Kasyful Mahjub

Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

10. Para Imam dari Kalangan Tabi’in

Uways Al-Qarani

Dia hidup pada masa Nabi saw., tapi dia tak sempat melihat beliau (Nabi), pertama karena ekstasi yang menguasainya, dan kedua (karena kewajiban terhadap ibunya. Rasul saw. berkata kepada Sahabat-sahabatnya: “Ada seseorang di Qaran, namanya Uways, yang pada Bari Kebangkitan nanti akan memberikan syafaat kepada sejumlah orang, sebanyak domba Rabi’ah dan Mudhar.” Kemudian, sambil berpaling kepada ‘Umar dan ‘Ali, beliau bersabda: “Engkau akan melihatnya. Dia seorang miskin, tingginya sedang, dan rambutnya lebat; di bagian sisi kiri ada belang putih, sebesar mata uang dirham, yang bukan berasal dari lepra (pisti), dan dia punya belang yang serupa pada telapak tangannya. Bilamana kalian melihatnya, sampaikan salamku kepadanya, dan suruhlah dia memanjatkan doa untuk umatku.” Sesudah wafatnya Rasulullah, ‘Umar pergi ke Makkah, dan berseru dalam khutbahnya: “Wahai orang-orang Najd, adakah penduduk yang berasal dari Qaran di antara kalian?” Mereka menjawab, “Ada.” Ketika ‘Umar pergi mendapatkan mereka dan bertanya mengenai Uways, mereka berkata: “Dia adalah seorang gila yang tinggal seorang diri dan tanpa kawan seorang pun. Dia tidak makan apa yang dimakan orang-orang, dan dia tak merasakan senang atau susah. Ketika orang-orang tersenyum, dia menangis, dan ketika orang-orang menangis, dia tersenyum.” ‘Umar berkata: “Aku ingin menemuinya.” Mereka menjawab: “Dia tinggal di sebuah gurun pasir, jauh dari unta-unta kami.” ‘Umar dan ‘Ali lalu pergi mencarinya. Keduanya mendapatinya sedang shalat dan menunggu sampai dia selesai shalatnya. Dia menyalami mereka berdua, dan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda pada bagian badannya dan telapak tangannya. Mereka berdua minta barakahnya dan menyampaikan kepadanya salam dari Rasul, serta memohon agar dia berdoa bagi kaum Muslim. Sesudah mereka berdua berada bersamanya untuk sesaat, dia berkata: “Engkau telah bersusah-payah menemuiku; sekarang kembalilah, karena Hari Kiamat sudah dekat, ketika kita akan bertemu satu sama lain tanpa mengatakan selamat tinggal. Kini aku sedang bersiap-siap menghadapi Hari Kebangkitan itu.” Ketika orang-orang Qaran telah pulang, mereka menyatakan rasa hormat yang besar bagi Uways. Dia meninggalkan tempat asalnya dan pergi ke Kufah. Pada suatu hari, Harim bin Hayyan melihatnya, tetapi semenjak itu tiada seorang pun yang melihatnya sampai perang saudara berkecamuk. Dia berjuang membela ‘Ali dan gugur sebagai syuhada di medan perang Shiffin.

Diriwayatkan bahwa dia berkata: “Keselamatan terletak dalam kesendirian,” karena hati yang sunyi bebas dari berpikir tentang “yang ..ain”, dan tak mengharapkan apa pun dari khalayak ramai. Jangan membayangkan bahwa kesendirian (wahdat) cuma sekadar hidup sendirian. Selama setan berada dalam hati manusia, dan nafsu jasmani cokol di dadanya, dan ada pikiran yang menyelinap tentang dunia ini atau akhirat dalam dirinya sedemikian rupa sehingga membuatnya sadar akan manusia, sesungguhnya dia bukan dalam kesendirian; karena merasa senang dengan sesuatu itu sendiri atau berpikir tentang sesuatu itu, adalah sama saja. Karenanya, kesendirian yang sebenarnya itu ialah tidak terganggu oleh masyarakat, tetapi dia yang terusik ialah yang mencari kebebasan dari pikiran dengan mengasingkan diri. Agar dapat melepaskan diri dari tali ikatan khalayak ramai, seseorang harus menjadi mesra dengan Tuhan, dan orang-orang yang telah akrab dengan Tuhan tidak terusik hatinya karena bergaul dengan manusia.

