Maling Teriak Maling:
Amerika Sang Teroris?

Noam Chomsky


 Pengendalian Pikiran: Kasus Timur Tengah (2/2)

Catatan dusta mengenai terorisme, yang kembali akan saya bicarakan dalam bab-bab berikut, sedemikian luas sehingga di sini hanya diungkapkan sekadar contohnya. Ia berpengaruh sangat kuat atas berfungsinya propaganda Barat dan watak kebudayaan Barat. Dalam hal ini yang relevan adalah bahwa sejarah yang cocok dan pola Newspeak yang menguntungkan telah disusun, yang didalamnya terorisme merupakan bidang garapan orang Palestina, sementara Israel melaksanakan "pembalasan" atau terkadang "aksi mendahului" yang sah, yang adakalanya ditanggapi sebagai kekerasan yang disesalkan, sebab negara mana pun akan melakukannya dalam keadaan tertekan. Sistem doktrinal ini dimaksudkan untuk menjamin bahwa kesimpulan-kesimpulan ini adalah benar per definisi, terlepas dari fakta-fakta yang ada --yang tak dilaporkan, atau dilaporkan dengan cara sedemikian rupa sehingga sesuai dengan keperluan-keperluan doktrinal, atau sekali-sekali dilaporkan dengan jujur, tapi kemudian dikubur dalam liang memori. Dengan anggapan bahwa Israel adalah negara klien yang loyal dan sangat berguna, berdiri sebagai "aset strategis" di Timur Tengah dan bersedia melakukan tugas-tugas seperti mendukung pembantaian besar-besaran di Guatemala jika Pemerintah AS tercegah oleh Kongres untuk bertindak sepenuh yang ia inginkan dalam perbuatan yang dibutuhkan ini, maka benarlah --terlepas dari fakta-fakta yang ada--bahwa Israel mengabdi kepada nilai-nilai moral termulia dan "kesucian tangan" ("purity of arms"), sementara bangsa Palestina adalah lambang utama ekstremisme, terorisme, dan barbarisme. Kesannya adalah bahwa terdapat simetri tertentu, baik dalam hak maupun praktek teroris yang dilenyapkan dengan kebiadaban di kancah terbuka, atau katakanlah --jika ungkapan ini dapat didengar-- sebagai penelanjangan antisemitisme terselubung. Suatu penilaian rasional, yang memberikan analisis dan gambaran akurat tentang skala dan tujuan-tujuan terorisme Kaisar dan pembajak, disingkirkan secara apriori, dan bakal benar-benar nyaris tak dapat dipahami karena sedemikian jauh dari ortodoksi-ortodoksi yang sudah diterima.

Servis-servis Israel kepada AS sebagai "aset strategis" di Timur Tengah dan tempat-tempat lain membantu menjelaskan dedikasi Amerika Serikat --sejak pengambilalihan Kissinger atas pembuatan kebijakan Timur Tengah di awal 1970-an-- untuk mempertahankan konfrontasi militer dan "pembekuan keadaan," gaya Kissinger.14 Jika AS mengizinkan suatu pemecahan damai sesuai dengan konsensus internasional, Israel perlahan-lahan akan terintegrasi ke dalam wilayah ini dan AS akan kehilangan servis-servis dari sebuah negara upahan yang bermanfaat, yang kekuatan militernya hebat dan teknologinya maju; sebuah negara paria yang sepenuhnya tergantung pada Amerika Serikat untuk tetap hidup secara militer dan ekonomi, dan dengan demikian dapat diandalkan dan selalu siap melayani kapan saja diperlukan.

Unsur-unsur yang disebut "lobi Israel" juga ikut berperan dalam melestarikan konfrontasi militer, seperti didapat oleh Danny Rubinstein, wartawan Israel dari jurnal Partai Buruh Davar, dalam kunjungan ke Amerika Serikat pada 1983.15 Dalam pertemuan-pertemuan dengan para wakil organisasi-organisasi utama Yahudi (B'nai Brith, Liga Anti-Defamasi, Kongres Yahudi Dunia, Hadassah, para Rabbi dari semua mazhab, dan lain-lain), Rubinstein mengetahui bahwa artikel-artikel yang ditulisnya tentang situasi mutakhir di Israel membangkitkan kegusaran besar, lantaran ia menekankan kenyataan bahwa Israel tidaklah menghadapi ancaman militer sebesar "kerusakan moral, sosial, dan politik" karena merebut wilayah-wilayah pendudukan. "Saya tidak tertarik (pada penilaian Anda)," kata seorang fungsionaris kepadanya; "Saya tak dapat berbuat apa-apa dengan argumen semacam itu." Intinya, menurut Rubinstein berdasarkan sejumlah perbincangan semacam itu, ialah bahwa,

menurut bagian terbesar masyarakat di lingkungan resmi Yahudi, yang penting adalah menekankan terus-menerus ancaman-ancaman eksternal yang mengintai Israel ... kalangan resmi Yahudi di Amerika memerlukan Israel ... hanya sebagai korban dari kekejian serangan Arab. Untuk sebuah Israel yang semacam ini orang bisa memperoleh dukungan, sumbangan dan uang. Bagaimana mungkin orang mampu mengumpulkan uang untuk memerangi suatu ancaman demografis? Siapa yang mau memberi sepeser pun untuk memerangi apa yang saya sebut 'bahaya aneksasi'? ... Semua orang mengetahui jumlah resmi sumbangan-sumbangan yang dikumpulkan oleh Majelis, Serikat Yahudi di Amerika, yang 'menjual' nama Israel, dan kira-kira separo jumlah ini tidak sampai ke Israel, tetapi untuk lembaga-lembaga Yahudi di Amerika. Adakah sinisme yang lebih hebat?

