|
|
Mukadimah
Bismillahirrahmanirrahim
Ya Tuhan, limpahilah kami ampunan dan kasih
sayang-Mu dan tunjukkan kepada kami jalan samalan yang
benar.
Segala puji bagi Allah, yang telah menyingkapkan
rahasia-rahasia kerajaan-Nya kepada Wali-wali-Nya, dan
yang telah memperlihatkan rahasia-rahasia kekuasaan-Nya
kepada orang-orang yang dekat dengan-Nya, dan yang telah
menumpahkan darah para Pencinta dengan pedang
kemuliaan-Nya, dan yang telah mempersilakan kalbu ahli
makrifat mencecap keriangan perjamuan-Nya! Dialah yang
menghidupkan kalbu-kalbu yang mati dengan cahaya
penglihatan akan kekekalan-Nya dan keagungan-Nya, dan
yang mengobarkan kembali jiwa mereka dengan semangat
pengetahuan yang menyenangkan melalui pengungkapan
Nama-nama-Nya.
Dan damai sejahteralah Rasul-Nya, Muhammad, beserta
keluarga, para sahabat dan istri-istrinya.
'Ali bin 'Utsman bin 'Ali Al-Jullabi Al-Ghaznawi
Al-Hujwiri (semoga ridha Allah tercurah atasnya) berujar
sebagai berikut:
Aku telah memohon berkah Tuhan, dan telah membersihkan
hatiku dari dorongan-dorongan yang berhubungan dengan nafsu
diri, dan telah bekerja sesuai dengan permintaanmu -
mudah-mudahan Tuhan melimpahkan kebahagiaan kepadamu! - dan
telah berketetapan hati untuk memenuhi semua keinginanmu
melalui buku ini. Aku memberinya judul Kasyf
Al-Mahjub. Setelah mengetahui keinginanmu, aku menyusun
buku ini dalam bab-bab yang sesuai dengan maksudmu. Kini aku
berdoa kepada Tuhan agar Dia menolong aku menyelesaikannya,
dan aku kerahkan seluruh daya dan kemampuanku dalam
kata-kata dan tindakan. Tuhanlah yang mengaruniai
keberhasilan.
Dua pertimbangan telah mendorongku membubuhkan namaku di
awal buku ini: pertimbangan khusus dan pertimbangan
umum.1 Mengenai yang disebut terakhir, bilamana
orang-orang yang kurang mengetahui ilmu ini melihat sebuah
buku baru, yang di beberapa tempat nama pengarangnya tidak
dibubuhkan, mereka menisbahkan karyanya kepada diri mereka
sendiri, dan karena itu maksud si pengarang tersingkirkan;
padahal sebuah buku disusun dan ditulis dengan tujuan agar
nama pengarangnya tetap diingat, dan agar pembaca dan para
siswa menyampaikan berkah kepadanya. Kemalangan ini telah
menimpaku dua kali. Seseorang meminjam karya-karyaku tentang
puisi, yang tidak ada lagi salinannya, dan menyatakan naskah
itu sebagai miliknya, kemudian mengedarkannya, mencoret
namaku dari naskah itu, dan membuat seluruh kerjaku sia-sia.
Semoga Tuhan mengampuninya! Aku juga menyusun buku yang
lain, yang berjudul "Jalan Terang Agama" (Minhaj
Al-Din), mengenai metode tasawuf - semoga Tuhan
membuatnya berkembang! Seorang penipu yang picik, yang
kata-katanya sama sekali tidak berbobot, mencoret namaku
dari halaman judul, dan menyatakan kepada khalayak bahwa
dialah pengarangnya, walaupun para ahli menertawakan
pernyataannya. Tetapi Tuhan menyadarkannya sepenuhnya akan
perbuatannya yang tidak diberkahi itu, dan menghapus namanya
dari daftar orang-orang yang berupaya memasuki pintu
gerbang-Nya.
Mengenai pertimbangan khusus, apabila orang melihat
sebuah buku, dan mengetahui bahwa pengarangnya ahli dalam
cabang ilmu pengetahuan yang dibahas buku itu, mereka akan
menilai secara lebih jujur bahwa buku itu berfaedah, mereka
akan lebih bersungguh-sungguh untuk membaca dan
mengingatnya, sehingga baik pengarang maupun pembaca
sama-sama merasa puas. Hanya Allahlah yang paling mengetahui
kebenaran.