Harim bin Hayyan

Dia pergi menemui Uways Qarani, tetapi sesampainya di Qaran dia mendapati bahwa Uways sudah tidak di sana lagi. Dengan rasa sesal yang mendalam, dia kembali ke Makkah. Di Makkah dia diberitahu bahwa Uways tinggal di Kufah. Dia lalu menyusul ke sana, tapi tak dapat menemuinya untuk waktu yang lama. Akhirnya, dia pergi ke Basrah, dan di jalan dia melihat Uways memakai jubah bulu domba bert:ambal, sedang berwudhu di tepi sungai Eufrat. Begitu dia beranjak naik dari tepian sungai itu dan merapikan jenggotnya, Harim mendekatinya dan menyalaminya. Uways berkata: “Asalamu’alaikum, wahai Harim in Hayyan!” Harim berseru: “Bagaimana engkau tahu bahwa aku Harim?” Uways menjawab: “Ruhku telah mengenal ruhmu.” Dia bertanya kepada Harim: “Perhatikanlah hatimu” (‘alayka bi-qalbika), yakni “Jagalah hatimu dari pikiran-pikiran tentang ‘yang lain’.” Perkataan ini mempunyai dua arti: (1) “Jadikan hatimu taat kepada Tuhan dengan menundukkan hawa nafsu”, dan (2) “Jadikan dirimu taat kepada hatimu”. Ini adalah dua prinsip yang kukuh. Adalah urusan para pemula untuk membuat hati mereka taat kepada Tuhan guna membersihkan mereka dari keterkaitan dengan keinginan-keinginan dan nafsu-nafsu yang sia-sia, dan menjauhkan mereka dari pikiran-pikiran khayal, dan menjadikan mereka sebagai sarana untuk memperoleh kesehatan ruhani, untuk mematuhi perintah-perintah, dan untuk merenungkan tanda-tanda (ayat-ayat) Tuhan, sehingga hati mereka menjadi tempat bertenggernya Cinta. Membuat diri taat kepada hati adalah urusan ahli-ahli ruhani (kamilan), yang hati mereka telah Tuhan pancari dengan cahaya Keindahan, dan terbebaskan dari semua lantaran dan sarana, dan diberi jubah kedekatan (qurb), dan dengan demikian menyingkapkan kepada mereka kemurahan-kemurahan-Nya dan telah memilih mereka untuk merenungi-Nya dan mendekati-Nya; maka Dia telah menjadikan badan-badan mereka selaras dengan kalbu-kalbu mereka. Tingkat yang pertama adalah penguasa-penguasa hati (shahib al-qulub), tingkat yang kedua berada di bawah kuasa kalbu-kalbu mereka (maghlub al-qulub); yang pertama tetap memiliki sifat-sifat mereka (baqi al-shifat), yang kedua telah kehilangan sifat-sifat mereka (fani al-shifat). Kebenaran masalah ini bertolak dari firman Tuhan: Illa ‘ibadaka minhumu al-mukhlashina (Kecuali di antara mereka menjadi hamba-hamba-Mu yang disucikan (terpilih)” (QS 15:40). Di sini kadangkala dibaca mukhlishina, menggantikan mukhlashina. Mukhlis (menyucikan diri) adalah aktif, dan masih memiliki sifat-sifat (atribut-atribut)-nya, tetapi mukhlash (disucikan) adalah pasif, dan telah kehilangan atribut-atributnya. Aku akan menjelaskan persoalan ini lebih lengkap di tempat lain. Tingkat yang kedua, yang menjadikan badan-badan mereka selaras dengan kalbu-kalbu mereka, dan yang kalbu-kalbu mereka istiqamah dalam merenungi Tuhan, adalah derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang yang dengan usaha-usaha mereka sendiri menjadikan kalbu-kalbu mereka selaras dengan perintah-perintah Tuhan. Persoalan ini mempunyai dasarya dalam prinsip-prinsip tentang ketidakmabukan (shahw) dan kemabukan (sukr), dan dalam prinsip-prinsip tentang perenungan (musyahadat) dan penaklukan hawa nafsu (mujahadat).

