|
|
1. Pentingnya Ilmu
Pentingnya Tuhan berfirman, ketika menerangkan tentang
para ulama: Dari mereka yang menghamba kepada
Tuhan, hanya para ulama yang takut kepada-Nya (QS
35:25). Nabi berkata: Mencari ilmu wajib bagi setiap
lelaki dan wanita Muslim, dan beliau juga mengatakan:
Carilah ilmu sampai ke negeri Cina sekalipun.
Ilmu tak terukur, dan hidup itu singkat; karena itu,
tidaklah wajib mempelajari semua ilmu, seperti ilmu
perbintangan dan kedokteran, dan ilmu hitung, dan
sebagainya, kecuali sejauh ilmu-ilmu itu berkaitan dengan
Syariat agama: mempelajari ilmu perbintangan untuk
mengetahui waktu (shalat) di malam hari, mempelajari ilmu
kedokteran untuk menjauhkan diri dari sakit, mempelajari
ilmu hitung untuk memahami pembagian warisan dan menghitung
masa iddah,1 dan sebagainya. Ilmu
menjadi wajib hanya sejauh diperlukan untuk berbuat benar.
Tuhan mengutuk mereka yang mempelajari ilmu yang tak berguna
(QS 2: 96), dan Nabi berkata: Aku berlindung kepada
Tuhan dari ilmu yang tak bermanfaat. Banyak yang dapat
dikerjakan dengan pengetahuan sedikit, dan pengetahuan tidak
boleh dipisahkan dari tindakan. Nabi berkata: Orang
yang taat beribadah yang tak memiliki pengetahuan tentang
Tuhan, bagaikan keledai yang menggerakkan jentera,
karena keledai terus berputar-putar di tempat dan tak pernah
melangkah maju.
Sebagian orang menganggap pengetahuan lebih tinggi
daripada tindakan, sementara yang lain menomorsatukan
tindakan, namun kedua golongan itu salah. Sebelum tindakan
dipadukan dengan pengetahuan, patut menerima pahala. Shalat,
sebagai contoh, baru dapat disebut shalat bila dilakukan
dengan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip penyucian dan
hal-hal yang bertalian dengan kiblat, dan dengan pengetahuan
tentang watak niat. Belajar dan menghapal adalah tindakan
yang membuat seseorang memperoleh pahala di hari kemudian;
jika dia memperoleh pengetahuan tanpa berusaha, dia tidak
akan memperoleh pahala. Di sini kedua golongan manusia itu
keliru: pertama, mereka yang menuntut pengetahuan demi
memperoleh nama baik di masyarakat namun tak mampu
mempraktikkannya, dan dalam kenyataan tidak memperolehnya;
dan kedua, mereka yang menganggap bahwa praktik sudah cukup
dan bahwa pengetahuan tidak perlu. Diceritakan ketika
Ibrahim bin Adham melihat sebuah batu yang di atasnya
tertera tulisan, Balikkan aku dan baca! Dia
mematuhi, dan terdapatlah tulisan: Kau yang tak
melaksanakan apa yang kau ketahui; lantas mengapa kau
mencari apa yang tak kau ketahui? Anas bin Malik
berkata: Orang yang bijak bercita-cita untuk
mengetahui, orang yang bodoh bercita-cita untuk
menceritakan. Dia yang menggunakan pengetahuannya
dengan tujuan memperoleh kekuasaan, kehormatan dan kekayaan,
bukanlah ulama. Puncak tertinggi pengetahuan terungkap dalam
kenyataan bahwa tanpa pengetahuan tak seorang pun mengenal
Tuhan.
Dua Macam Pengetahuan
Pengetahuan ada dua macam: Ketuhanan dan kemanusiaan.
Pengetahuan manusia kurang bernilai dibandingkan dengan
pengetahuan Tuhan, karena pengetahuan Tuhan adalah sifat
dari Diri-Nya, maujud dalam Dia, yang sifat-sifat-Nya tak
terhingga; sedangkan pengetahuan kita adalah sifat dari diri
kita, maujud dalam diri kita, yang sifat-sifatnya terbatas.