Rubinstein selanjutnya mengungkapkan bahwa Majelis,

yang dikelola sebagai perusahaan yang kuat dan efisien, mempunyai bahasa yang sama dengan kelompok-kelompok garang di Israel. Sebaliknya, kelompok yang berupaya berkomunikasi dengan pihak Arab, yang mendambakan pengakuan timbal balik dengan bangsa Palestina, kelompok moderat, dan kelompok-kelompok pecinta damai, semuanya giat menentang bisnis pengumpulan sumbangan ini. Mereka bukan hanya menyunat jumlah uang yang dikirim ke Israel. Lebih gamblang lagi, mereka menyunat jumlah dana yang disediakan untuk membiayai aktivitas-aktivitas masyarakat Yahudi.

Para pengamat aktivitas-aktivitas rutin kelompok satpam-lihai lobi Israel ini, mampu dengan tajam merasakan isyarat paling samar tentang keinginan akan rujuk dan pemecahan politik yang bermakna, dan ingin mengungkap bid'ah ini dengan artikel lantang dan surat-surat kepada pers-yang gemar menyebarkan bahan fitnah buatan mengenai kaum pelaku bid'ah ini akan tahu dengan gamblang apa yang telah didapati oleh Rubinstein.

Komentar-komentar Rubinstein menarik perhatian kita pula pada Orwellisme lainnya: istilah "para pendukung Israel", yang lazim digunakan untuk menunjuk mereka yang tak risau dengan "kerusakan moral, sosial, dan politik" Israel (dan dalam jangka lebih jauh mungkin kerusakan fisiknya juga), dan sesungguhnya memberikan sumbangan bagi akibat-akibat ini karena dukungan "picik dan chauvinisme membuta" yang mereka persembahkan kepada "sosok keras-kepala keji" Israel, sebagaimana sering diperingatkan oleh merpati-merpati Israel.16

Dalam kaitan serupa, kita dapat melihat cara menarik yang didalamnya istilah "Zionisme" dewasa ini dirumuskan --tentu saja secara diam-diam-- oleh mereka yang mengambil peran pengawal kemurnian doktrin. Pandangan-pandangan saya sendiri, misalnya, sering dikutuk sebagai "anti-Zionisme militan" oleh orang-orang yang sangat waspada terhadap pandangan-pandangan ini, yang kerap diulang dan dikemukakan secara jelas: bahwa Israel, dalam perbatasan-perbatasan yang diakui secara internasional, harus menghormati hak-hak setiap negara dalam sistem internasional --tak kurang dan tak lebih-- dan bahwa struktur-struktur institusional diskriminatif yang dalam hukum dan dalam praktek melekatkan status khusus pada sebuah kategori kewarganegaraan (Yahudi, Kulit Putih, Kristen, dan lain-lain), yang menjamin hak-hak mereka untuk mengabaikan pihak lain, harus ditanggalkan. Di sini saya tidak akan memasuki persoalan tentang apa yang selayaknya disebut "Zionisme", tapi sekadar mencatat apa yang diturunkan dari sebutan pandangan-pandangan ini sebagai "anti-Zionisme militan": Zionisme adalah doktrin bahwa Israel harus menghormati hak-hak selain orang-orang dari negara lain mana pun; ia harus mempertahankan penguasaan atas wilayah-wilayah pendudukan sehingga merintangi segala bentuk upaya penentuan nasib sendiri bagi bangsa Palestina; dan ia harus tetap sebuah negara yang didasarkan atas prinsip diskriminasi terhadap warga non Yahudi. Secara khusus, adalah sangat menarik menyaksikan bahwa "para pendukung Israel" bersikeras mengenai keabsahan resolusi PBB yang terkenal cemarnya tentang Zionisme dan rasisme.

Hendaknya diingat bahwa persoalan-persoalan ini bukanlah abstrak dan teoretis. Masalah diskriminasi sangat runcing di Israel, yakni, misalnya, lebih dari 90 persen tanahnya menurut hukum ditempatkan di bawah kontrol sebuah organisasi yang diabdikan bagi kepentingan "orang-orang yang beragama, berbangsa, atau berasal-usul Yahudi" sehingga warga non Yahudi diusir secara efektif. Komitmen kepada praktek diskriminasi sedemikian kuat sehingga masalah ini bahkan tak dapat dikemukakan di Parlemen, di mana ketentuan-ketentuan baru merintangi pengajuan setiap rancangan Undang-undang yang "melenyapkan eksistensi Negara Israel sebagai negara orang Yahudi", bukan negara warganya. Maka, legislasi ini menyatakan ilegal setiap upaya Parlementer yang menantang sifat-dasar diskriminatif negara, dan dengan efektif menjegal partai-partai politik yang comitted terhadap prinsip pokok demokrasi bahwa sebuah negara adalah negara para warganya.17 Mengherankan bahwa pers Israel dan kebanyakan pengulas-terdidik tampak sama sekali tak menganggap ganjil kenyataan bahwa legislasi baru ini bergandengan dengan sebuah rancangan peraturan "antirasisme" (keempat kelompok oposisi, sesungguhnya, menentang aspek peraturan ini). Judul berita utama Jerusalem Post berbunyi, "Knesset forbids racist and anti-Zionist bills" ("Knesset menolak rancangan peraturan-peraturan rasis dan anti-Zionis") --tanpa ironi, istilah "Zionis" ditafsirkan sebagaimana dalam legislasi baru ini.

