|
|
10. Para Imam dari Kalangan
Tabiin
Uways Al-Qarani
Dia hidup pada masa Nabi saw., tapi dia tak sempat
melihat beliau (Nabi), pertama karena ekstasi yang
menguasainya, dan kedua (karena kewajiban terhadap ibunya.
Rasul saw. berkata kepada Sahabat-sahabatnya: Ada
seseorang di Qaran, namanya Uways, yang pada Bari
Kebangkitan nanti akan memberikan syafaat kepada sejumlah
orang, sebanyak domba Rabiah dan Mudhar.
Kemudian, sambil berpaling kepada Umar dan Ali,
beliau bersabda: Engkau akan melihatnya. Dia seorang
miskin, tingginya sedang, dan rambutnya lebat; di bagian
sisi kiri ada belang putih, sebesar mata uang dirham, yang
bukan berasal dari lepra (pisti), dan dia punya belang yang
serupa pada telapak tangannya. Bilamana kalian melihatnya,
sampaikan salamku kepadanya, dan suruhlah dia memanjatkan
doa untuk umatku. Sesudah wafatnya Rasulullah,
Umar pergi ke Makkah, dan berseru dalam khutbahnya:
Wahai orang-orang Najd, adakah penduduk yang berasal
dari Qaran di antara kalian? Mereka menjawab,
Ada. Ketika Umar pergi mendapatkan mereka
dan bertanya mengenai Uways, mereka berkata: Dia
adalah seorang gila yang tinggal seorang diri dan tanpa
kawan seorang pun. Dia tidak makan apa yang dimakan
orang-orang, dan dia tak merasakan senang atau susah. Ketika
orang-orang tersenyum, dia menangis, dan ketika orang-orang
menangis, dia tersenyum. Umar berkata: Aku
ingin menemuinya. Mereka menjawab: Dia tinggal
di sebuah gurun pasir, jauh dari unta-unta kami.
Umar dan Ali lalu pergi mencarinya. Keduanya
mendapatinya sedang shalat dan menunggu sampai dia selesai
shalatnya. Dia menyalami mereka berdua, dan menunjukkan
kepada mereka tanda-tanda pada bagian badannya dan telapak
tangannya. Mereka berdua minta barakahnya dan menyampaikan
kepadanya salam dari Rasul, serta memohon agar dia berdoa
bagi kaum Muslim. Sesudah mereka berdua berada bersamanya
untuk sesaat, dia berkata: Engkau telah bersusah-payah
menemuiku; sekarang kembalilah, karena Hari Kiamat sudah
dekat, ketika kita akan bertemu satu sama lain tanpa
mengatakan selamat tinggal. Kini aku sedang bersiap-siap
menghadapi Hari Kebangkitan itu. Ketika orang-orang
Qaran telah pulang, mereka menyatakan rasa hormat yang besar
bagi Uways. Dia meninggalkan tempat asalnya dan pergi ke
Kufah. Pada suatu hari, Harim bin Hayyan melihatnya, tetapi
semenjak itu tiada seorang pun yang melihatnya sampai perang
saudara berkecamuk. Dia berjuang membela Ali dan gugur
sebagai syuhada di medan perang Shiffin.
Diriwayatkan bahwa dia berkata: Keselamatan
terletak dalam kesendirian, karena hati yang sunyi
bebas dari berpikir tentang yang ..ain, dan tak
mengharapkan apa pun dari khalayak ramai. Jangan
membayangkan bahwa kesendirian (wahdat) cuma sekadar
hidup sendirian. Selama setan berada dalam hati manusia, dan
nafsu jasmani cokol di dadanya, dan ada pikiran yang
menyelinap tentang dunia ini atau akhirat dalam dirinya
sedemikian rupa sehingga membuatnya sadar akan manusia,
sesungguhnya dia bukan dalam kesendirian; karena merasa
senang dengan sesuatu itu sendiri atau berpikir tentang
sesuatu itu, adalah sama saja. Karenanya, kesendirian yang
sebenarnya itu ialah tidak terganggu oleh masyarakat, tetapi
dia yang terusik ialah yang mencari kebebasan dari pikiran
dengan mengasingkan diri. Agar dapat melepaskan diri dari
tali ikatan khalayak ramai, seseorang harus menjadi mesra
dengan Tuhan, dan orang-orang yang telah akrab dengan Tuhan
tidak terusik hatinya karena bergaul dengan manusia.
Harim bin Hayyan
Dia pergi menemui Uways Qarani, tetapi sesampainya di
Qaran dia mendapati bahwa Uways sudah tidak di sana lagi.
