Al-Hikam dan Penjelasannya

Syekh Ibnu 'Athaillah as Sakandari

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

49. LALAI BERDZIKIR

"Janganlah engkau meninggalkan dzikir karena tidak bisa konsentrasi mengingat Allah Swt. ketika melakukannya. Sebab, kelalaianmu ketika tidak berdzikir jauh lebih buruk daripada kelalaianmu ketika berdzikir. Mudah-mudahan Dia mengangkatmu dari dzikir yang masih disertai kelalaian menuju dzikir yang disertai konsentrasi, dari dzikir yang disertai konsentrasi menuju dzikir yang disertai semangat kehadiran-Nya, dari dzikir yang disertai semangat kehadiran-Nya menuju dzikir yang meniadakan segala sesuatu selain diri-Nya. Dan, itu tidaklah sulit bagi-Nya."

Janganlah Anda meninggalkan dzikir karena tidak bisa konsentrasi mengingat-Nya, baik karena pekerjaan maupun urusan-urusan dunia lainnya. Jikalau Anda menyangka bahwa sesuatu yang Anda lakukan tidak bermanfaat sama sekali, maka itu adalah sebuah kesalahan besar.

Tidak. Sekali lagi tidak. Jangan meninggalkan dzikir. Jikalau Anda berdzikir, walaupun hati Anda tidak bisa konsentrasi, itu jauh lebih baik daripada Anda tidak berdzikir sama sekali. Perbedaannya bagaikan langit dan bumi, bagaikan dua orang yang punggungnya berhadap-hadapan dan wajahnya saling menjauh.

Ketika seseorang meninggalkan dzikir, berarti ia meninggalkannya secara keseluruhan. Tidak ada kebaikan yang diperolehnya dan pahala yang didapatkannya. Sedangkan orang yang berdzikir, walaupun hatinya masih lalai, ia masih berhak mendapatkan pahala, terutama pahala beribadah. Orang yang mendapatkan sebagian keutamaannya, tentu lebih baik daripada orang yang tidak mendapatkannya sama sekali.

Berdasarkan uraian ini, kita bisa mengetahui bahwa dzikir itu memiliki berbagai tingkatan, yaitu dzikir tanpa konsentrasi hati (adz-dzikru ma'a wujudil ghaflah), dzikir dengan konsentrasi (adz-dzikru ma'a yaqizhah), dzikir dengan semangat kehadiran-Nya (adz-dzikru ma'a hudhur), dan dzikir dengan meniadakan segala selain-Nya (adz-dzikr ma'a ghaibah).

Jikalau Anda masih berdzikir dan konsisten menjalankannya, maka mudah-mudahan Dia mengangkat derajat Anda menuju dzikir yang disertai konsentrasi. Setelah itu, mudah-mudahan Dia mengangkat Anda menuju dzikir yang disertai semangat kehadiran-Nya. Kemudian, mudah-mudahan Dia mengangkat Anda menuju dzikir yang meniadakan segala selain-Nya. Menaikkan Anda dari satu tingkatan ke tingkatan lainnya, bukanlah sesuatu yang sulit bagi-Nya. Hanya dengan berfirman, "Terjadilah," maka sesuatu yang diinginkan-Nya akan terjadi.

Allah Swt. sengaja membuat tahapan-tahapan ini karena seorang hamba tidak akan mampu mencapai tingkatan tertinggi, kecuali melalui tingkatan sebelumnya. Ada banyak hikmah yang bisa Anda dapatkan di dalamnya.

Ketika Anda menghentikan dzikir karena tidak kunjung mampu berkonsentrasi, maka lama-kelamaan hati Anda akan dipenuhi kegelapan dan karat. Sehingga, jika hal tersebut tidak dibersihkan maka cahaya hati akan padam dan dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam kekufuran.

Selama Anda masih mempertahankan ritme dzikir, maka Dia akan membantu Anda dengan memberikan konsentrasi yang Anda harapkan. Lama-kelamaan, Anda akan mendapatkan tingkatan tertinggi dalam berdzikir seperti para sufi, dan itu masih di bawah tingkatan para nabi dan rasul.

(sebelum, sesudah)


KITAB AL-HIKAM DAN PENJELASANNYA
Diterjemahkan dari Kitab Al-Hikam Karya Syekh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari

Penyusun dan Penerjemah: D.A. Pakih Sati, Lc.
Editor: Rusdianto
Tata Sampul: Zizi
Tata Isi: Bambang
Pracetak: Wardi

Cetakan Pertama, September 2017

Penerbit: Noktah
Sampangan Gg. Perkutut No.325-B
Jl. Wonosari, Baturetno
Banguntapan Yogyakarta
Telp: (0274) 4353776, 081804374879
Fax: (0274) 4353776
E-mail: redaksi_divapress@yahoo.com, sekred.divapress@gmail.com
Blog: www.blogdivapress.com
Website: www.divapress-online.com

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team