Pengetahuan telah didefinisikan sebagai pemahaman dan
penyelidikan atas objek yang diketahui, tetapi,
definisi terbaik tentangnya adalah begini: Suatu
kualitas yang membuat orang yang bodoh menjadi bijak.
Pengetahuan Tuhan adalah pengetahuan yang dengan itu Tuhan
mengetahui segala yang maujud dan yang tidak: pengetahuan
seperti ini hanya milik Tuhan, tidak dapat dibagi dan tidak
dapat dipisahkan dari Diri-Nya. Bukti tentangnya terletak
dalam sifat tindakan-tindakan-Nya, karena tindakan menuntut
adanya pengetahuan pada diri pelakunya sebagai syarat
mutlak. Pengetahuan Tuhan meliputi apa yang tersembunyi dan
meliputi apa yang nyata. Sudah selayaknya penuntut ilmu
berpikir tentang Tuhan dalam setiap tindakannya, mengetahui
bahwa Tuhan melihatnya dan melihat segala yang
diperbuatnya.
Kisah. Mereka menceritakan bahwa seorang yang
terkemuka di Bashrah pergi ke kebunnya. Secara kebetulan
matanya melihat istri tukang kebunnya yang cantik jelita.
Dia mengirim tukang kebun itu ke tempat jauh untuk melakukan
perniagaan, dan berkata kepada perempuan itu: Tutuplah
pintu. Wanita itu menjawab: Aku telah menutup
semuanya, kecuali satu, yang tak dapat kututup. Orang
terkemuka itu bertanya: Pintu yang mana itu?
Pintu, kata wanita itu, yang ada antara
kita dan Tuhan. Setelah menerima jawaban ini lelaki
itu bertobat dan minta maaf.
Hatim Al-Asham berkata: Aku telah memilih empat hal
untuk diketahui, dan mengesampingkan semua pengetahuan di
dunia. Dia ditanya: Apa saja itu?
Satu, jawabnya, adalah ini: aku mengetahui
bahwa roti sehari-hariku telah diberikan untukku, dan tidak
akan pernah bertambah maupun berkurang; akibatnya, aku telah
berhenti berupaya menambahnya. Kedua, aku mengetahui bahwa
aku punya utang kepada Tuhan yang tak ada orang lain bisa
membayarnya kecuali aku sendiri; karena itu, aku berupaya
membayarnya. Ketiga, aku mengetahui bahwa ada satu yang
memburuku (yaitu maut), yang darinya aku tidak bisa
melarikan diri; karena itu, aku telah mempersiapkan diriku
untuk menemuinya. Keempat, aku mengetahui bahwa Tuhan
melihatku; karena itu, aku malu berbuat apa yang seharusnya
tak kuperbuat.
Pengetahuan tentang Kebenaran
Sasaran pengetahuan manusia mestilah untuk mengenal Tuhan
dan Perintah-perintah-Nya. Pengetahuan tentang
waktu (ilm-i waqt)2 dan
tentang semua keadaan lahir dan batin, yang pengaruh keadaan
itu bergantung pada waktu, wajib atas setiap
orang. Ini ada dua macam: utama dan pelengkap. Bagian lahir
kelompok yang utama adalah membuat pengakuan seorang Muslim
akan iman, sedangkan bagian batinnya adalah pencapaian
pemahaman sejati. Bagian lahir kelompok pelengkap adalah
pelaksanaan ibadah, sedangkan bagian batinnya adalah niat
tulus. Segi lahir dan batin tidak dapat diceraikan. Segi
eksoterik Kebenaran tanpa segi esoteriknya adalah
kemunafikan, dan segi esoterik tanpa segi eksoterik adalah
bidah. Maka, mengenai Syariat, melulu formalitas
(kejasmanian) adalah cacat, sementara melulu keruhanian
adalah sia-sia.
Pengetahuan tentang Kebenaran (Haqiqat) memiliki
tiga tiang:
- (1) Pengetahuan tentang Zat dan Keesaan
Tuhan.
- (2) Pengetahuan tentang Sifat-sifat Tuhan.
- (3) Pengetahuan tentang Tindakan-tindakan dan
Kebijaksanaan Tuhan.