Dengan rasa sesal yang mendalam, dia kembali ke Makkah. Di
Makkah dia diberitahu bahwa Uways tinggal di Kufah. Dia lalu
menyusul ke sana, tapi tak dapat menemuinya untuk waktu yang
lama. Akhirnya, dia pergi ke Basrah, dan di jalan dia
melihat Uways memakai jubah bulu domba bert:ambal, sedang
berwudhu di tepi sungai Eufrat. Begitu dia beranjak naik
dari tepian sungai itu dan merapikan jenggotnya, Harim
mendekatinya dan menyalaminya. Uways berkata:
Asalamualaikum, wahai Harim in Hayyan!
Harim berseru: Bagaimana engkau tahu bahwa aku
Harim? Uways menjawab: Ruhku telah mengenal
ruhmu. Dia bertanya kepada Harim: Perhatikanlah
hatimu (alayka bi-qalbika), yakni
Jagalah hatimu dari pikiran-pikiran tentang yang
lain. Perkataan ini mempunyai dua arti:
(1) Jadikan hatimu taat kepada Tuhan dengan
menundukkan hawa nafsu, dan (2) Jadikan dirimu
taat kepada hatimu. Ini adalah dua prinsip yang kukuh.
Adalah urusan para pemula untuk membuat hati mereka taat
kepada Tuhan guna membersihkan mereka dari keterkaitan
dengan keinginan-keinginan dan nafsu-nafsu yang sia-sia, dan
menjauhkan mereka dari pikiran-pikiran khayal, dan
menjadikan mereka sebagai sarana untuk memperoleh kesehatan
ruhani, untuk mematuhi perintah-perintah, dan untuk
merenungkan tanda-tanda (ayat-ayat) Tuhan, sehingga hati
mereka menjadi tempat bertenggernya Cinta. Membuat diri taat
kepada hati adalah urusan ahli-ahli ruhani (kamilan),
yang hati mereka telah Tuhan pancari dengan cahaya
Keindahan, dan terbebaskan dari semua lantaran dan sarana,
dan diberi jubah kedekatan (qurb), dan dengan
demikian menyingkapkan kepada mereka kemurahan-kemurahan-Nya
dan telah memilih mereka untuk merenungi-Nya dan
mendekati-Nya; maka Dia telah menjadikan badan-badan mereka
selaras dengan kalbu-kalbu mereka. Tingkat yang pertama
adalah penguasa-penguasa hati (shahib al-qulub),
tingkat yang kedua berada di bawah kuasa kalbu-kalbu mereka
(maghlub al-qulub); yang pertama tetap memiliki
sifat-sifat mereka (baqi al-shifat), yang kedua telah
kehilangan sifat-sifat mereka (fani al-shifat).
Kebenaran masalah ini bertolak dari firman Tuhan: Illa
ibadaka minhumu al-mukhlashina (Kecuali di antara
mereka menjadi hamba-hamba-Mu yang disucikan
(terpilih) (QS 15:40). Di sini kadangkala dibaca
mukhlishina, menggantikan mukhlashina. Mukhlis (menyucikan
diri) adalah aktif, dan masih memiliki sifat-sifat
(atribut-atribut)-nya, tetapi mukhlash (disucikan) adalah
pasif, dan telah kehilangan atribut-atributnya. Aku akan
menjelaskan persoalan ini lebih lengkap di tempat lain.
Tingkat yang kedua, yang menjadikan badan-badan mereka
selaras dengan kalbu-kalbu mereka, dan yang kalbu-kalbu
mereka istiqamah dalam merenungi Tuhan, adalah derajat yang
lebih tinggi daripada orang-orang yang dengan usaha-usaha
mereka sendiri menjadikan kalbu-kalbu mereka selaras dengan
perintah-perintah Tuhan. Persoalan ini mempunyai dasarya
dalam prinsip-prinsip tentang ketidakmabukan (shahw)
dan kemabukan (sukr), dan dalam prinsip-prinsip
tentang perenungan (musyahadat) dan penaklukan hawa
nafsu (mujahadat).
