Al-Hikam dan Penjelasannya

Syekh Ibnu 'Athaillah as Sakandari

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

252. ALLAH SWT. MENARIK PARA SALIK

"Allah Swt. menunjukkan wujud nama-Nya dengan wujud makhluk-Nya, menunjukkan sifat-Nya dengan wujud nama-Nya, dan menunjukkan Dzat-Nya dengan sifat-Nya, sebab sifat itu mustahil bisa berdiri sendiri. Orang-orang yang ditarik kepada-Nya dibukakan kesempurnaan Dzat-Nya, kemudian dikembalikan kepada penyaksian sifat-Nya, lalu dikembalikan kepada kebergantungan dengan nama-Nya, kemudian dikembalikan kepada penyaksian makhluk-Nya. Dan, para salik mengalami sesuatu yang sebaliknya. Akhir perjalanan para salik adalah awal orang-orang yang ditarik kepada-Nya. Dan, awal para salik adalah akhir orang-orang yang ditarik kepada-Nya. Akan tetapi, itu bukan satu makna, walaupun bisa saja keduanya bertemu di jalan. Satunya sedang melakukan perjalanan naik, dan satunya lagi sedang melakukan perjalanan turun.”

Cobalah Anda perhatikan sesuatu yang ada di dunia ini. Apa saja yang Anda alami dalam kehidupan sehari-hari? Ketahuilah bahwa semua itu menunjukkan asma’ Allah Swt. Anda dan seluruh yang ada adalah makhluk, maka Dia adalah Khaliq. Anda dan makhluk lainnya diberi rezeki oleh Allah Swt., sesuai dengan salah satu nama-Nya, yaitu Raziq (Pemberi rezeki). Anda dan makhluk lainnya diberi kehidupan, sesuai dengan namanya yang Muhyi (Dzat yang menghidupkan). Dan, banyak lagi nama lainnya yang berkaitan dengan keadaan yang dialami makhluk-Nya.

Ketahuilah bahwa setiap nama yang menunjukkan eksistensi-Nya juga menunjukkan sifat-Nya. Jikalau Anda mengatakan bahwa nama-Nya adalah ar-Rahman (Maha Pengasih), maka sifat-Nya adalah Pengasih. Jikalau Anda mengatakan bahwa Dia adalah al-Khaliq (Pencipta), maka sifat-Nya adalah mencipta. Begitu juga halnya dengan semua nama-Nya yang lain. Masing-masing mengandung sifat yang agung.

Kemudian, Allah Swt. menunjukkan Dzat-Nya kepada Anda dengan sifat-Nya. Tidak mungkin suatu sifat menjadi ada, namun tidak ada pemiliknya. Semua sifat-sifat yang mulia yang pernah Anda kenal, bahkan yang tidak Anda kenal sama sekali, maka pemilik yang hakiki, yaitu Allah Swt. Dia-lah Raja Diraja dan Penguasa alam semesta ini. Semua ketentuan dan ketetapan berada di tangan-Nya.

Jikalau Allah Swt. ingin menarik orang-orang yang diinginkan-Nya ke hadirat-Nya dari alam yang penuh debu dan kotoran ini, maka Dia akan menarik mereka untuk menyaksikan kesempurnaan Dzat-Nya. Kemudian, Dia akan mengembalikan mereka untuk menyaksikan sifat-Nya yang berdiri sendiri. Dia akan mengembalikan mereka untuk bergantung dengan asma’-Nya. Lalu, Dia mengembalikan mereka untuk menyaksikan alam semesta-Nya. Gaya urutannya adalah turun ke bawah.

Jikalau Anda ingin mengumpamakan hal tersebut, maka ini sama halnya dengan seseorang yang mengunjungi Ka’bah. Selama ini, ia belum pernah menyaksikan dan tidak tahu bagaimana detail Ka’bah. Hanya saja, di dalam hatinya, ia meyakini keberadaannya sepenuh hati. Ketika ia menyaksikan Ka’bah, maka ia baru bisa menggambarkan bentuk dan sifatnya.

Keadaan ini berbeda dengan para salik. Mereka terlebih dahulu menyaksikan alam untuk menunjukkan asma’-Nya. Kemudian, asma’ -Nya menunjukkan sifat-Nya. Sedangkan sifat-Nya menunjukkan Dzat-Nya. Gaya urutannya adalah gaya mendaki.

Kedua golongan ini bisa saja bertemu dalam perjalanan masing-masing menuju Allah Swt. Misalnya, pertemuan itu terjadi ketika orang-orang yang ditarik kepada-Nya akan turun menuju asma’ dari sifat-Nya, maka para salik sedang mendaki dari tingkatan atsar menuju asma’ -Nya.

Siapakah yang paling cepat sampai ke hadirat-Nya? Tentu, kelompok orang yang ditarik-Nya. Namun, dalam hal ini mereka sedikit sekali yang bisa memberikan manfaat dari sesuatu yang didapatkan kepada orang lain. Bahkan, sama sekali tidak menghunjam dalam diri mereka, sebab mereka tidak memahami penyebab diri mereka bisa sampai secepat

Sebaliknya, para salik memang agak lambat sampai di sisi-Nya, namun mereka lebih mampu menjelaskan proses perjalanan mereka kepada orang lain, serta memberikan manfaat kepada mereka. Sebab, mereka benar-benar mengetahui tahapan-tahapan yang mereka lalui. Mereka merasakan betul setiap langkah yang mereka lalui.

(sebelum, sesudah)


KITAB AL-HIKAM DAN PENJELASANNYA
Diterjemahkan dari Kitab Al-Hikam Karya Syekh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari

Penyusun dan Penerjemah: D.A. Pakih Sati, Lc.
Editor: Rusdianto
Tata Sampul: Zizi
Tata Isi: Bambang
Pracetak: Wardi

Cetakan Pertama, September 2017

Penerbit: Noktah
Sampangan Gg. Perkutut No.325-B
Jl. Wonosari, Baturetno
Banguntapan Yogyakarta
Telp: (0274) 4353776, 081804374879
Fax: (0274) 4353776
E-mail: redaksi_divapress@yahoo.com, sekred.divapress@gmail.com
Blog: www.blogdivapress.com
Website: www.divapress-online.com

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team