78. ORANG YANG ARIF
- "Tidak bisa disebut arif bila seseorang yang
memberi isyarat maka ia merasa mendapati Allah Swt. lebih
dekat kepadanya dari isyarat tersebut. Akan tetapi, orang
yang arif adalah yang tidak memberikan isyarat karena
fana dalam wujud-Nya dan larut dalam
penyaksian-Nya."
Tidak bisa disebut orang yang arif dan bijaksana bila
seseorang ditunjukkan sesuatu tentang Allah Swt., kemudian
ia merasa lebih dekat kepada-Nya karena merasakan
kehadiran-Nya. Misalnya, ketika Anda mengungkapkan
bahasa-bahasa kiasan yang menunjukkan eksistensi-Nya maka
itu bukan berarti Anda termasuk orang-orang yang arif.
Kata-kata hikmah yang biasanya keluar dari lisan ahli hikmah
atau para shalihin adalah efek kedekatannya dengan Sang
Pencipta, bukan semata mengada-ada.
Jikalau Anda perhatikan perkembangan sastra di dunia ini,
berapa banyak di antara mereka yang mampu membuat kata-kata
indah dan syair-syair menawan? Namun, akidah mereka tidaklah
lurus, bahkan tidak benar.
Orang yang arif adalah yang larut dalam wujud-Nya. Sekali
lagi, penulis tegaskan bahwa ini bukanlah berarti bentuk
dari wihdatul wujud, yang dianggap sesat dalam tasawuf. Ini
adalah penanda seorang hamba telah larut dalam ibadahnya dan
merasa nikmat menjalankannya.
Jikalau seorang hamba telah mencapai tingkatan ini maka
ia akan mampu mengeluarkan kata-kata indah dan bijaksana
dengan sendirinya, bukan dipaksa-paksakan. Ibarat seseorang
yang sedang jatuh cinta, kata-kata yang keluar dari lisannya
adalah kata-kata romantis yang ia sendiri bingung; bagaimana
bisa kata-kata itu keluar dari lisannya?
Cinta dan kerinduan memang bisa membuat seseorang yang
tidak mengenal syair menjadi penyair ulung, membuat seorang
penakut menjadi pemberani. Dan, itulah efek yang dirasakan
oleh orang-orang yang larut dalam penyaksian-Nya, yaitu
kebijaksanaan/kearifan.
|