Para pembaca Jerusalem Post di Amerika rupanya juga tak mendapati hal yang perlu dicatat dalam berita ini,sebagaimana mereka tak pernah merasakan kesulitan dalam menyelaraskan watak-dasar antidemokrasi dalam versi Zionisme mereka dengan penghargaan meluap pada sifat demokratis negara tempat demokrasi diwujudkan.

Yang tak kurang mengherankan adalah pemakaian-pemakaian licik atas konsep "anti-Semitisme". Misalnya, untuk menuding orang-orang yang memperlihatkan "anti-imperialisme yang dungu" (sebuah ragam anti-Semitisme) yang berkeberatan terhadap peran Israel di Dunia Ketiga demi kepentingan kekuatan AS --misalnya di Guatemala atau untuk menunjuk bangsa Palestina yang tak mau memahami bahwa problem mereka dapat diatasi dengan "pemukiman-kembali dan repatriasi"; jika sisa-sisa penduduk desa Doueimah, tempat beratus-ratus orang dibantai oleh tentara Israel dalam operasi pembersihan pada 1948, atau warga jalur Gaza yang mirip Soweto itu mengeluh, itu tandanya mereka disemangati oleh "anti-Semitisme".18 Kita cuma perlu melacak ke akar-akar riwayat Stalinisme untuk menemukan segala sesuatu yang serupa, tetapi contoh-contoh pembanding dalam wacana pendidikan di Amerika berkenaan dengan Israel sama sekali langka, dan berlalu tanpa tercatat, walaupun para pencinta-damai Israel tak alpa untuk merekam --dan mengutuk-- gaya Stalinis ini.

Manipulasi utama dalam sistem "cuci otak di alam merdeka" ini, yang berkembang dalam bentuk yang paling mengesankan di Amerika Serikat, adalah untuk merangsang perdebatan tentang masalah-masalah kebijakan, tapi dalam suatu kerangka asumsi-asumsi yang mengandung doktrin-doktrin pokok Garis Partai. Semakin semarak perdebatan, kian efektif asumsi-asumsi ini tertanam, sementara para peserta dan penonton asyik mengagumi dan menyanjung diri untuk kelantangan mereka dan untuk kebebasan-kebebasan luar biasa yang kukuh di masyarakat mereka.

Demikianlah, maka dalam kasus Perang Vietnam, institusi-institusi ideologis mengizinkan perdebatan antara para "elang" dan kaum "merpati"; malah, perdebatan itu bukan hanya diizinkan, melainkan bahkan didorong pada 1968, ketika sektor-sektor penting dalam bisnis Amerika berbalik menentang perang itu karena kepentingan-kepentingan mereka. Para elang menandaskan bahwa dengan ketegasan dan dedikasi, Amerika Serikat dapat berhasil dalam pendiriannya "membela Vietnam Selatan dari agresi Komunis". Kaum merpati menangkis dengan mempersoalkan kelaikan tujuan yang mulia ini, atau mengecam penggunaan kekuatan dan kekerasan yang berlebihan dalam mencapainya. Atau, mereka menyesali "kekeliruan-kekeliruan" dan "kesalahpahaman-kesalahpahaman" yang menyesatkan kita ke dalam "ekses dari ketulusan dan kebajikan tanpa pamrih" kita (sejarahwan Harvard, John King Fairbank, ketua studi Asia AS dan akademikus terkemuka yang cinta-damai), dan "usaha-usaha yang penuh kesalahan untuk melakukan kebaikan" (Anthony Lewis, mungkin menempati tokoh media yang paling masyhur). Atau terkadang, di luar jangkauan sistem doktrinal, mereka bertanya apa benar Vietnam Utara dan Viet Cong itu melakukan kesalahan agresi; mungkin, kata mereka, dakwaan ini berlebihan.