Pasrah kepada Allah
Dalam memakai kata-kata "Aku telah memohon berkah Tuhan",
aku ingin mendapatkan keselamatan dari Tuhan, yang berfirman
kepada Nabi-Nya: "Apabila kamu membaca Al-Quran,
berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk" (QS
16: 98). "Memohon berkah" berarti "memasrahkan semua urusan
kepada Tuhan, dan supaya dilindungi dari berbagai jenis
aib". Nabi saw. senantiasa mengajar para pengikutnya agar
memohon berkah (istikharah), sebagaimana beliau senantiasa
mengajarkan Al-Quran kepada mereka. Bilamana seseorang
mengetahui bahwa kesejahteraannya tidak bergantung pada
upaya dan perkiraannya sendiri, tetapi bahwa setiap kebaikan
dan keburukan yang menimpanya telah ditetapkan oleh Tuhan
yang paling mengetahui apa yang bermanfaat baginya, dia
tidak dapat berbuat lain kecuali berpasrah kepada takdir dan
memohon kepada Tuhan agar dibebaskan dari kekejian jiwanya
sendiri.
Nafsu Diri
Mengenai kata-kata "Aku telah membersihkan kalbuku dari
semua dorongan yang berhubungan dengan nafsu diri", berkah
tak akan dapat diperoleh dari segala sesuatu yang di
dalamnya terkandung kepentingan diri sendiri. Jika orang
yang dikuasai kepentingan diri sendiri berhasil mencapai
tujuannya, keberhasilan itu akan membawanya ke kebinasaan,
karena "tercapainya tujuan diri sendiri adalah kunci
neraka"; dan jika dia gagal, dia akan menyingkirkan dari
hatinya keinginan untuk memperoleh keselamatan, karena
"melawan dorongan hawa nafsu merupakan kunci surga",
sebagaimana Tuhan berfirman: "Barangsiapa yang menahan
diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya
surgalah tempat kediamannya" (QS 79: 40-1). Orang
berbuat berdasarkan keinginan diri ketika mereka
menginginkan keridhaan Tuhan dan ketika mereka berusaha
menghindar dari hukuman Tuhan. Pendek kata, kebodohan jiwa
tak memiliki batas, dan muslihat-muslihatnya tidak terlihat.
Insya Allah, sebuah bab mengenai masalah ini akan dipaparkan
dalam buku ini.
Niat
Sekarang mengenai kata-kata "Aku telah bekerja sesuai
dengan permintaanmu, dan telah berketetapan hati untuk
memenuhi permintaanmu dengan menulis buku ini", karena kau
mengira aku layak menulis buku ini untuk memberikan petunjuk
kepadamu, maka merupakan kewajibanku untuk memenuhi
permohonanmu. Karena itu, sudah sepantasnya aku membuat
keputusan tegas untuk menunaikan kewajibanku sepenuhnya.
Bilamana seseorang memulai suatu pekerjaan dengan niat
menyelesaikan pekerjaan itu, maka bisa dimaklumi jika
pekerjaannya tidak sempurna; dan atas dasar ini Nabi
berkata: "Niat orang yang beriman lebih baik daripada
hasil pekerjaannya." Sangat besar kekuatan niat itu,
sehingga dengan niat itu seseorang melangkah maju dari satu
kategori ke kategori yang lain tanpa perubahan ekstemal.
Sebagai contoh, jika seseorang menahan lapar sesaat tanpa
bemiat berpuasa, dia tak akan memperoleh ganjaran (tsawab)
di akhirat kelak; namun apabila dia mewujudkan niat dalam
hatinya untuk berpuasa, dia akan menjadi salah seorang yang
disenangi Tuhan (muqarraban). Juga, seorang musafir yang
tinggal untuk beberapa lama di sebuah kota, tidak akan
menjadi penduduk kota itu, sebelum dia mempunyai niat untuk
tinggal di situ. Oleh karenanya, niat yang baik merupakan
awal dari setiap tindakan.
Hijab
Bilamana aku mengatakan bahwa buku ini aku beri judul
Kasyf Al-Mahjub, tujuanku adalah agar judul buku ini
memaklumkan isinya kepada orang yang mengerti. Kau harus
mengetahui bahwa semua manusia terhalangi dari kebenaran
ruhani, terkecuali wali-wali Allah dan sahabat-sahabat-Nya
yang terpilih; dan oleh karena buku ini merupakan suatu
penjelasan mengenai Jalan Kebenaran, dan suatu mengenai
ujaran-ujaran sufi dan penyingkapan tabir kefanaan, maka tak
ada judul lain yang sesuai baginya. Secara esensial,
penyingkapan (kasyf) adalah penghancuran objek yang
tertutup tabir, sama seperti tabir menghancurkan
penyingkapan (mukasyafah), dan sama seperti, sebagai
contoh, seseorang yang dekat tidak tahan berada di tempat
yang jauh, dan seseorang yang jauh tidak tahan jika ia
dekat; atau seperti seekor binatang yang berasal dari cuka
akan mati bilamana jatuh ke zat lain, sementara
binatang-binatang yang berasal dari zat lain akan binasa
bilamana dimasukkan ke dalam cuka. Jalan keruhanian sukar
ditempuh kecuali oleh mereka yang dicipta untuk tujuan itu.