Pengetahuan tentang Syariat juga memiliki tiga
tiang:
- (1) Al-Quran.
- (2) Sunnah.
- (3) Ijma.
Pengetahuan tentang Zat Tuhan melibatkan pengakuan, di
pihak seseorang yang berakal dan telah mencapai kedewasaan,
bahwa Tuhan maujud secara lahir dengan zat-Nya, bahwa Dia
tak terhingga dan tak terikat oleh ruang, bahwa zat-Nya
bukan penyebab keburukan, bahwa tak satu pun makhluk-Nya
menyerupai Dia, bahwa Dia tidak beristri dan tidak beranak,
dan bahwa Dia adalah Pencipta dan Pemelihara segala yang
dapat ditangkap angan-angan dan akalmu.
Pengetahuan tentang Sifat-sifat Tuhan menuntut kau untuk
mengetahui bahwa Tuhan memiliki sifat-sifat yang maujud di
dalam Diri-Nya, yang bukan Dia maupun bukan bagian dari Dia,
namun maujud di dalam Dia dan hidup oleh Dia, misalnya
Pengetahuan, Kekuatan, Hidup, Kehendak, Mendengar, Melihat,
Berfirman, dan lain sebagainya.
Pengetahuan tentang Tindakan-tindakan Tuhan adalah
pengetahuanmu bahwa Tuhan adalah Pencipta umat manusia dan
semua tindakan mereka, bahwa Dia menjadikan alam semesta
yang tak maujud menjadi maujud, bahwa Dia menentukan baik
dan buruk dan menciptakan segala yang bermanfaat dan
merugikan.
Pengetahuan tentang Syariat melibatkan
pengetahuanmu bahwa Tuhan telah mengutus para Rasul dengan
mukjizat-mukjizatnya; bahwa Rasul kita, Muhammad saw.,
adalah Rasul yang sejati, yang menunjukkan banyak mukjizat,
dan bahwa apa pun yang beliau katakan kepada kita mengenai
Yang Gaib dan Yang Tampak adalah benar semata-mata.
Aliran Sesat
Ada aliran sesat (zindiq) yang disebut Sofis
(Sufisthaiyan), yang percaya bahwa tak satu pun yang
dapat diketahui dan bahwa pengetahuan itu sendiri tidak
maujud. Aku mengatakan kepada mereka: Kau mengira
bahwa tak ada sesuatu yang dapat diketahui, benar tidak
pandanganmu? Jika mereka menjawab, Benar!
maka mereka justru membenarkan kenyataan pengetahuan; dan
jika mereka menjawab, Itu tidak benar maka
menolak pernyataan yang batal adalah konyol. Ajaran yang
sama dianut oleh sebuah aliran orang-orang sesat yang
berkaitan dengan tasawuf. Mereka berkata bahwa, karena tidak
ada yang bisa diketahui, penyangkalan mereka terhadap
pengetahuan lebih sempurna daripada peneguhan terhadapnya.
Pernyataan ini berangkat dari ketololan dan kebodohan
mereka. Penyangkalan terhadap pengetahuan haruslah merupakan
akibat dari pengetahuan, atau dari kebodohan. Kini, tidak
mungkin bagi pengetahuan untuk menyangkal pengetahuan;
karena pengetahuan tidak dapat disangkal kecuali oleh
kebodohan, yang hampir mirip dengan kekafiran dan kepalsuan;
karena tidak ada pertalian antara kebodohan dan kebenaran.