Fakta utama dan yang paling mencolok mengenai perang itu, secara cukup sederhana, adalah bahwa AS tidak "mempertahankan" Vietnam Selatan, tetapi menyerangnya --yang pasti sejak 1962. Ketika itu, Presiden Kennedy memerintahkan Angkatan Udara AS untuk ambil bagian dalam pemboman besar-besaran dan penggundulan hutan yang dimaksudkan untuk membantu penggiringan jutaan manusia ke dalam kamp-kamp konsentrasi. Inilah tempat mereka dapat "dilindungi" dari gerilyawan Vietnam Selatan yang ingin mereka dukung (seperti diakui sendiri oleh pemerintah AS), setelah AS menggilas setiap kemungkinan pemecahan politik dan mencangkokkan sebuah rezim klien ganas yang, pada waktu itu, sudah membunuh sekitar 100.000 orang Vietnam Selatan. Sepanjang perang itu, gempuran utama AS adalah terhadap Vietnam Selatan dan, pada akhir 1960-an, ia berhasil menghancurkan pertahanan masyarakat Vietnam Selatan seraya melebarkan kancah perang ke wilayah Indocina sisanya. Tatkala Uni Soviet menyerang Afghanistan, kita dapat menyatakannya dengan tegas bahwa itu adalah agresi; ketika AS menyerang Vietnam Selatan, itu adalah "pertahanan-pertahanan terhadap "agresi internal", seperti dikemukakan Adlai Stevenson di PBB pada 1964, pada saat pemerintahnya secara rahasia merencanakan untuk memperluas agresi ini dalam intensitas dan cakupannya. Bahwa AS terlibat dalam serangan terhadap Vietnam Selatan tidaklah disangkal oleh sistem propaganda ini; hanya saja, pikiran tak dapat diungkapkan atau bahkan sekadar membayangkan. Orang tak akan menemukan tanda tentang peristiwa seperti "serangan AS atas Vietnam Selatan" dalam media atau arena akademis aliran-utama, atau bahkan dalam kebanyakan publikasi gerakan perdamaian.19

Tak ada contoh lebih mencolok tentang kedahsyatan kekuatan sistem pengendalian pikiran Amerika daripada perdebatan yang terjadi mengenai agresi Vietnam Utara, dan tentang apakah AS punya hak menurut hukum internasional untuk memeranginya dengan "pertahanan-diri kolektif terhadap serangan bersenjata". Buku-buku tebal pelajaran yang ditulis menyajikan sikap-sikap menentang dan, dengan istilah-istilah yang kurang santun, perdebatan digelar di gelanggang publik terbuka oleh gerakan perdamaian. Perdebatan ini merupakan cerminan yang terang benderang dari sistem pengendalian pikiran, juga memberi sumbangan kepadanya, karena sepanjang perdebatan dipusatkan pada persoalan apakah orang Vietnam bersalah karena melakukan agresi di Vietnam, tidak akan ada diskusi mengenai apakah agresi AS atas Vietnam Selatan memang betul-betul seperti yang diterangkan. Sebagai orang yang ikut dalam perdebatan ini, dengan kesadaran penuh tentang apa yang sedang terjadi, saya hanya dapat melaporkan pengakuan bahwa para penentang kekerasan negara telah terperangkap, terjebak dalam suatu sistem propaganda yang keefektifannya menakjubkan. Rupanya para pengecam perang AS di Vietnam perlu menjadi pakar dalam seluk-beluk urusan orang Indocina; secara umum ini tak relevan sebab masalah ini, walaupun selalu disangkal, adalah urusan Amerika, sebagaimana kita tak perlu menjadi ahli Afghanistan untuk menentang agresi Soviet di sana. Perlulah; bagi semua, untuk memasuki kancah perdebatan atas dasar istilah-istilah yang dikemas oleh negara dan opini, elite yang setia mengabdinya, betapapun orang mungkin tahu bahwa dengan berbuat begitu berarti ia sedang memberi kontribusi lebih jauh kepada sistem indoktrinasi tersebut. Alternatifnya adalah mengatakan kebenaran, yang akan serupa dengan berbicara dalam bahasa yang agak asing.

Banyak hal yang sama dalam perdebatan mutakhir tentang Amerika Tengah. Perang teroris AS di El Savador tidak menjadi topik diskusi di kalangan orang-orang terpandang; perang itu tidak ada. Upaya AS untuk "membendung" Nikaragua merupakan subjek yang dibebaskan dalam perdebatan, tapi dalam batas-batas ketat. Kita boleh bertanya apakah AS berhak menggunakan kekerasan untuk "melenyapkan kanker itu" dan mencegah kelompok Sandinista mengekspor "revolusi tanpa batas-batas" mereka (konstruksi khayalan dalam sistem propaganda, diketahui sebagai bikinan oleh wartawan dan para komentator yang taat membeo tuduhan pemerintah ini).

Tetapi, kita tak boleh mendiskusikan fakta bahwa "kanker" yang harus dilenyapkan itu merupakan "ancaman terhadap teladan yang baik", yang akan menyebarkan "penularan" di seluruh kawasan itu dan di luarnya. Maka, dalam tiga bulan pertama pada 1986, ketika perdebatan marak mengenai pemungutan suara Kongres mendatang tentang bantuan bagi tentara-centeng* AS. (sebagaimana para pendukung tergigihnya diam-diam melukiskannya) yang menyerang Nikaragua dari pangkalan Honduras dan Costa Rica, pers nasional (New York Times dan Washington Post) memuat tak kurang dari 85 potong opini para kolumnis dan kontributor-kontributor undangan tentang kebijakan AS terhadap Nikaragua. Seluruh 85 opini itu kritis terhadap Sandinista, dari kritik yang sangat garang (mayoritas besar) sampai yang agak moderat. Inilah yang disebut "perdebatan publik" ("public debate") di Amerika Serikat. Fakta yang tak dipersoalkan bahwa pemerintah Sandinista telah berhasil --benar-benar sangat berhasil-- melakukan pembaruan-pembaruan sosial selama tahun-tahun awalnya, sebelum AS menggagalkan upaya ini, tertutup rapat; dalam 85 kolom tersebut, ada dua kalimat yang menunjuk pada fakta bahwa sudah terjadi pembaruan-pembaruan sosial, dan fakta --yang hampir bukan rahasia besar-- bahwa inilah yang merupakan alasan pokok bagi serangan AS, sama sekali tak disebut, bahkan tak terlintas sedikit pun dalam pikiran.