Nabi bersabda: "Setiap orang menemukan kemudahan karena dia
dicipta untuk itu." Ada dua tirai: yang satu adalah "tirai
penutup" (hijab-i rayni), yang takkan pernah bisa
dicampakkan, dan yang lain "tirai pengabur" (hijab-i
ghayni), yang bisa segera dicampakkan. Keterangannya
adalah sebagai berikut: seseorang terhalangi dari Kebenaran
oleh zatnya, sehingga dalam pandangannya kebenaran dan
kepalsuan itu sama saja. Orang yang lain terhalangi dari
Kebenaran oleh sifat-sifatnya, sehingga tabiat dan hatinya
terus mencari Kebenaran dan menjauhkan diri dari kepalsuan.
Oleh karena itu, tirai zat, yaitu yang "menutupi"
(rayni), tidak akan pernah tercampakkan. Rayn
berpadanan dengan khatm (menyegel) dan thab (menerakan).
Maka Tuhan berfirman: "Sekali-kali tidak demikian; namun
perbuatan mereka telah menutup (rana) hati mereka" (QS
83:14); kemudian Dia menjelaskan makna hal ini: "Sungguh
sama saja bagi orang yang ingkar itu apakah kau beri
peringatan atau tidak, mereka tidak akan percaya" (QS
2:6); kemudian Dia menerangkan sebabnya: "Allah telah
mengunci hati mereka" (QS 2:7). Namun, tirai
sifat-sifat, yaitu yang "mengaburkan" (ghayni),
kadang kala bisa tercampakkan, karena zat tidak dapat
berubah tetapi perubahan sifat adalah mungkin. Syaikh-syaikh
Sufi telah memberikan banyak isyarat halus mengenai rayn dan
ghayn. Junayd mengatakan: "Al-rayn jumlah al-wathanah
wa'l-ghayn min jumlah al-khatharah (Rayn termasuk
kelompok hal-hal yang tetap, dan ghayn termasuk
kelompok hal-hal yang berubah)." Wathan adalah langgeng, dan
khathar adalah aksidental. Sebagai contoh, adalah tidak
mungkin membuat cermin dari batu, walaupun banyak tukang
gosok mencoba melakukannya, namun cermin yang berkarat bisa
dibikin gemerlap dengan digosok; kegelapan adalah watak
batu, dan kecemerlangan adalah watak cermin; karena zat itu
langgeng, maka sifat yang temporer tidak akan bertahan
lama.
Karena itu, aku susun buku ini bagi penggosok kalbu yang
tertutup oleh tirai "pengabur", namun di dalam kalbu itu zat
cahaya Kebenaran maujud, supaya tirai itu bisa tercampakkan
darinya melalui berkah membacanya, dan agar mereka menemukan
jalan menuju realitas spiritual. Mereka yang maujudnya
terdiri atas pengingkaran terhadap kebenaran dan perbuatan
salah tidak akan pernah menemukan jalannya di situ, dan buku
ini karenanya tidak akan berguna bagi mereka.
Jawaban Terinci
Sekarang mengenai kata-kataku "mengetahui apa yang kau
inginkan, aku menyusun buku ini dalam bab-bab yang sesuai
dengan maksudmu", seorang penanya tidak bisa terpuaskan
sebelum dia berhasil membuat keinginannya diketahui oleh
orang yang dia tanyai. Sebuah pertanyaan mengandaikan suatu
kesulitan, dan suatu kesulitan tak akan terpecahkan sebelum
wataknya terpastikan. Lebih jauh lagi, untuk menjawab suatu
pertanyaan secara umum hanya mungkin apabila orang yang
menanyakannya memiliki pengetahuan penuh mengenai berbagai
bidang dan kesimpulannya, namun terhadap seorang pemula
seseorang perlu menjawab secara terinci, dan menyajikan
keterangan dan definisi yang bermacam-macam; dan dalam hal
inilah khususnya, karena tampaknya kau - semoga Tuhan
melimpahimu kebahagiaan - ingin agar aku memberi jawaban
atas pertanyaan-pertanyaanmu secara terinci dan menulis
sebuah buku mengehai permasalahan itu.