Ajaran yang kita bicarakan ini bertentangan dengan ajaran
semua Syaikh Sufi, tetapi secara umum dinisbahkan kepada
para Sufi oleh orang yang mendengar dan menganutnya. Aku
serahkan mereka kepada Tuhan, terserah kepada-Nya apakah
mereka akan terus-menerus berada dalam kesalahan. Jika agama
menguasai mereka, mereka akan berbuat lebih hati-hati dan
tidak akan salah menilai Sahabat-sahabat Tuhan dan akan
lebih memperhatikan apa yang berkenaan dengan mereka
sendiri. Walaupun beberapa orang sesat mengaku sebagai Sufi
dalam upaya menyembunyikan ketololan mereka di bawah
keindahan orang lain, mengapa harus ada anggapan bahwa semua
Sufi adalah seperti pembohong-pembohong ini, dan bahwa
benarlah memperlakukan mereka semua dengan penghinaan. Orang
yang ingin dikenal sebagai orang yang berilmu dan religius,
namun nyata-nyata tidak memiliki pengetahuan dan agama,
suatu kali berkata kepadaku: Ada dua belas aliran
sesat, dan satu di antaranya berkembang di antara mereka
yang menganut tasawuf (mutashawwifah). Aku. menjawab:
Jika satu aliran itu milik kami, maka yang sebelas
milikmu; dan para Sufi lebih dapat melindungi dirinya dari
satu aliran daripada kau dapat mengatasi yang sebelas.
Semua kesesatan ini timbul dari kerusakan dan kemerosotan
masa, namun Tuhan selalu menyembunyikan Wali-wali-Nya dari
orang banyak dan menjauhkan dari orang-orang yang tak
bertuhan. Berkata pembimbing keruhanian terkemuka, Ali
bin Bundar Al-Shayrafi:3 Kerusakan hati
manusia sejalan dengan kerusakan masa.
Sekarang, dalam pasal berikut, akan aku kutip beberapa
pernyataan para Sufi sebagai peringatan terhadap orang-orang
yang ragu, orang-orang yang diperhatikan oleh Tuhan.
Pernyataan Para Sufi tentang
Pengetahuan
Muhammad bin Fadhl Al-Balkhi berkata: Pengetahuan
ada tiga macam - dari Tuhan, dengan Tuhan, dan tentang
Tuhan. Pengetahuan tentang Tuhan adalah ilmu makrifat,
yang dengan ini Dia dapat diketahui oleh semua Nabi dan
wali-Nya. Ia tidak bisa diperoleh dengan cara-cara yang
biasa, tetapi adalah hasil dari petunjuk dan penerangan
Tuhan. Pengetahuan dari Tuhan adalah ilmu tentang
Syariat, yang telah Dia perintahkan dan wajibkan atas
kita. Pengetahuan dengan Tuhan adalah ilmu tentang
maqam-maqam, jalan, dan tingkatan-tingkatan para
wali. makrifat tak punya gaung tanpa penerimaan
Syariat, dan Syariat tak terlaksana secara benar
sebelum maqam-maqam terejawantahkan. Abu Ali Tsaqafi4
berkata: Al-ilm hayat al-qalb min al-jahl wanur
al-ayn min al-zhulmat. (Pengetahuan adalah hidupnya
hati, yang mewujudkannya dari matinya kebodohan: ia adalah
cahaya mata iman, yang melindunginya dari gelapnya
kekafiran). Hati orang-orang kafir mati karena mereka tak
kenal Tuhan, dan hati orang yang lalai sakit karena mereka
tak mengenal perintah-perintah-Nya. Abu Bakr Warraq dari
Tirmidz berkata: Mereka yang puas dengan perdebatan
(kalam) tentang pengetahuan, dan tidak melaksanakan
asketisme (zuhud) menjadi zindiq; dan mereka yang puas
dengan yurisprudensi (fiqh) dan tidak menahan diri
dari dosa (wara), menjadi berdosa. Ini berarti
bahwa Tauhid tanpa amal adalah takdir (jabr), sedangkan
pengucap Tauhid harus menganut ajaran takdir, namun berbuat
seakan-akan dia percaya kepada kehendak bebas, mengambil
jalan tengah antara kehendak bebas dan takdir. Begitulah
arti yang benar dari perkataan lain yang diucapkan oleh guru
keruhanian itu, yakni: Tauhid di bawah takdir,
dan di atas kehendak bebas.