Hasan Al-Bashri
Nama kehormatan-nya adalah Abu Ali;
menurut orang lain, Abu Muhammad atau Abu Said. Dia
dijunjung tinggi dan dimuliakan oleh Sufi-sufi. Dia
memberikan bimbingan-bimbingan yang musykil yang berkenaan
dengan ilmu agama praktis (ilm-i
muamalat). Aku telah membaca dalam hikayat-hikayat
bahwa seorang Badui datang kepadanya dan bertanya mengenai
kesabaran (shabr). Dia menjawab: Kesabaran ada
dua macam, pertama, kesabaran dalam kemalangan dan
penderitaan; dan kedua, kesabaran mengendalikan diri dari
hal-hal yang telah Tuhan perintahkan agar kita menjauhinya
dan yang dilarang bagi kita untuk mendapatkan atau
melakukannya. Orang Badui itu berkata: Engkau
adalah seorang zuhud; aku tak pernah melihat seseorang yang
lebih zuhud dari padamu. Wahai Badui, seu
Hasan, kezuhudanku tak lain kecuali keinginan dan
kesabaranku tak lain kecuali hilangnya kekuatan. Orang
Badui itu minta supaya dia menerangkan ujaran ini,
karena (katanya) engkau telah mengguncangkan
kepercayaanku. Hasan menjawab: Kesabaranku dalam
kemalangan dan kepasrahanku menyatakan rasa takutku akan api
neraka, dan inilah hilangnya kekuatan (jaza);
dan kezuhudanku di dunia ini adalah mendambakan akhirat; dan
ini adalah hakikat keinginan. Betapa utamanya orang yang tak
berpikir tentang kepentingan dirinya sendiri, sehingga
kesabarannya adalah demi Allah semata, bukan untuk tujuan
membawa dirinya ke surga. Ini adalah tanda ketulusan
sejati. Dan diriwayatkan bahwa dia berkata:
Bergaul dengan orang yang keji menimbulkan kecurigaan
akan yang baik. Ujaran ini sangat sesuai bagi umat
dewasa ini, yang semuanya tak percaya kepada sahabat-sahabat
Tuhan yang mulia. Alasan ketidakpercayaan mereka ialah bahwa
mereka bergaul dengan Sufi-sufi palsu, yang hanya
menampilkan bentuk-bentuk lahiriah Sufi belaka; dan
memandang tindakan-tindakan mereka sebagai dibuat-buat,
mulut mereka palsu, telinga mereka mendengarkan
seloka-seloka kosong, mata mereka mengikuti kesenangan dan
birahi, dan hati mereka terpana pada yang haram atau
syubhat, mereka mengkhayalkan bahwa calon-calon Sufi
bertindak dengan cara yang sama, atau bahwa inilah doktrin
Sufi-sufi itu sendiri, padahal Sufi-sufi senantiasa menaati
Tuhan, dan berbicara dengan firman Tuhan, dan menjaga cinta
kepada Tuhan dalam hati mereka dan suara (sama)
Tuhan dalam telinga mereka, dan keindahan tafakur Ilahi pada
mata mereka, dan seluruh pikiran mereka dipusatkan untuk
memperoleh rahasia-rahasia suci di tempat Penglihatan gaib
(visi) dianugerahkan kepada mereka. Jika orang-orang durhaka
tampak di tengah-tengah mereka dan melakukan praktik mereka,
kejahatan haruslah dikembalikan kepada orang-orang yang
melakukannya. Seseorang yang bergaul dengan orang-orang keji
dari suatu komunitas, selalu berbuat demikian karena
kekejiannya sendiri, sebab dia akan bergaul dengan orang
yang baik jika telah ada kebaikan pada dirinya.
Said bin Al-Musayyib
Dikatakan bahwa dia adalah seorang yang bertabiat saleh
yang berpura-pura munafik, bukan seorang munafik yang
berpura-pura saleh. Cara bertindak seperti ini dibolehkan
dalam tasawuf dan dianggap terpuji oleh semua Syaikh Sufi.
Dia berkata: Berpuaslah dengan sedikit dari dunia ini
selagi agamamu selamat, sementara sebagian orang berpuas
hati dengan yang banyak dari dunia ini walaupun agama mereka
hilang, yakni kemiskinan tanpa merusak agama lebih
baik daripada kekayaan dengan ketakpedulian. Diriwayatkan
bahwa ketika dia berada di Makkah, seseorang datang
kepadanya dan berkata: Katakan kepadaku sesuatu yang
halal yang di dalamnya tidak ada keharaman sama
sekali. Dia menjawab: Memuji (dzikr)
Tuhan adalah sesuatu yang halal yang di dalamnya tidak ada
keharaman sama sekali, dan memuji sesuatu yang selain Tuhan
adalah sesuatu yang haram yang di dalamnya tidak ada
kehalalan sama sekali, karena keselamatanmu terletak
dalam yang pertama, dan kebinasaanmu terletak dalam yang
kedua.
|