Pertolongan Tuhan
Aku katakan, "Aku berdoa kepada Tuhan agar diberi
pertolongan dan kemampuan", karena Tuhan sajalah yang bisa
menolong seseorang untuk melakukan amalan baik. Bilamana
Tuhan membantu seseorang melakukan tindakan-tindakan yang
patut mendapat pahala, ini sungguhsungguh
"keberhasilan pemberian Tuhan" (tawfiq). Al-Quran dan Sunnah
membenarkan kesejatian tawfiq, dan seluruh umat Islam
sepakat, kecuali beberapa orang Mu'tazilah dan Qadariyah,
yang menyatakan bahwa ungkapan tawfiq tak punya makna apa
pun. Syaikh syaikh Sufi tertentu mengatakan, Al-tawfiq
huwa al-qudrah 'ala al ta'at 'inda al-isti'mal,
"Bilamana seseorang taat kepada Tuhan, dia akan menerima
dari Tuhan kekuatan yang semakin bertambah." Pendek kata,
semua tindakan dan istirah (tidak bertindaknya) manusia
adalah tindakan dan ciptaan Tuhan; karena itu, kekuatan yang
diperoleh manusia untuk dapat taat kepada Tuhan disebut
tawfiq. Pembicaraan mengenai topik ini bukan pada tempatnya
di sini. Aku akan membahas persoalan yang kau ajukan, namun
sebelumnya aku akan mengutip pertanyaanmu terlebih
dahulu.
Pertanyaan
Penanya, Abu Sa'id Al-Hujwiri, berkata: "Terangkan arti
yang sebenarnya dari Jalan Tasawuf dan watak
'peringkat-peringkat' (maqamat) Sufi, dan jelaskan
ajaran-ajaran dan ujaran-ujaran mereka, dan jelaskan pula
kiasan-kiasan mistikal mereka, dan watak Cinta Ilahi serta
bagaimana ia terejawantahkan dalam hati insan, dan mengapa
akal tidak mampu mencapai esensinya, dan mengapa jiwa surut
dari realitasnya, dan mengapa jiwa merasakan ketenangan
dalam kesuciannya; dan terangkan segi-segi praktis tasawuf
yang bertalian dengan teori teori ini."
Jawaban
Orang yang ditanya, 'Ali bin 'Utsman Al-Jullabi
Al-Hujwiri - semoga Tuhan melimpahkan ampunan dan kasih
sayang kepadanya! - berkata:
Ketahuilah bahwa pada masa kita ini ilmu tasawuf sudah
tidak dipedulikan lagi, khususnya di negeri ini. Seluruh
penduduk sudah dikuasai oleh hawa nafsunya dan telah
meninggalkan jalan tafakur dan tawakal (ridha), sementara
para ulama dan mereka yang sok berilmu telah menyusun
pengertian tentang tasawuf yang sepenuhnya
bertolakbelakang dengan prinsip-prinsip dasarnya.
Yang tinggi dan yang rendah merasa puas dengan keahlian
kosong: taklid buta telah menggantikan kegairahan ruhani.
Orang awam berkata, "Kami mengetahui Tuhan," dan orang alim,
yang merasa puas jika mereka merasa memiliki kerinduan akan
akhirat, berkata, "Kerinduan ini adalah rukyah (visi) dan
cinta yang asyik-masyuk." Setiap orang membuat dalih, tak
seorang pun mencapai hakikat. Para murid, seraya mengabaikan
praktik zuhud, hanyut dalam pikiran yang siasia, yang
mereka sebut "tafakur".