Tidak adanya agama yang benar dan akhlak timbul dari
kelalaian (ghaflat). Berkata, guru besar, Yahya bin
Muadz Al-Razi: Jauhkan masyarakat dari tiga
golongan manusia - ulama-ulama yang lalai, para pembaca
Al-Quran yang munafik, dan orang-orang bodoh yang mengaku
pengikut jalan tasawuf. Ulama-ulama yang lalai
mengarahkan hati mereka kepada keuntungan duniawi dan
berusaha mengambil hati penguasa dan pemimpin yang zalim,
dan disesatkan oleh kepandaiannya mengisi waktu dengan
perdebatan, dan menyerang ahli-ahli agama yang terkemuka.
Para pembaca Al-Quran yang munafik memuji apa saja yang
sesuai dengan keinginan mereka, sekalipun keinginan itu
buruk, dan mengutuk apa saja yang tidak mereka sukai,
sekalipun yang dikutuk itu baik: mereka berusaha mencari
muka dengan berlaku munafik. Penipu-penipu sesat yang
mengaku pengikut jalan tasawuf tak pernah berguru kepada
seorang ahli keruhanian (pir), bukan pula murid seorang
Syaikh, namun tanpa pengalaman apa pun mereka menerjunkan
diri dalam masyarakat, dan mengenakan jubah biru (kabudi),
dan menempuh jalan liar.
Abu Yazid Bisthami berkata: Aku berjuang dalam
pertarungan ruhani selama tiga puluh tahun, dan aku tak
mendapatkan apa pun yang lebih sulit menurutku selain
pengetahuan dan menuntut pengetahuan. Adalah lebih
mudah bagi kodrat manusia untuk berjalan di atas api
dibanding mengikuti jalan pengetahuan, dan hati yang bodoh
akan lebih siap menyeberangi Jembatan (Shirat) seribu kali
dibanding mempelajari satu pengetahuan; dan orang yang jahat
lebih suka memasang tendanya di neraka dibanding mengamalkan
satu pengetahuan. Karena itu, kau harus mempelajari
pengetahuan dan mencari kesempurnaan di dalamnya.
Sempurnanya pengetahuan manusia adalah kejahilan akan
pengetahuan Tuhan. Kau harus cukup tahu bahwa kau tak tahu.
Yakni, pengetahuan manusia hanya mungkin bagi manusia, dan
kemanusiaan adalah rintangan terbesar yang memisahkannya
dari Ketuhanan. Seperti dikatakan penyair:
- Al-ajzu an daraki al-idraki
idraku
- Wa al-waqfu fi thuruqi al-akhyari isyraku
-
- Penglihatan sejati adalah keputusasaan untuk dapat
melihat,
- Namun tidak melangkah di jalan kebaikan adalah
kesyirikan.
Barangsiapa tidak mau belajar dan tetap berada dalam
kebodohannya, adalah seorang musyrik, namun bagi yang
belajar, bilamana pengetahuannya menjadi sempurna, kenyataan
tersingkap, dan dia melihat bahwa pengetahuannya tidak lebih
daripada ketidakmampuannya untuk mengetahui tujuan apa yang
akan dicapainya, karena kenyataan-kenyataan tidaklah
dipengaruhi oleh nama-nama yang diberikan kepada
mereka.
Catatan Kaki:
- Periode yang di dalamnya seorang wanita, yang telah
bercerai atau yang suaminya telah meninggal, tidak boleh
menikah lagi.
- Waktu (waqt) digunakan oleh para
Sufi untuk mengartikan keadaan keruhanian di mana
seseorang menemukan dirinya, dan dengan mana ia terkuasai
saat itu. Ungkapan ilm-i waqt tertera
kembali dalam catatan Abu Sulayman Al-Darani (bab x, no.
17), di mana waqt diterangkan sebagai berarti
terpeliharanya keadaan keruhanian seseorang.
Menurut definisi yang diberikan oleh Sahl bin
Abdallah Al-Tustari, waqt adalah
mencari pengetahuan tentang keadaan, yaitu
kepastian (hukm) keadaan seseorang, yang maujud
antara dia dan Tuhan di dunia ini dan di akhirat
nanti.
- Sufi terkenal dari Nisyapur, yang wafat pada tahun
359 Hijri (Nafahat, No. 118).
- Juga berasal dari Nisyapur. Wafat pada tahun 328
Hijri (Nafahat, No. 248).
|