Al-Hikam dan Penjelasannya

Syekh Ibnu 'Athaillah as Sakandari

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

240. JANGAN SOMBONG

Barang siapa yang merasa tawadhu’ maka ia adalah orang sombong yang sebenarnya. Sebab, tawadhu’ itu tidak akan ada, kecuali dari perasaan lebih mulia. Ketika Anda merasa tawadhu’ maka Anda adalah orang sombong yang sebenarnya.”

Tawadhu’ adalah sifat rendah hati, sehingga tidak menyombongkan kelebihan kepada siapa pun, baik kepada teman, keluarga, dan lain sebagainya. tawadhu’ adalah salah satu sifat mulia yang sangat dicintai oleh Allah Swt. Sehingga, banyak ayat dan hadits yang memerintahkan agar Anda tawadhu’.

Masalahnya sekarang, bagaimana jikalau Anda merasa tawadhu’, apakah itu masih bis a dikatakan tawadhu’?

Jawabannya tidak. Jikalau Anda menyangka bahwa Anda tawadhu’, itu artinya Anda adalah sosok yang sombong dan suka membanggakan diri. Sama halnya dengan seorang intel. Jikalau ada seorang laki-laki mengaku intel, maka ia bukanlah intel, karena orang yang memegang jabatan itu tidak mungkin akan mengaku.

Biasanya, seorang tidak akan menyombongkan diri, kecuali karena ia merasa mulia dan hebat. Misalnya, orang kaya menyombongkan dirinya karena kekayaan yang dimiliki. Orang pintar menyombongkan diri karena kepintaran yang dimiliki. Dan, masih banyak lagi contoh lainnya.

Begitu juga halnya dengan sifat tawadhu’. Sifat ini sangat mulia dan dicintai oleh Allah Swt. Artinya, jikalau Anda membanggakan diri dengan sifat tawadhu’, atau Anda merasa tawadhu’, maka sebenarnya Anda adalah sosok yang sombong.

Cukuplah Anda menjalankan semua yang diperintahkan-Nya, misalnya bersifat tawadhu’, dan tidak perlu menceritakan kelebihan Anda kepada orang lain. Tidak usah Anda mengungkapkan atau merasa diri Anda tawadhu’. Allah Swt. yang akan menilai Anda dan memberikan ganjarannya.

Janganlah Anda mengharapkan pujian dari orang lain karena sesuatu yang Anda lakukan. Misalnya, berharap agar nama Anda terkenal di hadapan khalayak. Ingar, barang siapa yang tawadhu’ dengan sebenar-benarnya, maka Allah Swt. akan meninggikan derajatnya. Dan, barang siapa yang sombong maka Dia akan merendahkannya. Dia-lah yang memegang kunci kemuliaan, yang hanya akan diberikan kepada orang yang diinginkan-Nya.

(sebelum, sesudah)


KITAB AL-HIKAM DAN PENJELASANNYA
Diterjemahkan dari Kitab Al-Hikam Karya Syekh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari

Penyusun dan Penerjemah: D.A. Pakih Sati, Lc.
Editor: Rusdianto
Tata Sampul: Zizi
Tata Isi: Bambang
Pracetak: Wardi

Cetakan Pertama, September 2017

Penerbit: Noktah
Sampangan Gg. Perkutut No.325-B
Jl. Wonosari, Baturetno
Banguntapan Yogyakarta
Telp: (0274) 4353776, 081804374879
Fax: (0274) 4353776
E-mail: redaksi_divapress@yahoo.com, sekred.divapress@gmail.com
Blog: www.blogdivapress.com
Website: www.divapress-online.com

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team