Orang-orang yang dianggap "pembela" Sandinista dikecam pedas (nama-namanya tak disebut, untuk menjamin bahwa mereka tak akan punya kesempatan untuk menanggapi, setidaknya sebagaimana kesempatan itu akan ada dalam persoalan lain), tapi tak seorang pun dari para penjahat ini yang dibolehkan untuk mengemukakan pandangan-pandangan mereka. Nyaris tak dapat dibayangkan bahwa pers nasional bakal mengizinkan pengungkapan kesimpulan Yayasan Pembangunan Sosial Oxfam bahwa Nikaragua merupakan "perkecualian" di antara 76 negara tempat ia bergiat dalam hal komitmen para pemimpin politik "untuk memperbaiki kondisi rakyat dan mendorong partisipasi aktif mereka dalam proses pembangunan". Dan, bahwa di antara empat negara Amerika Tengah tempat Oxfam bergiat, "hanya di Nikaragua terdapat upaya besar yang dilakukan untuk mengurangi ketimpangan-ketimpangan dalam pemilikan tanah dan untuk memperluas pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pertanian bagi keluarga-keluarga petani miskin". Meskipun, perang Contra telah melenyapkan ancaman-ancaman ini dan menyebabkan Oxfam mengalihkan upaya-upayanya dari proyek-proyek pembangunan ke pemulihan akibat perang. Tak terbayangkan bahwa pers nasional akan mengizinkan pembahasan fakta bahwa upaya pengabdian AS untuk melenyapkan "kanker" ini terperosok jauh di dalam kerja sejarahnya, sebagaimana para cendekiawan terpandang tak boleh menganggap diri tahu kebenaran-kebenaran yang tak dapat diterima semacam ini. Perdebatan dapat dilangsungkan dengan cara yang pas untuk memerangi biang ganas Kerajaan Setan ini, tapi tak boleh melewati batas-batas yang diizinkan dalam sebuah forum nasional.20

Sebagaimana dalam kasus Indocina, di sini kita melihat dalam rentang yang diizinkan bagi opini yang dapat dikemukakan mengalami keberhasilan luar biasa dari "cuci otak di alam merdeka". Dan, seperti dengan mudah dipahami oleh setiap orang yang jujur, refleksi dari suatu mentalitas totalitarian dalam kondisi-kondisi tempat sumber-sumber daya dari kekerasan negara tak tersedia untuk menjamin kepatuhan bulat.21

Dalam sebuah kediktatoran atau "demokrasi" yang dijalankan oleh militer, Garis Partai itu jelas, kelihatan, dan eksplisit, baik diumumkan oleh Kementerian Kebenaran maupun dibuat terang dengan cara-cara lain. Dan, ia harus ditaati secara terbuka; harga bagi pembangkangan dapat merentang dari penjara dan pembangkang di bawah kondisi yang sangat buruk --sebagaimana di Uni Soviet dan satelit-satelit Eropa Timurnya--sampai penganiayaan biadab, perkosaan, penanggalan anggota tubuh, dan pembantaian massa, seperti di negara-negara tipikal yang bergantung pada AS, misalnya El Salvador. Dalam sebuah Masyarakat Bebas, cara-cara ini tak dijumpai, dan cara-cara yang lebih canggih dipakai untuk menjamin pengendalian pikiran. Garis Partai tak diungkapkan, tapi hanya dianggapkan.Orang-orang yang tak menerimanya tidak dipenjarakan atau dilenyapkan setelah disiksa dan dipotong-potong, tapi penduduk dilindungi dari bid'ah-bid'ah mereka.

Dalam arus-utama, nyaris tak mungkin untuk sekadar mengerti kata-kata mereka pada kesempatan-kesempatan langka ketika diskursus eksotis serupa dapat didengar. Di zaman pertengahan, ketika standar-standar integritas dan kejujuran intelektual jauh lebih tinggi, menangani bid'ah dengan serius dianggap hal yang penting, demikian pula memahaminya dan memeranginya dengan argumen rasional. Sekarang, cukuplah dengan menudingnya. Seperangkat lengkap konsep-konsep --seperti misalnya "kesepadanan moral", atau "Marxis", atau "radikal"-- sudah dibikin untuk menandai bid'ah, dan kemudian menyingkirkannya tanpa argumen atau komentar lebih lanjut.

