha yang bersifat keduniaan, maka Anda telah
terperosok ke dalam jurang kehinaan. Anda telah kehilangan
semangat yang seharusnya dimiliki seorang muslim, yaitu
semangat beribadah kepada-Nya dan mengharapkan
keridhaan-Nya.
Orang yang memiliki semangat tinggi selalu mengharapkan
sesuatu yang diharapkan oleh Penciptanya. Jikalau Allah Swt.
menginginkannya untuk beribadah maka ia akan beribadah.
Jikalau Dia menginginkannya untuk bekerja dan berusaha maka
ia akan mengerjakannya.
Kita adalah hamba, dan seorang hamba harus rela terhadap
ketentuan yang ditetapkan oleh Tuannya. Jikalau Tuan
menetapkan untuk beribadah, maka seorang hamba harus
mengerjakannya. Jikalau Tuan menetapkan untuk berusaha maka
ia juga harus mengerjakannya sepenuh hati.
|