|
|
252. ALLAH SWT. MENARIK PARA SALIK
- "Allah Swt. menunjukkan wujud nama-Nya dengan
wujud makhluk-Nya, menunjukkan sifat-Nya dengan wujud
nama-Nya, dan menunjukkan Dzat-Nya dengan sifat-Nya,
sebab sifat itu mustahil bisa berdiri sendiri.
Orang-orang yang ditarik kepada-Nya dibukakan
kesempurnaan Dzat-Nya, kemudian dikembalikan kepada
penyaksian sifat-Nya, lalu dikembalikan kepada
kebergantungan dengan nama-Nya, kemudian dikembalikan
kepada penyaksian makhluk-Nya. Dan, para salik mengalami
sesuatu yang sebaliknya. Akhir perjalanan para salik
adalah awal orang-orang yang ditarik kepada-Nya. Dan,
awal para salik adalah akhir orang-orang yang ditarik
kepada-Nya. Akan tetapi, itu bukan satu makna, walaupun
bisa saja keduanya bertemu di jalan. Satunya sedang
melakukan perjalanan naik, dan satunya lagi sedang
melakukan perjalanan turun.
Cobalah Anda perhatikan sesuatu yang ada di dunia ini.
Apa saja yang Anda alami dalam kehidupan sehari-hari?
Ketahuilah bahwa semua itu menunjukkan asma Allah Swt.
Anda dan seluruh yang ada adalah makhluk, maka Dia adalah
Khaliq. Anda dan makhluk lainnya diberi rezeki oleh Allah
Swt., sesuai dengan salah satu nama-Nya, yaitu Raziq
(Pemberi rezeki). Anda dan makhluk lainnya diberi kehidupan,
sesuai dengan namanya yang Muhyi (Dzat yang menghidupkan).
Dan, banyak lagi nama lainnya yang berkaitan dengan keadaan
yang dialami makhluk-Nya.
Ketahuilah bahwa setiap nama yang menunjukkan
eksistensi-Nya juga menunjukkan sifat-Nya. Jikalau Anda
mengatakan bahwa nama-Nya adalah ar-Rahman (Maha Pengasih),
maka sifat-Nya adalah Pengasih. Jikalau Anda mengatakan
bahwa Dia adalah al-Khaliq (Pencipta), maka sifat-Nya adalah
mencipta. Begitu juga halnya dengan semua nama-Nya yang
lain. Masing-masing mengandung sifat yang agung.
Kemudian, Allah Swt. menunjukkan Dzat-Nya kepada Anda
dengan sifat-Nya. Tidak mungkin suatu sifat menjadi ada,
namun tidak ada pemiliknya. Semua sifat-sifat yang mulia
yang pernah Anda kenal, bahkan yang tidak Anda kenal sama
sekali, maka pemilik yang hakiki, yaitu Allah Swt. Dia-lah
Raja Diraja dan Penguasa alam semesta ini. Semua ketentuan
dan ketetapan berada di tangan-Nya.
Jikalau Allah Swt. ingin menarik orang-orang yang
diinginkan-Nya ke hadirat-Nya dari alam yang penuh debu dan
kotoran ini, maka Dia akan menarik mereka untuk menyaksikan
kesempurnaan Dzat-Nya. Kemudian, Dia akan mengembalikan
mereka untuk menyaksikan sifat-Nya yang berdiri sendiri. Dia
akan mengembalikan mereka untuk bergantung dengan
asma-Nya. Lalu, Dia mengembalikan mereka untuk
menyaksikan alam semesta-Nya. Gaya urutannya adalah turun ke
bawah.
Jikalau Anda ingin mengumpamakan hal tersebut, maka ini
sama halnya dengan seseorang yang mengunjungi Kabah.
Selama ini, ia belum pernah menyaksikan dan tidak tahu
bagaimana detail Kabah. Hanya saja, di dalam hatinya,
ia meyakini keberadaannya sepenuh hati. Ketika ia
menyaksikan Kabah, maka ia baru bisa menggambarkan
bentuk dan sifatnya.
Keadaan ini berbeda dengan para salik. Mereka terlebih
dahulu menyaksikan alam untuk menunjukkan asma-Nya.
Kemudian, asma -Nya menunjukkan sifat-Nya. Sedangkan
sifat-Nya menunjukkan Dzat-Nya. Gaya urutannya adalah gaya
mendaki.
Kedua golongan ini bisa saja bertemu dalam perjalanan
masing-masing menuju Allah Swt. Misalnya, pertemuan itu
terjadi ketika orang-orang yang ditarik kepada-Nya akan
turun menuju asma dari sifat-Nya, maka para salik
sedang mendaki dari tingkatan atsar menuju asma
-Nya.
Siapakah yang paling cepat sampai ke hadirat-Nya? Tentu,
kelompok orang yang ditarik-Nya. Namun, dalam hal ini mereka
sedikit sekali yang bisa memberikan manfaat dari sesuatu
yang didapatkan kepada orang lain. Bahkan, sama sekali tidak
menghunjam dalam diri mereka, sebab mereka tidak memahami
penyebab diri mereka bisa sampai secepat
Sebaliknya, para salik memang agak lambat sampai di
sisi-Nya, namun mereka lebih mampu menjelaskan proses
perjalanan mereka kepada orang lain, serta memberikan
manfaat kepada mereka. Sebab, mereka benar-benar mengetahui
tahapan-tahapan yang mereka lalui. Mereka merasakan betul
setiap langkah yang mereka lalui.
|