|
|
240. JANGAN SOMBONG
- Barang siapa yang merasa tawadhu
maka ia adalah orang sombong yang sebenarnya. Sebab,
tawadhu itu tidak akan ada, kecuali dari
perasaan lebih mulia. Ketika Anda merasa
tawadhu maka Anda adalah orang sombong yang
sebenarnya.
Tawadhu adalah sifat rendah hati, sehingga
tidak menyombongkan kelebihan kepada siapa pun, baik kepada
teman, keluarga, dan lain sebagainya. tawadhu
adalah salah satu sifat mulia yang sangat dicintai oleh
Allah Swt. Sehingga, banyak ayat dan hadits yang
memerintahkan agar Anda tawadhu.
Masalahnya sekarang, bagaimana jikalau Anda merasa
tawadhu, apakah itu masih bis a dikatakan
tawadhu?
Jawabannya tidak. Jikalau Anda menyangka bahwa Anda
tawadhu, itu artinya Anda adalah sosok yang
sombong dan suka membanggakan diri. Sama halnya dengan
seorang intel. Jikalau ada seorang laki-laki mengaku intel,
maka ia bukanlah intel, karena orang yang memegang jabatan
itu tidak mungkin akan mengaku.
Biasanya, seorang tidak akan menyombongkan diri, kecuali
karena ia merasa mulia dan hebat. Misalnya, orang kaya
menyombongkan dirinya karena kekayaan yang dimiliki. Orang
pintar menyombongkan diri karena kepintaran yang dimiliki.
Dan, masih banyak lagi contoh lainnya.
Begitu juga halnya dengan sifat tawadhu.
Sifat ini sangat mulia dan dicintai oleh Allah Swt. Artinya,
jikalau Anda membanggakan diri dengan sifat
tawadhu, atau Anda merasa tawadhu,
maka sebenarnya Anda adalah sosok yang sombong.
Cukuplah Anda menjalankan semua yang diperintahkan-Nya,
misalnya bersifat tawadhu, dan tidak perlu
menceritakan kelebihan Anda kepada orang lain. Tidak usah
Anda mengungkapkan atau merasa diri Anda
tawadhu. Allah Swt. yang akan menilai Anda dan
memberikan ganjarannya.
Janganlah Anda mengharapkan pujian dari orang lain karena
sesuatu yang Anda lakukan. Misalnya, berharap agar nama Anda
terkenal di hadapan khalayak. Ingar, barang siapa yang
tawadhu dengan sebenar-benarnya, maka Allah
Swt. akan meninggikan derajatnya. Dan, barang siapa yang
sombong maka Dia akan merendahkannya. Dia-lah yang memegang
kunci kemuliaan, yang hanya akan diberikan kepada orang yang
diinginkan-Nya.
|
|
|
(sebelum, sesudah)
KITAB AL-HIKAM DAN PENJELASANNYA
Diterjemahkan dari Kitab Al-Hikam Karya Syekh
Ibnu 'Athaillah as-Sakandari
Penyusun dan Penerjemah: D.A. Pakih Sati, Lc.
Editor: Rusdianto
Tata Sampul: Zizi
Tata Isi: Bambang
Pracetak: Wardi
Cetakan Pertama, September 2017
Penerbit: Noktah
Sampangan Gg. Perkutut No.325-B
Jl. Wonosari, Baturetno
Banguntapan Yogyakarta
Telp: (0274) 4353776, 081804374879
Fax: (0274) 4353776
E-mail: redaksi_divapress@yahoo.com,
sekred.divapress@gmail.com
Blog: www.blogdivapress.com
Website: www.divapress-online.com
Indeks Islam |
Indeks Sufi | Indeks
Artikel | Tentang
Penulis
ISNET Homepage |
MEDIA Homepage | Program
Kerja | Koleksi |
Anggota
Please direct any suggestion to
Media
Team
|