Doktrin-doktrin berbahaya ini bahkan menjadi "ortodoksi-ortodoksi baru"22 untuk dibasmi (lebih tepat, dikenali dan disingkirkan, sejak kesibukan intelektual dianggap tak ada gunanya) oleh minoritas penumpas yang menguasai media ekspresi publik sampai ke tingkat mendekati totalitas. Namun, sayangnya, dalam pandangan mereka penguasaan ini tak terlalu besar. Tetapi, untuk sebagian terbesar bid'ah cuma disepelekan, sementara perdebatan tentang masalah-masalah yang kebanyakan pinggiran dan sempit, marak di kalangan mereka yang menerima doktrin-doktrin tentang kebenaran, lazimnya tanpa wawasan atau keinsafan.

Hampir demikian pulalah yang terjadi kalau kita kembali ke topik kita sekarang ini, Timur Tengah. Kita boleh memperdebatkan apakah bangsa Palestina perlu diizinkan untuk masuk dalam "proses perdamaian", tapi kita tak akan dibolehkan tahu bahwa AS dan Israel itu memimpin kubu rejeksionis dan telah dengan konsisten merintangi setiap "proses perdamaian" yang sejati, sering dengan kekerasan mendalam. Berkenaan dengan terorisme, batas-batas bagi perdebatan yang dibolehkan ini terlihat jelas oleh Shaul Bakhash, profesor Sejarah di Universitas George Mason, yang menjelaskan bahwa kita harus menghindar dari "penyederhanaan berlebihan" yang menghalangi setiap usaha untuk "mengkaji akar-akar sosial dan ideologis dari radikalisme Islam dan Timur Tengah dewasa ini", yang membangkitkan "sikap kepala batu, tapi bagaimanapun merupakan problem-problem nyata"; kita harus berusaha untuk memahami apa yang mendorong para teroris itu menerapkan cara-cara keji mereka.23 Pendekatan tentang terorisme, dengan demikian, terbatasi ketat: pada satu ujung, kita punya orang-orang yang memandangnya sekadar sebagai sebuah persekongkolan oleh Kerajaan Setan beserta agen-agennya; di ujung lainnya kita mendapati mereka yang lebih imbang dan pemikir-pemikir cemerlang yang menghindari "penyederhanaan berlebihan" ini, juga berusaha mencari akar-akar domestik dari teror Islam dan Arab. Gagasan bahwa boleh jadi ada sumber-sumber lain bagi terorisme di Timur Tengah --bahwa Kaisar dan kaki tangannya mungkin pula punya peranan dalam drama ini-- apriori disingkirkan; bukan dibantah; tapi itu tak terlintas di benak, suatu kemenangan gemilang dari sebuah sistem doktrinal yang jauh melampaui pencapaian negara-negara totalitarian dalam melindungi publik terhadap pikiran-pikiran cemar.

Perlu dicatat bahwa secara keseluruhan, sumbangan kaum "moderat" dan para merpati liberallah yang menjamin berjalan baiknya sistem indoktrinasi ini, dengan menandaskan batas-batas bagi gagasan yang dapat dipikirkan.

Dalam Journal-nya, Henry David Thoreau, yang menjelaskan di mana-mana bahwa ia tak membuang waktunya untuk membaca koran, menulis bahwa,

Tidak perlu ada sebuah undang-undang untuk memeriksa izin surat kabar. Ia adalah undang-undang yang cukup, malah lebih dari cukup, untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya, masyarakat sudah berkumpul dan menyepakati hal-hal apa yang akan diucapkan, telah bersepakat tentang sebuah landasan dan untuk mengucilkan dia yang menyimpang dari sana, dan tak satu dalam seribu orang yang berani mengucapkan hal lain apa pun.

Pernyataannya tak terlalu tepat, kata John Dolan, "bukan masyarakat kurang berani mengemukakan pikiran-pikiran di luar rentang-batas yang diizinkan: soalnya cuma mereka tak mempunyai kemampuan untuk memikirkan gagasan-gagasan semacam itu".24 Inilah hal pokoknya, motif yang mendorong para "perekayasa persetujuan demokratis".

Dalam New York Times, Walter Reich dari Lembaga Internasional Woodrow Wilson --menunjuk pembajakan Achille Lauro-- menuntut supaya standar-standar ketat keadilan diterapkan bagi orang-orang yang telah "melakukan pembunuhan teroris", baik para agen maupun perencana aksi-aksi ini: "Menjatuhkan hukuman ringan dengan alasan bahwa seorang teroris meyakini dirinya sebagai pejuang kemerdekaan yang ditindas dan dirugikan, berarti menghancurkan landasan tempat tegaknya keadilan dengan menerima argumen para teroris bahwa hanya konsep mereka tentang keadilan dan hak-hak, dan penderitaan-penderitaan mereka, yang sah. Bangsa Palestina --dan setiap dari sejumlah besar kelompok yang menggunakan terorisme untuk mengatasi penderitaan-- harus mengenyahkan teror dan mencari cara-cara lain, yang niscaya melibatkan kompromi-kompromi. Barat harus menolak argumen bahwa setiap pemaafan --bahkan yang melibatkan alasan ketertindasan-- dapat 'mengurangi' hasrat untuk melakukan teror terhadap orang-orang tak berdosa." Ini merupakan kalimat-kalimat mulia, yang akan dianggap serius seandainya tekad kuat untuk menjatuhkan hukuman keras ini diterapkan bagi diri sendiri, bagi Kaisar dan para kliennya; jika tidak, kecaman-kecaman ini tak ada bedanya dengan ungkapan-ungkapan luhur yang dihasilkan oleh Dewan Perdamaian Dunia serta organisasi-organisasi front-Komunis lainnya berkenaan dengan penganiayaan-penganiayaan terhadap para pejuang Afghan. Mark Heller, wakil direktur Lembaga Jaffee untuk Kajian-Kajian Strategis di Universitas Tel Aviv, menjelaskan bahwa "Terorisme dukungan-negara merupakan perang berintensitas rendah, dan korban-korbannya, termasuk Amerika Serikat, karenanya berhak untuk menyerang balik dengan segala cara sesuai kemampuan mereka." Mestinya dilanjutkan dengan korban-korban lain demi "perang berintensitas rendah" dan "terorisme dukungan-negara" yang "berhak menyerang balik dengan segala cara sesuai kemampuan mereka": rakyat El Salvador, Nikaragua, Palestina, Lebanon dan segudang korban lain dari Kaisar dan para anak buahnya di seluruh bagian besar dunia.25