Aku sendiri (lanjut penulis) telah menulis beberapa buku
mengenai tasawuf, tapi semuanya sia-sia. Sebagian pembohong
mengutip kalimat-kalimatnya dalam upaya memperdaya khalayak,
seraya menghapus dan merusak selebihnya; sebagian yang lain
tidak mendistorsi buku itu, namun tidak membacanya; yang
lain membaca, namun tak memahami maknanya; mereka menyalin
naskah itu dan menghapalnya, lalu berkata: "Kami dapat
membicarakan ilmu tasawuf." Dewasa ini spiritualisme yang
sejati adalah sejarang obat mukjizat (kibrit-i
ahmar); sebab adalah wajar mencari obat yang dapat
menyembuhkan penyakit, dan tak seorang pun ingin mencampur
mutiara dan karang dengan obat biasa seperti
syalitsah2 dan dawa
al-misk.3 Dulu karyakarya para Sufi
terkemuka, yang jatuh ke tangan mereka yang tak bisa
menghargainya, digunakan untuk bait pada kopiah atau
puisi-puisi Abu Nawas dan kelakar-kelakar Jahiz. Elang
kerajaan sudah tentu akan terpangkas sayap-sayapnya ketika
ia bertengger di tembok pondok wanita tua. Orang yang
sezaman dengan kita menyebut hawa nafsu mereka "hukum",
kebanggaan dan ambisi mereka sebut "kehormatan dan ilmu
pengetahuan", kemunafikan "takwa kepada Tuhan", memendam
amarah "kerahiman", perbantahan "perbincangan", percekcokan
dan ketololan "martabat", ketidaktulusan "penyangkalan",
ketamakan "taat kepada Tuhan", lamunan kosong "pengetahuan
ilahi", gerak hati dan gejolak jiwa binatang "cinta ilahi",
bid'ah "kefakiran", kesangsian "kemurnian", keingkaran
terhadap agama yang benar (zandaqah) "kefanaan-diri",
melalaikan Syari'at Nabi saw. "jalan tasawuf", dan
pergaulan: buruk dengan orang-orang yang tak berpendirian
"latihan kesalehan". Sebagaimana dikatakan moleh Abu Bakar
Al Wasithi: "Kami mengalami suatu masa di mana tidak
ada kewajibankewajiban agama Islam atau kesusilaan
Paganisme atau kebajikan para kesatria" (ahlam-i dzawi
al-muruwwah). Dan Mutanabbi mengatakan:4
"Semoga Tuhan mengutuk dunia ini! Sungguh suatu tempat hina
bagi setiap pengendara unta! Karena di sini orang-orang yang
jiwanya mulia senantiasa teraniaya."
Maqam
Ketahuilah bahwa aku telah menemukan alam semesta ini
sebagai kediaman rahasia-rahasia Ilahi, yang berada dalam
makhluk-makhluk. Substansi, kejadian-kejadian, unsur-unsur,
benda-benda, bentuk-bentuk, dan sifat-sifat - semua ini
merupakan tabir-tabir rahasia Ilahi. Dari sudut Tauhid,
adalah syirik untuk menyatakan bahwa setiap tabir yang
demikian itu maujud, tetapi di dunia .ini segala hal
tertutup tabir, oleh wujudnya, dari Tauhid, dan ruh terjerat
oleh percampuran dan persekutuan dengan wujud fenomenal.
Oleh karena itu, akal sulit sekali memahami rahasia-rahasia
Ilahi, dan ruh hanya dapat secara samarsamar melihat
pesona kedekatan dengan Tuhan. Manusia, yang senang akan
lingkungan kasarnya, tetap tenggelam dalam kebodohan dan
ketakacuhan, tak berusaha menyingkirkan tabir yang telah
menutupi dirinya. Karena buta terhadap keindahan Tauhid, dia
berpaling dari Tuhan untuk mencari kesia-siaan dunia ini,
dan membiarkan hawa nafsunya menguasai pikirannya, padahal
jiwa binatang, yang oleh AlQuran (12:53) digambarkan
sebagai "menyuruh ke kejahatan" (ammarah bi al-su'),
adalah tabir paling besar antara Tuhan dan manusia.
Sekarang aku akan menerangkan kepadamu, sepenuhnya dan
secara jelas, apa yang ingin kau ketahui mengenai
maqam-maqam dan "tirai-tirai", dan aku akan menafsirkan
ungkapan ahli shana'i' (teknikologis), dan
menambahkan beberapa ujaran para Syaikh (guru) dan
anekdot-anekdot tentang mereka, supaya tujuanmu tercapai,
dan supaya setiap ahli fiqih atau yang lain yang membaca
karya ini bisa mengetahui bahwa jalan tasawuf memiliki akar
yang kuat dan dahan yang berbuah, karena semua Syaikh Sufi
telah memiliki pengetahuan dan telah mendorong
murid-muridnya untuk selalu mencari pengetahuan. Mereka
tidak pernah menyukai kedangkalan dan kesembronoan. Banyak
dari mereka telah menyusun risalah-risalah mengenai metode
tasawuf yang jelas-jelas membuktikan bahwa benak mereka
dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran tentang Tuhan.
Catatan kaki:
- Maksud pengarang adalah bahwa satu pertimbangan
memiliki rujukan khusus kepada para ahli dan orang-orang
yang berkepentingan, sementara pertimbangan yang lain
memiliki rujukan umum kepada khalayak secara luas.
- Ramuan yang digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan
kelumpuhan lidah dan mulut.
- Lihat Dozy, Supplement, di bawah dawa.
- Mutanabbi, penyunting Dieterici, h. 662.
|