15. CAHAYA ALLAH SWT.
- "Seluruh alam semesta adalah kegelapan, dan yang
menyinari di dalamnya adalah keberadaan Allah Swt. Barang
siapa yang melihat alam, kemudian tidak melihat-Nya di
dalam atau di sisi dunia, atau sebelum dan sesudahnya,
maka berarti ia telah silau oleh sinar dan terhijab dari
matahari makrifat karena awan-awan alam."
Seorang hamba yang hatinya bergantung pada alam semesta,
yaitu selain Allah Swt. - harta, jabatan, keluarga, istri,
dan lain sebagainya - maka ia akan terhijab dari cahaya-Nya.
Hatinya akan gelap dan tidak mampu melihat hakikat yang
berada dibalik suatu rahasia. Jikalau ini terus dibiarkan
dan tidak dibersihkan maka lama-kelamaan cahaya hatinya akan
padam, sehingga ia tidak bisa lagi merasakan efek dosa yang
menimpanya.
Hanya ada satu Dzat yang bisa meneranginya, yaitu
keberadaan Allah Swt. Akan tetapi, ini bukanlah bermakna
wihdatul wujud (hulul), yang berarti menyatunya seorang
hamba dengan Allah Swt. Ini adalah paham yang melenceng dan
sangat tidak dibenarkan dalam akidah Ahli Sunnah wal Jamaah.
Maksudnya, ketika hati sudah dihiasi oleh sifat-sifat-Nya
yang layak dimiliki, seperti penyayang, pengasih, suka
membantu, dan lain sebagainya, maka ia akan mendapatkan
cahaya-Nya. Ia akan mampu melihat kebenaran. Hati kecilnya
selalu menunjukkan pada jalan kebenaran.
Jikalau seorang hamba melihat alam semesta, kemudian
tidak melihat kebesaran-Nya, maka itu adalah tanda kebutaan
hati dan tertutup pandangan batinnya. Sebab, Allah Swt.
berfirman:
"Dan, Dia-lah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan
(yang disembah) di bumi
" (QS. az-Zukhruf
[43]: 84).
Pertanda kebutaan hati berikutnya adalah seseorang tidak
bisa melihat-Nya di sisinya, padahal Dia lebih dekat dari
urat lehernya. Hal tersebut sebagaimana firman-Nya:
"Dan, Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
(QS. Qaaf [50]: 16).
Selain itu, ia juga tidak bisa memahami bahwa Dia adalah
Dzat yang Maha Awal dan Maha Akhir. Tidak ada seorang pun
atau apa pun sebelum dan sesudah-Nya. Ingatlah firman Allah
Swt. berikut:
"Dia-lah yang awal dan yang akhir
" (QS. al-Hadiid
[57]: 3).
Maksud melihat Allah Swt. di alam semesta ini bukan
berarti Anda melihat-Nya dengan mata telanjang. Namun, Anda
mampu melihat kebesaran-Nya melalui ciptaan-Nya. Ketika Anda
melihat pemandangan yang indah maka Anda takjub dan semakin
mengetahui kemahabesaran-Nya. Jikalau Anda melihat hujan
lebat yang diiringi angin topan maka Anda kagum dengan
kemahadahsyatan-Nya.
Sedangkan orang yang tertutup cahaya hatinya maka ia
tidak akan mampu memahami semua ini. Jikalau ia melihat
pemandangan yang indah maka ia hanya bisa menikmatinya,
tanpa merenungkan tentang Penciptanya. Jikalau ia mencicipi
makanan yang enak maka ia hanya bisa merasakan, tanpa
berusaha memikirkan siapa yang telah memberikan kenikmatan
itu kepadanya.
Di alam semesta ini, terbentang ayat-ayat Allah Swt. oleh
karena itu, para ulama membagi ayat-Nya menjadi dua bagian,
yaitu ayat qur'aniyah dan ayat kauniyah. Ayat qur'aniyah
adalah ayat-ayat yang terdapat dalam mushaf Sedangkan
ayat-ayat kauniyah adalah ayat-ayat yang terdapat di alam
semesta ini. Ayat-ayat kauniyah tidak akan mampu dilihat dan
diketahui oleh orang-orang yang hatinya terhijab.
|