Daging Zen Tulang Zen

oleh Paul Reps

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

DIALOG PERDAGANGAN UNTUK MENGINAP
 
Asalkan memajukan dan memenangkan sebuah argumentasi tentang
agama  Buddha  dengan  orang-orang  yang  tinggal  di  sana,
seorang  bhikshu kelana boleh menginap di sebuah vihara Zen.
Jika kalah, ia harus pergi dan melanjutkan perjalanan.
 
Di sebuah vihara di belahan  utara  Jepang,  tinggallah  dua
orang  bhikshu.  Yang  lebih  tua adalah seorang terpelajar,
sedangkan yang lebih  muda  adalah  orang  bodoh  dan  hanya
mempunyai sebuah mata.
 
Seorang   bhikshu   datang   dan   memohon  untuk  menginap.
Sebagaimana biasanya, ia  menantang  mereka  untuk  berdebat
tentang  ajaran  yang  tertinggi.  Saudara  yang  lebih tua,
karena keletihan belajar sepanjang hari itu, meminta saudara
mudanya   untuk   menggantikannya.   "Pergilah   dan  hadapi
dialognya dengan tenang," ia memperingatkan.
 
Demikianlah, bhikshu muda dan orang asing itu pergi ke altar
dan duduk.
 
Tidak  lama  kemudian, pendatang itu bangkit dan menghampiri
saudara tua dan berkata, "Saudara muda anda  adalah  seorang
yang mengagumkan. Ia mengalahkan aku."
 
"Ceritakan dialog itu kepadaku," kata saudara yang tua.
 
"Baiklah,"   jelas   si   pendatang,   "Pertama-tama,   saya
mengacungkan  sebuah  jari,  melambangkan  Buddha,  Ia  yang
mencapai   Pencerahan.   Ia   pun   mengacungkan  dua  jari,
melambangkan Buddha beserta ajaran Beliau. Saya mengacungkan
tiga jari, melambangkan Buddha, ajaran, dan pengikut Beliau,
yang hidup  dalam  keharmonisan.  Kemudian,  ia  melayangkan
kepalan   tinjunya   ke   wajah   saya,   menunjukkan  bahwa
ketiga-tiganya berasal dari kebijaksanaan.  Demikianlah  dia
menang  dan  saya tidak berhak untuk menetap. " Setelah itu,
si pendatang pun pergi.
 
"Kemanakah rekan itu?" tanya saudara muda, berlari menjumpai
saudara tuanya.
 
"Saya tahu anda memenangkan perdebatan tadi."
 
"Menang apa! Saya ingin memukulnya."
 
"Ceritakanlah  tentang  perdebatan  tadi," pinta saudara tua
itu.
 
"Mengapa, begitu melihat saya, ia  mengacungkan  satu  jari,
menghina  saya  dengan  menyindir bahwa saya hanya mempunyai
sebuah mata. Oleh karena ia adalah pendatang, saya kira saya
harus    bertindak    sopan   terhadapnya,   sehingga   saya
mengacungkan dua jari, bersyukur  baginya  karena  mempunyai
dua   mata.   Kemudian,   bedebah   yang   tidak  sopan  itu
mengacungkan tiga jari, menyiratkan  bahwa  di  antara  kita
berdua  hanya ada tiga bola mata. Oleh karenanya, saya marah
dan  mulai  meninjunya,  tetapi  ia   berlari   keluar   dan
perdebatan itu pun berakhir."
 
(baca cerita sejenis dari tradisi Islam dan Kristiani)
 
---------------------
Daging ZEN Tulang ZEN
Bunga Rampai Karya Tulis Pra-Zen dan Zen
Dikumpulkan oleh: Paul Reps
Edisi Keenam Oktober 1996
Yayasan Penerbit Karaniya
Anggota IKAPI, Kotakpos 1409 Bandung 40001

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team