Hasan Al-Bashri

“Nama kehormatan”-nya adalah Abu ‘Ali; menurut orang lain, Abu Muhammad atau Abu Sa’id. Dia dijunjung tinggi dan dimuliakan oleh Sufi-sufi. Dia memberikan bimbingan-bimbingan yang musykil yang berkenaan dengan ilmu agama praktis (‘ilm-i mu’amalat). Aku telah membaca dalam hikayat-hikayat bahwa seorang Badui datang kepadanya dan bertanya mengenai kesabaran (shabr). Dia menjawab: “Kesabaran ada dua macam, pertama, kesabaran dalam kemalangan dan penderitaan; dan kedua, kesabaran mengendalikan diri dari hal-hal yang telah Tuhan perintahkan agar kita menjauhinya dan yang dilarang bagi kita untuk mendapatkan atau melakukannya.” Orang Badui itu berkata: “Engkau adalah seorang zuhud; aku tak pernah melihat seseorang yang lebih zuhud dari padamu.” “Wahai Badui,” seu Hasan, “kezuhudanku tak lain kecuali keinginan dan kesabaranku tak lain kecuali hilangnya kekuatan.” Orang Badui itu minta supaya dia menerangkan ujaran ini, “karena (katanya) engkau telah mengguncangkan kepercayaanku.” Hasan menjawab: “Kesabaranku dalam kemalangan dan kepasrahanku menyatakan rasa takutku akan api neraka, dan inilah hilangnya kekuatan (jaza’); dan kezuhudanku di dunia ini adalah mendambakan akhirat; dan ini adalah hakikat keinginan. Betapa utamanya orang yang tak berpikir tentang kepentingan dirinya sendiri, sehingga kesabarannya adalah demi Allah semata, bukan untuk tujuan membawa dirinya ke surga. Ini adalah tanda ketulusan sejati.” Dan diriwayatkan bahwa dia berkata: “Bergaul dengan orang yang keji menimbulkan kecurigaan akan yang baik.” Ujaran ini sangat sesuai bagi umat dewasa ini, yang semuanya tak percaya kepada sahabat-sahabat Tuhan yang mulia. Alasan ketidakpercayaan mereka ialah bahwa mereka bergaul dengan Sufi-sufi palsu, yang hanya menampilkan bentuk-bentuk lahiriah Sufi belaka; dan memandang tindakan-tindakan mereka sebagai dibuat-buat, mulut mereka palsu, telinga mereka mendengarkan seloka-seloka kosong, mata mereka mengikuti kesenangan dan birahi, dan hati mereka terpana pada yang haram atau syubhat, mereka mengkhayalkan bahwa calon-calon Sufi bertindak dengan cara yang sama, atau bahwa inilah doktrin Sufi-sufi itu sendiri, padahal Sufi-sufi senantiasa menaati Tuhan, dan berbicara dengan firman Tuhan, dan menjaga cinta kepada Tuhan dalam hati mereka dan suara (sama’) Tuhan dalam telinga mereka, dan keindahan tafakur Ilahi pada mata mereka, dan seluruh pikiran mereka dipusatkan untuk memperoleh rahasia-rahasia suci di tempat Penglihatan gaib (visi) dianugerahkan kepada mereka. Jika orang-orang durhaka tampak di tengah-tengah mereka dan melakukan praktik mereka, kejahatan haruslah dikembalikan kepada orang-orang yang melakukannya. Seseorang yang bergaul dengan orang-orang keji dari suatu komunitas, selalu berbuat demikian karena kekejiannya sendiri, sebab dia akan bergaul dengan orang yang baik jika telah ada kebaikan pada dirinya.

Sa’id bin Al-Musayyib

Dikatakan bahwa dia adalah seorang yang bertabiat saleh yang berpura-pura munafik, bukan seorang munafik yang berpura-pura saleh. Cara bertindak seperti ini dibolehkan dalam tasawuf dan dianggap terpuji oleh semua Syaikh Sufi. Dia berkata: “Berpuaslah dengan sedikit dari dunia ini selagi agamamu selamat, sementara sebagian orang berpuas hati dengan yang banyak dari dunia ini walaupun agama mereka hilang,” yakni kemiskinan tanpa merusak agama lebih baik daripada kekayaan dengan ketakpedulian. Diriwayatkan bahwa ketika dia berada di Makkah, seseorang datang kepadanya dan berkata: “Katakan kepadaku sesuatu yang halal yang di dalamnya tidak ada keharaman sama sekali.” Dia menjawab: “Memuji (dzikr) Tuhan adalah sesuatu yang halal yang di dalamnya tidak ada keharaman sama sekali, dan memuji sesuatu yang selain Tuhan adalah sesuatu yang haram yang di dalamnya tidak ada kehalalan sama sekali,” karena keselamatanmu terletak dalam yang pertama, dan kebinasaanmu terletak dalam yang kedua.•

(sebelum, sesudah)


Kasyful Mahjub - Menyingkap Tabir
Risalah Persia tertua tentang tasawuf
 
oleh Abul-Hasan 'Ali ibn 'Utsman ibn 'Ali Al-Ghazwani Al-Jullabi Al-Hujwiri
diterjemahkan dari bahasa Inggris (The Kasf Al-Mahjub: The Oldest Persian Treatise on Sufism)
oleh Suwardjo Muthary dan Abdul Hadi W.M.
 
Penerbit Mizan, Khazanah Ilmu-ilmu Islam
Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124.
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
Anggota IKAPI.
Design sampul: Gus Ballon.
Pelaksana: Biro Desain Mizan
 
Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team