|
|
49. LALAI BERDZIKIR
- "Janganlah engkau meninggalkan dzikir karena tidak
bisa konsentrasi mengingat Allah Swt. ketika
melakukannya. Sebab, kelalaianmu ketika tidak berdzikir
jauh lebih buruk daripada kelalaianmu ketika berdzikir.
Mudah-mudahan Dia mengangkatmu dari dzikir yang masih
disertai kelalaian menuju dzikir yang disertai
konsentrasi, dari dzikir yang disertai konsentrasi menuju
dzikir yang disertai semangat kehadiran-Nya, dari dzikir
yang disertai semangat kehadiran-Nya menuju dzikir yang
meniadakan segala sesuatu selain diri-Nya. Dan, itu
tidaklah sulit bagi-Nya."
Janganlah Anda meninggalkan dzikir karena tidak bisa
konsentrasi mengingat-Nya, baik karena pekerjaan maupun
urusan-urusan dunia lainnya. Jikalau Anda menyangka bahwa
sesuatu yang Anda lakukan tidak bermanfaat sama sekali, maka
itu adalah sebuah kesalahan besar.
Tidak. Sekali lagi tidak. Jangan meninggalkan dzikir.
Jikalau Anda berdzikir, walaupun hati Anda tidak bisa
konsentrasi, itu jauh lebih baik daripada Anda tidak
berdzikir sama sekali. Perbedaannya bagaikan langit dan
bumi, bagaikan dua orang yang punggungnya berhadap-hadapan
dan wajahnya saling menjauh.
Ketika seseorang meninggalkan dzikir, berarti ia
meninggalkannya secara keseluruhan. Tidak ada kebaikan yang
diperolehnya dan pahala yang didapatkannya. Sedangkan orang
yang berdzikir, walaupun hatinya masih lalai, ia masih
berhak mendapatkan pahala, terutama pahala beribadah. Orang
yang mendapatkan sebagian keutamaannya, tentu lebih baik
daripada orang yang tidak mendapatkannya sama sekali.
Berdasarkan uraian ini, kita bisa mengetahui bahwa dzikir
itu memiliki berbagai tingkatan, yaitu dzikir tanpa
konsentrasi hati (adz-dzikru ma'a wujudil ghaflah), dzikir
dengan konsentrasi (adz-dzikru ma'a yaqizhah), dzikir dengan
semangat kehadiran-Nya (adz-dzikru ma'a hudhur), dan dzikir
dengan meniadakan segala selain-Nya (adz-dzikr ma'a
ghaibah).
Jikalau Anda masih berdzikir dan konsisten
menjalankannya, maka mudah-mudahan Dia mengangkat derajat
Anda menuju dzikir yang disertai konsentrasi. Setelah itu,
mudah-mudahan Dia mengangkat Anda menuju dzikir yang
disertai semangat kehadiran-Nya. Kemudian, mudah-mudahan Dia
mengangkat Anda menuju dzikir yang meniadakan segala
selain-Nya. Menaikkan Anda dari satu tingkatan ke tingkatan
lainnya, bukanlah sesuatu yang sulit bagi-Nya. Hanya dengan
berfirman, "Terjadilah," maka sesuatu yang diinginkan-Nya
akan terjadi.
Allah Swt. sengaja membuat tahapan-tahapan ini karena
seorang hamba tidak akan mampu mencapai tingkatan tertinggi,
kecuali melalui tingkatan sebelumnya. Ada banyak hikmah yang
bisa Anda dapatkan di dalamnya.
Ketika Anda menghentikan dzikir karena tidak kunjung
mampu berkonsentrasi, maka lama-kelamaan hati Anda akan
dipenuhi kegelapan dan karat. Sehingga, jika hal tersebut
tidak dibersihkan maka cahaya hati akan padam dan
dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam kekufuran.
Selama Anda masih mempertahankan ritme dzikir, maka Dia
akan membantu Anda dengan memberikan konsentrasi yang Anda
harapkan. Lama-kelamaan, Anda akan mendapatkan tingkatan
tertinggi dalam berdzikir seperti para sufi, dan itu masih
di bawah tingkatan para nabi dan rasul.
|
|
|
(sebelum, sesudah)
KITAB AL-HIKAM DAN PENJELASANNYA
Diterjemahkan dari Kitab Al-Hikam Karya Syekh
Ibnu 'Athaillah as-Sakandari
Penyusun dan Penerjemah: D.A. Pakih Sati, Lc.
Editor: Rusdianto
Tata Sampul: Zizi
Tata Isi: Bambang
Pracetak: Wardi
Cetakan Pertama, September 2017
Penerbit: Noktah
Sampangan Gg. Perkutut No.325-B
Jl. Wonosari, Baturetno
Banguntapan Yogyakarta
Telp: (0274) 4353776, 081804374879
Fax: (0274) 4353776
E-mail: redaksi_divapress@yahoo.com,
sekred.divapress@gmail.com
Blog: www.blogdivapress.com
Website: www.divapress-online.com
Indeks Islam |
Indeks Sufi | Indeks
Artikel | Tentang
Penulis
ISNET Homepage |
MEDIA Homepage | Program
Kerja | Koleksi |
Anggota
Please direct any suggestion to
Media
Team
|