Tetapi, konsekuensi-konsekuensi ini tak dapat dipahami oleh Reich dan Heller maupun kebanyakan pembaca mereka; tidak pula mereka dibolehkan muncul dalam New York Times. Bahkan, seandainya ada orang yang menarik konsekuensi-konsekuensi logis dari penegasan Reich dan Heller dan mengungkapkannya dengan jelas, ia mungkin sekali dituntut karena mendorong kekerasan teroris terhadap para pemimpin politik Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

Suara-suara yang paling skeptis di AS sepakat bahwa "Dukungan terbuka Kolonel Qaddafi terhadap terorisme merupakan kejahatan mencolok," dan "Tidak ada alasan untuk membiarkan para pembunuh berlalu tanpa dihukum bila Anda tahu otak di belakang mereka (sic). Bahwa tindakan pembalasan akan menewaskan sebagian penduduk sipil tak berdosa, tidak dapat dianggap sebagai faktor perintang sehingga negara-negara korban mestinya tak perlu takut untuk membalas."26 Prinsip ini memberi hak kepada sejumlah besar rakyat di seluruh dunia untuk membunuh Presiden Reagan dan membom Washington, bahkan sekalipun "tindakan pembalasan ini akan menewaskan sebagian penduduk sipil tak berdosa". Sukar dipercaya bahwa hanya segelintir kecil di antara masyarakat terpelajar Amerika yang dapat memahami kebenaran-kebenaran gamblang ini --dan mereka hampir tak mungkin diucapkan dalam sistem doktrinal. Selama keadaannya tetap demikian --dalam kasus-kasus yang sudah saya sebut dan banyak lagi lainnya-- kita menipu diri sendiri jika kita yakin bahwa kita berpartisipasi dalam sebuah masyarakat demokratis, kecuali dalam pengertian Orwellian dari diskursus akademis.

Terjadi perdebatan runcing di media mengenai apakah para pembajak dan maling-maling itu layak diberi izin untuk mengungkapkan tuntutan dan pandangan-pandangan mereka; NBC, misalnya, dikecam keras karena menyiarkan sebuah wawancara dengan orang yang dituduh merencanakan pembajakan Achille Lauro. Dianggap bahwa dengan memberi mereka kebebasan bicara tanpa bantahan, berarti melayani kepentingan-kepentingan para teroris, suatu penyelewengan memalukan dari keseragaman yang dituntut dalam sebuah masyarakat bebas yang berjalan dengan baik.

Bolehkah media mengizinkan Ronald Reagan, George Shultz, Menachem Begin, Shimon Peres, dan suara-suara lain sang Kaisar dan istananya untuk berbicara tanpa bantahan, yang mendorong "perang berintensitas rendah" dan "pembalasan" atau "tindakan mendahului"? Apakah dengan demikian media mengizinkan Para komandan teroris untuk bicara bebas, yang berarti melayani kepentingan agen-agen terorisme besar-besaran? Pertanyaan ini tak dapat diajukan, dan kalau dilontarkan --hanya disingkirkan dengan sikap muak atau garang. Bab-bab berikut akan memperlihatkan bahwa reaksi ini mencerminkan keberhasilan indoktrinasi, yang membuat orang tak memahami dunia nyata.

Penyensoran harfiah nyaris tidak ada di Amerika Serikat, tetapi pengendalian pikiran merupakan industri yang subur; bahkan sesuatu yang mutlak harus ada dalam sebuah masyarakat yang didasarkan atas prinsip bahwa hanya elite yang berhak mengambil keputusan, dan prinsip pasivitas atau kepatuhan rakyat.[]

Catatan kaki:

* Tentara-centeng (proxy army): Dinas tentara suatu negara yang dimanfaatkan oleh negara lain, dalam hal ini Amerika Serikat, untuk menekan rakyatnya sendiri, terutama demi kepentingan negara yang memerintahkannya. Alasannya sederhana: untuk mengelakkan tuduhan invasi. --penerj.

14 Mengenai masalah-masalah ini, termasuk asal-usul konsep "aset strategis", perundingan-perundingan pasca-1973 yang menuju pada Camp David, dan aksi-aksi segera AS untuk menghapus "Rencana Reagan" September 1982 dan juga "Rencana Shultz" untuk Lebanon beberapa bulan setelahnya, lihat FT. Kenyataannya, yang umumnya sangat jelas pada waktu itu, amat berbeda dari versi-versi resmi yang diulang-ulang oleh media dan banyak pakar, sekalipun kadang sebagian diakui bertahun-tahun kemudian; lihat, misalnya, Bab Kedua, catatan kaki no. 47 dan teks.

15 Rubinstein, Davar, 5 Agustus 1983.

16 Jenderal (Purnawirawan) Mattiyahu Peled, "American Jewry: 'More Israeli than Israelis'," New Outlook, Mei juni 1975. Lihat juga Kolonel (Purnawirawan) Meir Pail, yang mengecam "penyembahan musyrik negara-benteng Yahudi" di kalangan komunitas Yahudi Amerika, memperingatkan bahwa dengan rejeksionisme mereka, mereka "telah mengubah Negara Israel menjadi dewa-perang yang mirip Mars", sebuah negara yang akan menjadi "sebuah gabungan kental struktur negara rasis Afrika Selatan dan jalinan sosial teroristis Irlandia Utara", "sebuah sumbangan orisinal bagi sejarah ilmu politik abad XXI: sejenis negara Yahudi unik yang akan membuat malu semua orang Yahudi di mana pun mereka berada, bukan hanya untuk masa sekarang, melainkan juga masa mendatang ("Zionism in Danger of Cancer", New Outlook, Oktober-Desember 1983, Januari 1984.

17 Lihat TNCW, 247 dst., untuk perinciannya. Tentang legislasi baru ini, lihat Aryeh Rubinstein, Jerusalem Post, 14 November 1985. Untuk komentar mutakhir pakar Israel, yang membandingkan hukum Israel dengan Aparteid Afrika Selatan, lihat Ori Shohet, "No One Shall Grow Tomatoes ...", Ha'aretz Supplement (27 September 1985, diterjemahkan dalam News from Within (Jerusalem, 23 Juni 1986), yang membahas manipulasi-manipulasi yang menjamin diskriminasi terhadap warga Arab Israel dan penduduk Arab di wilayah-wilayah pendudukan dalam hal pemilikan tanah dan hak-hak lainnya. Judul ini ("No One Shall Grow Tomatoes...") menunjuk pada peraturan-peraturan militer yang mewajibkan penduduk Arab di Tepi Barat untuk mendapatkan izin guna menanam pohon buah atau sayuran --salah satu dari sejumlah siasat yang digunakan untuk menjamin Israel mengambil alih tanah-tanah di sana dengan alasan yang kurang berdasar.

18 Paul Berman, 'The Anti-Imperialism of Fools", Village Voice, 22 April 1986, mengutip "sebuah esai inspiratif" oleh Bernard Lewis di New York Review yang memaparkan doktrin mujarab ini. Untuk beberapa pemaparan licik lainnya atas konsep anti-Semitisme, lihat FT, 14 dst.

19 Untuk pembahasan, lihat TNCW dan buku saya, For Reasons of State (Pantheon, 1973).

20 Untuk pembahasan tentang masalah-masalah ini, lihat rujukan catatan kaki no.13. Perlu dicatat bahwa kontributor-kontributor ini menganut pandangan yang lebih bernuansa tidak mengungkapkan pandangan mereka dalam kolom-kolom opini yang muncul di pers nasional.

21 Perlu diingat bahwa hal yang dipersoalkan adalah rentang yang diizinkan bagi pengungkapan ekspresi di forum nasional, bukan kontribusi-kontribusi individual, yang harus dinilai atas dasar baik-buruknya masing-masing.

22 Lihat, umpamanya, Timothy Garton Ash, "New Orthoxies: I," Spectator (London), 19 Juli 1986. "Perdebatan" lucu (yang di dalamnya hanya satu sisi yang mendapat sambutan publik di tengah uraian terperinci pihak lawannya) mengenai "kesepadanan moral" di AS ini patut dibahas tersendiri.

23 New York Review of Books, 14 Agustus 1986.

24 "Non-Orwellian Propaganda System", Thoreau Quarterly, Musim Dingin/ Semi 1984. Lihat perbincangan saya dengan sekelompok wartawan yang dimuat di sini, dan diskusi selanjutnya untuk membahas lebih terperinci topik-topik ini.

25 Reich, NYT, 24 Juli; Heller, NYT, 10 Juni 1986.

26 Anthony Lewis, NYT, 21 April 1986.

(bagian pertama)


Maling Teriak Maling: AMERIKA SANG TERORIS?
karya Noam Chomsky, terbitan Amana Book, Inc., 1986
Penterjemah Hamid Basyaib
Penerbit Mizan, Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124
Cetakan 2, Sya'ban 1422 /Oktober 2001
Telp.(022) 700931 Fax.(022) 707038
email:info@mizan.com, http://www.mizan.com/
 
Indeks artikel kelompok ini | Tentang Pengarang | Disclaimer
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Dirancang oleh MEDIA, 1997-2002.
Hak cipta © dicadangkan.